Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bahan daging bekicot dan telurnya masih ada di dalam ruang penyimpanan sistem, tapi tanpa nasi ia tidak bisa membuat nasi goreng.
Tepat saat kepanikannya memuncak, lima orang kuli panggul berbadan besar datang berlari dari arah gerbang pelabuhan.
"Mas, kami pesan lima porsi nasi goreng ajaibnya dong!" teriak kuli yang paling depan dengan napas ngos-ngosan.
"Kata teman-teman di pos depan, nasi buatan Mas bisa menyembuhkan sakit pinggang instan."
Galang menelan ludah dan menatap kelima calon pelanggannya itu dengan wajah cemas.
"Waduh bapak-bapak, mohon maaf sekali tapi nasi putih saya baru saja habis total," jawab Galang dengan nada menyesal.
Kelima kuli itu mendadak lemas dan raut wajah mereka berubah menjadi sangat kecewa.
"Yah, padahal kami sengaja lari jauh-jauh dari dermaga utara demi makan ini Mas," keluh salah satu kuli berambut keriting.
"Pinggang saya rasanya sudah mau putus habis mengangkat karung beras semalaman penuh."
Galang menggigit bibir bawahnya mencari cara untuk menyelamatkan misinya yang tinggal menghitung menit.
Tiba-tiba sebuah ide gila melintas di kepalanya.
"Bapak-bapak sekalian ada yang bawa bekal nasi putih dari rumah tidak?" tanya Galang cepat.
Kelima kuli itu saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Ada Mas, istri saya bawakan rantang isi nasi putih saja karena lauknya belum sempat matang tadi sore," jawab kuli berambut keriting itu.
"Teman-teman saya ini juga bawa bekal nasi putih dari mess pabrik, belum sempat dimakan karena sibuk bongkar muat."
Mata Galang langsung berbinar terang mendengar jawaban tersebut.
"Bagus, bawa ke sini nasi putih kalian semua bapak-bapak," perintah Galang dengan semangat.
"Biar saya yang goreng nasi kalian pakai bumbu dan daging bekicot spesial saya."
Kelima kuli itu langsung bersorak kegirangan dan buru-buru mengeluarkan kotak bekal mereka dari dalam tas ransel lusuh.
Galang mengumpulkan semua nasi putih yang sudah dingin itu dan memasukkannya ke dalam wajan besinya.
Cetek. Wusss.
Api kompor kembali menyala menerangi wajah Galang yang penuh tekad.
Sreng sreng.
Ia menumis bumbu bawang putih tunggal dan daging bekicot dalam jumlah banyak untuk menutupi rasa nasi yang mungkin berbeda-beda kualitasnya.
Kecap hitam premium ia tuangkan sedikit lebih banyak agar warnanya menjadi merata.
Trak trak trak.
Suara spatula beradu dengan wajan terdengar nyaring di tengah kesunyian menjelang subuh.
Dalam waktu tujuh menit, lima piring nasi goreng pemulihan hasil modifikasi darurat itu sudah matang sempurna.
"Silakan bapak-bapak, harganya tetap sama tiga puluh lima ribu karena khasiat bumbu dan bekicotnya tidak berkurang sama sekali," ucap Galang menyajikan piring-piring itu.
Kelima kuli itu tidak peduli dengan harganya, mereka langsung membayar lunas dan menyantap makanan itu dengan sangat rakus.
Sama seperti pelanggan sebelumnya, mereka berlima mengerang nikmat saat rasa pegal di tubuh mereka lenyap dalam hitungan detik.
DING.
Layar biru transparan di depan Galang berkedip dengan sangat terang dan cepat.
[Waktu tersisa: 00:05:30.]
[Progres Penjualan: 150/150 porsi.]
[Misi Mingguan Ketiga Berhasil Diselesaikan Tepat Waktu!]
Galang membuang napas sangat panjang hingga kakinya terasa lemas saking leganya.
Ancaman kehilangan semua fitur sistem dan kembali menjadi gembel miskin akhirnya berhasil ia hindari.
[Evaluasi Kepuasan Pelanggan: Sangat Memuaskan.]
[Hadiah Misi sedang didistribusikan ke dalam ruang penyimpanan dan pikiran Host.]
Galang segera mengecek ponselnya yang kembali bergetar di dalam saku celananya.
Notifikasi dari bank menunjukkan ada dana masuk sebesar sepuluh juta rupiah tanpa potongan sepeser pun.
Ia nyaris berteriak kegirangan jika saja tidak ingat sedang berada di tengah pelabuhan.
[Sistem memberikan Satu Resep Baru untuk Host.]
[Resep Sup Ayam Penghangat Jiwa berhasil diklaim.]
[Pengetahuan resep sedang diunggah ke dalam memori otak Host.]
Tiba-tiba kepala Galang terasa berdenyut ringan selama beberapa detik.
Ribuan informasi baru tentang cara memilih ayam potong terbaik, teknik merebus kaldu bening, hingga racikan rempah rahasia masuk ke dalam otaknya.
Kini ia memiliki dua senjata mematikan di tangannya, nasi goreng pemulihan dan sup ayam penghangat jiwa.
"Terima kasih sistem, kali ini kau benar-benar tidak mengecewakan," batin Galang sambil tersenyum puas.
Matahari mulai memunculkan semburat jingga di ufuk timur pelabuhan kargo tersebut.
Para kuli mulai kembali bekerja dengan semangat baru, sementara Galang sibuk mencuci peralatan masaknya.
Ia memasukkan semua sisa bumbu dan piring kotor ke dalam dimensi penyimpanan agar lebih praktis dibawa pulang.
Brum.
Galang memacu motornya meninggalkan pelabuhan kargo dengan perasaan seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan perang besar.
Namun, euforia kemenangannya harus terhenti sejenak saat ia melihat jam di layar ponselnya.
Pukul setengah enam pagi.
"Astaga, aku lupa!" teriak Galang menepuk jidatnya sendiri dari balik helm.
"Siang ini jam sebelas aku harus mengantar seratus porsi pesanan katering untuk rapat direksi Mbak Nadia!"
Ia baru ingat bahwa ia belum membeli tambahan kotak makan yang bagus maupun bahan baku beras yang cukup untuk seratus porsi.
Semalaman penuh ia terlalu fokus melayani preman pelabuhan hingga lupa pada janji terbesarnya.
"Gawat, aku harus segera ke pasar induk lagi sekarang juga," gumam Galang memutar gas motornya lebih dalam.
Rasa kantuk yang sempat menyerangnya langsung hilang digantikan oleh kepanikan tingkat tinggi.
Jika ia gagal menyajikan seratus porsi itu tepat waktu, nama baiknya di depan Nadia akan hancur lebur.
Dan lebih parahnya lagi, ia akan kehilangan kesempatan emas untuk masuk ke dalam lingkaran orang-orang kaya dan berpengaruh.
Sesampainya di pasar induk yang sudah ramai oleh aktivitas pagi, Galang langsung berlari menuju kios beras langganannya.
"Bu, beras pera yang paling bagus dua karung, langsung bawa ke parkiran motor ya!" teriak Galang tergesa-gesa.
Ia lalu berpindah ke kios telur untuk memborong sisa telur ayam kampung organik yang ada.
Untungnya, dengan modal sepuluh juta yang baru saja ia dapatkan, uang bukan lagi masalah baginya.
Tantangan terbesarnya saat ini adalah berpacu melawan waktu untuk memasak seratus porsi sendirian di dalam kamar kosnya yang sempit.
Pukul tujuh pagi, Galang sudah tiba di kamar kosnya dengan napas terengah-engah membawa berbagai macam belanjaan.
Ia hanya memiliki waktu sekitar tiga jam untuk memasak semuanya sebelum harus berangkat ke gedung perusahaan Nadia.
"Ayo Galang, kau pasti bisa, ini demi masa depan kerajaan kulinermu," ucap Galang menyemangati dirinya sendiri di depan cermin.
Ia menyalakan dua kompor gas sekaligus dan mulai menyiapkan wajan-wajan besarnya.
Pertarungan melawan waktu yang sesungguhnya baru saja dimulai.