Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Di dalam gedung dengan ballroom yang mewah, gemerlap lampu kristal yang menggantung di atasnya memantulkan cahaya keemasan yang megah.

Kepergian Asri yang terburu-buru seolah meninggalkan hal ganjil, tepat di sudut meja dengan replika artefak.

Aroma parfum yang di kenakan Asri masih tertinggal di udara, dengan aroma yang sangat khas.

"Kok aromanya kaya bidadari malam itu ya," ucap Angga dalam hatinya sembari melamun.

Anggota perwakilan kementerian kebudayaan itu, pria yang berusia paruh baya----nampak membuyarkan lamunan Angga.

"Mayor Angga apa kamu baik-baik saja?" tanyanya, sambil menepuk pelan bahu Angga.

Angga yang terbuyar akan lamunannya, hanya mengedipkan mata lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Ya saya baik-baik aja, Pak." Angga menjawab seolah tak yakin, karena pikirannya masih bertarung antara wanita yang mengenakan kebaya violet dan wanita mengenakan kemeja putih itu.

Angga masih berdiri di hadapan perwakilan Kementerian Kebudayaan ini, tepat di bawah papan pengumuman yang bertuliskan "PEMBAHASAN BUDAYA DAN SEJARAH - KEMENTERIAN KEBUDAYAAN INDONESIA"

Pria mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan motif bernuansa cokelat tua dan celana bahan hitam resmi, tengah memikirkan akan wanita tadi.

Padahal dirinya sendiri sudah bertunangan dengan Alina Barenyah, dan kenapa malah memikirkan wanita lain.

Rupanya insting militer yang dirinya miliki bisa menangkap sesuatu ada hal yang tak beres, reaksi wanita berkebaya warna violet tadi seolah merasa ada ikatan.

Mengapa wanita itu menatapnya dengan pandangan ketakutan, seolah Angga akan menerkamnya hidup-hidup.

"Besok saya akan tanyakan soal kabar saudari Asri," gumam perwakilan kementrian itu dengan nada yang sangat cemas.

Angga berdehem pelan berusaha menetralkan suaranya, dirinya di acara ini karena untuk mengawal anggota kementrian dan UNESCO agar acara berjalan langsung dengan baik.

"Mohon izin Pak, siapa wanita tadi?" tanya Angga berusaha berbasa-basi, demi mengetahui informasi.

Pria paruh baya itu menghela napas panjang, wajahnya tampak menyayangkan kepergian sang peneliti muda yang begitu cepat.

"Ah dia itu Asri Devantara, seorang ahli sejarah dan peneliti muda berbakat asal Indonesia yang membuat nama negara bangga."

Mendengar itu seakan jantung Angga langsung berdegup kencang, seolah ada rasa kagum dengan wanita itu.

Namun lebih dari itu, ada rasa penasaran yang membuatnya sangat ingin tahu.

"Wah hebat banget dia," ungkap Angga.

"Ya tentu, saya selaku anggota kementrian juga bangga padanya, Asri juga anak bangsa yang membuat penelitian sejarah Indonesia di Denmark waktu itu," jelasnya.

Angga tersenyum, dan malah semakin bangga akan Asri selain rasa kagum yang sangat.

"Ah keburu di patok ayam, wedus. Aku udah tunangan lagi," ungkit Angga bicara dalam hatinya.

Kata-kata perwakilan menteri itu, bagai hantaman godam tak kasat mata yang menghancurkan seluruh sisa pertahanan batin Angga.

"Asri juga mengenalkan cagar budaya nusantara di Eropa diakui secara internasional. Dia adalah aset berharga negara ini," lanjut Anggota kementerian.

Semua informasi itu berputar di dalam kepala Angga, mengingat akan malam-malam dirinya mengambil kesucian seseorang.

Wajah Asri dengan tubuh rampingnya terbalut kebaya warna violet, semuanya sangat persis dengan siluet bidadari yang mengenakan kemeja putih----dirinya tiduri saat keadaan dengan kadar alkohol tinggi.

Angga sadar jika ia tak hanya merenggut kesucian seorang gadis asing---Asri, tapi juga menghancurkan seorang peneliti muda berprestasi yang di lindungi oleh negara.

Tubuh Angga mulai menegang keringat mulai basah merembes di pelipisnya, dan dadanya terasa sesak----ketakutan akan kehancuran karier militernya kini semakin besar.

"Mayor Angga," panggil Perwakilan kementerian itu, Angga tersentak.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.

Angga segera menguasai dirinya dan menganggukkan kepalanya dengan cepat, kembali menegakkan tubuhnya dengan sikap hormat militer yang kaku.

"Siap, baik Pak. Mohon maaf, saya tiba-tiba teringat ada tugas evaluasi taktis darurat dari kesatuan yang harus segera saya selesaikan malam ini. Saya mohon izin untuk meninggalkan acara terlebih dahulu."

Pria paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya, seolah maklum dengan perwira muda di depannya ini.

"Oh, silakan Mayor. Terima kasih atas kehadirannya malam ini. Jaga kesehatan kamu," sahutnya dengan ramah.

Setelah itu keduanya berpisah, pria paruh baya itu akan ke atasannya, sementara Angga berjalan dengan cepat membelah kerumunan tamu.

Langkahnya terburu-buru, dan hanya menjawab singkat sapaan beberapa Perwira lain yang hadir di sana.

Angga segera menuju parkiran untuk masuk ke dalam mobil dinasnya.

Di dalam kesunyian mobil, Angga duduk bersandar di kursi belakang.

Tangan yang gemetar akibat luapan kecemasan dan ketakutan, Angga dengan tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Dirinya akan menghubungi seseorang, tatapan mata lurus menatap kaca depan wajahnya menegang dengan keputusasaan mendalam.

Begitu panggilan telepon tersambung di seberang sana, Angga langsung berbicara dengan nada suara yang rendah, namun sarat akan ketegasan yang tak bisa di bantah.

"Hallo! Ini Mayor Angga Pratama...Saya butuh bantuanmu malam ini." Angga berbisik dengan nada suara yang tajam, menyipit waspada seolah takut ada yang mendengar percakapan mereka.

"Tolong carikan semua informasi, data pribadi, dan latar belakang mengenai seorang wanita bernama Asri Devantara yang seorang peneliti sejarah," pintanya.

"Tolong saya butuh malam ini," lanjutnya tanpa ada nada suara bantahan.

Sejenak menjeda.

Orang di seberang telepon memberikan jawaban patuh, Angga menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri---memejamkan matanya.

"Hubungi pihak manajemen keamanan hotel malam ini. Saya butuh rekaman CCTV di seluruh koridor luar, taman, dan area sekitar homestay nomor tiga untuk kejadian semalam mulai pukul satu hingga pukul lima subuh. Pastikan semua file rekaman itu dikirim langsung ke email pribadi saya sebelum fajar. Jangan sampai ada pihak lain yang tahu tentang permintaan ini. Apakah kamu mengerti?"

"Siap Mayor," patuh anak buahnya.

Angga langsung mematikan panggilan teleponnya, setelah mendapatkan konfirmasi tegas dari anak buahnya yang bisa hacker.

Angga kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu memejamkan mata.

Tangannya mencengkram rambutnya yang cepak, lalu berteriak----tangannya memukul kursi jok di depannya.

"Sial! yang gua p*rkosa orang penting lagi! Peneliti!" gerutunya dengan emosi.

"Kalo gua nggak tunangan, pasti gua nikahin. Tapi masalahnya ini posisinya susah, wedus!" lanjutnya.

Angga tak sadar, kenapa dirinya di pertemukan dengan Asri---sungguh ada takdir lebih besar yang menanti dirinya dengan Asri.

Bagaimana sang perwira muda dalam menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya ini.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!