Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 — Fortuna Ascendant
Perjalanan pulang dari lembah tersembunyi itu kerasa lebih tenang dibanding waktu berangkat, bukan karena medannya lebih gampang, tapi karena ada semacam kelegaan yang ngambang di antara mereka berdua setelah obrolan tadi.
Nggak banyak yang diomongin sepanjang jalan, tapi keheningannya bukan keheningan canggung. Lebih ke keheningan orang yang udah ngerasa cukup nyaman buat nggak perlu ngisi tiap detik sama obrolan.
Begitu nyampe lagi di Vale Aurora, mereka duduk di kedai ramen langganan Souma yang sempet ditunjukin waktu itu, mikirin langkah berikutnya.
"Jadi, soal angka 'resonansi' tadi. Menurut lo, itu ngukur apaan?" kata Kaito sambil nyeruput kuah ramen virtualnya.
Rin mikir sebentar, ngaduk-ngaduk mienya walau nggak beneran makan. "Gue punya beberapa teori. Bisa jadi ngukur seberapa banyak lo udah 'membuktikan diri' sesuai potensi yang katanya ditunggu-tunggu sistem ini. Level, pencapaian, mungkin juga hubungan yang lo bangun sepanjang jalan."
"Jadi kayak... exp bar buat takdir?"
"Kira-kira gitu, walau kedengeran agak konyol kalo diomongin langsung," Rin nyengir tipis. "Tapi kalo bener, itu artinya kita nggak bisa cuma nunggu. Kita harus aktif ningkatin apa pun yang jadi faktor di baliknya."
"Kalo gitu, mungkin kita butuh lebih dari cuma berdua," kata Kaito.
Rin natap dia, nunggu penjelasan lebih lanjut.
"Maksud gue, kita udah buktiin berdua bisa ngelakuin banyak hal. Tapi kalo emang butuh 'pencapaian' yang lebih gede, mungkin kita butuh tim yang lebih besar. Dan gue kenal orang yang walau nggak segila gue soal keberuntungan, tapi udah dua bulan lebih ngerti seluk-beluk game ini." lanjut Kaito.
"Souma," Rin nyimpulin, bukan pertanyaan lagi.
"Ya, Souma."
Rin diem sebentar, mikirin ide itu. "Sebenernya nggak buruk. Guild formal juga punya keuntungan lain, akses ke dungeon eksklusif guild, sistem berbagi resource yang lebih efisien, bahkan proteksi dari gangguan pemain lain yang mungkin mulai penasaran sama lo." Dia ngangguk pelan. "Oke, ayo panggil dia."
Souma dateng ke kedai itu setengah jam kemudian, masih agak ngos-ngosan karena buru-buru begitu diajak ketemu langsung.
"Oke, gue di sini," katanya sambil duduk di kursi kosong, terus baru sadar siapa yang duduk di seberang mejanya. Matanya melebar. "Tunggu. Lo... lo beneran Rin?"
"Ya," jawab Rin datar, walau ada sedikit senyum geli di ujung bibirnya ngeliat reaksi Souma.
"ANJIR," Souma refleks berdiri lagi, terus buru-buru duduk balik pas nyadar dia jadi pusat perhatian orang lain di kedai. "Sorry sorry, gue cuma... gila, gue udah nonton highlight duel lo berkali-kali di forum, dan sekarang lo duduk di depan gue makan ramen kayak orang biasa."
"Gue emang orang biasa," kata Rin masih datar.
"Orang biasa apanya, lo nomor tiga duel rank server!"
Kaito ketawa ngeliat reaksi Souma yang jauh lebih heboh dari yang dia bayangin. "Oke oke, tenang. Gue manggil lo ke sini karena ada yang mau kita omongin."
Souma setelah berhasil ngendaliin diri, akhirnya duduk lebih tenang. "Oke, gue dengerin. Ada apa emangnya?"
Kaito sama Rin gantian jelasin soal gerbang di reruntuhan, soal angka resonansi, soal teori mereka kalo butuh lebih banyak "pencapaian" buat majuin progress itu, dan akhirnya, ide buat bentuk guild bareng.
"Jadi, lo mau gabung? Kita bakal butuh orang yang bisa dipercaya, dan lo satu-satunya orang yang gue kenal di dunia ini selain Rin." kata Kaito, nutup penjelasan.
Souma diem sebentar, ekspresinya campuran antara terharu dan excited. "Serius nih? Gue diajak bikin guild bareng pemain yang lagi jadi bahan omongan seluruh server?"
"Kalo lo nggak mau juga nggak apa-apa," kata Kaito buru-buru, agak salah tingkah.
"Gila aja gue nolak, ini kesempatan sekali seumur hidup. Gue ikut!" Souma langsung motong sambil nyengir lebar.
Rin ngangguk, keliatan puas. "Oke. Kalo gitu, kita perlu mikirin nama."
Proses mikirin nama guild itu ternyata jauh lebih ribet dari yang Kaito bayangin. Souma ngelontarin belasan usulan, kebanyakan terdengar terlalu heroik atau terlalu maksa keren.
"Blade of Eternal Dawn," usul Souma dengan penuh semangat.
"Kepanjangan," kata Rin.
"Crimson Fang Alliance?"
"Kita bukan guild PvP agresif kayak gitu."
"Okelah, apa kek... Fated Wanderers?"
"Terlalu generik."
"Guild Payung Hitam?" Souma coba lagi, nada suaranya mulai putus asa.
"...Kenapa payung hitam?" tanya Kaito bingung.
"Nggak tau, kepikiran aja tiba-tiba. Cocok kan buat guild yang didiriin sama orang paling apes se-Jepang?"
"Thankss bro," kata Kaito, sarkastik walau ikut ketawa juga.
"Gimana kalo Order of the Silver Wolf?" coba Souma lagi, mukanya udah keliatan lelah mikir.
"Ada delapan belas guild lain yang pake kata 'Wolf' di server ini," kata Rin datar, ngecek semacam database nama guild di panel-nya. "Nggak kreatif."
Souma ngerengut, ngerasa semua usulannya ditolak mentah-mentah. "Ya udah, Rin punya usul apa?"
Rin diem sebentar, natap Kaito dengan tatapan yang entah kenapa, kerasa agak jahil. "Fortuna Ascendant."
Kaito berkedip. "Hah?"
"Fortuna. Dewi keberuntungan dalam mitologi Romawi kuno, dan Ascendant, karena yah, elo. Naik dari orang paling sial jadi... apa pun yang lo bakal jadi ke depannya." jelas Rin.
"Itu... itu kedengerannya kayak ngeledek gue," kata Kaito, setengah protes.
"Sedikit, tapi juga bener, kan? Lagian, kedengerannya keren. Nggak kayak nama-nama yang tadi disebut Souma." akui Rin sambil senyumnya makin lebar.
"Woy," protes Souma, walau nggak beneran tersinggung.
Kaito natap nama itu, mikirin gimana rasanya kalo nama itu bakal jadi identitas mereka bertiga, mungkin lebih banyak orang lagi ke depannya. Ada sesuatu yang walau agak nyeleneh, kerasa pas nama yang ngingetin dia dari mana dia mulai, dan ke mana dia mau pergi.
"Oke, Fortuna Ascendant." kata Kaito akhirnya.
Souma langsung buka menu sistem, ngetik nama itu ke form pembuatan guild. "Siapa yang jadi guild master?"
Kaito sama Rin saling lirik.
"Lo aja," kata Rin, natap Kaito.
"Kenapa gue?"
"Karena ini semua bermula dari lo. Lagian," Rin ngangkat bahu, "gue lebih suka kerja di belakang layar buat urusan strategi. Biar lo yang jadi wajah depannya."
Kaito ngerasa berat sekaligus tersanjung denger itu. Seumur hidup, dia nggak pernah jadi orang yang dipercaya buat mimpin apa pun, bahkan buat proyek kelompok kecil di kantor aja dia biasanya cuma jadi anggota biasa. Tapi sekarang, di dunia yang katanya bukan dunia nyata, dua orang yang udah mulai dia percaya sepenuh hati justru nyodorin tanggung jawab itu ke dia.
"Oke, gue coba." katanya, suaranya lebih mantap dari yang dia sangka.
Souma nekan tombol konfirmasi, dan sebuah panel besar muncul di tengah meja mereka, bercahaya keemasan:
Guild "Fortuna Ascendant" telah resmi didirikan! Guild Master: Kaito Anggota: Kaito, Rin, Souma
Mereka bertiga natap panel itu sebentar, terus entah siapa yang mulai duluan, mereka ketawa bareng, ketawa lega, ketawa excited, ketawa yang cuma bisa keluar dari orang-orang yang baru aja mulai sesuatu yang mereka sendiri belum sepenuhnya ngerti bakal jadi sebesar apa.
"Selamat, Guild Master," kata Rin, ngangkat gelas minumannya buat tos kecil.
"Selamat," Souma nimpalin, ngangkat gelasnya juga.
Kaito ngangkat gelasnya, natap dua orang di depannya, orang-orang yang cuma dalam waktu kurang dari dua minggu, udah ngubah cara dia mandang dirinya sendiri lebih banyak dari dua puluh tujuh tahun hidupnya sebelumnya. Ada Souma, sahabat yang selalu ada tanpa pernah minta apa pun sebagai balasan. Dan ada Rin, yang datang sebagai orang asing curiga dan sekarang jadi salah satu orang yang paling dia percaya di dunia ini, dunia mana pun itu.
"Buat Fortuna Ascendant, semoga kita nggak nyesel sama nama yang kedengerannya kayak ngeledek ini." katanya, senyumnya lebar dan tulus,
"Nggak bakal, gue yakin banget." kata Rin sambil natap dia lekat.
Mereka bertigaan ngetok gelas bareng, suara "ting" kecil yang berasa lebih berarti dari yang seharusnya buat sekadar tos minuman virtual.
Kaito natap layar guild yang masih terpampang di depannya, tiga nama berjejer rapi di kolom anggota, jumlah yang kecil banget kalo dibandingin guild-guild besar kayak Absolute Zero, tapi buat Kaito, itu jumlah yang kerasa lebih berarti dari apa pun yang pernah dia punya.
Dia inget lagi hari-hari sebelum semua ini kejadian, hari-hari di mana dia biasa pulang kerja sendirian, makan malam sendirian, dan tidur dengan pikiran kosong yang cuma diisi rasa lelah.
Sekarang, di dunia yang katanya bukan dunia nyata, dia punya dua orang yang mau berdiri di sisinya, dan satu nama guild yang walau kedengeran kayak ngeledek, bakal jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dia bayangin sekarang.
Dia nggak tau persis apa yang nunggu mereka ke depannya. Tapi buat pertama kalinya, dia nggak takut buat nyari tau.