Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 14: Jarak yang Tak Terjangkau
...MENGULANG LUKA...
...Bab 14: Jarak yang Tak Terjangkau...
Suasana di kamar utama terasa begitu pekat, seolah oksigen di sekitar mereka mendadak habis tersedot oleh ketegangan emosional yang terjadi. Valencia bisa merasakan detak jantung Julian yang bertalu keras di bawah telapak tangannya yang masih menahan dada bidang pria itu. Penegasan Julian yang menyebut namanya secara utuh—bukan sebagai bayangan Gracia—sempat membuat dunianya berputar sesaat. Namun, Valencia dengan cepat menarik kembali kesadarannya yang hampir goyah.
Dia adalah Valencia yang datang dari masa depan. Dia adalah wanita yang sudah menandatangani berkas perceraian mereka setelah lima tahun menderita dalam kesepian. Dia tidak boleh kembali jatuh ke dalam pesona pria yang di kehidupan pertamanya selalu menganggapnya sebagai pajangan rumah semata.
Valencia memutus kontak mata mereka secara paksa. Dia memalingkan wajahnya ke samping, menolak ditatap lebih dalam oleh sepasang manik mata elang Julian yang mulai meredup sensual.
"Jika Anda sudah sadar siapa saya, maka menyingkirlah, Tuan Edgar," ucap Valencia. Suaranya kembali menjelma menjadi bilah es yang dingin, datar, dan penuh dengan penolakan. "Tubuh Anda terlampau berat. Dan saya rasa, posisi seperti ini sangat tidak pantas dilakukan oleh sepasang suami istri yang bahkan tidak saling mencintai."
Kata 'tidak saling mencintai' itu meluncur seperti anak panah yang melesat tepat sasaran, menghantam ego tertinggi Julian Edgar.
Julian membeku. Kalimat dingin Valencia seketika menyiram paksa gairah dan debaran aneh yang sempat menguasai akal sehatnya beberapa detik lalu. Kesadaran pria itu kembali ditarik ke permukaan secara brutal. Otot-otot di tubuh tegapnya menegang. Sentuhan lembut ibu jarinya yang tadi sempat menekan bibir Valencia langsung ditarik mundur dengan cepat.
Julian mendengus sinis, menyembunyikan rasa frustrasi dan gejolak jengkel yang mendadak menguasai hatinya. Dia menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan kungkungan erat yang mengunci tubuh Valencia di atas kasur.
"Kau benar," desis Julian dengan suara bariton yang kembali mengeras dan kaku. Pria itu mundur beberapa langkah, berdiri di samping ranjang sembari merapikan kaus hitam polosnya yang sedikit berantakan. "Pernikahan ini memang tanpa cinta. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang terjadi malam ini karena aku memiliki ketertarikan padamu, Valencia."
Julian sengaja membalas dengan kalimat yang tak kalah kejam, mencoba menyembuhkan harga dirinya yang baru saja terluka akibat penolakan mentah-mentah dari istrinya sendiri. Dia ingin menegaskan bahwa dialah yang memegang kendali di sini, bukan Valencia.
Valencia ikut bangkit dari posisinya, duduk di tepi ranjang sembari merapikan selimut tebal yang sempat tersingkap. Dia menatap punggung tegap Julian yang membelakanginya dengan senyuman tipis yang sarat akan kegetiran sekaligus kebebasan.
"Saya tahu. Dan saya sangat bersyukur jika Anda tetap mengingat hal itu, Tuan Edgar," sahut Valencia tenang. "Hubungan kita murni karena tanggung jawab dan bisnis keluarga. Jadi, mari kita tetap menjaga batasan itu hingga akhir."
Julian tidak membalas ucapan itu. Rahangnya mengatup teramat rapat hingga giginya berkerat dalam keheningan malam. Kata 'hingga akhir' yang diucapkan Valencia terdengar begitu mengusik telinganya, seolah wanita itu sedang menghitung mundur sisa waktu kebersamaan mereka.
Tanpa sepatah kata lagi, Julian membalikkan tubuhnya dengan kasar. Dia menyambar bantal tambahan di sofa sudut kamar, lalu berjalan lebar menuju pintu kamar utama dan membantingnya dengan keras saat keluar menuju kamar tamu. Pria bertubuh 190 sentimeter itu kembali terusir dari kamarnya sendiri oleh dinginnya benteng pertahanan sang istri.