Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Sinar matahari pagi menyiram teras depan rumah megah itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Burung-burung berkicau riang di balik dahan pohon mangga, menciptakan suasana pagi yang semestinya tenang. Namun di dalam ruang tengah hingga koridor depan, udara terasa dipenuhi oleh ketegangan tersembunyi yang siap meledak kapan saja.
Pagi ini, ada pemandangan yang tak biasa dari sosok Alana.
Sejak bertahun-tahun lalu, Alana selalu menolak setiap kali ada undangan reuni alumni atau sekadar kumpul-kumpul dengan teman-teman semasa kuliahnya. Dulu, pikiran Alana hanya berputar pada dua hal: mengurus toko kue Lumina Bakehouse atau bersiap di rumah menunggu kepulangan Gema dan melayani kebutuhan Tania. Alana sengaja memangkas kehidupan sosialnya sendiri, mengubur lingkar pertemanannya, hanya demi menjadi sosok istri dan ibu yang selalu siap siaga di rumah ini.
Namun pagi ini, Alana membuat keputusan yang berbeda.
Wanita itu berdiri di depan cermin tinggi di dekat foyer. Dia mengenakan gaun terusan bahan silk-linen berwarna krem pastel dengan potongan A-line yang sangat anggun. Bawah gaunnya menyapu halus di atas mata kaki, sementara bagian pinggangnya dihiasi sabuk kulit tipis berwarna cokelat muda yang mempertegas bentuk tubuhnya yang ramping. Rambut hitam tebalnya yang biasa disanggul seadanya, kini digelombang halus di bagian ujungnya, terurai indah melintasi bahunya.
Wajah Alana yang sempat pucat akibat pendarahan lambungnya beberapa hari lalu, kini dipoles riasan bernuansa rose-gold yang sangat lembut. Riasan itu tidak mencolok, tetapi berhasil memancarkan rona kehidupan yang begitu memesona.
Ada yang beda dari aura Alana pagi ini. Ini bukan sekadar tentang gaun indah atau polesan kosmetik mahal. Ada binar ketenangan yang dalam dari manik matanya sebuah aura kebebasan dan rasa percaya diri dari seorang wanita yang tak lagi menggantungkan kebahagiaannya pada validasi orang lain. Alana tampak begitu jelita, begitu berkelas, dan memikat bagaikan bunga yang baru saja mekar setelah diterpa badai.
Bi Sastro yang baru saja membawakan tas tangan milik Alana sampai berdecak kagum dalam hati. Sang asisten rumah tangga tahu betul, majikan perempuannya ini sungguh memiliki kecantikan yang tiada tara jika saja hidupnya tidak terus-menerus digerogoti rasa sedih.
Dari arah ruang makan, Gema melangkah keluar dengan kemeja kerjanya. Pria itu berniat mengambil kunci mobil di meja konsol, tetapi langkah kakinya mendadak terhenti total begitu matanya menangkap sosok Alana yang berdiri di dekat pintu depan.
Gema membeku di tempatnya. Pandangan matanya tak bisa beralih sedikit pun dari Alana. Dada pria itu mendadak berdesir hebat sebuah sengatan asing yang belum pernah dia rasakan selama enam tahun pernikahan mereka. Gema terpana menatap penampilan istrinya yang begitu memesona. Namun, keterpanaan itu dengan cepat disusul oleh rasa tidak nyaman, cemas, dan jengkel yang membakar dadanya saat menyadari bahwa Alana berdandan secantik ini bukan untuk dirinya.
Tania yang sudah mengenakan seragam sekolah kelas satu SD berlari kecil menghampiri Alana. Matanya yang bulat berbinar penuh rasa kagum.
"Wah... Bunda cantik banget hari ini!" seru Tania polos seraya memeluk pinggang Alana. "Bunda kayak putri raja di buku cerita Tania!"
Alana berlutut menyamai tinggi badan Tania. Senyum hangat senyuman tulus yang sangat bertolak belakang dengan senyum dinginnya untuk Gema terpancar dari wajahnya. Alana merapikan kerah seragam Tania dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Putri Kecil Bunda," tutur Alana lembut, lalu mengecup kedua pipi Tania dengan gemas. "Tania ingat kan pesan Bunda semalam? Hari ini Bunda mau pergi sebentar kumpul-kumpul sama teman-teman Bunda waktu kuliah dulu. Nanti sore setelah pulang sekolah, Tania langsung dijemput Pak Mamat ya."
Tania mengangguk-angguk paham. Anak kecil itu sama sekali tidak keberatan. Semalam Alana sudah bicara baik-baik padanya, menjelaskan bahwa Bundanya ingin bertemu teman-teman lamanya. Kepolosan Tania justru membuatnya senang melihat Bundanya tampak begitu gembira.
"Iya, Bunda! Bunda senang-senang ya sama teman-teman Bunda. Jangan lupa bawain Tania kue enak nanti!" cicit Tania gembira.
"Siap, Sayang. Pasti Bunda bawakan," janji Alana.
Pak Mamat sudah membukakan pintu mobil di teras depan untuk mengantar Tania ke sekolah. Sebelum melangkah keluar, Tania meraih tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan santun, lalu berbalik mencium tangan Gema yang masih berdiri mematung tak jauh dari sana.
"Tania berangkat sekolah dulu, Ayah... Bunda!" pamit Tania riang.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang," balas Alana dari ambang pintu.
Mobil yang membawa Tania perlahan melaju meninggalkan halaman rumah. Begitu bayangan mobil itu menghilang di balik gerbang jati yang tinggi, keheningan di teras depan seketika meledak. Suasana yang tadinya manis mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang panas.
Alana berbalik, berniat masuk kembali untuk mengambil kunci mobilnya sendiri. Namun, langkahnya terhalang oleh tubuh tegap Gema yang kini sudah berdiri di tengah-tengah jalan dengan rahang yang mengetat keras dan mata memicing tajam.
"Kamu mau ke mana berpakaian seperti ini, Alana?" suara Gema meluncur berat, penuh nada intimidasi yang dingin.
Alana menghentikan langkahnya. Wajahnya yang tadinya penuh kehangatan saat menatap Tania, dalam hitungan detik berganti menjadi topeng es yang sangat datar dan formal.
"Saya sudah bilang sama Tania tadi, Mas. Saya mau pergi menghadiri acara reuni alumni kampus," jawab Alana tenang, suaranya halus namun begitu berjarak.
Gema mendengus kasar. Pria itu bersedekap dada, menatap Alana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang penuh rasa tidak suka.
"Reuni?" ulang Gema sarkatis. "Sejak kapan kamu suka ikut acara-acara tidak berguna seperti itu? Selama enam tahun ini kamu tidak pernah sekalipun keluyuran ikut acara alumni. Kenapa mendadak sekarang kamu dandan berlebihan begini cuma untuk ketemu teman-teman lamamu?"
Alana menatap Gema lurus-lurus. Dulu, jika Gema menanyakan hal seperti ini dengan nada membentak dan penuh curiga, Alana akan langsung panik, merasa bersalah, dan tergesa-gesa membatalkan rencananya hanya demi menyenangkan hati suaminya. Dulu, Alana akan meminta maaf berulang kali karena menganggap dirinya telah bertindak salah.
Tapi hari ini, Alana tidak akan mengalah lagi.
"Dulu saya tidak pernah ikut karena saya terlalu bodoh, Mas," sahut Alana dengan suara pelan namun menohok tajam. "Dulu saya selalu mengorbankan seluruh waktu dan kehidupan sosial saya hanya untuk berdiam diri di rumah ini, menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah mementingkan keberadaan saya."
Gema terperanjat. Kata-kata Alana menghantam dadanya bagaikan dentuman keras.
"Alana!" tegur Gema dengan suara meninggi, merasa harga dirinya disentil keras. "Jaga bicaramu! Saya ini suamimu! Kamu tidak bisa seenaknya pergi kumpul-kumpul tidak jelas dan berdandan mencolok begini tanpa izin yang benar dari saya!"
Alana mengulas senyum sangat tipis sebuah senyuman penuh kegetiran dan ironi yang membuat Gema makin meradang.
"Izin?" pangkas Alana, menatap mata Gema tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Sejak kapan Mas Gema peduli pada izin atau ke mana saya pergi? Bukankah selama enam tahun ini Mas selalu bilang bahwa saya bebas melakukan apa saja asalkan tidak mengganggu kenyamanan Mas dan tidak merusak nama baik keluarga?"
Gema mematung. Lidahnya mendadak terasa kelu. Kalimat-kalimat yang pernah dia lontarkan di masa lalu kini kembali untuk memukul dirinya sendiri.
"Ini beda, Alana!" bela Gema keras kepala, dadanya naik turun menahan amarah dan kekecewaan yang tak terpahami. "Kamu itu seorang istri dan ibu! Tampilanmu pagi ini... kamu berdandan begitu cantik untuk siapa? Untuk dipamerkan pada teman-teman priamu di reuni itu?"
Pernyataan curiga yang dangkal itu membuat Alana menatap Gema dengan rasa kasihan yang mendalam. Alana melangkah satu tindak mendekati Gema, mendongak menatap wajah suaminya yang dipenuhi ego.
"Mas Gema," bisik Alana halus, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa bagaikan sembilu yang mengoyak kesombongan Gema. "Saya berdandan cantik pagi ini bukan untuk pria mana pun. Bukan untuk teman-teman kampus saya, dan yang paling penting... bukan untuk menarik perhatian Mas Gema lagi."
Gema membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar penegasan itu.
"Saya berdandan cantik pagi ini murni untuk diri saya sendiri," lanjut Alana dengan mata berbinar keteguhan. "Untuk menghargai wanita di dalam cermin ini yang sudah bertahan hidup menanggung sakit dan penolakan selama enam tahun. Saya baru sadar, selama ini saya terlalu sibuk mencintai orang yang salah sampai saya lupa cara mencintai dan menghargai diri saya sendiri."
"Alana..." panggil Gema lirih. Suara pria itu mendadak kehilangan ketegasannya. Ada keretakan yang nyata pada keangkuhannya.
"Mas Gema tidak perlu khawatir," sela Alana cepat, tidak memberikan ruang bagi Gema untuk memotong. "Saya tahu batas diri. Saya tidak akan pernah melakukan hal murahan yang merusak nama baik Mas atau menyakiti Tania. Acara reuni ini hanya berlangsung sampai siang. Setelah ini saya akan tetap memantau toko kue dan mengurus Tania seperti biasa."
Alana menarik napas panjang, merapikan posisi tas tangannya di siku. Dia menatap Gema sekali lagi dengan pandangan yang benar-benar asing pandangan dari seorang wanita yang tak lagi bisa digapai oleh amarah maupun perhatiannya.
"Urusan rumah tangga dan urusan Tania tidak akan ada yang terbengkalai. Jadi Mas Gema tidak punya alasan apa pun untuk menceramahi saya pagi ini," tegas Alana pamungkas.
Tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi Gema untuk membalas serangan balik tersebut, Alana berbalik dengan gerakan yang sangat anggun. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada terdengar berketuk teratur di atas lantai marmer, melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu di pekarangan.
Gema berdiri mematung di teras depan. Pria itu menatap punggung Alana yang melangkah makin jauh. Bayangan gaun krem yang berkibar halus diiringi aroma wangi lembut yang ditinggalkan Alana di udara seolah mencekik leher Gema.
Brak!
Suara pintu mobil Alana terkatup rapat. Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak mundur, memutar arah, dan melaju mulus melewati gerbang utama, membawa Alana pergi meninggalkan rumah megah itu.
Gema menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu di teras. Tangannya yang mengepal erat bergetar hebat. Rasa marah, tidak terima, dan sebuah kepanikan liar mendadak menjalar di seluruh pembuluh darahnya. Untuk pertama kalinya sejak Kirana meninggal enam tahun lalu, Gema merasa dunianya benar-benar terguncang.
Pria itu baru saja menyadari kenyataan yang teramat sangat menakutkan: Alana yang dulu selalu mengejar bayangannya, Alana yang dulu selalu menangis memohon sedikit kehangatannya, kini telah benar-benar lepas dari genggamannya. Dan yang paling menyiksa, Gema sama sekali tidak tahu bagaimana cara membawa wanita itu kembali.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....