Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi di Antara Dua Badai
Cahaya matahari pagi membias hangat di sepanjang koridor kanopi kaca Kampus Sunway. Suasana kampus riuh oleh mahasiswa yang berlarian menuju ruang kuliah, gelak tawa kelompok maba yang berkumpul di dekat lapangan basket, serta aroma kopi hangat dari kafe-kafe lokal.
Bagi mahasiswa lain, hari Kamis adalah hari sibuk mengumpulkan kuis dan mengejar tanda tangan dosen. Namun bagi Emily Valencia, hari ini adalah medan pertempuran di dua dunia yang berbeda.
Emily berjalan santai menyusuri koridor bersama Mei Ling. Ia mengenakan kaus rajut tipis berwarna krem, celana jins kehitaman, dan kacamata berbingkai tipis yang melingkari matanya. Di bahunya, tas kain kusam kesayangannya tampak sedikit lebih berat dari biasanya, berisi buku teks analisis ekonometrika sekaligus dua buah telepon seluler terenkripsi.
"Mil, kamu denger kabar nggak?" bisik Mei Ling heboh seraya menyeruput iced matcha latte-nya. "Si Steven tadi pagi mukanya ditekuk banget! Katanya orang tuanya di Jakarta ngamuk gara-gara saham anak perusahaan Wijaya di Malaysia mendadak dibekukan kemarin. Dia yang kemarin gaya-gayaan pamer, sekarang malah mojok di kelas!"
Emily menyunggingkan senyum tipis, menyibakkan helai rambut hitamnya ke belakang telinga. "Baguslah kalau dia bisa lebih fokus ngerjain bagiannya daripada sibuk menyombongkan koneksi."
"Ih, kamu mah gitu, dingin banget responnya," kekeh Mei Ling. "Tapi serius ya, Mil. Caramu membalas Valerie kemarin di auditorium itu keren banget! Satu kampus langsung tahu kalau kamu itu mahasiswi jenius yang nggak bisa diremehkan."
Emily hanya mengangguk pelan. Di balik kecantikannya yang tenang dan penampilannya sebagai maba biasa, pikiran Emily sebenarnya terbagi dua. Jemari di balik saku kardigannya mencengkeram erat ponsel terenkripsi yang terus bergetar pelan.
Di layar ponsel itu, sinyal pasar modal Kuala Lumpur dan laporan pergerakan tim Gabriel Setiawan dari Bandara KLIA terus diperbarui setiap sepuluh detik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 13.00 siang. Setelah menyelesaikan kelas kuliah analisis risiko yang melelahkan, Emily minta izin pada Mei Ling untuk pergi ke perpustakaan kota di luar area kampus.
Namun, alih-alih menuju perpustakaan, Emily melangkah ke sebuah kedai kopi kecil berkonsep vintage yang tersembunyi di gang belakang kawasan bisnis Subang Jaya. Kedai itu sepi, hanya diiringi alunan musik jazz pelan dan aroma harum biji kopi panggang.
Di sudut paling belakang, terlindung oleh rimbunnya tanaman hias indoor, Sean sudah menunggu.
Sean mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang tergulung kaku, menampilkan jam tangan hitam sederhana. Di atas meja kayu kecil di hadapannya, terhidang dua cangkir cappuccino hangat dan sepiring croissant mentega favorit Emily.
"Gimana kelas pagi kamu?" tanya Sean lembut begitu Emily duduk di hadapannya.
Aura dingin dan mengintimidasi yang dipunya Sean saat memimpin rapat direksi di Jakarta seketika menguap, berganti dengan binar mata seorang cowok yang begitu protektif dan merindukan kekasihnya.
Emily menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu. "Lancar. Tapi Steven makin memusuhi aku di kelompok, dan Mei Ling makin curiga kenapa aku sering menghilang."
Sean terkekeh pelan, jemari panjangnya terulur menyeberangi meja, menggenggam jemari Emily yang dingin. "Maaf ya, kamu harus pura-pura jadi mahasiswi biasa yang kesulitan pas malamnya kita harus bertarung di bursa saham."
Sentuhan hangat dari telapak tangan Sean membuat rasa lelah di bahu Emily perlahan mencair. Emily menatap wajah Sean, menyadari betapa tampan dan dewasanya cowok ini sekarang, meski garis-garis kelelahan dari intrik Jakarta masih tertinggal di pelipisnya.
"Aku justru suka jadi mahasiswi biasa, Sean," bisik Emily tulus. "Di kampus, aku merasa seperti Emily yang punya masa muda. Nggak ada dendam keluarga, nggak ada perebutan saham."
"Aku janji, Mil," ujar Sean dengan nada suara yang dalam dan sarat keteguhan. "Setelah kita selesaikan Gabriel Setiawan dan lumpuhkan Wijaya Group, aku bakal lepasin seluruh jabatan di Anderson Group. Aku bakal tinggal di sini sama kamu, beliin kamu nasi lemak tiap pagi, dan antar kamu kuliah sampai kamu lulus."
Dada Emily desir hangat. Impian sederhana tentang masa depan yang normal itu bagaikan Oase di tengah gurun pasir.
Namun, ketenangan singkat itu mendadak buyar saat layar laptop terenkripsi milik Sean yang terbuka sedikit di atas meja berkedip merah.
"Gabriel Setiawan baru saja memasuki gedung Menara Maybank di kawasan KLCC," bisik Sean, matanya seketika mengeras. "Dia bawa tiga pengacara internasional dan berkas eksekusi akuisisi aset Helios Capital Malaysia."
Emily meluruskan posisi duduknya, menatap layar monitor. "Gabriel mau memakai dokumen penyitaan itu buat memaksa aku menyerahkan kunci akses brankas offshore milik Helios. Kalau aku tolok, dia bakal melaporkan aku ke Polisi Federal atas tuduhan penggelapan modal beasiswa Zurich empat tahun lalu."
Sean berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya. Matanya memancarkan aura membunuh yang dingin. "Kita temui pria tua itu sekarang. Sudah waktunya kita menghentikan permainannya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian. Lantai 32 Menara Maybank, pusat keuangan Kuala Lumpur.
Suasana di dalam ruang rapat utama berinding kaca tebal itu terasa membeku. Pemandangan menara kembar Petronas yang berdiri megah di balik kaca jendela seolah kalah oleh aura ketegangan di dalam ruangan.
Di ujung meja rapat mahoni berukuran besar, Gabriel Setiawan duduk di kursi kulit utamanya. Pria paruh baya berambut perak itu mengenakan setelan jas buatan Inggris, memegang tongkat kayu berukir emasnya dengan santai. Di sampingnya, tiga orang pengacara berjas hitam memegang penafsir berkas hukum tebal.
Pintu kaca ruang rapat terdorong terbuka.
Emily melangkah masuk dengan langkah kaki yang mantap dan anggun. Kaus oblong sederhananya kini dilapisi oleh blazer hitam kustom yang memberinya aura kepemimpinan yang tegas dan berkelas. Di sampingnya, Sean melangkah dengan postur tubuh tinggi tegap, memasang wajah kaku tanpa emosi.
Gabriel Setiawan tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh penghinaan yang amat berkuasa.
"Selamat siang, Nona Valencia... dan Tuan Anderson," sapa Gabriel dalam bahasa Inggris berlogat Eropa yang dingin. "Sungguh sebuah pemandangan yang indah melihat dua sejoli ini berjalan bergandengan tangan ke dalam perangkap mereka sendiri."
Emily menarik kursi di hadapan Gabriel dan duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Langsung ke intinya, Tuan Muda Setiawan. Apa yang Anda inginkan?"
Gabriel terkekeh pelan, mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan dentang nyaring. salah satu pengacaranya menyodorkan selembar dokumen tebal ke hadapan Emily.
"Ini adalah dokumen klaim penyitaan aset Helios Capital cabang Malaysia sebesar 50 juta dolar," ujar Gabriel datar. "Empat tahun lalu, aku membiayai sekolahmu di Swiss dan memberimu takhta di perusahaan ini dengan satu syarat: kamu menjadi alatku untuk menghancurkan Anderson Group dan Wijaya Group."
Gabriel menundukkan tubuhnya ke depan, menatap Emily dengan mata yang memancarkan dendam kesumat puluhan tahun.
"Tapi kamu malah menggunakan dana itu buat melindungi Sean di bursa efek," bisik Gabriel beracun. "Tanda tangani dokumen pengalihan seluruh rekening offshore milik Sean kepada Helios detik ini juga, Emily. Atau detik ini juga, pengacaraku akan mengirimkan rekaman transaksi haram pemalsuan beasiswa kamu ke Polisi Federal Malaysia. Kamu akan membusuk di penjara atas kasus kejahatan internasional."
Ancaman itu menggema dingin di dalam ruang rapat.
Sean melangkah satu titik ke depan, memasang tubuh tingginya di samping kursi Emily. "Jangan berani-berani kamu mengancam Emily, Setiawan! Kalau kamu berani menyentuh dia-"
"Aku tidak sedang bertanya padamu, Sean Anderson!" potong Gabriel keras, matanya menyala amarah. "Pilihan ada di tangan cewekmu!"
Emily menatap lembar dokumen di hadapannya. Tidak ada kepanikan di wajah cantiknya. Bibir merah mewahnya perlahan mengukir sebuah senyuman tipis, senyuman penuh kemenangan yang membuat Gabriel Setiawan mendadak mengerutkan dahinya bingung.
Emily mendorong kembali dokumen itu ke arah Gabriel.
"Anda salah menilai saya, Mr. Setiawan," suara Emily mengalun sangat tenang, jernih, dan tajam menusuk. "Anda pikir selama empat tahun di Swiss saya cuma belajar cara menghitung saham?"
Emily merogoh ponsel khususnya, menekan sebuah tombol eksekusi perintah, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Sebelum saya terbang dari Zurich ke Kuala Lumpur tiga bulan lalu," lanjut Emily dengan nada datar yang mengerikan, "saya sudah mengubah klausul anggaran dasar Helios Capital cabang Asia Tenggara di Mahkamah Arbitrase Internasional Zurich. Sebagai Senior Vice President, seluruh kewenangan eksekusi aset Helios di Malaysia berada di bawah biometrik tunggal milik saya."
Wajah Gabriel Setiawan seketika berubah kaku. "Apa yang kamu katakan?!"
"Artinya," potong Emily seraya membetulkan posisi kacamatanya, "dokumen penyitaan yang Anda pegang di tangan Anda itu... cuma selembar kertas sampah yang tidak berlaku di hukum bursa efek Malaysia."
Boom!
Para pengacara di samping Gabriel langsung panik membuka laptop mereka, memeriksa status legalitas entitas tersebut di portal internasional. Seketika itu juga, wajah ketiga pengacara tersebut berubah pucat pasi.
"Beliau... Beliau benar, Tuan Muda Setiawan!" bisik pengacara utamanya dengan suara gemetar. "Klausul kepemilikan Helios Malaysia sudah dialihkan secara independen atas nama pribadi Emily Valencia sejak dua bulan lalu!"
Gabriel berdiri mendadak dari kursinya, memukul meja mahoni dengan telapak tangannya hingga cangkir teh bergetar hebat. "Kamu... kamu mengkhianatiku, Emily?!"
Emily berdiri perlahan dari kursinya, menatap Gabriel dari atas ke bawah dengan tatapan dominasi mutlak yang amat memukau.
"Saya tidak mengkhianati Anda, Tuan Muda Setiawan," tegas Emily. "Saya hanya mengambil kembali harga diri dan masa depan saya yang pernah Anda manfaatkan demi dendam pribadi Anda. Mulai hari ini, Helios Capital Malaysia berdiri mandiri... dan Anda tidak punya hak apa pun atas hidup saya atau Sean."
Sean menatap Emily di sampingnya dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum dan bangga luar biasa. Gadis penakut yang dulu menangis di pelukannya kini telah menjelma menjadi seorang ratu keuangan yang tak terkalahkan.
Namun, di puncak kemenangannya, Gabriel Setiawan mendadak tertawa melengking, sebuah tawa kegilaan yang dipenuhi kebencian yang mendalam.
"Luar biasa... Sangat luar biasa, Emily," ujar Gabriel seraya menyapu keringat di dahinya. tangannya merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah remote genggam kecil berlampu merah yang berkedip.
"Kamu memang berhasil mengunci asetku di bursa," bisik Gabriel dengan senyum licik yang memuakkan. "Tapi kamu lupa satu hal, Emily... Kalau aku tidak bisa mendapatkan aset itu, maka tak ada seorang pun yang boleh memilikinya."
Gabriel menekan tombol merah pada remote tersebut.
Tiba-tiba, layar monitor raksasa di ruang rapat yang menampilkan grafik saham bursa efek Kuala Lumpur mendadak berubah menjadi warna merah menyala. Sebuah pesan peretasan massal muncul di seluruh layar transaksi pasar modal Asia Tenggara:
[ALERTA: Sistem Keuangan Konsorsium Helios & Anderson Group mengalami kebocoran data terenkripsi. Seluruh rekening investasi terancam dibekukan secara permanen oleh Bank Sentral dalam 30 menit.]
Gabriel telah meluncurkan virus peretas destruktif yang ia tanam sejak lama di jaringan perbankan tempat dana Sean dan Emily tersimpan!
"Kita tenggelam bersama, Emily Valencia!" jerit Gabriel histeris.
Bersambung......