Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hitung Mundur Menuju Kehancuran
Detak jarum jam dinding berbingkai emas di ruang kerja utama Aris Group terdengar bagai ketukan lonceng kematian di telinga Arsenio. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun tidak ada satu pun lampu di gedung perkantoran mewah itu yang padam. Ruangan yang biasanya menjadi simbol kesuksesan dan keangkuhan Arsenio kini dipenuhi kertas-kertas laporan keuangan yang robek, puntung rokok yang berserakan, dan hawa keputusasaan yang sangat pekat.
Arsenio duduk di kursi kebesaran kulitnya dengan kedua siku menopang di atas meja. Wajah tampannya kini tampak kusam, dipenuhi bayangan hitam di bawah mata akibat tidak tidur selama dua hari. Setiap kali dia memejamkan mata, grafik saham perusahaannya yang terus terjun bebas dan wajah Keysha yang menangis di balik jeruji besi kantor polisi selalu membayangi pikirannya.
"Tuan Besar..." suara Sekretaris Malik terdengar sangat lirih dari ambang pintu. Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan tubuh yang tampak lemas, memegang sebuah dokumen resmi berstempel merah dari pengadilan niaga. "Batas waktu dua puluh empat jam yang diberikan oleh Aethelgard Holdings untuk pelunasan surat utang jangka pendek akan jatuh tempo tepat pukul sembilan pagi besok."
Arsenio mendongak, matanya yang memerah menatap Malik dengan pandangan yang liar. "Bagaimana dengan bank distrik pusat? Apa mereka masih menolak memberikan pinjaman darurat kepada kita?!"
Malik menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap langsung mata atasannya. "Mereka... mereka menolak secara mutlak, Tuan. Kepala komite kredit menyatakan bahwa selama jalur logistik kita masih diblokir oleh pihak Obsidian Group, profil risiko perusahaan kita dianggap terlalu berbahaya. Ditambah lagi... kasus hukum Nyonya Keysha membuat reputasi komersial kita hancur di mata publik. Tidak ada satu pun institusi finansial di kota ini yang sudi meminjamkan satu sen pun dana tunai kepada kita."
Brak!
Arsenio mengepalkan tangannya dan menghantam meja kaca di hadapannya dengan sangat keras hingga menimbulkan retakan kecil. "Brengsek! Mereka semua adalah pengecut! Saat perusahaanku sukses di kota seberang, mereka semua merangkak menjilat kakiku untuk meminta kerja sama! Sekarang, saat aku dijebak seperti ini, mereka semua berbalik arah membuangku seolah aku adalah sampah!"
Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan mendekati dinding kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu metropolitan Secilia City. Di kejauhan, gedung pencakar langit Obsidian Tower berdiri tegak, memancarkan cahaya lampu biru yang megah dan mendominasi langit malam—seolah-olah sedang menertawakan ketidakberdayaan Arsenio dari puncak tertinggi.
"Elena von Secilia..." desis Arsenio dengan rahang yang mengeras rapat. "Kamu benar-benar wanita yang kejam. Hanya karena aku meremehkanmu di pesta itu, kamu tega menghancurkan seluruh jerih payah hidupku?"
Ego Arsenio yang sangat tinggi menolak untuk percaya bahwa Elena melakukan semua ini karena alasan lain. Dia mengira Elena hanyalah seorang wanita bangsawan angkuh yang tersinggung karena keangkuhannya di pesta malam itu. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam tubuh Elena yang cantik jelita itu, bersemayam jiwa Clarissa—istri sah yang dia biarkan mati dalam penderitaan tiga bulan lalu.
"Malik," ucap Arsenio tiba-tiba, suaranya perlahan berubah menjadi sangat rendah dan dingin. "Siapkan mobil untuk besok pagi pukul delapan. Aku sendiri yang akan mendatangi kantor Aethelgard Holdings di menara Obsidian."
Malik tersentak kaget. "Tapi Tuan... itu adalah wilayah kekuasaan Duke Xavier. Datang ke sana tanpa janji temu resmi sama saja dengan menyerahkan diri ke kandang singa."
"Aku tidak punya pilihan lain!" bentak Arsenio sembari membalikkan tubuhnya, menatap Malik dengan kilat mata penuh keputusasaan. "Besok pagi pukul sembilan, jika surat utang itu tidak dibatalkan atau ditunda, pengadilan akan langsung membekukan seluruh aset operasional kantor ini! Aris Group akan dinyatakan pailit sebelum makan siang! Aku harus menemui Elena... aku akan melakukan apa saja, menawarkan saham, atau memohon di hadapannya agar dia mau menarik tuntutan hukum itu!"
Arsenio mencengkeram kerah kemejanya sendiri, merasakan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya. Harga dirinya yang setinggi langit kini terpaksa dia injak-injak sendiri demi menyelamatkan sisa-sisa hartanya.
Keesokan paginya, tepat pukul delapan lewat tiga puluh menit, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti dengan derit ban yang tajam di lobi utama *Obsidian Tower*. Arsenio melangkah keluar dengan tergesa-gesa, merapikan jas abu-abunya yang sengaja dia pilih untuk memberikan kesan profesional dan formal. Namun, langkah kakinya langsung terhenti secara paksa saat empat orang pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan pin berlian hitam di kerah mereka langsung membuat barisan penghadang di depan pintu masuk lift khusus eksekutif.
"Tuan Arsenio dari Aris Group," ucap kepala keamanan dengan suara bariton yang tegas tanpa kompromi. "Anda tidak memiliki jadwal janji temu resmi dengan Nona Elena von Secilia hari ini. Silakan tinggalkan area lobi sebelum kami mengambil tindakan pengusiran secara paksa."
"Minggir! Aku tahu Elena ada di atas!" seru Arsenio, urat-urat di lehernya menonjol tajam akibat menahan rasa malu karena menjadi tontonan para staf kantor yang mulai berdatangan. "Katakan padanya ini tentang kelangsungan hidup Aris Group! Jika dia menolak menemuiku, aku tidak akan pergi dari tempat ini!"
"Biarkan dia naik."
Sebuah suara dingin yang dikirimkan melalui alat komunikasi nirkabel di telinga kepala keamanan mendadak menghentikan ketegangan tersebut. Pengawal itu mendengarkan instruksi sejenak, lalu perlahan menggeser tubuhnya mundur, memberikan jalan menuju lift khusus eksekutif.
"Nona Elena menunggu Anda di lantai teratas, Tuan Arsenio," ucap pengawal itu datar. "Anda hanya memiliki waktu lima belas menit sebelum batas waktu jatuh tempo tiba."
Arsenio tidak membuang waktu. Dia langsung melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu berlapis krom itu tertutup rapat. Jantungnya berdegup sangat kencang seiring dengan angka lantai di layar digital yang bergerak naik dengan sangat cepat.
Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, Arsenio disuguhkan oleh pemandangan ruang kerja utama yang sangat luas dan mewah. Dinding kaca raksasa menampilkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian yang menakjubkan.
Di tengah ruangan, di balik meja kerja kaca yang besar, Elena duduk dengan keanggunan seorang ratu bisnis sejati. Dia mengenakan setelah blazer formal berwarna putih salju, kontras dengan rambut peraknya yang berkilau indah. Di sampingnya, Duke Xavier duduk di sofa kulit sembari menyilangkan kaki secara anggun, memegang segelas kopi hangat dengan tatapan mata abu-abu gelap yang sangat meremehkan kedatangan Arsenio.
"Tepat waktu, Tuan Arsenio," ucap Elena, suaranya terdengar begitu merdu namun sedingin es kutub. Dia melirik jam tangan berlian di pergelangan tangan lentiknya. "Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Anda memiliki sisa waktu lima belas menit sebelum seluruh aset perusahaan Anda resmi menjadi milik saya."
Arsenio melangkah maju, mengabaikan kehadiran Duke Xavier yang memancarkan aura dominasi mematikan di sudut ruangan. Dia berhenti tepat di depan meja kerja Elena, menggenggam erat tepi meja kaca dengan jemari yang gemetar.
"Elena... tolong hentikan semua kegilaan ini," ucap Arsenio dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba memohon belas kasihan. "Aku tahu aku salah karena telah bersikap tidak sopan kepadamu di pesta minggu lalu. Aku bersedia meminta maaf secara terbuka di depan media. Tapi aku mohon... tarik tuntutan pailit itu dan perpanjang masa tenggang utang perusahaanku. Aku bisa memberikanmu sepuluh persen saham Aris Group sebagai kompensasi kerja sama kita."
Elena tidak langsung menjawab. Dia perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja berbahan kulit putih, menatap Arsenio yang kini tampak begitu kecil, menyedihkan, dan kehilangan seluruh taringnya di hadapannya. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis terukir sempurna di bibir merahnya.
"Sepuluh persen saham dari perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan total?" Elena terkekeh hambar, sebuah suara tawa yang begitu renyah namun sarat akan penghinaan yang teramat dalam. "Tuan Arsenio, Anda tampaknya masih belum menyadari posisi Anda saat ini. Dalam waktu lima belas menit lagi, tanpa perlu memberikan sepeser pun saham kepada saya... hukum pengadilan akan menyerahkan seratus persen kendali atas seluruh aset perusahan Anda ke tangan *Aethelgard Holdings* secara cuma-cuma."
Elena memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Arsenio yang kini mulai dipenuhi oleh rasa putus asa yang luar biasa. "Jadi, menurut Anda, untuk apa saya harus menerima tawaran sampah dari seorang pria yang bahkan tidak bisa menyelamatkan istrinya sendiri dari balik jeruji besi?"
"Kamu—" Arsenio mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras rapat. Harga dirinya yang hancur berkeping-keping digantikan oleh rasa marah yang meledak-ledak. "Kenapa kamu begitu membenciku, Elena?! Kita baru bertemu sekali! Aku tidak pernah memiliki masalah bisnis atau pribadi dengan keluarga Secilia sebelumnya! Kenapa kamu begitu terobsesi untuk menghancurkanku sampai ke akarnya?!"
Elena berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tegak, anggun, dan dipenuhi aura dingin yang menekan seketika membuat kata-kata makian Arsenio tertahan di tenggorokan. Elena melangkah perlahan mengitari meja kerja besarnya, mendekati posisi Arsenio hingga jarak mereka hanya terpisah beberapa jengkal.
Elena menunduk sedikit, menatap wajah Arsenio dengan sepasang mata safir birunya yang mendadak berkilat penuh dengan penderitaan yang mendalam dari masa lalu, namun dilapisi oleh kekerasan batu baja yang tak tergoyahkan.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄