"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Tak berselang lama, kopi pesanan mereka datang, lalu disusul dengan sate yang tadi sudah mereka pilih.
Jena mencoba kopinya. Lumayan, rasanya melebihi ekspektasinya. Untuk sate usus, awalnya agak ragu untuk mencoba, karena ia tak biasa makan usus, tapi saat dicoba, ternyata enak juga.
"Enakkan?"
"Lumayan." Jena ganti mencoba sate kerang. “Bud, aku penasaran."
“Penasaran apa?”
“Uang dari jualan roti bakar begini… apa cukup buat biaya hidup kamu?”
Budi tersenyum santai. “Alhamdulillah cukup, asal nggak boros.” Ia menatap ke arah gerobaknya. "Sebenarnya selain jualan roti bakar, pagi sampai sore biasanya aku ngojek. Kadang juga ambil job jadi pelatih Paskibra.”
Jena langsung menatapnya heran. “Banyak ya kerjaan kamu. Gak capek emang?"
Budi tertunduk, diam beberapa saat. "Bohong kalau gak capek, tapi hidup butuh uang. Ah, jangankan hidup, sudah mati juga masih butuh uang, buat pemakaman dan tahlilan. Iya gak?"
Jena tersenyum tipis. “Kamu ternyata pekerja keras, ya.”
“Biasa aja.”
“Biasa dari mana? Pagi ngojek, sore ngelatih Paskibra, malam jualan roti bakar.”
Budi mengambil satu sunduk satu puyuh. "Ngelatih paskibra gak tiap hari, cuma seminggu sekali."
“Bud.”
“Hm?” Sahut Budi, mulutnya sedang sibuk mengunyah.
“Kamu pernah nggak sih… ngerasa capek sama hidup?”
Budi menoleh. “Capek?”
“Iya. Bangun, kerja, pulang, tidur. Besoknya begitu lagi. Kadang rasanya hidup cuma muter di situ-situ aja.”
Budi tersenyum kecil. “Pernah.”
“Terus kamu biasanya ngapain kalau lagi ngerasa begitu?”
Budi menyeruput kopi pahitnya. “Aku biasanya pergi.”
“Ke mana?”
“Kadang nongkrong di bawah jembatan.”
Jena mengernyit. “Di bawah jembatan?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Duduk aja, ngeliatin orang."
Jena masih terlihat bingung.
“Kadang aku jalan-jalan ke bantaran kali, atau sekitaran rumah semi permanen di dekat TPS."
“Kok tempatnya begitu semua?”
Budi terkekeh. “Karena di tempat-tempat kayak begitu, aku bisa lihat banyak hal.”
“Apa?”
Budi menatap jalanan di depan mereka. “Aku bisa lihat orang yang mungkin hidupnya jauh lebih susah daripada aku.”
Jena terdiam.
“Ada yang tidur di tempat seadanya. Ada yang kerja dari pagi sampai malam cuma buat bisa makan. Ada orang tua yang masih mencari nafkah meskipun tubuhnya sudah capek. Ada yang mengais sampah hanya untuk nyari botol bekas. Ada anak-anak yang mungkin nggak punya kesempatan seperti yang pernah aku punya.”
Budi menarik napas pelan. “Bukan berarti aku senang melihat orang lain susah, Jen. Bukan itu. Aku cuma jadi sadar… ternyata masalahku bukan satu-satunya masalah di dunia.”
Jena menatapnya.
“Kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang nggak kita punya sampai lupa menghitung apa yang masih kita punya.” Budi tersenyum tipis. “Setelah lihat semua itu, biasanya aku pulang dengan pikiran yang berbeda.”
“Berubah?”
“Iya. Jadi lebih semangat lagi.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata aku masih lebih beruntung daripada beberapa orang. Masih punya badan yang sehat buat kerja. Masih bisa makan yang relatif enak. Masih bisa pulang ke rumah yang layak, yang gak bocor, yang kamar mandi dan airnya bersih, yang ada kamar tidur untuk masing-masing orang. Dan masih ada orang yang peduli sama aku, yang sayang sama aku."
Jena tersenyum kecil. “Jadi kamu pergi ke tempat-tempat itu buat belajar bersyukur?”
“Kurang lebih begitu.” Budi mengambil sate usus terakhir dari piring. “Kalau hidup terasa berat, kadang kita nggak perlu mencari kehidupan yang lebih mudah.” Ia memakan satenya sambil tersenyum. “Kita cuma perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda.”
Jena menatap Budi cukup lama. “Pantes kamu kelihatan santai terus, happy, meski kerjaan kamu cuma ngojek dan jualan roti bakar."
Budi tertawa kecil.
"Bud, besok kita ke sana yuk!"
"Kemana?"
"Ke tempat yang kamu sebutin tadi. Aku lagi capek banget." Jena tersenyum getir.
"Gak perlu kesana kalau kamu, Jen. Disini udah cukup. Karena hampir 90 persen orang disini, jauh lebih tidak beruntung dibanding kamu. Aku, Mang Udin yang jualan nasi goreng tadi, atau mereka yang kerja di angkringan ini. BTW, mereka bukan owner, cuma pekerja, yang gajinya jauh di bawah UMR Jakarta."
Jena menatap dua orang cowok pekerja angkringan.
"Kamu itu beruntung Jen. Kamu kaya, cantik, pintar. Privilege kamu banyak banget. Kalau kamu masih ngeluh, menurutku..."
"Aku gak ngeluh, cuma capek."
"Capek kerja ya ambil cuti, jalan-jalan."
"Bukan capek kerja."
"Lalu?"
"Capek ditanya kapan nikah." Jena tertawa sumbang.
"Kok sama sih." Budi ikutan tertawa. "Emang kenapa Jen, kamu belum pengen nikah sampai sekarang? Kalau gak laku, kayaknya gak mungkin."
"Takut, Bud." Jena menatap lurus ke arah jalanan.
"Takut?"
"Iya." Jena menoleh pada Budi. "Takut kalau setelah nikah, aku gak lebih bahagia, justru sebaliknya. Masih ada gak sih, cowok setia?"
"Ya adalah. Papaku setia, Abangku juga setia. Dan aku insyaallah juga setia." Budi tersenyum.
"Baru InsyaAllah kan, bukan pasti?" Jena tersenyum simpul. "Kamu aja gak yakin pasti setia."
"Bukan gak yakin Jen, cuma takut mau bilang yakin, kayak ke PD an banget. Allah Maha membolak-balikan hati."
"Terus, kalau orang selingkuh, yang disalahin Allah. Karena Allah telah membalikkan hatinya ke orang lain gitu?" Jena nyengir.
"Ya gak gitu juga, Jen. Yang namanya selingkuh ya salah, gak bisa dicari pembenarannya. Gimana ya ngejelasin, aku kok bingung. Intinya gini, sebagai laki-laki, aku tipe setia."
Jena mencebik.
"Dih, gak percaya."
"Kamu sendiri, kenapa belum nikah?" Jena balik tanya.
"Takut."
"Gak semua cewek suka selingkuh."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Takut gak bisa membahagiakan anak perempuan orang."
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭