Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: 'Sadar posisi'
Selanjutnya...
Alunan musik dan denting gelas porselen membaur dengan suara riuh rendah para tamu di area VIP ballroom. Lampu kristal yang menggantung megah membiaskan cahaya keemasan, memantul di atas gaun dusty rose yang dikenakan Aura.
Rambut hitam panjangnya yang terurai dan bergelombang halus jatuh menyapu bahunya, memberikan kesan anggun yang bersahaja.
Fadil membimbing Aura melangkah menuju area ruang santai bernuansa perak di sudut hall, tempat berkumpulnya lingkar pertemanan terdekat Fadil dan Keisya sejak zaman kuliah.
Posisi Fadil di samping Aura terlihat mantap, sebuah gestur yang tegas untuk menegaskan posisi Aura sebagai pendamping resminya malam ini di hadapan semua orang.
"Hei! Fadil!"
Seorang pria jangkung berpakaian kemeja satin hitam menyapa dengan penuh semangat. Dialah Dimas, sahabat dekat Fadil yang juga memegang posisi strategis di perusahaan tempat Keisya kerap bekerja sama.
Di sampingnya, berdiri Cynthia dan Maya, dua wanita anggun yang selama ini dikenal sebagai lingkaran terdekat Keisya.
Langkah Fadil pun terhenti di hadapan mereka, dengan senyum tipis yang mengulas di wajahnya. "Dimas. Cynthia, Maya."
"Akhirnya datang juga kamu, Dil," sahut Dimas seraya menepuk bahu Fadil dengan akrab. Pandangan Dimas lalu beralih menatap sosok wanita di samping Fadil. Matanya membelalak pelan yang tersirat kecanggungan. "Dan ini... Aura, kan? Adiknya Keisya?"
Aura menyunggingkan senyum hangat yang ramah, dan sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan. "Selamat malam, Mas Dimas, Mbak Cynthia, Mbak Maya."
"Selamat malam, Aura," jawab Maya, suaranya terdengar datar dengan sedikit raut canggung yang tak bisa ditutupi.
Fadil melirik sejenak ke arah Aura kemudian berdiri tegap di sampingnya. "Aku mengenalkan Aura sebagai istriku pada teman-teman malam ini."
Pernyataan Fadil yang singkat namun padat itu disambut dingin oleh ketiga temannya. Cynthia menghela napas pelan, seraya menyilangkan tangannya di dada dan menatap Fadil dengan pandangan prihatin yang terang-terangan.
"Jujur ya, Dil... kami masih kaget banget sampai sekarang," ujar Cynthia tanpa basa-basi. "Tiga Minggu lalu waktu dengar berita kamu tetap akad tapi pengantinnya berganti jadi Aura, kami bertiga beneran gak nyangka."
"Iya, Dil," timpal Maya seraya mengarahkan pandangannya pada Aura sejenak lalu kembali menatap Fadil. "Soalnya kita semua tau betul gimana perjuangan kamu sama Keisya selama empat tahun ini. Kamu ingat gak sih waktu Keisya bela-belain bikin desain pameran semalaman sampai dirawat di rumah sakit cuma demi bantu projek pertamamu?"
"Gak cuma itu," tambah Dimas sambil terkekeh kecil, yang mencoba mencairkan ketegangan meski topik yang dibahas makin menyudutkan posisi Aura di tempat itu. "Fadil juga pernah hampir batalin rapat direksi cuma gara-gara Keisya mendadak demam di Bandung. Kalian berdua itu udah kaya couple goals banget di mata kita semua."
Percakapan itu mengalir begitu deras. Mereka bertiga terus mengenang momen-momen manis, romantis, dan pengorbanan besar antara Fadil dan Keisya di masa lalu.
Setiap detail cerita disampaikan dengan penuh nada kagum dan simpati atas berpisahnya pasangan yang mereka anggap sempurna itu.
Sedangkan Fadil sendiri, ia lebih banyak bergeming, dengan sesekali menyedot minumannya atau sekadar mengangguk tipis tanpa menanggapi lebih jauh detail masa lalunya bersama Keisya.
Matanya sesekali melirik ke arah samping, dan memperhatikan respons Aura yang berdiri tepat di sebelah lengannya.
Ia melihat Aura yang berdiri tenang. Tidak ada kilatan cemburu di matanya, dan tidak ada guratan luka atau raut wajah yang merajuk. Gadis itu hanya mendengarkan setiap bait cerita itu dengan saksama dan penuh pengertian.
Di dalam benak Aura, ia sadar betul akan posisinya. Sejak awal, ia masuk ke dalam hidup Fadil bukan untuk menggantikan cinta kakaknya, melainkan sebagai penambal kehormatan dua keluarga yang hampir hancur.
Bagi Aura, kenyataan bahwa Fadil dan Keisya saling mencintai secara mendalam adalah fakta yang tak bisa diganggu gugat.
Mendengar betapa kawan-kawan Keisya begitu peduli dan memperhatikan kakaknya justru menghadirkan rasa hangat dan syukur di hati Aura.
Ia merasa beruntung karena kakaknya memiliki sahabat-sahabat yang begitu baik dan setia. Dalam sudut pandang terdalamnya, Aura tetap memposisikan dirinya sebagaimana mestinya, yaitu, seorang adik ipar yang kebetulan terikat dalam takdir tak terduga bersama Fadil.
"Aura," suara Cynthia mendadak memotong nostalgia mereka. Wanita itu menatap Aura dengan raut penasaran yang terselubung. "Kamu gak apa-apa kan kita ngomongin Keisya di depan kamu?"
Mendengar pertanyaan itu, Aura pun tersenyum tulus, tatapan matanya jernih tanpa beban, kemudian ia menjawab, "Sama sekali tidak apa-apa, Mbak Cynthia. Justru Aura senang dengarnya."
Maya mengernyitkan dahinya karena heran dengan jawaban itu. "Senang? Kenapa?"
"Karena dari cerita Mas Dimas, Mbak Cynthia, dan Mbak Maya, Aura makin paham betapa berharganya Kak Keisya di mata kalian semua," jawab Aura dengan suara yang lembut dan mantap. "Kak Keisya memang wanita yang sangat luar biasa dan penyayang. Memiliki sahabat-sahabat yang peduli dan selalu mengingat kebaikannya seperti kalian adalah hal yang sangat disyukuri oleh keluarga kami."
Lalu Aura melirik tipis ke arah Fadil yang sedang menatapnya intens, kemudian melanjutkan perkataannya dengan tenang. "Hubungan Mas Fadil dan Kak Keisya punya tempat dan sejarahnya sendiri yang sangat dihormati oleh semua orang. Posisi saya di sini adalah untuk menjaga amanah keluarga dan memastikan Mas Fadil tetap bisa menjalankan tugasnya dengan baik."
Jawaban Aura yang begitu dewasa, santun, dan sama sekali tidak tersirat nada haus pengakuan membuat ketiga sahabat itu mematung seketika.
Tidak ada riak kecemburuan, tidak ada ambisi untuk menyingkirkan bayang-bayang Keisya, yang ada hanya ketulusan murni dari seorang wanita yang tau persis di mana ia berdiri.
Dimas menatap Aura dengan pandangan kagum dan berkata, "Wah... kamu benar-benar adik yang baik ya, Ra. Keisya beruntung punya adik seperti kamu."
"Terima kasih, Mas Dimas," balas Aura.
Sementara, Fadil yang berdiri di samping Aura merasakan sebuah sengatan aneh di hatinya. Kata-kata Aura yang dengan begitu gamblang memposisikan dirinya hanya sebagai 'ipar yang menjalankan amanah', terasa begitu jujur sekaligus memberi ruang lengang yang tajam.
Ketenangan wanita itu dalam menghadapi rentetan masa lalunya bersama Keisya justru membuat Fadil sadar bahwa dinding yang dibangun Aura di antara mereka berdua jauh lebih kokoh dari yang ia duga.
"Aku ambilkan minuman hangat dulu untukmu," bisik Fadil di dekat telinga Aura.
Aura pun menoleh dan mengangguk halus. "Terima kasih, Mas."
Fadil lalu melangkah pergi menuju meja hidangan, dan meninggalkan Aura yang tetap berdiri anggun seraya bertegur sapa dengan teman-teman kakaknya dalam kehangatan yang wajar dan tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Setegas itu? Benarkah?," batin Fadil.
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣