Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Terlalu Tinggi Untuk Kamu Gapai

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Cintapertama / Tamat
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Kacang atoom

Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 14: Hari Pertama yang Berat

​Pagi hari baru saja menyingsing ketika Siska melangkah keluar dari taksi di depan gedung Menara Adhitama. Jarum jam tangan mewahnya menunjukkan pukul 05.50 WIB. Ia mengenakan setelan blazer sutra hitam bermerek mahal dan sepatu tumit tinggi (high heels) favoritnya. Meski hatinya hancur, Siska tetap berusaha mempertahankan sisa-sisa penampilan cantiknya sebagai putri seorang pengusaha, berharap bahwa

"pekerjaan asisten" ini hanyalah formalitas di balik meja.

​Namun, begitu pintu lift khusus lantai 50 terbuka tepat pukul enam pagi, pemandangan di dalam ruang kerja CEO membuatnya terpaku.

​Rendy sudah duduk di balik meja mewahnya, mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga ke siku. Tidak ada jas mahal yang membalut tubuhnya, hanya aura ketegasan yang sangat pekat. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat hening dan kaku.

​"Kamu terlambat sepuluh detik dari jadwal standar saya, Siska," ujar Rendy tanpa mendongak dari dokumen di tangannya.

​"T-Terlambat sepuluh detik?" Siska membelalakkan mata, merasa tidak terima. "Rendy, ini bahkan belum jam enam lewat satu menit! Aku sampai tepat waktu!"

​Rendy meletakkan penanya, mengangkat pandangannya, lalu menatap Siska dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang amat dingin.

​"Di ruangan ini, nama saya adalah Tuan Adhitama," potong Rendy tajam.

"Dan yang kedua, kamu datang ke sini untuk bekerja sebagai asisten, bukan untuk menghadiri pesta peragaan busana. Lihat dirimu. Dengan blazer sutra dan high heels itu, kamu pikir kamu bisa bekerja?"

​Rendy berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Siska. Langkah kakinya yang mantap membuat Siska refleks melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada dinding kaca tebal.

​"Tugas pertamamu hari ini," Rendy menunjuk sebuah pintu kayu di sudut ruang kerja mewahnya yang menuju ke tangga darurat.

"Arsip keuangan lima tahun lalu di gudang dokumen lantai bawah tanah belum dirapikan. Pindahkan semua berkas itu ke lantai ini, sortir berdasarkan tahun, dan buatkan ringkasannya sebelum makan siang."

​Siska terperanjat.

"Gudang bawah tanah?! Tapi Rendy—maksudku, Tuan Adhitama—di bawah sana kan kotor, lembap, dan berdebu! Lagipula sepatuku—"

​"Lepas sepatumu kalau merasa terganggu," sela Rendy tanpa belas kasihan, suaranya sedatar es.

"Atau kamu ingin saya membatalkan surat suntikan dana untuk perusahaan ayahmu sekarang juga? Pilihan ada di tanganmu."

​Ancaman itu menghantam Siska bagaikan pukulan keras. Muka Siska memerah menahan malu dan amarah. Dengan tangan gemetar, ia terpaksa melepaskan sepatu tumit tinggi mewahnya dan berjalan tanpa alas kaki menuju lift, menuruni basement yang gelap dan berdebu.

​Selama empat jam penuh, Siska yang tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar harus memindahkan puluhan kardus tebal berisi kertas arsip. Debu tebal mengotori blazer mewahnya, rambutnya yang tadinya rapi kini menjadi berantakan dan kusam, dan telapak kakinya yang halus mulai lecet karena berjalan di lantai beton yang kasar. Air mata menyengat matanya, namun bayangan wajah ayahnya di penjara memaksanya untuk terus bertahan.

​Sekitar pukul 11 siang, dengan tubuh yang sangat lelah dan napas terengah-engah, Siska membawa tumpukan berkas terakhir beserta nampan berisi cangkir porselen kopi panas ke ruang kerja Rendy.

​"I-Ini kopi dan berkas yang Tuan minta..." bisik Siska lirih. Tangannya yang lecet dan gemetar hebat saat meletakkan cangkir porselen itu di atas meja Rendy.

​Klek!

​Karena jemarinya yang lemas dan gemetar akibat kelelahan fisik, cangkir porselen itu goyah. Cairan kopi hitam yang sangat panas tumpah, mengenai jemari Siska sendiri sebelum membasahi sudut meja kayu jati milik Rendy.

​"Aww!" Siska menjerit kesakitan, menarik tangannya yang kini memerah terbakar racun panas kopi. Cangkir porselen mahal itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

​Siska memegangi tangannya yang melepuh, meringis kesakitan dengan air mata yang menetes deras. Ia mendongak, berharap melihat sedikit saja rasa cemas atau rasa iba di mata pria yang pernah mencintainya itu.

​Namun, Rendy hanya menatap jemari Siska yang memerah dengan ekspresi yang sangat datar. Tidak ada kekhawatiran. Tidak ada penyesalan. Hanya ada tatapan dingin seolah melihat sebuah kejadian biasa yang tak berarti.

​"Bersihkan pecahan kaca dan tumpahan kopi itu sekarang," ujar Rendy pelan, suaranya terdengar begitu berjarak dan hampa. "Lalu obati tanganmu sendiri di ruang medis staf. Jangan biarkan darah atau air matamu mengotori lantai ruangan saya.

Saya tidak ingin melihat kekacauan di meja kerja saya lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!