Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Bab 14: Sidang Keagungan, Debat Empat Pilar, dan Belenggu Penjara Kehampaan
Tiga hari setelah Wiliam keluar dari kamarnya dan menyatukan kembali sisa-sisa kehancuran keluarga Pendragon, sebuah utusan resmi dari Istana Kerajaan mendarat di pelataran mansion Pendragon. Dua puluh Ksatria Pengawal Kerajaan berzirah emas, dipimpin oleh seorang Menteri Utama bernama Lord Vane, turun dari kereta kuda berhiaskan simbol naga kerajaan dengan membawa gulungan surat berstempel lilin merah tua milik Raja.
"Atas nama Yang Mulia Raja Kerajaan," seru Lord Vane dengan suara lantang yang sengaja digemakan di sepanjang koridor mansion, "memanggil Wiliam Pendragon untuk segera menghadap ke Ruang Sidang Keagungan Istana Utama guna mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menjelaskan identitas rahasia serta manifestasi kekuatan iblis di malam bencana!"
Julius Pendragon melangkah maju hendak memprotes keras pemanggilan yang terkesan seperti penangkapan tersebut, namun Wiliam memegang bahu ayahnya pelan.
"Tidak apa-apa, Ayah," ucap Wiliam tenang, matanya yang kini jernih memancarkan aura ketabahan. "Aku akan pergi."
Ruang Sidang Keagungan Istana Utama Kerajaan bergema oleh bisik-bisik tegang dari ratusan bangsawan, jenderal militer, kepala klan sihir, dan perwakilan ras lain yang memadati ruang aula raksasa berpilar pualam tersebut. Di atas takhta keagungan, Raja Kerajaan duduk dengan wajah penuh pertimbangan berat, memegang tongkat kebesarannya.
Wiliam melangkah masuk ke tengah ruang sidang dengan pakaian serba hitam yang rapi. Tanpa topeng, tanpa penyamaran, paras tampannya yang menawan terpampang jelas di bawah pendar lampu sihir aula. Di belakangnya, Julius Pendragon, Julius Jr., Hector, serta dua kawan akademinya, Leo dan Reno, berdiri menyaksikan dari area bangsawan dengan hati bersitegang.
Begitu Wiliam berhenti tepat di hadapan tangga takhta, suasana aula mendadak hening seketika—sebelum akhirnya pecah oleh letupan debat politik yang membara dari kubu Bangsawan Konservatif.
"Yang Mulia Raja!" seru Duke Cassian—pemimpin faksi bangsawan tua yang terkenal irian dan picik—melangkah ke depan dengan menunjuk Wiliam menggunakan jari tangannya yang gemetaran. "Anak ini adalah ancaman nyata bagi keselamatan seluruh Kerajaan! Semua orang di alun-alun menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa dari punggung pemuda ini tumbuh empat sayap iblis dan tanduk kaisar! Punggung tangannya terukir simbol iblis purba! Dia bukan lagi manusia—dia adalah Iblis Berwujud Manusia yang berkeliaran di tengah-tengah kita!"
"Tutup mulutmu, Cassian!" bentak Julius Pendragon memotong dari tribun bangsawan, matanya menyala marah. "Putraku menumpahkan darahnya untuk membantai Duke Malphas dan menyelamatkan ribuan warga ibu kota! Tanpa dia, kau dan seluruh pengikut penakutmu sudah menjadi abuk dan tumbal ritual!"
"Tenang, Count Julius!" sela Lord Vane dari Faksi Hukum Istana dengan nada dingin. "Kami mengakui bahwa Hantu Topeng—atau Wiliam Pendragon—telah membunuh Bangsawan Iblis Level 18. Namun hukum kerajaan sangat jelas: keberadaan kekuatan Kaisar Iblis pada seorang warga mortal adalah ancaman keselamatan tingkat nasional! Bagaimana jika kekuatan iblis itu mengendalikan kesadarannya dan mengamuk di tengah ibu kota?! Siapa yang bisa menjamin bahwa dia tidak akan menjadi bencana baru bagi Kerajaan?!"
"Iri! Kalian semua hanya iri dan takut!" teriak Leo dari tribun akademi, memprotes keras hingga ditahan oleh para penjaga. "Wiliam bertarung demi kita semua saat kalian berteduh di balik tembok istana!"
Beberapa bangsawan muda dan perwakilan tentara veteran di barisan kanan aula mengangguk setuju dengan ucapan Leo, menyuarakan rasa bangga dan hormat mereka pada sang Hantu Topeng.
"Dialah Pahlawan Ibu Kota sejati!"
"Kekuatan apa pun yang dia miliki, dia telah menyelamatkan nyawa anak dan istri kami!"
"Jangan hukum pahlawan yang telah menumpahkan darahnya!"
"Cukup!"
Suara gelegar sang Raja bergema memotong seluruh keributan aula, membekukan suasana ruang sidang dalam seketika. Sang Raja memandang Wiliam yang berdiri tegap di tengah aula tanpa menunjukkan raut ketakutan sedikit pun.
"Wiliam Pendragon," panggil sang Raja dengan nada berat. "Kau telah membuktikan kesetiaan dan keberanianmu dengan memusnahkan Duke Malphas dan menyelamatkan Kerajaan ini dari kehancuran total. Kerajaan ini berutang nyawa padamu, dan untuk itu, namamu akan diukir sebagai Pahlawan Utama."
Sang Raja menghela napas panjang, tatapannya beralih pada ribuan bangsawan yang saling bersitegang. "Namun, ketakutan akan manifestasi wujud Kaisar Iblis di dalam tubuhmu juga merupakan kenyataan yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh hukum Kerajaan. Demi menjaga stabilitas politik, mencegah kepanikan massal, dan memenuhi keadilan bagi seluruh faksi..."
Sang Raja mengangkat tongkat kebesarannya dan menghentakkannya ke lantai pualam.
THUD!
"Aku memutuskan: Wiliam Pendragon akan ditempatkan di Penjara Kehampaan Tingkat Bawah Tanah atas tuduhan dugaan potensi ancaman entitas iblis. Dia akan ditahan secara terhormat di sana hingga ada bukti absolut yang mengonfirmasi bahwa jiwanya sepenuhnya murni dari pengaruh Kaisar Iblis dan ia bukan ancaman bagi ras manusia!"
Pengumuman keputusan raja tersebut meletuskan tangisan penyesalan dari Julius Pendragon dan kepuasan licik dari wajah Duke Cassian. Wiliam hanya mengangguk pelan, menerima keputusan politik sang Raja dengan ketenangan yang luar biasa.
Di saat Wiliam digiring menuju Penjara Kehampaan, jauh di puncak Menara Alam Semesta yang melayang di atas awan tertinggi benua, sebuah pertemuan rahasia tingkat tertinggi sedang berlangsung.
Empat entitas terkuat yang memegang keseimbangan dunia—Empat Pilar Makhluk Terkuat—berkumpul di sekitar meja bundar batu purba.
Alistair: Penyihir Manusia Terkuat di dunia, pria tua berjanggut putih panjang dengan jubah astrologi yang dipenuhi bintang-bintang berpendip.
Trigger: Manusia Harimau dari ras Furry Terkuat, raksasa berotot emas berkulit bulu loreng yang memegang kapak perang pembelah gunung.
Solaria (Mother of Dragon): Ratu Ras Naga Terkuat, wanita anggun bermata emas menyala dengan gaun bersisik merah keemasan yang memancarkan hawa panas melubangi udara.
Anastasia (Anya): Nona Suci Elf Terkuat, yang duduk dengan keanggunan dingin namun matanya memancarkan ketegasan yang sangat menakutkan.
"Keputusan Raja Kerajaan manusia itu sungguh dangkal dan konyol!" derum Trigger dengan suara berat yang menggetarkan lantai menara, membanting tinjunya ke meja batu. "Pemuda itu membantai Bangsawan Iblis Level 18 seorang diri! Dia adalah pahlawan! Kenapa kalian ras manusia malah mengurungnya di dalam sel Penjara Kehampaan?!"
"Kendalikan emosimu, Trigger," sahut Alistair pelan, mengelus janggut putihnya seraya menatap bola kristal di tengah meja. "Ini bukan sekadar masalah mengurung seorang pahlawan. Masalah utamanya adalah Aura Kaisar Iblis Primordial yang terbakar di dalam jiwanya. Kau tahu betul sejarah seribu tahun lalu, Trigger. Jika kehendak Kaisar Iblis bangkit sepenuhnya di dalam tubuh manusia itu, seluruh benua ini akan tenggelam dalam lautan darah kedua."
"Dia bukan ancaman!" potong Anastasia dingin, suaranya mengandung pendar es murni yang membekukan meja bundar di hadapan mereka. "Wiliam mengendalikan kekuatan itu demi membela keluarganya. Jiwanya sepenuhnya murni, Alistair. Aku telah menatap langsung ke dalam kedalaman jiwanya dan menyatukan energi kehidupan kami. Jika ada di antara kalian yang berani menyentuhnya di dalam Penjara Kehampaan, aku sendiri yang akan meratakan menaramu."
Solaria, Sang Mother of Dragon, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan dominasi ras naga. Ia meminum anggur di cangkirnya sebelum bersuara dengan nada penuh intrik.
"Oho... Anastasia yang dingin mendadak menjadi begitu agresif demi seorang pemuda manusia belia?" goda Solaria halus, matanya memicing menatap Anastasia. "Namun Alistair ada benarnya, Anya. Garis keturunan Kaisar Iblis bukan sesuatu yang bisa dipandang remeh. Menurut pengamatan mata nagaku, pemuda bernama Wiliam itu berjalan di atas dua jalur ekstrem sekaligus—Jalur Penempaan Tubuh Demigod dan Jalur Iblis Absolut. Jika ia berhasil menyatukan kedua kekuatan itu, dia akan melampaui kita berempat dan menjadi entitas terkuat di dunia ini. Namun jika gagal... dia akan menjadi monster tanpa akal sehat."
"Maka dari itu kita harus membimbingnya, bukan mengurungnya bagaikan binatang di dalam penjara!" tegas Trigger berapi-api. "Sekte Pemuja Iblis telah mulai bergerak secara terbuka. Kerusakan pada segel dimensi menandakan bahwa invasi ras iblis skala besar tinggal menghitung waktu! Kita membutuhkan kekuatan Wiliam di garis depan!"
"Aku setuju bahwa kita membutuhkan kekuatannya," puji Alistair menatap Anastasia dan Trigger secara bergantian. "Namun Penjara Kehampaan adalah tempat terbaik baginya untuk sementara waktu. Di dalam isolasi Penjara Kehampaan, aliran mana dan pengaruh iblis di dalam tubuhnya tidak akan bisa dideteksi oleh para Mata-mata Sekte Pemuja Iblis. Itu adalah tempat tempaan terbaik bagi Wiliam untuk menguasai Inti Iblis dan Inti Demigod-nya secara sempurna tanpa gangguan politik kerajaan."
"Berapa lama kalian bermaksud membiarkannya di sana?!" tuntut Anastasia menatap Alistair dengan sepasang mata perak yang berkilat tajam.
"Hingga Bukti Kesadaran Absolut terwujud," jawab Alistair mantap. "Aku sendiri yang akan menyusun formulasi Ujian Kehampaan untuknya di dalam sel. Jika Wiliam Pendragon mampu melewati Ujian Kehampaan tersebut dan mempertahankan kesadaran manusianya di bawah gempuran ilusi iblis, aku—Penyihir Terkuat Alistair—akan melangkah turun secara pribadi ke Istana Kerajaan untuk membebaskannya dan mengangkatnya sebagai Ksatria Agung Benua!"
Solaria menyandarkan tubuhnya pada kursi batu, tersenyum penuh minat. "Format perdebatan yang menarik. Ratu Naga setuju dengan usul Alistair. Mari kita lihat... apakah kekasih kecilmu itu sanggup menaklukkan kegelapan di dalam dirinya sendiri, Anastasia."
Anastasia mengepalkan tangannya di bawah meja, lalu menghela napas pelan, menerima keputusan tiga pilar terkuat lainnya. "Baik. Tapi ingat kata-kataku... jika Ujian Kehampaan itu membahayakan jiwanya sedikit saja, aku tidak akan ragu untuk menghancurkan Penjara Kehampaan dan membawa Wiliam pergi dari benua ini."
Perdebatan panas antar empat pilar terkuat berlanjut hingga larut malam, membahas pemetaan pertahanan benua, pergerakan Sekte Pemuja Iblis, dan masa depan Wiliam Pendragon yang kini memegang takdir keselamatan dunia di dalam belenggu Penjara Kehampaan.