Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - RITUAL 9 KANTUNG DAN MURID KUNLUN YANG TURUN DARI LANGIT

Danau Dongting, Junshan.

Danau terbesar kedua di seluruh negeri. Airnya luas seperti laut, tapi tidak asin. Di tengah danau, ada sebuah pulau kecil yang tidak ada di peta resmi Istana. Pulau itu bernama Junshan, tapi bagi Wulin, pulau itu punya nama lain: Sarang Pengemis.

Sarang Pengemis bukan istana. Bukan kuil. Bukan gunung suci.

Sarang Pengemis adalah kumpulan dari 1.000 gubuk bambu tambal-tambalan, 10.000 pengemis yang tidur di mana saja, bau ayam panggang yang tidak pernah habis, bau arak murah, dan suara anjing menggonggong yang jumlahnya lebih banyak dari pengemisnya.

Tapi hari ini, Sarang Pengemis tidak seperti biasanya.

Hari ini, 10.000 pengemis tidak mengemis. Mereka berdiri melingkar di lapangan lumpur terbesar di tengah pulau, membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran, ada sebuah panggung kayu yang terbuat dari pintu-pintu bekas yang diikat jadi satu. Di atas panggung, ada 8 kursi kayu. Di 8 kursi itu, duduk 8 orang tua dengan jubah goni yang kantungnya paling banyak: 9 kantung. 8 Tetua 9 Kantung, pilar Sekte Pengemis selain Ketua.

Dan di depan panggung, berdiri dua orang.

Satu tua, jubah 9 kantung tapi robek-robek paling parah, tongkat bambu hijau bengkok, labu arak penyok, sedang mengupil dengan santai. Hong Wei Jun, Pengemis Utara, Ketua Sekte Pengemis saat ini.

Satu muda, 17 tahun, jubah goni baru dengan 3 kantung kecil, memeluk kitab emas yang dibungkus goni agar tidak terlihat, wajahnya pucat karena gugup dikelilingi 10.000 pengemis yang menatapnya seperti melihat ayam panggang baru. Mu Chen.

Tadi pagi, Hong Wei Jun dan Mu Chen baru saja tiba di Junshan dengan berlari tanpa henti dari Desa Batu Kuning selama 2 hari 2 malam tanpa tidur, karena takut dicegat lagi oleh Paviliun Angin Hitam. Saat mereka tiba, Hong Wei Jun langsung berteriak: "Anak-anakku! Aku pulang! Dan aku membawa murid baru! Murid tertutup! Yang akan mewarisi Tongkat Pemukul Anjing!"

Seluruh Sarang Pengemis gempar.

Ritual penerimaan murid tertutup Ketua Sekte Pengemis belum pernah dilakukan selama 15 tahun, sejak Zhuo Fan hilang di Lembah Pedang. Karena murid tertutup berarti calon Ketua berikutnya.

Tiba-tiba, Hong Wei Jun yang sedang mengupil berhenti. Ia menatap langit di atas Danau Dongting.

Di langit biru yang cerah, ada sepotong kecil awan hitam yang lewat pelan. Bentuknya seperti kipas yang sobek. Awan itu bergerak melawan arah angin. Dari barat ke timur, tapi angin Danau Dongting bertiup dari timur ke barat.

Mata Hong Wei Jun yang mabuk langsung jernih. Ia berdiri tegak, labu araknya ia turunkan.

Semua 8 Tetua 9 Kantung yang duduk di kursi juga ikut menatap langit. Wajah mereka berubah.

"Awan Hitam..." bisik Tetua 9 Kantung tertua, yang jenggotnya sudah sampai ke lutut, "Awan Hitam yang bergerak melawan angin..."

Hong Wei Jun berseru, suaranya tidak keras, tapi 10.000 pengemis di lapangan langsung diam, karena sudah lama mereka tidak mendengar Ketua mereka berseru dengan nada seperti itu — nada serius, nada seperti 15 tahun lalu saat ia membawa kabar kematian Zhuo Fan.

"Awan Hitam mulai bergerak!"

Hong Wei Jun menunjuk awan hitam kecil yang bentuknya seperti kipas sobek itu yang perlahan-lahan menghilang ke arah Jiangnan.

"Kini Kaisar tua itu pasti tidak tahu apa-apa!"

8 Tetua 9 Kantung saling pandang, wajah mereka pucat.

"Kak Ketua, maksudmu... Paviliun Awan Hitam?" tanya Tetua 9 Kantung termuda, yang masih berumur 40 tahun tapi sudah botak karena terlalu banyak berpikir cara mencuri ayam.

Hong Wei Jun mengangguk pelan, lalu tertawa keras, tawanya menggelegar di atas Danau Dongting.

"Ha ha ha! Bagus! Bagus sekali! 20 tahun mereka diam seperti kura-kura di dalam tempurung! 15 tahun lalu saat Zhuo Fan mati, mereka tidak keluar! Saat Ouyang Lie meracuni 3 kota, mereka tidak keluar! Sekarang... hanya karena bocah goni ini..." ia menunjuk Mu Chen, "...dan karena bocah-bocah Jiangnan mulai memanggil bintang, mereka akhirnya bergerak!"

Ia menatap Mu Chen yang bingung.

"Bocah, kau tahu apa artinya Awan Hitam bergerak melawan angin? Artinya Paviliun Awan Hitam tidak lagi menjadi anjing Istana! Mereka bergerak atas kemauan mereka sendiri! Dan jika mereka bergerak sendiri, artinya Kaisar tua di Beijing itu... sedang dibohongi oleh anjingnya sendiri! Ha ha ha! Kaisar tua itu pasti mengira semua 36 Aliran Hitam masih patuh padanya! Padahal yang paling berbahaya di antara 36 itu sudah tidak patuh!"

Mu Chen tidak mengerti, tapi ia merasa kitab Tai Chu di punggungnya yang dibungkus goni menjadi sedikit hangat, seperti setuju.

Hong Wei Jun tidak melanjutkan. Ia tahu, ini bukan saatnya bercerita tentang Paviliun Awan Hitam kepada 10.000 pengemis yang sebagian besar masih tidak bisa membaca.

Ia berbalik, menatap 8 Tetua 9 Kantung, dan berteriak:

"Mulai ritual!"

DUNG! DUNG! DUNG!

Tetua tertua memukul gong yang terbuat dari wajan besar.

Ritual penerimaan murid Pengemis Hitam — sebutan kasar untuk Sekte Pengemis dari orang-orang Istana — dimulai.

Ritual itu tidak megah seperti Shaolin atau Wudang. Ritual itu... aneh.

Mu Chen disuruh berlutut di tengah panggung pintu bekas. Lalu 8 Tetua 9 Kantung, satu per satu, datang membawa mangkuk.

Mangkuk pertama berisi air Danau Dongting yang keruh. "Minum! Ini adalah air yang diminum 10.000 pengemis! Jika kau minum, kau adalah saudara kami!"

Mu Chen minum. Rasanya seperti lumpur.

Mangkuk kedua berisi nasi sisa kemarin yang sudah dingin. "Makan! Ini adalah nasi yang kami minta dari 100 keluarga! Jika kau makan, kau tahu rasa lapar!"

Mu Chen makan.

Mangkuk ketiga berisi... ayam panggang. Ayam panggang utuh yang masih mengepul.

Hong Wei Jun berbisik dari samping, "Ini ideku. Makan cepat sebelum diambil Tetua lain!"

Mu Chen memakan ayam itu dengan air mata. Setelah 3 hari hanya makan ubi liar di jalan, ayam itu terasa seperti makanan dewa.

Setelah 8 mangkuk, Tetua tertua mengambil sebuah jubah goni baru, tapi jubah itu memiliki 9 kantung. Bukan 3 kantung seperti yang dipakai Mu Chen sekarang.

"Mu Chen, 17 tahun, yatim dari Desa Batu, Sungai Kuning. Hari ini, di depan 10.000 saudara pengemis, di depan Danau Dongting, di depan Ketua Hong Wei Jun, kau..."

Tetua tertua menatap Hong Wei Jun, meminta izin.

Hong Wei Jun mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia teringat 20 tahun lalu, ia juga dilantik seperti ini oleh gurunya.

"...resmi menjadi Murid Tertutup Ketua Sekte Pengemis, murid ke-19, dengan 9 kantung! Calon Ketua Sekte Pengemis berikutnya! Jika kau berkhianat, 10.000 pengemis akan mematahkan kakimu! Jika kau setia, 10.000 pengemis akan memberimu ayam panggang seumur hidup!"

Ia memakaikan jubah 9 kantung itu pada Mu Chen.

10.000 pengemis bersorak. Sorakan pengemis bukan seperti sorakan pendekar. Sorakan mereka adalah... semua memukul mangkuk nasi mereka dengan tongkat, berisik sekali, seperti 10.000 anjing menggonggong bersamaan.

Mu Chen berdiri, dengan jubah 9 kantung yang kebesaran, memeluk kitab Tai Chu, menangis. Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, ia punya rumah. Rumah yang bau arak dan ayam panggang, tapi rumah.

Hong Wei Jun memeluk muridnya, berbisik pelan di telinganya, hanya untuk didengar Mu Chen.

"Bocah, mulai besok, aku akan mengajarkanmu 15 tapak pertama 18 Tapak Penakluk Naga. 3 tapak terakhir... bahkan aku belum sempurna. 3 tapak terakhir itu... hanya bisa dipelajari jika kau mengerti apa itu 'menyesal'. Seperti naga sombong yang menyesal. Dan untuk mengerti menyesal, kau harus... kehilangan sesuatu dulu. Semoga kau tidak perlu mengalaminya. Tapi jika kau mengalaminya... ingat, Guru ada di sini."

Mu Chen mengangguk sambil menangis, ayam panggang masih di mulutnya.

Di saat yang sama, jauh di barat.

Pegunungan Kunlun, Gunung Salju Putih yang puncaknya tidak pernah mencair. Tempat di mana Sekte Kunlun berada. Sekte yang paling jauh dari Istana, yang paling dekat dengan langit.

Kunlun juga menjadi target Aliran Hitam. Karena Kunlun adalah satu-satunya sekte yang memiliki naskah kuno tentang Lembah Api, tempat Zhuo Fan dan Yang Lie menghilang.

Di gerbang Sekte Kunlun yang terbuat dari es abadi, 5 pendekar Kunlun dengan jubah putih bordir awan salju sedang berlari tergesa-gesa masuk ke dalam sekte, wajah mereka pucat, pedang mereka patah. Mereka adalah murid-murid yang hadir di Puncak Huashan 3 hari lalu dan baru kembali.

"Kak Senior! Kakak Senior Ye Qingchen!"

Di dalam Aula Kunlun yang dinginnya menusuk tulang, seorang pemuda 20 tahun duduk bersila di atas balok es. Jubah putih sederhana, wajah tampan dingin seperti es Kunlun yang tidak pernah mencair, rambut putih keperakan bukan karena tua tapi karena berlatih Kungfu Es Kunlun sejak kecil, di pangkuannya ada pedang panjang putih seperti terbuat dari es.

Ye Qingchen, 20 tahun, Murid Utama Sekte Kunlun, julukan Pedang Salju Kunlun. Jenius nomor satu Kunlun dalam 50 tahun. 15 tahun lalu, saat Zhuo Fan mati, ia masih berumur 5 tahun, tapi ia masih ingat Zhuo Fan pernah datang ke Kunlun dan memberinya permen es.

Ia membuka matanya yang berwarna biru muda seperti danau es.

"Apa?"

"Kakak Senior! Di jalan kembali dari Huashan, kami dicegat oleh orang-orang Gunung Bela Diri Hitam! Mereka ingin merebut peta Lembah Api! Kami... kami kalah..."

Ye Qingchen berdiri. Balok es di bawahnya retak.

"Peta Lembah Api? Itu peta yang ditinggalkan Paman Zhuo Fan 15 tahun lalu sebelum pergi ke Lembah Pedang. Tidak boleh jatuh ke tangan Istana."

Ia mengambil pedang esnya, menyarungkannya di punggung.

"Di mana mereka sekarang?"

"Mereka... mereka masih di kaki gunung! Mereka bilang, jika Kunlun tidak menyerahkan peta dan tidak menyerahkan hak untuk ikut Janji 7 Tahun, mereka akan membakar desa-desa di kaki Kunlun!"

Ye Qingchen berjalan keluar dari Aula Kunlun, langkahnya tidak meninggalkan jejak di salju, seperti ia melayang.

"Siapkan kuda salju. Aku akan turun gunung. Aku akan memberi mereka peta."

Murid-murid itu terkejut. "Kakak Senior?!"

"Tapi peta palsu," lanjut Ye Qingchen dengan wajah dingin, tapi ada senyum tipis yang hanya terlihat jika diperhatikan dengan sangat teliti. "Peta asli... sudah ada di kepalaku. Dan aku akan pergi ke Huashan. Bukan 7 tahun lagi. Tapi sekarang. Aku akan menunggu di Huashan."

Ia menatap ke arah timur, ke arah Huashan yang jauh, ke arah Danau Dongting tempat Mu Chen baru saja dilantik.

"Zhuo Fan... Paman... jika kau masih hidup... aku, Ye Qingchen, murid Kunlun, berumur 20 tahun, dengan ini memantapkan diri bergabung dalam Janji 7 Tahun. Bukan sebagai wakil Kunlun. Tapi sebagai... keponakanmu. Karena 15 tahun lalu, kau memberiku permen es dan berjanji akan membawaku melihat Danau Tai. Janji itu belum kau tepati."

Ia melompat dari Puncak Kunlun. Tidak menggunakan tangga, tidak menggunakan tali. Ia melompat langsung dari tebing setinggi 1.000 kaki, pedang esnya berkilau, dan ia menghilang di antara salju yang beterbangan, seperti seekor burung salju yang terbang menuju timur.

Di belakangnya, 5 murid Kunlun bersorak.

"Kakak Senior Ye Qingchen bergabung dalam Janji 7 Tahun!"

Dan di langit di atas Kunlun, awan hitam kecil berbentuk kipas sobek yang tadi lewat di atas Danau Dongting, kini lewat lagi di atas Kunlun, bergerak melawan angin, menuju ke arah Huashan.

Hong Wei Jun benar. Awan Hitam mulai bergerak. Dan Kaisar tua di Beijing pasti tidak tahu apa-apa.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!