Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:291.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka bertambah perih : 14

Belum sempat Sherlin menjawab, pak kepala sekolah memanggil nama salah satu pengajar profesional.

“Miss Saniya, khusus pagi ini, kami ingin memberi ucapan selamat secara langsung atas pernikahan Miss dengan suami. Semoga langgeng sampai akhir hayat … Aamiin,” pria mendekati umur 50 tahun tersebut memanggil Saniya yang terdiam dengan sorot mata bergetar, terharu.

Dia tidak menyangka akan ada acara syukuran, padahal sebelumnya hanya memberitahukan kalau hendak menikah tetapi acaranya benar-benar tertutup, enggan mengundang siapapun selain keluarga inti.

Saniya berjalan seraya terus menebar senyum, lalu berdiri di belakang meja tumpeng, perasaannya membuncah oleh kebahagiaan yang sulit didapatkan jika berada dekat dengan keluarga kandungnya.

“Sebelum potong tumpeng, kita berdoa sebentar ya teruntuk Miss Saniya — semoga rumah tangganya langgeng, bahagia, dan penuh berkah,” ucap ibu wakil kepala sekolah, dan langsung diaminkan para guru baru disusul murid.

“Ayo, Miss, potong tumpengnya!”

Seruan guru disambut tepuk tangan dan suara riuh, serta anak didik Saniya menarikan jemari mereka.

Ujung pisau plastik memotong bagian pucuk kerucut nasi kuning, lalu di taruh ke atas piring kertas. Saniya berikan potongan pertama ke kepala sekolah.

Para guru membagikan kue dibungkus plastik transparan yang diolah tidak menggunakan pewarna buatan serta bahan pengawet, pun hanya sedikit gula, konsumsi yang aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan kondisi autisme.

Semua murid riang gembira, dan kegembiraan itu menular ke guru mereka yang mulai mencicipi nasi tumpeng ukuran sedang

“Bapak, Ibu, dan para anak-anak terkasih … terima kasih atas kejutan syukuran sangat berkesan ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian dengan keberkahan berkali-kali lipat,” ucap Saniya tulus.

“Aamiin,” sahut suara serempak.

Pagi ini menjadi momen tidak akan terlupakan teruntuk Saniya Syamira. Para pengajar yang awalnya asing, kini selayaknya keluarga. Saling membantu, mendukung, dan teramat bijaksana dalam menyikapi kekurangan guru paling muda diantara lainnya.

Saniya sudah mengajar sedari tiga tahun lalu, dan menjadi salah satu guru favorit anak-anak. Kepribadiannya hangat, sangat penyabar, hampir tak pernah marah.

Beberapa saat kemudian, anak-anak pun bubar, digiring masuk ke kelas masing-masing, dan jam belajar mulai dilaksanakan.

***

Menjelang siang, Saniya keluar dari dalam kelas, berjalan menuju ke toilet dengan mimik wajah sedikit pucat.

Begitu masuk ke dalam ruang kecil, disingkapnya dress. Suara erangan menahan sakit pun keluar dari bibir bergetar samar.

Luka tersiram kopi panas bertambah memerah dan perihnya sulit ditahan membuat Saniya tak nyaman serta kesakitan.

“Salepnya juga gak kubawa,” bisiknya tertahan.

Saniya duduk di atas kloset, bibirnya meniup area perut, tapi sayangnya tidak banyak membantu.

Perih, panas, nyeri, menyerang Saniya. Pelipis dan keningnya sampai berkeringat.

Diambilnya ponsel dalam saku samping dress dari bahan jeans. Ia menghubungi Sherlin, mengatakan tentang kondisinya.

Tak lama kemudian Sherlin mengetuk pintu toilet, dia membawa tas Saniya. Saat pintu dibuka, spontanitas memekik.

“Astaga, Saniya … wajahmu sampai pucet gitu!” Sherlin bertambah heboh ketika melihat kulit yang apabila tidak mendapatkan pertolongan medis dapat dipastikan melepuh.

Sherlin menarik karet rambutnya, lalu mengikat surai panjang sahabatnya.

“Ayo aku papah. Kamu sudah pesen taksi belum?” Sherlin membungkuk, mengambil tangan Saniya dan diletakkan pada pundaknya.

“Udah. Makasih ya, Erlin. Tadi gak sesakit ini, sekarang berdenyut-denyut sampai kepalaku ikutan pusing,” adunya berusaha berdiri dengan dibantu wanita berambut sebahu mengenakan setelan celana panjang dan blouse abu-abu lengan pendek.

“Lukamu harus ditangani dokter kulit biar gak meninggalkan bekas, Saniya. Kalau cuma salep gak bakalan ampuh.” Dirangkulnya pinggang Saniya.

Pelan-pelan mereka keluar dari dalam toilet, kebetulan suasana diluar masih sepi, anak-anak belum keluar dari kelas masing-masing.

“Aku belum izin ke kepala sekolah maupun wakilnya, Erlin.” Langkahnya tertahan.

“Biar aku yang urus. Kamu harus bergegas ke rumah sakit.” Sedikit bertenaga didorongnya punggung Saniya.

Taksi online sudah tiba, dan Sherlin membantu sahabatnya masuk ke dalam mobil bagian penumpang.

“Nanti kabari kalau sudah sampai rumah. Semisal salep gak mempan, buruan ke rumah sakit. Jangan dibiarkan, Saniya!” sebenarnya dia tidak setuju dengan keputusan Saniya yang memilih pulang ke rumah.

“Beres,” disela menahan sakit, Saniya tersenyum lemah ke sang sahabat, lalu pintu mobil di tutup oleh Sherlin.

Saniya mengatakan tujuannya ke pak sopir yang langsung hafal rute ke sana.

Selama perjalanan memerlukan jarak tempuh sekitar 40 menit, Saniya baru menyantap bekal sarapan paginya.

***

“Selamat siang, Ibu,” sapa penjaga rumah merangkap mengurus taman hunian Yarash Wilman.

Lek Lawi yang biasa dipanggil Lek Lele oleh Ardan, memperhatikan sekilas istri baru sang tuan. “Ibu sedang tidak enak badan, ya?” tanyanya sopan.

“Siang juga, Lek. Saya baik-baik saja.”

Saniya membalas sapaan tersebut, langkahnya sedikit goyah melewati pintu gerbang dibuka hampir separuh.

Sang penjaga rumah tidak lagi bertanya meski merasa kalau nyonyanya kurang sehat.

Saniya masuk ke dalam rumah terasa sunyi, tanpa celotehan balita yang suaranya persis toa.

“Suci, Ardan dimana?” tanya Saniya saat mendapati pengasuh putra sambungnya sedang membereskan mainan berserak di lantai.

“Baru saja tidur di kamarnya sendiri, Bu,” jawab gadis berumur 22 tahun, memiliki senyum manis khas wanita Indonesia bagian Timur.

Bi Lilik mendekati Saniya, bertanya sopan. “Ibu mau makan siang? Kebetulan tadi saya masak lodeh terong sama sambal Udang.”

“Nanti saja, Bi. Aku masih kenyang, mau tiduran sebentar. Mari.” Saniya enggan beramah tamah disaat mimik muka menahan perih.

Dia bergegas masuk ke dalam kamar, tidak menyalakan AC, cuma menghidupkan kipas angin pendingin ruangan.

Tasnya diturunkan, dibiarkan tergeletak di atas lantai. Lalu kaki palsu dilepaskan, dan disandarkan pada dinding. Saniya mengambil salep di meja nakas, cepat-cepat dioleskan ke luka terasa melepuh.

Dia juga minum sebutir pil pereda nyeri, obat yang selalu tersedia dalam tasnya.

Kakinya dinaikan ke kasur, lalu menarik selimut sebatas pinggang. Dressnya dilepas, dan dirinya berbaring hanya memakai bra, membiarkan lukanya diterpa angin sejuk.

Lambat laun, efek obat pereda nyeri sudah bekerja, rasa kantuk pun tak lagi bisa ditahan. Saniya tertidur, merasa aman karena Yarash pulang kerja pada pukul lima sore. Kata pria itu.

***

Satu jam kemudian, sebuah mobil Land cruiser memasuki halaman hunian bercat perpaduan putih dan hitam.

Yarash pulang lebih awal. Teringat jam mengajar istrinya usai pukul satu siang, maka dia berusaha bertanggung jawab, tidak berlama-lama membiarkan Saniya sendirian menghadapi putranya di saat mereka masih dalam tahap pengenalan, beradaptasi.

“Pak Yash, sepertinya Ibu sakit, tadi jam 12 sudah pulang, dan wajahnya pucat,” lapor lek Lawi.

Langkah jenjang Yarash tergesa-gesa memasuki huniannya, langsung saja menurunkan handle pintu kamar utama lantai satu.

.

.

Bersambung.

1
Anonim
Kasih tau aja sih ke bapaknya kenapa emang,biar tau bapak nya kalau anak nya g semanis yg dia liat
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
bersyukur kau tita gilakkkkk
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
teman lucknut
Umi Kolifah
semoga kebusukan keluarga Jena kebongkar semua dan tita bisa sadar kalau emaknya adalah ibu paling buruk sedunia
Raisha
keturunan keluarganya Mak Lampir gak ada yg bener, gak yg tua, yg setengah lom mateng aja dah mulai menggatall,mo jadi apa kamu besok Ris😏😏🤦‍♀️🤦‍♀️😔😔😔
Yuliana Tunru
knp tdk beritahu yarash sih biar ngasih pelajaran klo cm niya takut x difitnah lg dan dibilangi sok ..lama2 disana bahaya buat tita ihhh gemes x giji rasa x emak2 yg punya putri abg 😡😡
Betri Betmawati
aduh saniya kenapa dilindungi sich biar aja bapak nya tau kelakuan anak nya
sitita harus dikasih pelajaran
bisa hancur dia dibiarkan begitu
Muhammad Arifin
gak melok due anak kok melok pengen nempeleng 😒😒
mamaqe
tersungkur cepat kamu tatiana 👻👻👻👻
Maria Mariati
ini saniya gimana bukan nya terus terang dengan yaras malah mau bertindak sendiri ntar dia lagi kena salah
Humaira
langsung minum, ojo mikir2 👻👻👻👻
Humaira
semoga papimu gak nyusul, udah lanjut sono
Humaira
semoga saja
Nabila hasir
kenapa saniya dak langsung aja ngasik tau perbuatan Tatiana dan nunjukin foto serta video nya ke yarash.biar tau perbuatan anaknya
Humaira
nikmatnyaaa.... 😍😍😍
dyah EkaPratiwi
seharusnya biar mas yarash tau kelakuan anaknya
Humaira
lagi lagi fahmi 🙄
muakkk 😤
Nabila hasir
temen2mu dak beres Tatiana masak ngajak ke diskotik ma minum bir
Nabila hasir
🥰🥰🥰 maksih KK cublik🫰🫰
Eli Rahma
dasar kucing garong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!