Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tidak Pernah Kubilang
Kelas tiga SMP, aku pernah berpikir bahwa Rendy akan menghilang dari hidupku pelan-pelan, dan aku tidak akan bisa berbuat apa-apa soal itu.
Bukan karena kami berantem. Kami hampir tidak pernah benar-benar berantem — paling banter debat kecil soal siapa yang lupa bawa PR bareng waktu SD, atau siapa yang duluan pinjam komik siapa dan belum dibalikin. Bukan itu masalahnya.
Masalahnya lebih pelan dari itu. Lebih susah dijelasin.
Waktu itu aku baru pindah kelas — kelas 9C, kelas unggulan yang katanya isinya anak-anak yang nilainya bagus semua, dan entah kenapa namaku ada di sana padahal aku enggak ngerasa nilai aku sebagus itu. Rendy tetap di 9A, kelas lama kami berdua sejak kelas tujuh. Dan untuk pertama kalinya sejak taman kanak-kanak, kami enggak sekelas.
Kedengarannya sepele. Cuma masalah kelas. Tapi buat aku, yang sudah sebelas tahun terbiasa punya Rendy di ruangan yang sama — entah itu duduk sebangku pas TK, atau paling enggak satu ruangan pas SD dan awal SMP — perpindahan itu terasa kayak kehilangan sesuatu yang enggak pernah aku sadar penting sampai hilang.
Aku enggak cerita ke siapa-siapa soal itu. Bahkan enggak ke Rendy sendiri.
Yang aku lakukan malah nyari cara buat tetap deket dengannya di luar kelas. Istirahat, aku selalu nyamperin ke 9A meski teman-teman baruku di 9C udah mulai nawarin buat gabung nongkrong bareng mereka. Pulang sekolah, aku nunggu Rendy di gerbang meski jadwal kami udah enggak sinkron kayak dulu.
Dan di situ aku mulai sadar sesuatu yang, jujur, bikin aku agak insecure kalau dipikir sekarang.
Rendy punya dunianya sendiri. Dunia yang enggak pernah beneran aku masuki, meski aku ada di sampingnya hampir tiap hari sejak kecil.
Dia bakal cerita soal anime yang lagi dia tonton — panjang lebar, detail, mata berbinar kalau udah masuk bagian yang menurut dia keren — dan aku cuma bisa dengerin sambil manggut-manggut, sesekali nanya pertanyaan yang aku sendiri tau kedengarannya dangkal. "Terus dia menang enggak?" "Kenapa sih karakternya harus sedih gitu?" Pertanyaan-pertanyaan yang cukup buat bikin percakapan jalan, tapi enggak cukup buat nunjukin aku beneran ngerti apa yang dia suka.
Aku enggak pernah nonton animenya sendiri. Aku enggak pernah baca manganya. Aku cuma jadi pendengar yang baik — atau, paling enggak, aku pikir aku pendengar yang baik.
Sampai suatu hari, sekitar dua bulan setelah kami beda kelas, ada momen yang bikin aku sadar seberapa jauh sebenarnya aku dari dunia itu.
Waktu itu istirahat kedua. Aku nyamperin ke 9A kayak biasa, dan Rendy lagi ngobrol sama Dimas — anak yang juga suka anime, salah satu dari sedikit orang yang bisa nyambung sama Rendy soal topik itu.
Aku enggak sengaja denger sepotong obrolan mereka waktu aku masih di ambang pintu.
"Lo tau enggak, Kaito tuh sebenernya karakter paling relate yang pernah gue liat," kata Rendy, dengan nada yang — aku enggak pernah denger nada itu waktu dia ngobrol sama aku soal topik lain. Lebih hidup. Lebih... dia banget. "Dia diem, susah nunjukin perasaan, tapi bukan berarti enggak peduli. Cuma caranya beda aja."
"Gue paham maksud lo," jawab Dimas. "Tapi menurut gue arc dia di season dua rada dipaksain sih."
"Enggak, justru itu yang bikin dia manusiawi. Orang kayak gitu emang enggak selalu berkembang linear—"
Mereka lanjut ngobrol soal hal-hal yang aku enggak ngerti sepenuhnya — istilah-istilah yang cuma orang yang beneran nonton bakal paham, referensi ke episode-episode tertentu, perdebatan soal karakter yang buat aku terdengar kayak bahasa asing yang aku cuma bisa nangkep beberapa kata.
Aku berdiri di situ, di ambang pintu kelas 9A, dan buat pertama kalinya aku ngerasa kayak orang luar yang lagi ngintip ke dalam sesuatu yang bukan duniaku.
Rendy nyadar aku ada di situ setelah beberapa menit. Wajahnya langsung berubah — bukan berubah jadi enggak seneng, tapi berubah kembali ke ekspresi biasa yang dia pake kalau lagi ngobrol sama aku. Lebih tenang. Lebih flat.
"Eh, Cahaya. Dari kapan di situ?"
"Baru aja," bohongku.
Kami lanjut ngobrol soal hal-hal biasa setelah itu — gimana kelas 9C, ada tugas apa aja, rencana pulang sekolah. Topik-topik yang bisa kami berdua ikutin tanpa masalah.
Tapi di kepalaku, ada satu pertanyaan yang enggak bisa aku ilangin sepanjang sisa hari itu.
Kenapa dia enggak pernah seantusias itu kalau lagi ngobrol sama aku?
Aku bukan tipe orang yang biasanya insecure soal hal-hal kayak gini. Aku cukup pede — bukan sombong, tapi cukup nyaman sama diri sendiri buat enggak terlalu mikirin apa kata orang. Tapi malam itu, di kamar, aku duduk di lantai dengan laptop di pangkuan dan pikiran yang enggak bisa berhenti muter.
Aku buka Google. Ketik "Stellar Requiem."
Muncul poster anime dengan karakter berambut gelap, mata tajam, jaket biru tua dengan detail emas. Aku klik salah satu artikel — sinopsis singkat, daftar karakter, beberapa review.
Aku baca sinopsisnya. Enggak terlalu ngerti sepenuhnya, tapi cukup buat dapet gambaran umum. Cerita soal sekelompok orang yang berjuang di dunia yang lagi runtuh, dengan karakter utama yang — sesuai kata Rendy tadi siang — introvert, susah nunjukin perasaan, tapi diam-diam peduli banget sama orang di sekitarnya.
Aku scroll terus. Nemu episode list. Dua puluh empat episode, masing-masing sekitar dua puluh menit.
Aku enggak langsung mutusin buat nonton malam itu. Tapi aku save link-nya. Bookmark, dengan judul folder yang aku bikin khusus: "buat dicoba."
Butuh waktu sekitar dua minggu sebelum aku beneran mulai nonton.
Alasannya sepele — aku takut. Bukan takut animenya serem atau apa. Takut kalau aku nonton dan ternyata aku enggak suka, terus itu jadi bukti lagi kalau emang dunia aku sama dunia Rendy enggak bakal pernah nyambung.
Tapi suatu malam, waktu mama lagi keluar kota buat kerjaan dan rumah sepi, aku mutusin buat coba episode satu. Cuma buat liat kayak apa. Enggak ada tuntutan buat lanjut kalau emang enggak suka.
Episode satu selesai dalam dua puluh menit. Aku duduk diem sebentar setelahnya, enggak yakin gimana perasaanku.
Terus aku klik episode dua.
Dan episode tiga.
Jam dua pagi, aku udah di episode tujuh, dengan mata yang perih tapi enggak ada niatan buat berhenti.
Aku enggak bisa jelasin persis kenapa cerita itu narik aku. Mungkin karena Kaito — karakter utamanya — punya cara mikir yang, entah kenapa, ngingetin aku sama Rendy dengan cara yang enggak pernah aku sadari sebelumnya. Cara dia diem waktu orang lain nyangka dia enggak peduli, padahal sebenarnya dia lagi mikirin cara terbaik buat bantu. Cara dia susah ngomong hal-hal yang penting secara langsung, tapi nunjukinnya lewat tindakan kecil yang sering enggak disadari orang lain.
Aku nonton terus sampai tamat dalam waktu kurang dari dua minggu — kecepatan yang, kalau aku pikir sekarang, agak enggak wajar buat orang yang katanya "cuma nyoba."
Dan setelah tamat, aku nonton ulang beberapa episode favorit aku. Lagi. Dan lagi.
Tapi aku enggak pernah cerita ke Rendy soal ini.
Alasannya rumit, dan aku enggak yakin bisa jelasin dengan baik bahkan ke diri sendiri waktu itu.
Sebagian karena aku takut kalau aku cerita, kesannya jadi kayak aku maksa-maksain diri buat suka sesuatu cuma biar bisa nyambung sama dia — dan itu enggak sepenuhnya salah, jujur aja. Awalnya emang karena itu. Tapi di tengah jalan, aku beneran mulai suka ceritanya sendiri, lepas dari soal Rendy. Dan aku takut kalau aku cerita, dia bakal mikir itu semua cuma settingan, bukan sesuatu yang genuine.
Sebagian lagi — dan ini yang lebih susah aku akuin — aku takut kalau aku cerita dan dia responsnya biasa aja. Kayak, "oh oke, keren," terus lanjut ke topik lain. Aku takut effort yang udah aku keluarin buat masuk ke dunianya ternyata enggak seberarti yang aku bayangin di kepala aku.
Jadi aku diemin.
Aku nonton anime lain yang Rendy suka, diam-diam, di malam-malam waktu rumah sepi. Aku baca beberapa manga yang dia rekomendasiin ke orang lain — bukan ke aku, tapi aku denger dari obrolan dia sama Dimas atau anak-anak lain yang suka topik yang sama.
Dan pelan-pelan, tanpa Rendy pernah tau, aku mulai ngerti dunia itu. Bukan sepenuhnya. Tapi cukup buat bisa ikut ketawa kalau ada joke yang berhubungan sama anime tertentu. Cukup buat ngerti referensi yang orang lain buat.
Cukup buat, paling enggak di kepala aku sendiri, ngerasa kayak aku enggak lagi berdiri di ambang pintu, ngintip ke dalam ruangan yang bukan milikku.
Ide bikin kostum muncul jauh lebih belakangan — sekitar enam bulan setelah aku mulai nonton Stellar Requiem, waktu aku nemu video di YouTube soal orang-orang yang cosplay karakter anime buat acara-acara tertentu.
Aku enggak langsung mikir "aku harus bikin kostum Kaito." Awalnya cuma nonton video-video itu buat hiburan, kagum sama detail yang orang-orang bisa capai cuma pake kain dan jarum.
Tapi ada satu video, dari cosplayer yang bikin kostum karakter dari anime yang enggak terlalu populer, dengan judul video yang kira-kira artinya "kenapa saya cosplay karakter yang enggak terkenal." Isinya dia cerita soal gimana dia pertama kali suka karakter itu karena adiknya yang ngenalin, dan gimana bikin kostumnya jadi cara dia buat "masuk" lebih dalam ke cerita yang udah dia suka.
Aku nonton video itu tiga kali berturut-turut.
Dan malam itu, aku mulai searching "cara bikin kostum cosplay untuk pemula."
Aku enggak pernah pegang mesin jahit sebelumnya. Enggak pernah belajar jahit sama sekali, kecuali pelajaran prakarya SMP yang levelnya cuma sejahit kancing lepas.
Jadi aku mulai dari nol. Modal dari kotak jahit mama yang udah lama enggak kepake — jarum, benang, gunting kain yang udah agak tumpul. Aku enggak berani minta beli mesin jahit karena itu bakal butuh penjelasan yang aku belum siap kasih.
Tiga bulan pertama, hasilnya kacau. Aku salah potong pola dua kali — sekali karena aku ukur terlalu kecil, sekali lagi karena aku salah ngikutin garis pola yang aku gambar sendiri dari referensi video tutorial. Jahitan pertama aku miring semua, benangnya kusut di beberapa bagian, dan bagian bordir yang aku coba buat manual — karena aku enggak punya mesin bordir — hasilnya jauh dari simetris sampai aku hampir nangis satu kali di tengah malam waktu ngeliat hasil kerja tiga minggu yang ternyata enggak bisa dipake.
Tapi aku enggak berhenti.
Aku nonton ulang tutorial berkali-kali. Aku beli kain baru pake uang tabungan sendiri — bukan uang jajan, tapi tabungan yang harusnya buat beli sepatu baru yang udah aku incer beberapa bulan. Aku belajar teknik jahit dasar dari video-video panjang yang aku tonton sambil pause tiap beberapa detik buat niru gerakannya.
Dan pelan-pelan, kostum itu mulai kebentuk.
Detail yang paling susah adalah bros dan bordir di dada.
Bentuk bros itu — logam kecil dengan lambang khusus — cuma keliatan jelas di satu episode, episode sembilan, pas adegan flashback yang cuma berlangsung beberapa detik. Aku nonton ulang episode itu belasan kali, pause di frame yang tepat, coba gambar ulang bentuknya di kertas sampai aku yakin proporsinya bener.
Buat bikin brosnya, aku pake clay yang aku bentuk manual, keringin, terus cat pake warna yang paling deket sama warna aslinya berdasarkan referensi yang aku punya. Hasilnya enggak sempurna — kalau diliat dari deket, ada beberapa bagian yang enggak rata — tapi dari jarak normal, cukup buat keliatan kayak aslinya.
Bordir di dada lebih susah lagi. Aku enggak punya mesin bordir, jadi aku jahit manual pake benang emas yang aku beli khusus, satu tusukan demi satu tusukan, ngikutin pola yang udah aku gambar dengan hati-hati di kain sebelumnya. Butuh waktu hampir dua minggu cuma buat bagian itu aja, dikerjain sedikit-sedikit tiap malam setelah PR selesai, sebelum tidur, kadang sampai lewat tengah malam waktu aku lagi keasyikan dan lupa waktu.
Ada satu malam waktu aku hampir nyerah total. Bordirnya enggak simetris — sisi kiri lebih lebar dari sisi kanan, dan enggak peduli gimana aku coba benerin, hasilnya tetep keliatan miring. Aku duduk di lantai kamar, kain di pangkuan, jarum masih nancep di tangan aku sendiri karena kecapean dan enggak fokus, dan aku nangis.
Bukan nangis kenceng. Cuma nangis pelan, jenis nangis yang keluar sendiri waktu kamu udah terlalu capek buat nahan.
Aku enggak nangis karena bordirnya doang. Aku nangis karena, di titik itu, aku mulai mempertanyakan kenapa aku ngelakuin semua ini buat sesuatu yang bahkan enggak bakal pernah aku tunjukin ke orangnya.
Tapi besok paginya aku lanjut lagi. Bongkar bordir yang miring, mulai ulang dari awal.
Kostum itu selesai sekitar akhir kelas sembilan, menjelang kelulusan SMP.
Aku inget malam waktu aku nyoba pake buat pertama kalinya, berdiri di depan cermin kamar dengan lampu yang aku redupin biar suasananya lebih pas. Jaket biru tua, celana yang senada, sarung tangan kecil, bros clay yang udah aku cat berulang kali sampai warnanya pas, bandana dengan motif yang aku sablon manual pake stensil yang aku bikin sendiri dari kertas karton.
Aku berdiri di situ, ngeliat pantulan diri sendiri, dan buat sesaat aku ngerasa kayak aku beneran udah masuk ke dunia itu. Dunia yang selama ini cuma bisa aku denger lewat cerita Rendy, sekarang ada di tubuh aku sendiri, jadi sesuatu yang bisa aku sentuh dan pake.
Aku hampir SMS Rendy malam itu. Tangan aku beneran udah megang HP, jari udah di atas keyboard, mau ngetik sesuatu kayak "eh liat deh apa yang aku bikin" dengan foto terlampir.
Tapi aku enggak jadi kirim.
Karena tiba-tiba muncul lagi ketakutan yang sama — takut dia mikir ini aneh, takut dia mikir aku maksa-maksain sesuatu, takut effort tiga bulan ini cuma dianggap "keren deh" terus lupa lagi lima menit kemudian.
Jadi aku lepas kostumnya, lipat rapi, masukin ke kotak kardus yang aku ambil dari gudang, dan simpen di bawah ranjang.
Dan di situ dia tinggal — selama bertahun-tahun, sampai Rendy nemuin sendiri tanpa sengaja waktu nyari charger yang salah tempat.
Aku enggak pernah nyesel udah bikin kostum itu, meski selama bertahun-tahun aku enggak pernah nunjukin ke siapa-siapa.
Karena, di luar soal Rendy, proses itu ngasih aku sesuatu yang enggak aku duga bakal aku dapetin: aku beneran jatuh cinta sama dunia yang tadinya cuma aku pelajari demi orang lain. Aku mulai nonton anime lain, bukan cuma yang direkomendasiin, tapi yang aku cari sendiri karena penasaran. Aku mulai ngerti kenapa Rendy bisa ngomong berjam-jam soal karakter fiksi dengan mata berbinar — karena aku sendiri mulai ngalamin hal yang sama.
Dan meski aku enggak pernah cerita soal kostum itu, pelan-pelan hal-hal lain mulai berubah tanpa aku sadar. Aku mulai nanya pertanyaan yang lebih spesifik waktu Rendy cerita soal anime yang dia tonton. Aku mulai bisa nebak referensi yang dia sebut. Sesekali aku bahkan yang mulai bahas duluan, nanya pendapat dia soal sesuatu yang aku baru tonton, dan ekspresi kaget-tapi-seneng di wajahnya waktu itu — waktu dia sadar aku beneran ngerti apa yang lagi kita omongin — jadi salah satu hal yang paling aku suka.
Rendy enggak pernah tau alasan di baliknya. Dia mungkin cuma mikir aku "makin melek" soal anime karena sering denger dia cerita.
Dia enggak tau ada tiga bulan penuh air mata, jarum yang nusuk jari berkali-kali, dan satu malam waktu aku hampir nangis di depan cermin sambil pake kostum yang enggak pernah aku tunjukin ke siapa-siapa.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, di kamar kos yang jauh lebih kecil dari kamar aku waktu SMP, kotak itu udah pindah tempat — dari bawah ranjang ke rak paling atas lemari, tempat yang Rendy sendiri yang milihin waktu dia bantu aku beres-beres pindahan bulan lalu.
Dia enggak tau isinya apa waktu itu. Aku sengaja enggak buka kotaknya di depan dia, masih belum siap, meski udah bertahun-tahun berlalu sejak malam aku nangis sendirian itu.
Tapi sekarang, setelah dia nemuin sendiri — setelah dia duduk di lantai kamarku dengan kotak terbuka di depannya, nanya "kamu buat ini sendiri?" dengan nada yang enggak ada judgment sama sekali, cuma penasaran tulus — ada sesuatu yang berubah.
Bukan perubahan besar. Bukan pengakuan dramatis atau apa.
Cuma perasaan lega yang kecil. Perasaan kayak sesuatu yang aku pendam terlalu lama akhirnya bisa keluar, dan ternyata enggak seburuk yang aku bayangin.
Rendy bilang, "dunia itu lebih seru kalau dibagi."
Aku enggak jawab apa-apa waktu itu selain senyum kecil dan alesan soal charger.
Tapi di kepala aku, kalimat itu muter terus sepanjang malam.
Dunia itu lebih seru kalau dibagi.
Aku cuma berharap, suatu hari nanti, dia bakal sadar bahwa dunia yang paling aku pengen bagi sama dia bukan cuma soal anime atau kostum atau minat yang sama.
Tapi itu cerita buat lain waktu.
Untuk sekarang, cukup tau bahwa kotak itu udah enggak lagi tersembunyi rapat-rapat di bawah ranjang.
Cukup tau bahwa, paling enggak, satu rahasia udah enggak lagi jadi rahasia.