Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 14 — Pengkhianat di Dalam Keluarga
Malam itu belum berakhir.
Setelah Victor dibawa pergi oleh polisi, suasana di bangunan tua tersebut masih terasa mencekam.
Clara berdiri di samping Fedro dengan wajah pucat.
Tangannya masih menggenggam flashdisk peninggalan ayahnya.
Sementara Raka berdiri beberapa langkah di depan mereka.
Ucapan Raka terus terngiang di kepala Clara.
“Orang yang berada paling dekat dengan kalian.”
“Orang yang kalian panggil keluarga.”
Clara menatap Raka.
“Jangan bicara setengah-setengah.”
Raka menghela napas.
“Aku tidak sedang bermain-main, Clara.”
“Kalau begitu katakan siapa orangnya.”
“Aku belum bisa.”
Clara langsung mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kita belum memiliki bukti yang cukup.”
Fedro maju selangkah.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau kamu sudah mengetahui sesuatu, jangan sembunyikan.”
“Aku tidak menyembunyikannya.”
“Lalu?”
Raka menatap Fedro cukup lama.
“Aku takut kalau aku menyebut namanya sekarang, orang itu akan mengetahui bahwa kita sudah mengetahuinya.”
Fedro terdiam.
Clara memahami maksud Raka.
Jika seseorang benar-benar berada di dalam keluarga mereka, berarti orang tersebut mungkin sedang mengawasi setiap gerakan mereka.
Bahkan percakapan mereka bisa saja diketahui.
Clara menoleh ke sekeliling.
“Jadi selama ini…”
“Ya,” jawab Raka.
“Dia mungkin sudah mengetahui semua yang kita lakukan.”
Clara merasakan bulu kuduknya berdiri.
Fedro langsung menggenggam tangan Clara.
“Mulai sekarang, jangan pergi sendirian.”
Clara menatapnya.
“Aku bisa menjaga diri.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena aku tidak ingin mengambil risiko.”
Clara terdiam.
Cara Fedro berbicara membuatnya tahu bahwa pria itu benar-benar khawatir.
Raka kemudian mendekati mereka.
“Ada satu tempat yang harus kita datangi.”
“Di mana?” tanya Clara.
“Rumah lama keluargamu.”
Clara membeku.
“Rumah yang tadi?”
“Bukan.”
Raka menggeleng.
“Rumah tempat ayahmu menyimpan semua dokumen lama.”
Fedro menatapnya.
“Bukankah rumah itu sudah kosong?”
“Secara resmi.”
“Secara resmi?”
Raka tersenyum tipis.
“Tidak semua yang terlihat kosong benar-benar kosong.”
Clara menarik napas.
“Kalau begitu kita pergi sekarang.”
Fedro menggeleng.
“Tidak.”
Clara menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kita tidak tahu apakah tempat itu aman.”
Raka menyela.
“Fedro benar.”
Clara terdiam.
“Kita harus menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Pagi.”
Clara mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena malam ini terlalu banyak orang yang bergerak.”
Raka menatap ke arah pintu.
“Dan aku yakin ada seseorang yang sedang menunggu kita membuat kesalahan.”
---
Beberapa jam kemudian, mereka meninggalkan bangunan tersebut.
Polisi membawa Victor dan beberapa anak buahnya.
Daniel juga ikut diperiksa.
Namun sebelum dibawa ke kantor polisi, Daniel sempat menghampiri Clara.
“Nyonya.”
Clara menatapnya.
Daniel terlihat sangat bersalah.
“Saya minta maaf.”
Clara tidak langsung menjawab.
“Saya tidak pernah bermaksud menyakiti Anda.”
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
Daniel menunduk.
“Karena keluarga saya diancam.”
Clara terdiam.
“Siapa yang mengancam?”
Daniel menatap sekeliling.
“Orang yang sama.”
“Victor?”
Daniel menggeleng.
“Bukan.”
Clara langsung menegang.
“Lalu siapa?”
Daniel terlihat takut.
Namun sebelum menjawab, seorang polisi memanggilnya.
“Pak Daniel!”
Daniel menatap Clara sekali lagi.
“Cari ruangan bawah tanah di rumah lama.”
Clara membelalakkan mata.
“Apa?”
Daniel tidak sempat menjelaskan.
Polisi membawanya pergi.
Clara menatap Fedro.
“Ruangan bawah tanah?”
Fedro mengangguk.
“Kita akan mencarinya.”
Raka mendekat.
“Tapi jangan malam ini.”
Clara menghela napas.
“Baik.”
---
Di dalam mobil, Clara duduk di samping Fedro.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini tangannya tidak lagi gemetar.
Ia justru terlihat berpikir keras.
Fedro sesekali meliriknya.
“Kamu baik-baik saja?”
Clara mengangguk.
“Aku sedang berpikir.”
“Tentang apa?”
“Semua orang yang pernah dekat denganku.”
Fedro kembali melihat jalan.
“Kenapa?”
“Kalau benar pengkhianat itu ada di keluarga, berarti dia sudah mengenalku sejak lama.”
“Belum tentu.”
Clara menggeleng.
“Raka mengatakan orang itu berada paling dekat dengan kita.”
Fedro terdiam.
Clara menatap jendela.
“Siapa saja orang yang mungkin?”
“Kita jangan menuduh siapa pun sebelum memiliki bukti.”
“Aku tahu.”
Clara memejamkan mata.
Namun satu nama tiba-tiba muncul di pikirannya.
Ia membuka mata.
“Fedro.”
“Hm?”
“Bagaimana dengan Pamanmu yang lain?”
Fedro langsung menoleh sekilas.
“Siapa?”
“Selain Victor.”
Fedro diam.
“Ayahmu punya saudara lain?”
“Tidak.”
Clara mengerutkan kening.
“Tidak?”
“Setahuku hanya Victor.”
Clara menghela napas.
“Kalau begitu siapa yang dimaksud Raka?”
Fedro tidak menjawab.
Mobil terus melaju dalam kesunyian.
Beberapa menit kemudian, Fedro berkata,
“Kita akan mencari tahu.”
Clara mengangguk.
Namun dalam hatinya, ia merasa jawaban itu sudah sangat dekat.
---
Mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Alexsander.
Rumah besar itu terlihat gelap.
Sebagian besar lampu sudah dimatikan.
Fedro turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara.
Clara keluar.
Raka turun dari mobil lain.
“Kalian masuk dulu.”
Fedro menatapnya.
“Kamu?”
“Aku akan memeriksa sekitar.”
Clara memandang Raka.
“Jangan pergi terlalu jauh.”
Raka tersenyum.
“Tenang.”
Clara dan Fedro kemudian masuk ke rumah.
Begitu pintu tertutup, Clara langsung merasakan sesuatu yang berbeda.
Rumah itu terlalu sunyi.
Biasanya selalu ada pelayan atau penjaga yang berjaga.
Namun malam ini hampir tidak ada siapa pun.
Clara menoleh kepada Fedro.
“Kenapa rumah sepi?”
“Aku juga tidak tahu.”
Fedro mengambil ponselnya.
Ia menghubungi kepala keamanan.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba sekali lagi.
Tetap tidak ada.
Fedro mengerutkan kening.
“Ini aneh.”
Clara menatap tangga.
“Kita harus memeriksa rumah.”
Fedro mengangguk.
Mereka berjalan perlahan.
Setiap langkah terdengar jelas.
Tiba-tiba Clara berhenti.
“Apa?”
Clara menunjuk lantai.
“Ada sesuatu.”
Fedro menunduk.
Sebuah benda kecil tergeletak di dekat tangga.
Ia mengambilnya.
Sebuah kancing jas.
Clara mengerutkan kening.
“Punya siapa?”
Fedro memperhatikan bentuknya.
“Ini bukan milikku.”
“Juga bukan milikku.”
Fedro menyimpan benda itu.
“Kita simpan dulu.”
Mereka kembali berjalan.
Ketika sampai di ruang kerja ayah Fedro, pintunya sedikit terbuka.
Fedro langsung berhenti.
“Aku tadi mengunci ruangan ini.”
Clara menatapnya.
“Berarti seseorang masuk.”
Fedro membuka pintu perlahan.
Ruangan itu terlihat berantakan.
Beberapa dokumen berserakan di lantai.
Laci terbuka.
Clara menatap sekeliling.
“Ada yang mencari sesuatu.”
Fedro mengangguk.
Ia berjalan menuju meja.
“Dokumen ini tentang perusahaan.”
Clara mengambil beberapa lembar.
“Beberapa halaman hilang.”
“Berarti mereka sudah menemukan apa yang dicari.”
Clara menatapnya.
“Siapa?”
Fedro belum menjawab.
Tiba-tiba lampu padam.
Ruangan menjadi gelap.
Clara refleks memegang tangan Fedro.
“Fedro.”
“Aku di sini.”
Terdengar suara langkah dari lorong.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Fedro berdiri di depan Clara.
“Jangan bergerak.”
Suara pintu lain terdengar.
Kemudian…
Brak!
Seseorang berlari.
Fedro segera mengejar.
Clara ikut berlari di belakangnya.
Mereka keluar dari ruang kerja.
Sosok berpakaian hitam berlari menuju pintu belakang.
Fedro mengejarnya.
Namun orang itu berhasil membuka pintu dan melompat keluar.
Raka tiba dari arah lain.
“Ada apa?”
“Kejar!”
Raka langsung berlari.
Clara berdiri di dekat pintu.
Beberapa detik kemudian, suara motor terdengar.
Orang itu melarikan diri.
Raka kembali.
“Tidak tertangkap.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Dia tahu kita datang.”
Clara menatap rumah.
“Berarti ada seseorang yang memberi tahu.”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Clara merasa dadanya semakin berat.
“Di dalam rumah ini.”
---
Pagi akhirnya tiba.
Tidak ada seorang pun yang tidur.
Fedro mengumpulkan semua orang yang bekerja di rumah.
Pelayan.
Penjaga.
Asisten keluarga.
Semuanya berdiri di ruang utama.
Clara berada di samping Fedro.
Raka berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Fedro memandang semua orang.
“Mulai hari ini, tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah tanpa izin.”
Beberapa pelayan saling pandang.
Seorang wanita tua bernama Marta mengangkat tangan.
“Tuan Fedro.”
“Hm?”
“Apakah ada masalah?”
Fedro menatapnya.
“Masalah keamanan.”
Marta mengangguk.
“Baik.”
Clara memperhatikan wajah mereka satu per satu.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Namun justru itulah yang membuatnya takut.
Orang yang mereka cari mungkin adalah seseorang yang sangat pandai menyembunyikan dirinya.
Tiba-tiba seorang pria masuk.
“Fedro.”
Fedro menoleh.
“Ayah?”
Ayah Fedro berjalan masuk dengan wajah serius.
“Kamu sudah pulang?”
“Ya.”
“Apa yang terjadi?”
Fedro menceritakan semuanya.
Tentang Victor.
Tentang Daniel.
Tentang pesan Raka.
Tentang orang yang masuk ke ruang kerja.
Ayah Fedro terdiam lama.
“Berarti Victor bukan satu-satunya.”
“Benar.”
Ayahnya mengusap wajah.
“Ini lebih besar dari yang kita bayangkan.”
Clara menatap ayah mertuanya.
“Ayah tahu siapa orangnya?”
Pria itu menggeleng.
“Tidak.”
“Apakah Ayah pernah mencurigai seseorang?”
“Tidak.”
Clara menatapnya tajam.
“Benarkah?”
Fedro langsung melihat Clara.
“Apa maksudmu?”
Clara menarik napas.
“Aku hanya ingin memastikan.”
Ayah Fedro mengangguk.
“Aku juga ingin menemukan kebenaran.”
---
Beberapa jam kemudian, Clara pergi ke kamar.
Ia duduk di depan meja.
Flashdisk itu diletakkan di hadapannya.
Clara memandang benda kecil tersebut.
“Kenapa semua orang menginginkanmu?”
Ia menghela napas.
Kemudian teringat sesuatu.
Surat ayahnya.
Clara membuka surat tersebut sekali lagi.
Tulisan tangan ayahnya masih terlihat jelas.
Clara, jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti waktunya telah tiba. Jangan percaya kepada siapa pun hanya karena dia menggunakan nama keluarga.
Clara membaca kalimat berikutnya.
Ada satu orang yang akan selalu melindungimu.
Clara membeku.
Satu orang yang akan selalu melindunginya.
Siapa?
Ia melanjutkan membaca.
Kamu mungkin tidak mengenalinya. Bahkan mungkin kamu membencinya. Tetapi dia selalu berada di dekatmu.
Clara mengerutkan kening.
“Siapa?”
Di bagian bawah surat terdapat satu kalimat terakhir.
Cari liontin berbentuk burung yang pernah kuberikan kepadamu.
Clara langsung memegang kalung di lehernya.
Liontin berbentuk burung.
Benda itu sudah bersamanya sejak kecil.
Ayahnya memberikan kalung tersebut ketika Clara berusia delapan tahun.
Selama ini Clara mengira itu hanya kenang-kenangan biasa.
Ia melepaskan kalung tersebut.
Memeriksanya dengan teliti.
Tidak ada sesuatu yang terlihat aneh.
Clara mengambil kaca pembesar dari meja.
Ia memeriksa bagian belakang liontin.
Tiba-tiba ia melihat sebuah garis kecil.
“Ini…”
Clara mengambil benda tipis dan mencoba membukanya.
Klik.
Bagian belakang liontin terbuka.
Clara terkejut.
Di dalamnya terdapat sebuah chip kecil.
“Ya Tuhan…”
Jadi selama ini ayahnya benar-benar menyembunyikan sesuatu.
Clara segera membawa liontin tersebut kepada Fedro.
---
Fedro sedang berada di ruang kerja ketika Clara masuk tanpa mengetuk.
“Fedro!”
Pria itu langsung menoleh.
“Apa?”
Clara menunjukkan liontin.
“Lihat ini.”
Fedro mengambilnya.
Matanya langsung menyipit.
“Ada chip.”
“Surat ayahku mengatakan aku harus mencari ini.”
Fedro memeriksa chip tersebut.
“Kita perlu alat untuk membacanya.”
“Di mana?”
“Ada laboratorium kecil milik perusahaan.”
Clara mengangguk.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Mereka turun.
Raka yang melihat mereka segera ikut.
“Apa yang kalian temukan?”
Clara menunjukkan liontin.
Raka terdiam.
“Ini…”
“Kamu tahu?”
“Tidak.”
Raka memeriksanya.
“Ini teknologi lama.”
“Bisa dibuka?”
“Bisa.”
Mereka kemudian menuju ruang keamanan perusahaan.
Seorang teknisi memasang chip tersebut pada alat khusus.
Layar komputer menyala.
Sebuah file muncul.
PROYEK E-17
Clara menatap layar.
“Apa itu?”
Teknisi membuka file.
Muncul beberapa dokumen.
Nama-nama.
Tanggal.
Transaksi.
Foto.
Clara membaca satu per satu.
Kemudian wajahnya berubah.
“Ini…”
Fedro berdiri di sampingnya.
“Apa?”
Clara menunjuk layar.
“Nama ini.”
Fedro membaca.
Seseorang yang selama ini dianggap sebagai bagian penting dari keluarga mereka ternyata tercatat dalam transaksi rahasia.
Raka mendekat.
“Siapa?”
Clara menelan ludah.
“Paman Victor.”
Fedro mengangguk.
“Kita sudah tahu.”
Namun Clara menggulir layar lebih jauh.
“Ada nama lain.”
Fedro melihatnya.
Wajahnya langsung berubah.
Nama itu adalah seseorang yang tidak pernah mereka curigai.
Seseorang yang selama ini dianggap paling setia.
Raka terdiam.
“Tidak mungkin.”
Clara menatap Fedro.
“Siapa?”
Fedro tidak menjawab.
Clara membaca nama tersebut.
Bastian Alexsander.
Ia membeku.
“Bastian?”
Bastian adalah sepupu dekat ayah Fedro yang selama ini menjadi salah satu penasihat utama keluarga Alexsander.
Orang yang selalu hadir dalam rapat keluarga.
Orang yang sering memberikan nasihat kepada Fedro.
Orang yang bahkan datang ke pernikahan mereka.
Clara menatap Fedro.
“Jadi dia?”
“Belum tentu.”
“Tapi namanya ada.”
Fedro mengangguk.
“Kita membutuhkan bukti lain.”
Raka melihat layar.
“Lihat tanggalnya.”
Fedro mendekat.
Tanggal transaksi itu terjadi jauh sebelum pernikahan Clara dan Fedro.
Bahkan sebelum Clara mengenal Fedro.
Clara terdiam.
“Berarti dia sudah terlibat sejak lama.”
“Ya.”
---
Sore hari, mereka kembali ke rumah.
Clara masih memikirkan nama Bastian.
Fedro duduk di sofa.
“Kamu yakin tidak ingin istirahat?”
Clara menggeleng.
“Aku ingin tahu semuanya.”
Fedro menatapnya.
“Clara.”
“Aku sudah terlalu lama hidup dalam kebohongan.”
Fedro terdiam.
“Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang selalu dilindungi tanpa mengetahui apa yang terjadi.”
“Aku tidak bermaksud menyembunyikan.”
“Aku tahu.”
Clara duduk di sampingnya.
“Aku hanya ingin kita jujur.”
Fedro mengangguk.
“Aku janji.”
Clara menatapnya.
“Termasuk kalau kamu mengetahui sesuatu yang menyakitkan.”
“Termasuk itu.”
Clara tersenyum kecil.
“Baik.”
Fedro menggenggam tangan Clara.
“Kita akan menyelesaikan semuanya.”
---
Malam kembali tiba.
Namun kali ini Clara tidak merasa tenang.
Ia berdiri di balkon.
Angin malam meniup rambutnya.
Fedro datang dari belakang.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Clara menatap langit.
“Aku sedang memikirkan ayahku.”
Fedro berdiri di sampingnya.
“Aku yakin dia ingin kamu mengetahui kebenaran.”
Clara mengangguk.
“Dia selalu melindungiku.”
“Dan sekarang giliran kita melindungi keluargamu.”
Clara tersenyum.
“Fedro.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah tetap di sisiku.”
“Aku suamimu.”
Clara menatapnya.
“Awalnya kita menikah karena terpaksa.”
“Benar.”
“Tapi sekarang…”
Clara terdiam.
“Sekarang aku merasa pernikahan ini tidak lagi terasa seperti paksaan.”
Fedro menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku mulai mempercayaimu.”
Fedro tersenyum.
“Aku juga.”
Keduanya terdiam.
Namun sebelum suasana menjadi lebih tenang, suara langkah terdengar.
Raka muncul.
“Kalian harus melihat ini.”
Clara langsung menoleh.
“Apa?”
Raka menyerahkan ponselnya.
Sebuah foto terlihat di layar.
Bastian sedang bertemu seseorang di sebuah restoran.
Clara memperhatikan foto tersebut.
“Siapa orang di depannya?”
Raka menggeleng.
“Belum tahu.”
Fedro mengambil ponsel itu.
“Di mana kamu mendapatkan foto ini?”
“Dari kamera pengawas.”
“Ini kapan?”
“Dua hari lalu.”
Clara mengerutkan kening.
“Dua hari sebelum pernikahan?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
Fedro memandang foto tersebut.
“Besok kita ikuti Bastian.”
Clara mengangguk.
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Aku ikut.”
“Clara.”
“Aku tidak mau lagi hanya menunggu di rumah.”
Fedro terdiam.
Raka tersenyum tipis.
“Biarkan dia ikut.”
Fedro menatap Raka.
“Kenapa?”
“Karena mungkin hanya Clara yang bisa mengenali orang yang ditemui Bastian.”
Fedro akhirnya mengangguk.
“Baik.”
---
Keesokan harinya, mereka mengikuti Bastian.
Mobil Bastian meninggalkan rumah sekitar pukul sepuluh pagi.
Fedro mengikuti dari jarak cukup jauh.
Clara duduk di sampingnya.
Raka berada di mobil belakang.
Mereka melewati pusat kota.
Kemudian menuju kawasan pelabuhan lama.
Clara mengerutkan kening.
“Kenapa ke sini?”
Fedro menggeleng.
“Tidak tahu.”
Bastian berhenti di sebuah gudang.
Ia turun.
Seorang pria sudah menunggu.
Clara melihat dari jauh.
Wajahnya berubah.
“Fedro…”
“Apa?”
“Aku kenal orang itu.”
Fedro langsung menatapnya.
“Siapa?”
Clara menatap pria tersebut.
“Dia pernah datang ke rumah ayahku.”
Fedro terkejut.
“Siapa?”
Clara menyipitkan mata.
“Namanya Adrian.”
Raka melalui alat komunikasi berkata,
“Adrian siapa?”
Clara menjawab,
“Adrian Mahesa.”
Raka terdiam.
Kemudian suaranya terdengar serius.
“Clara, kamu yakin?”
“Yakin.”
Fedro menatapnya.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia pernah menjadi pengacara ayahku.”
Semua menjadi sunyi.
Pengacara.
Orang yang seharusnya membantu keluarga.
Namun sekarang dia bertemu Bastian secara diam-diam.
Fedro segera mematikan mesin mobil.
“Kita tunggu.”
Clara mengangguk.
Mereka mengawasi dari kejauhan.
Bastian dan Adrian berbicara cukup lama.
Kemudian Adrian menyerahkan sebuah koper.
Bastian membukanya.
Clara melihat sekilas isi koper tersebut.
Dokumen.
Dan sebuah kotak hitam.
Clara langsung membeku.
“Itu kotak ayahku.”
Fedro menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Seratus persen.”
“Berarti mereka menemukan sesuatu.”
Clara hendak turun.
Fedro menahannya.
“Jangan.”
“Tapi…”
“Kita belum tahu jumlah mereka.”
Raka menyela melalui alat komunikasi.
“Aku akan mendekat.”
“Jangan gegabah,” kata Fedro.
“Aku tahu.”
Raka keluar dari mobil.
Ia bergerak perlahan menuju gudang.
Namun sebelum sampai, sebuah mobil lain datang.
Raka segera bersembunyi.
Pintu mobil terbuka.
Seseorang keluar.
Clara melihat wajahnya.
Jantungnya seolah berhenti.
“Tidak…”
Fedro menatapnya.
“Siapa?”
Clara tidak mampu menjawab.
Air mata tiba-tiba muncul di matanya.
Pria yang baru turun dari mobil itu adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarganya.
Seseorang yang selama ini Clara anggap sebagai pelindung.
Seseorang yang tidak pernah ia curigai.
“Clara.”
Ia menunjuk pria tersebut.
“Itu…”
Fedro menunggu.
“Itu Papi.”
Fedro membeku.
“Papi kamu?”
Clara mengangguk dengan wajah pucat.
“Ayahku masih hidup.”
---
Clara merasa seluruh dunia berhenti.
Selama bertahun-tahun, ia percaya ayahnya telah meninggal.
Ia melihat sendiri bagaimana keluarganya menjalani masa berkabung.
Ia tumbuh dengan cerita bahwa ayahnya menjadi korban sebuah kecelakaan yang tragis.
Namun sekarang pria itu berdiri di depan sebuah gudang.
Hidup.
Sehat.
Dan bertemu dengan Bastian serta Adrian.
Clara menutup mulutnya.
“Kenapa?”
Fedro tidak mengatakan apa-apa.
Ia tahu Clara sedang berusaha memahami semuanya.
Raka kembali ke mobil.
“Jangan bergerak.”
Clara menatapnya.
“Itu ayahku.”
Raka mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Sejak lama.”
Clara menatapnya penuh kemarahan.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan?”
“Karena aku tidak yakin.”
“Kamu tahu dia masih hidup!”
“Aku hanya tahu ada kemungkinan.”
Clara menangis.
“Semua orang berbohong kepadaku.”
Fedro menggenggam tangan Clara.
“Clara.”
“Aku ingin turun.”
“Tidak.”
“Aku ingin bertanya kepadanya!”
“Belum waktunya.”
“Dia ayahku!”
“Aku tahu.”
Fedro menatapnya dalam-dalam.
“Justru karena dia ayahmu, kita harus tahu kenapa dia menyembunyikan dirinya.”
Clara terdiam.
Raka melihat ke arah gudang.
“Mereka pergi.”
Fedro menyalakan mesin.
“Kita ikuti.”
---
Mobil Bastian meninggalkan gudang.
Adrian pergi ke arah lain.
Sementara pria yang selama ini dianggap telah meninggal oleh Clara masuk ke mobil hitam.
Fedro mengikuti dari jarak aman.
Mereka melewati jalan yang panjang.
Akhirnya mobil tersebut berhenti di sebuah rumah tua.