Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Menyerah
Ling Xi naik ke atas arena dengan langkah anggun. Sepasang matanya yang indah menatap Li Tianxuan tanpa berkedip.
Dia telah mendengar banyak hal tentang murid baru itu.
Seorang pemuda yang baru bergabung dengan Sekte Pedang Langit, tetapi langsung mendapatkan perlakuan khusus dari Tetua Pertama.
Bahkan tanpa mengikuti ujian sekte, dia langsung mendapatkan status sebagai murid.
Hal itu tentu saja membuat banyak murid tidak puas.
Ling Xi sendiri sebenarnya tidak terlalu memedulikannya.
Namun, ketika mendengar bahwa Ketua Sekte memberikan satu kesempatan kepada siapa pun yang mampu mengalahkan Li Tianxuan untuk memasuki Reruntuhan Kuno, dia akhirnya tertarik.
Itu adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.
Sayangnya, setelah beberapa pertarungan sebelumnya, Ling Xi menyadari satu hal.
Pemuda di hadapannya jauh lebih kuat daripada yang terlihat.
Meskipun kekuatannya hanya berada di Ranah Lautan Spiritual, pengalaman bertarungnya sangat luar biasa.
Namun...
Perbedaan antara Lautan Spiritual dan Inti Roh terlalu besar.
Terlebih lagi, Ling Xi telah mencapai Ranah Inti Roh Tingkat 9 Puncak.
Dia yakin, selama dirinya serius, Li Tianxuan tidak akan mampu bertahan lebih dari beberapa jurus.
Ling Xi mengangkat dagunya sedikit.
"Aku mendengar kau cukup sombong."
Li Tianxuan hanya menatapnya datar. Dia tidak menjawab. Sebaliknya, kesadarannya perlahan menyapu tubuh Ling Xi.
Beberapa saat kemudian, matanya menyipit.
"Ranah Inti Roh Tingkat 9 Puncak..."
Suara Li Tianxuan terdengar pelan.
Perbedaan kekuatan terlalu besar. Bahkan setelah dirinya menerobos hingga Ranah Lautan Spiritual Tingkat 5, dia masih belum memiliki keyakinan untuk menghadapi seseorang yang berada di puncak Ranah Inti Roh.
Li Tianxuan bukanlah orang yang bodoh.
Sepuluh tahun bertahan hidup di Kota Tai telah mengajarkannya satu hal. Jangan melawan sesuatu yang tidak mungkin dikalahkan.
Mengetahui kapan harus maju dan kapan harus mundur adalah bagian dari bertahan hidup.
Jika dia memaksakan pertarungan sekarang, kemungkinan besar hanya akan berakhir dengan kematian.
Karena itu... Li Tianxuan menghela napas pelan. Kemudian dia menangkupkan kedua tangannya.
"Aku menyerah."
Hening.
Seluruh Alun-Alun Sekte seketika sunyi. Bahkan suara angin seolah menghilang.
Ling Xi terdiam.
Murid-murid yang berada di bawah arena juga terdiam.
Qin Haoran dan Yuan Gu yang berada di kejauhan bahkan saling memandang.
Tidak ada yang menyangka Li Tianxuan akan menyerah begitu saja. Bukankah sebelumnya dia begitu berani menantang para murid sekte?
Namun sekarang, ketika berhadapan dengan Ling Xi, dia justru memilih mundur.
Beberapa saat kemudian, Qin Haoran tersenyum tipis.
"Karena Tianxuan telah mengaku kalah, maka pemenangnya adalah Ling Xi."
Ling Xi mengerutkan kening. Entah mengapa, kemenangan ini sama sekali tidak terasa seperti kemenangan.
Dia menatap Li Tianxuan.
"Kau menyerah?"
"Benar."
"Padahal aku belum menyerang."
Li Tianxuan mengangkat bahu.
"Aku tahu."
"Kalau begitu, mengapa menyerah?"
Li Tianxuan menatap Ling Xi dengan tenang.
"Karena aku tahu aku tidak bisa menang."
Jawaban itu begitu sederhana. Tidak ada rasa malu. Tidak ada rasa takut. Bahkan tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Ling Xi semakin bingung.
"Jadi kau takut?"
Li Tianxuan berbalik.
"Takut?"
Dia berhenti sejenak.
Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.
"Seekor semut yang mengetahui dirinya tidak mampu melawan gajah bukan berarti pengecut ketika memilih untuk tidak melawannya."
Ling Xi langsung mengerutkan kening.
"Kau..."
Li Tianxuan berjalan turun dari arena.
Namun sebelum benar-benar pergi, dia berhenti dan menoleh.
"Tapi setelah keluar dari Reruntuhan Kuno..." Tatapannya berubah tajam. "Aku akan menantangmu."
Ling Xi terdiam.
Li Tianxuan melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi.
Ling Xi menatap punggungnya yang semakin jauh.
Beberapa saat kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Menarik."
"Kalau begitu, aku akan menunggumu."
Setelah itu, tubuh Ling Xi perlahan melayang ke udara dan meninggalkan arena.
Di bawah arena, para murid langsung gempar.
"Apakah kalian melihatnya?"
"Bidadari Ling Xi tersenyum!"
"Jangan-jangan dia tertarik pada Tianxuan?"
"Mustahil!"
"Pemuda itu bahkan baru berada di Ranah Lautan Spiritual!"
Sementara itu, Li Tianxuan sama sekali tidak memedulikan pembicaraan mereka.
Baginya, Reruntuhan Kuno jauh lebih penting.
Dia harus menjadi lebih kuat.
Sangat kuat.
Karena sejak keluar dari Kota Tai, dia telah menyadari bahwa dunia luar jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada yang pernah dia bayangkan.
Dan jika ingin mengetahui kebenaran tentang Kota Tai...
Dia membutuhkan kekuatan.