"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BENTROKAN FAKSI
Meskipun entitas raksasa itu masih berdiri tegak dengan pendar aura merah yang kian liar, tebasan brutal Mo Xie barusan tidaklah sia-sia.
Pelindung Qi hitam yang menyelimuti tubuh masif Penjaga Celah telah terkikis habis oleh efek korosi Tebasan Kehampaan, meninggalkan luka menganga lebar di bagian dadanya yang terus memuntahkan uap hitam pekat.
Celah tipis yang sangat krusial itu tidak disia-siakan oleh praktisi wanita di sampingnya.
"Mo Xie! Mundur sejauh mungkin!" teriak Xue Qingyue, suaranya melengking tinggi menembus deru angin badai yang semakin bising.
Tanpa perlu diperingatkan dua kali, Mo Xie langsung melompat mundur beberapa depak. Ia mendarat kasar di atas lapisan salju hitam, menancapkan kaki sepatu kainnya dalam-dalam ke tanah untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Sambil menyeka darah segar yang mengalir dari pelipisnya akibat hempasan energi sebelumnya, Mo Xie menoleh ke arah Xue Qingyue.
Mata kirinya yang bersinar biru gletser langsung menangkap perubahan ekstrem pada hawa keberadaan di sekitar praktisi wanita tersebut. Mo Xie tahu persis apa yang akan dilakukan gadis itu.
Ini adalah puncak dari seluruh konsentrasi Hukum Es murni yang dimilikinya—sebuah pengerahan energi tingkat Awakened puncak yang mampu membekukan mutlak apa pun di jalurnya.
Xue Qingyue berdiri tegak di tengah badai abu. Rambut seputih saljunya berkibar liar, dan pedang kristal di tangan kanannya diarahkan tegak lurus ke langit malam yang membara.
Formasi es biru berlapis tiga terbentuk presisi di bawah kakinya, berputar dengan kecepatan tinggi dan memancarkan pendar cahaya yang begitu terang hingga menerangi seluruh lembah yang gelap.
Udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat sunyi. Suara deru angin, letupan belerang, bahkan detak jantung seolah terhenti berdetak saat suhu di area tersebut anjlok drastis melampaui batas wajar.
Ia merendahkan ujung pedang kristalnya perlahan, menunjuk lurus ke arah jantung Penjaga Celah yang sedang bergolak murka di hadapan mereka.
WUUUUUZZZZHHH!
Gelombang Hukum Es murni meledak dahsyat dari ujung senjatanya, membentuk badai kristal yang melesat memotong udara, membekukan setiap partikel abu belerang yang dilaluinya menjadi serpihan es yang indah namun mematikan.
Entitas raksasa itu mencoba mengangkat gada durinya untuk bertahan, namun dalam sekejap mata, seluruh tubuhnya—mulai dari kaki hingga ujung senjatanya—langsung diselimuti oleh lapisan es kristal biru pekat yang membeku hingga ke tingkat esensi terdalam.
Mo Xie yang menyaksikan hal itu dari kejauhan bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk hingga ke tulang sumsumnya, membuat napasnya yang menguap langsung membeku menjadi butiran es kecil sebelum jatuh ke tanah.
Inilah kekuatan ranah Awakened puncak yang sesungguhnya—sebuah demonstrasi kekuatan yang membuat Mo Xie semakin sadar betapa jauhnya jarak yang harus ia tempuh untuk mencapai puncak.
"Kuat..." gumam Mo Xie, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik suara retakan es yang membeku mutlak.
Mata kirinya yang berwarna biru gletser merekam setiap detail kehancuran indah di depannya tanpa berkedip.
Melalui persepsi mata kirinya, ia bisa melihat bagaimana Hukum Es milik Xue Qingyue tidak sekadar membekukan permukaan kulit sang entitas, melainkan merambat masuk menembus celah zirah yang telah ia buat tadi, membekukan aliran Qi Kegelapan dan menghentikan sirkulasi kehidupan makhluk itu dari dalam secara instan.
Entitas raksasa yang beberapa saat lalu hampir meremukkan tulang-tulangnya kini telah berubah menjadi patung es kristal raksasa yang sunyi dan mati, terjebak dalam pose murka yang abadi.
Mo Xie perlahan menegakkan tubuhnya, menurunkan Pedang Kehampaan yang masih mengepulkan sisa asap ungu tipis di tangan kanannya.
Ada rasa hangat yang aneh bercampur dingin yang menjalar di dadanya—sebuah kombinasi antara rasa ngeri sekaligus gairah bertarung yang membara melihat demonstrasi kekuatan di depan matanya sendiri.
Ia yang selama ini hanya mengandalkan insting bertahan hidup yang liar di ranah Mortal, kini disuguhkan pada kenyataan bagaimana kontrol Qi yang sesungguhnya bekerja.
"Jadi ini... kekuatan praktisi Awakened puncak," bisik Mo Xie lagi, jemarinya meraba kain hitam di tangan kanannya yang kini terasa bergetar, seolah pedang kegelapannya pun ikut mendengus tidak sabar untuk menandingi kekuatan es murni tersebut.
Xue Qingyue perlahan menurunkan pedang kristalnya, bahunya naik turun saat ia mencoba menstabilkan kembali napas dan sirkulasi Qi-nya yang terkuras hebat.
Ia menoleh sekilas ke arah Mo Xie melalui pundaknya, wajahnya yang pucat tampak kontras di bawah pendar sisa-sisa es murni yang melayang di udara bagai kunang-kunang biru.
"Jangan hanya terpana, Mo Xie," ucap Xue Qingyue dengan nada suaranya yang kembali dingin dan datar, meski ada jejak kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
"Pertarungan ini belum selesai. Selama celah dimensi di belakang sana belum ditutup, mereka akan terus berdatangan."
Seolah membenarkan ucapan Xue Qingyue, dari balik patung es raksasa yang membeku, celah dimensi ungu kemerahan di ujung lembah kembali berdenyut keras, memancarkan gelombang kejut yang mulai meretakkan es murni ciptaan Xue Qingyue.
CRACKKK!
Retakan besar menjalar di tubuh patung es raksasa itu sebelum akhirnya meledak menjadi jutaan serpihan kristal tajam yang melesat ke segala arah.
Dari balik celah dimensi yang berdenyut kian liar, raungan-raungan baru yang jauh lebih pekat dan mengerikan mulai bergema. Puluhan pasang mata merah menyala merangkak keluar dari kegelapan ruang yang robek, bersiap menerkam mangsa mereka.
Mo Xie segera mengangkat kembali pedang hitamnya, bersiap dengan posisi siaga walau tubuh fananya sudah mulai merasakan kelelahan yang amat sangat.
Di sampingnya, Xue Qingyue kembali menggenggam pedang kristalnya dengan erat, meski napasnya masih terasa berat.
Namun, sebelum gelombang entitas Void itu sempat menyentuh salju, sebuah hantaman energi dahsyat mendadak jatuh dari langit!
BOOOOOOM!!!
Tanah berguncang hebat. Gelombang kejut berwarna kuning keemasan menghantam barisan entitas Void terdepan, menghancurkan mereka menjadi serpihan abu seketika.
Debu dan salju berhamburan tinggi ke udara, menghalangi pandangan untuk beberapa saat.
Dari balik kabut salju yang perlahan menipis, dua sosok asing melangkah maju dengan tenang, membelah badai belerang seolah-olah tempat mengerikan ini hanyalah halaman bermain mereka.
Sosok pertama adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap. Ia mengenakan zirah pelat perunggu setengah terbuka yang memamerkan otot-otot dadanya yang keras bagai batu karang.
Di sepanjang lengan kanannya yang kekar, terdapat ukiran garis segel kuno yang berpendar keemasan setiap kali ia mengembuskan napas. Di pundaknya, ia memanggul sebuah gada besi raksasa dengan sangat santai. Hawa keberadaannya yang masif menandakan ia berada di ranah Awakened puncak.
Di sampingnya, berjalan seorang wanita anggun bergaun jubah hitam pekat yang kontras dengan salju putih.
Pakaiannya yang terbuat dari kain sutra halus tampak memancarkan aura kegelapan yang pekat, sejalan dengan tingkat kekuatannya yang juga berada di ranah Awakened puncak.
Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai, melambai ditiup angin badai. Matanya yang hitam legam menatap dingin ke arah celah dimensi, sementara jemarinya yang lentik memainkan seuntai Qi ungu gelap yang menari-nari di sela kukunya.
"Ah... praktisi es dari Sekte Es Abadi rupanya sudah bersenang-senang lebih dulu," ucap pria bertato segel itu dengan suara berat yang menggelegar, memecah kesunyian lembah.
Ia melirik Xue Qingyue, lalu tatapannya beralih dan terkunci pada mata kiri Mo Xie yang bersinar biru es. "Dan... siapa dia? Hawa keberadaannya sangat aneh."
"Fokus pada tugasmu, Lu Cang," sela wanita bergaun hitam di sampingnya.
Suaranya terdengar lembut namun sangat dingin, membawa aura mistis yang membuat bulu kuduk Mo Xie meremang.
"Celah ini berguncang lebih cepat dari perkiraan faksi kita. Jika kita tidak menutupnya sekarang, wilayah selatan akan runtuh sepenuhnya."
Xue Qingyue sedikit menurunkan senjatanya, namun matanya tetap waspada menatap kedua pendatang baru tersebut.
"Kalian... utusan dari Sekte Angin Surgawi," gumam Xue Qingyue, mengenali simbol formasi yang terukir di zirah mereka.
Kehadiran dua orang kuat ini membawa angin segar sekaligus ketegangan baru di medan pertempuran yang membara.