Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:98.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Tak berselang lama, kopi pesanan mereka datang, lalu disusul dengan sate yang tadi sudah mereka pilih.

Jena mencoba kopinya. Lumayan, rasanya melebihi ekspektasinya. Untuk sate usus, awalnya agak ragu untuk mencoba, karena ia tak biasa makan usus, tapi saat dicoba, ternyata enak juga.

"Enakkan?"

"Lumayan." Jena ganti mencoba sate kerang. “Bud, aku penasaran."

“Penasaran apa?”

“Uang dari jualan roti bakar begini… apa cukup buat biaya hidup kamu?”

Budi tersenyum santai. “Alhamdulillah cukup, asal nggak boros.” Ia menatap ke arah gerobaknya. "Sebenarnya selain jualan roti bakar, pagi sampai sore biasanya aku ngojek. Kadang juga ambil job jadi pelatih Paskibra.”

Jena langsung menatapnya heran. “Banyak ya kerjaan kamu. Gak capek emang?"

Budi tertunduk, diam beberapa saat. "Bohong kalau gak capek, tapi hidup butuh uang. Ah, jangankan hidup, sudah mati juga masih butuh uang, buat pemakaman dan tahlilan. Iya gak?"

Jena tersenyum tipis. “Kamu ternyata pekerja keras, ya.”

“Biasa aja.”

“Biasa dari mana? Pagi ngojek, sore ngelatih Paskibra, malam jualan roti bakar.”

Budi mengambil satu sunduk satu puyuh. "Ngelatih paskibra gak tiap hari, cuma seminggu sekali."

“Bud.”

“Hm?” Sahut Budi, mulutnya sedang sibuk mengunyah.

“Kamu pernah nggak sih… ngerasa capek sama hidup?”

Budi menoleh. “Capek?”

“Iya. Bangun, kerja, pulang, tidur. Besoknya begitu lagi. Kadang rasanya hidup cuma muter di situ-situ aja.”

Budi tersenyum kecil. “Pernah.”

“Terus kamu biasanya ngapain kalau lagi ngerasa begitu?”

Budi menyeruput kopi pahitnya. “Aku biasanya pergi.”

“Ke mana?”

“Kadang nongkrong di bawah jembatan.”

Jena mengernyit. “Di bawah jembatan?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Duduk aja, ngeliatin orang."

Jena masih terlihat bingung.

“Kadang aku jalan-jalan ke bantaran kali, atau sekitaran rumah semi permanen di dekat TPS."

“Kok tempatnya begitu semua?”

Budi terkekeh. “Karena di tempat-tempat kayak begitu, aku bisa lihat banyak hal.”

“Apa?”

Budi menatap jalanan di depan mereka. “Aku bisa lihat orang yang mungkin hidupnya jauh lebih susah daripada aku.”

Jena terdiam.

“Ada yang tidur di tempat seadanya. Ada yang kerja dari pagi sampai malam cuma buat bisa makan. Ada orang tua yang masih mencari nafkah meskipun tubuhnya sudah capek. Ada yang mengais sampah hanya untuk nyari botol bekas. Ada anak-anak yang mungkin nggak punya kesempatan seperti yang pernah aku punya.”

Budi menarik napas pelan. “Bukan berarti aku senang melihat orang lain susah, Jen. Bukan itu. Aku cuma jadi sadar… ternyata masalahku bukan satu-satunya masalah di dunia.”

Jena menatapnya.

“Kadang kita terlalu sibuk melihat apa yang nggak kita punya sampai lupa menghitung apa yang masih kita punya.” Budi tersenyum tipis. “Setelah lihat semua itu, biasanya aku pulang dengan pikiran yang berbeda.”

“Berubah?”

“Iya. Jadi lebih semangat lagi.”

“Kenapa?”

“Karena ternyata aku masih lebih beruntung daripada beberapa orang. Masih punya badan yang sehat buat kerja. Masih bisa makan yang relatif enak. Masih bisa pulang ke rumah yang layak, yang gak bocor, yang kamar mandi dan airnya bersih, yang ada kamar tidur untuk masing-masing orang. Dan masih ada orang yang peduli sama aku, yang sayang sama aku."

Jena tersenyum kecil. “Jadi kamu pergi ke tempat-tempat itu buat belajar bersyukur?”

“Kurang lebih begitu.” Budi mengambil sate usus terakhir dari piring. “Kalau hidup terasa berat, kadang kita nggak perlu mencari kehidupan yang lebih mudah.” Ia memakan satenya sambil tersenyum. “Kita cuma perlu melihat dari sudut pandang yang berbeda.”

Jena menatap Budi cukup lama. “Pantes kamu kelihatan santai terus, happy, meski kerjaan kamu cuma ngojek dan jualan roti bakar."

Budi tertawa kecil.

"Bud, besok kita ke sana yuk!"

"Kemana?"

"Ke tempat yang kamu sebutin tadi. Aku lagi capek banget." Jena tersenyum getir.

"Gak perlu kesana kalau kamu, Jen. Disini udah cukup. Karena hampir 90 persen orang disini, jauh lebih tidak beruntung dibanding kamu. Aku, Mang Udin yang jualan nasi goreng tadi, atau mereka yang kerja di angkringan ini. BTW, mereka bukan owner, cuma pekerja, yang gajinya jauh di bawah UMR Jakarta."

Jena menatap dua orang cowok pekerja angkringan.

"Kamu itu beruntung Jen. Kamu kaya, cantik, pintar. Privilege kamu banyak banget. Kalau kamu masih ngeluh, menurutku..."

"Aku gak ngeluh, cuma capek."

"Capek kerja ya ambil cuti, jalan-jalan."

"Bukan capek kerja."

"Lalu?"

"Capek ditanya kapan nikah." Jena tertawa sumbang.

"Kok sama sih." Budi ikutan tertawa. "Emang kenapa Jen, kamu belum pengen nikah sampai sekarang? Kalau gak laku, kayaknya gak mungkin."

"Takut, Bud." Jena menatap lurus ke arah jalanan.

"Takut?"

"Iya." Jena menoleh pada Budi. "Takut kalau setelah nikah, aku gak lebih bahagia, justru sebaliknya. Masih ada gak sih, cowok setia?"

"Ya adalah. Papaku setia, Abangku juga setia. Dan aku insyaallah juga setia." Budi tersenyum.

"Baru InsyaAllah kan, bukan pasti?" Jena tersenyum simpul. "Kamu aja gak yakin pasti setia."

"Bukan gak yakin Jen, cuma takut mau bilang yakin, kayak ke PD an banget. Allah Maha membolak-balikan hati."

"Terus, kalau orang selingkuh, yang disalahin Allah. Karena Allah telah membalikkan hatinya ke orang lain gitu?" Jena nyengir.

"Ya gak gitu juga, Jen. Yang namanya selingkuh ya salah, gak bisa dicari pembenarannya. Gimana ya ngejelasin, aku kok bingung. Intinya gini, sebagai laki-laki, aku tipe setia."

Jena mencebik.

"Dih, gak percaya."

"Kamu sendiri, kenapa belum nikah?" Jena balik tanya.

"Takut."

"Gak semua cewek suka selingkuh."

"Bukan itu."

"Lalu?"

"Takut gak bisa membahagiakan anak perempuan orang."

1
Endah Puji Lestari
😍
jumirah slavina
jangan gitu donk Bu...
Felycia Fernandez: paling benci pemikiran mertua kek gini
total 1 replies
jumirah slavina
peluk erat Alena💞❤
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 kasian Alena
semoga ada solusi kedepannya ya bud
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 kasian Alena
semoga ada solusi kedepannya ya bud
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sebenarnya masih was2 dengan masalalu keluarga Budi yang mengalami krisis. pabriknya kebakaran ayah budi meninggal dan kakaknya meninggal. kira2 semua yang di alami oleh keluarga Budi, ada kaitannya dnegan ayah jena enggak sih? sedari awal dah suudzon kalau apa yang di alami keluarga Budi, ada campur tangan papa nya jena. takutt! jika kedepannya ternyata benar...pasti Budi bakal merasa bersalah dengan almarhum papa nya 🙊 aku sudah kejauhan mikir nya 🤣🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: semoga saja kak...tapi juga khawatir 🙊 namanya bisnis pasti banyak saingan, takut tersaingi menggunakan segala cara untuk menghancurkan.
total 2 replies
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mak jlebb...bener2 kasihan alena. ibunya merantau, ayah sudah tiada, dan selama ini menganggap om nya sebagai ayahnya. anak perempuan slelau Rindu figur ayah, dia akan merasa hampa tanpa hadirnya sosok ayah. semoga jena bisa menerima hadirnya alena, setidaknya jena bisa menjadi sosok tante dan ibu buat alena. meski alena masih punya ibu...tapi anak seumuran alena juga membutuhkan keluarga utuh ada ibu dan ayah.
mimief
ya...semua ibu pasti mau yg terbaik buat anaknya
Bu..tapi ngobrol dulu sama Budi
gimana baiknya
😔
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sejak hari ini bu 🤭 sejak budi mengatakan mau melamar. dan bukan sekedar pacar, tapi calon istri bu? bukankah ibu senang budi tanpa pacar2ran tapi langsung lamaran menikah 🤭
Linda Gunawan
jangan sampai kebangkrutan keluarga Budi ada hubungannya sama keluarga Jena. 😥
Astrid Kucrit
ibu budi mau buka usaha jahitan ya biar tidak membebani budi
Yeye🌹
ya Alloh,, ibu mau ngejahit baju sendiri buat nikahan Budi 😍😍, mudah2n ayah Jena bukan orang yg telah menghancurkan keluarga Budi 🤭
Gia Nasgia
Dasar jena nggak jelas takut nikah tapi mempermainkan perkawinan padahal kasihan lihat namanya 😏bagaimana Budi butuh waktu karena sdh lama Budi punya perasaan untuk jena
Rahmawati
Pura-pura kesel km bud, padahal hatimu bahagia karna jena nyamperin km hanya utk kasih jawaban😂
novel destiny
cie Budi yg nungguin jena 🤣🤣🤣
Oma Gavin
jena awal nya hanya mau memanfaatkan budi kedepannya bucin akut sama budi
Kar Genjreng
Budiiiii!!!! sumpritt bikin Jenaaaa nya keder
gara gara telat satu jam lari tergopoh gopoh. demi kata mau,,,,iya Jena mau. gitu
dong Jen sudah lama Lo Budiman berharap. bisa bersanding dengan mu ,,,,nah sekarang tinggal menghitung hari,,,,,,tak terasa sudah hampir hari sabtu ini hari Kamis. biarpun tidak ada cinta untuk Jena tetapi Budiman sudah bisa mendapatkan Wanita idaman di masa kuliah. yang Gatot siap ya Bud. 100%👍
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Budi pasti bahagia...
Cita2 tercapai bisa nikah sama Jenna
nunggu hari H nya nih
Linda Gunawan
Budi beneran cinta kamu Jena😍
Chalimah Kuchiki
jena itu senior budi dikampus ya tor? jadi budi brondong ya 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!