Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kringgg.
Suara alarm jam beker kembali berbunyi memecah keheningan pagi di kamar asrama nomor 302.
Aldo bangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dibandingkan hari kemarin.
Dia langsung duduk di tepi ranjang dan melakukan peregangan kecil untuk melemaskan otot ototnya yang kaku.
Di bawah ranjangnya Kevin sudah bangun lebih dulu dan sedang sibuk menelepon seseorang dengan suara pelan.
"Iya Pa, pokoknya pastikan sponsor papa menekan panitia agar aku terus aman sampai final," bisik Kevin ke arah ponselnya.
Aldo tidak sengaja mendengar percakapan itu tapi dia memilih untuk bersikap seolah tidak peduli.
Dia mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kevin.
"Hei gembel, kau dengar ucapanku barusan?" panggil Kevin dengan nada menantang.
Aldo menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi lalu menoleh perlahan.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu dan sponsor ayahmu itu."
"Kau harusnya peduli karena uang ayahku yang mengatur berjalannya acara televisi ini."
"Kalau kau memang sehebat itu, kenapa kau repot repot ikut audisi dan tidak langsung beli saja piala juaranya?" sindir Aldo tajam.
Wajah Kevin langsung memerah padam mendengar sindiran yang sangat telak tersebut.
Brak.
Kevin melempar bantalnya ke arah pintu namun Aldo sudah lebih dulu masuk dan mengunci pintu kamar mandi.
"Lihat saja nanti di galeri, aku akan membuatmu berlutut memohon ampun padaku," ancam Kevin dari luar.
Satu jam kemudian seluruh peserta sudah berkumpul kembali di ruang tunggu studio utama.
Suasana hari ini terasa sedikit berbeda karena tidak ada celemek putih yang tergantung di loker mereka.
Teeet.
Pintu galeri utama terbuka dan kru televisi menyuruh mereka semua segera masuk dan berbaris rapi.
Aldo berjalan beriringan dengan Rina yang sedari tadi terus meremas ujung bajunya karena gugup.
"Aldo, perasaanku sangat tidak enak hari ini," keluh Rina dengan suara bergetar.
"Tenanglah Rina, kita sudah berhasil melewati hari pertama dengan baik."
"Tapi aku dengar gosip dari kru rias tadi, hari ini akan ada eliminasi massal."
Langkah Aldo sedikit terhenti mendengar kata eliminasi massal tersebut.
Itu berarti tantangan hari ini akan melibatkan kelompok besar dan kekalahan satu tim berarti kekalahan semuanya.
Mereka semua kini berdiri di depan podium juri yang sudah dihias dengan dua bendera besar berwarna merah dan biru.
Chef Arya berdiri di tengah dengan wajah tegasnya yang biasa, diapit oleh Chef Bram dan Chef Renata.
"Selamat pagi semuanya, selamat datang kembali di galeri Master Chef Nusantara," sapa Chef Bram.
"Selamat pagi Chef!" jawab seluruh peserta dengan serempak dan lantang.
Chef Arya melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam ke arah barisan peserta.
"Hari ini tidak ada masakan individu, tidak ada tempat untuk kalian bersembunyi di balik kehebatan kalian sendiri."
"Hari ini adalah waktunya kalian membuktikan apakah kalian bisa bekerja sama sebagai sebuah pasukan di dapur."
"Tantangan hari ini adalah Team Challenge atau tantangan beregu pertama kalian di musim ini," tambah Chef Renata.
Suara bisik bisik panik langsung terdengar dari barisan para peserta.
Kerja kelompok adalah hal yang paling ditakuti oleh koki amatir karena mereka harus menyatukan banyak kepala dan ego.
"Kalian akan dibagi menjadi dua tim besar yaitu Tim Merah dan Tim Biru," lanjut Chef Arya.
"Masing masing tim akan memasak satu set menu lengkap untuk lima puluh orang tamu VIP siang ini."
"Tamu VIP itu adalah para kritikus makanan paling kejam dari seluruh penjuru negeri ini."
Rina langsung menutup mulutnya menahan rasa kaget yang luar biasa.
Memasak untuk lima puluh porsi dalam waktu terbatas adalah mimpi buruk bagi peserta yang belum pernah bekerja di restoran.
"Untuk pembagian tim, kami tidak akan membiarkan kalian memilih teman kalian sendiri."
Chef Bram menunjuk ke arah sebuah kotak kaca besar yang berisi puluhan bola kecil berwarna merah dan biru.
"Semuanya akan ditentukan oleh keberuntungan kalian di dalam kotak undian ini."
"Silakan maju satu per satu dan ambil satu bola dari dalam kotak," perintah Chef Bram.
Para peserta mulai maju dengan tertib untuk mengambil bola undian nasib mereka.
Kevin maju dengan langkah sangat percaya diri dan mengambil sebuah bola dari dalam kotak.
Dia mengangkat bola berwarna merah itu tinggi tinggi ke udara sambil tersenyum lebar.
Beberapa peserta yang juga mendapat bola merah langsung bersorak gembira.
Mereka merasa aman jika berada di tim yang sama dengan Kevin karena pemuda itu punya pengalaman di restoran mewah.
Kini giliran Aldo yang melangkah maju ke depan kotak kaca tersebut.
Dia memasukkan tangannya dan mengambil satu bola secara acak tanpa melihat.
Warna biru.
Aldo melihat bola di tangannya dan berjalan menuju barisan sebelah kanan yang dikhususkan untuk Tim Biru.
Rina yang berada di belakang Aldo juga mengambil bola dan ternyata dia juga mendapat warna biru.
"Syukurlah kita satu tim, Aldo," ucap Rina dengan senyum sangat lega.
"Iya, setidaknya aku punya satu orang yang bisa kupercaya di tim ini," jawab Aldo pelan.
Namun kelegaan Aldo tidak berlangsung lama saat dia melihat siapa saja anggota Tim Biru lainnya.
Sebagian besar dari mereka adalah peserta yang masakannya masuk dalam kategori buruk pada tantangan kemarin.
Bahkan ada seorang pria bernama Danang yang kemarin nyaris tereliminasi karena ayamnya gosong.
Danang adalah pria berusia tiga puluhan yang sangat sombong karena pernah bekerja di sebuah cafe kecil.
"Lihat komposisi tim kita, rasanya seperti mengumpulkan orang orang buangan," bisik Rina pesimis.
"Jangan bilang begitu, kita belum mulai memasak sama sekali," hibur Aldo mencoba berpikir positif.
Chef Arya mengetuk meja podium untuk meminta perhatian dari seluruh peserta.
"Pembagian tim sudah selesai, sekarang setiap tim wajib memilih satu orang untuk menjadi kapten."
"Kapten akan bertanggung jawab penuh atas menu, pembagian tugas, dan hasil akhir hidangan."
"Tim Merah, siapa yang akan menjadi kapten kalian?" tanya Chef Renata.
Tanpa perlu berunding, seluruh anggota Tim Merah langsung menunjuk ke arah Kevin.
"Saya yang akan memimpin Tim Merah menuju kemenangan mutlak, Chef," ucap Kevin dengan gaya congkaknya.
"Bagus, sekarang Tim Biru, silakan berunding selama satu menit untuk memilih kapten kalian."
Anggota Tim Biru langsung berkumpul membentuk lingkaran kecil untuk berdiskusi.
Aldo tidak terlalu berambisi menjadi kapten karena dia merasa masih terlalu muda dan belum punya pengalaman memimpin.
"Aku yang akan menjadi kapten kalian," ucap Danang tiba tiba dengan suara keras.
"Aku punya pengalaman bekerja di dapur cafe selama dua tahun, jadi aku yang paling mengerti alur kerja dapur komersial."
Beberapa anggota tim yang panik dan tidak mau mengambil risiko langsung mengangguk setuju.
"Ya sudah, biarkan Mas Danang saja yang jadi kapten," ucap seorang ibu ibu di sebelah Rina.
Aldo menatap Danang dengan sedikit ragu namun akhirnya dia juga memilih diam dan mengikuti suara mayoritas.
"Baiklah, kami memilih Danang sebagai kapten Tim Biru, Chef," lapor salah satu anggota.
"Keputusan sudah dibuat, kapten Tim Merah adalah Kevin dan kapten Tim Biru adalah Danang."
"Kalian berdua silakan maju ke depan untuk mengambil celemek warna tim kalian dan membagikannya."
Danang maju dengan dada membusung bangga dan kembali membagikan celemek biru kepada seluruh anggotanya.
Aldo mengikatkan celemek biru itu di pinggangnya dan bersiap menerima instruksi dari sang kapten.
"Waktu kalian memasak adalah dua jam penuh dimulai dari sekarang!" teriak Chef Arya.