"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Lift Yang Terlanjur Tertutup
Satu minggu akhirnya berlalu dengan ketenangan yang menyejukkan jiwa. Tak ada lagi bayangan Sean yang datang memburu dengan alasan palsu, tak ada pula intrik dari Lyona yang mengusik kedamaian dunianya. Dalam kurun waktu tujuh hari itu, Aura benar-benar mendedikasikan waktunya untuk menyembuhkan luka. Ia telah sepenuhnya berdamai dengan semua kesedihan masa lalu. Bagi gadis yang sudah terbiasa ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, rasa sakit kali ini justru menjadi tempaan yang menempanya menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh.
Matahari pagi di hari Senin menyinar semburat emas yang hangat melintasi celah jendela. Aura berdiri di depan cermin besar di kamar kontrakannya. Mengenakan setelan blazer formal berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan kemeja putih rapi di dalamnya, penampilannya tampak begitu profesional, segar, dan memikat.
Ia memoleskan lipstik berwarna merah muda lembut, membiarkan rambut hitamnya terurai rapi dengan gelombang halus di bagian ujungnya. Tatapan matanya jernih, tak lagi menyisakan bekas lelehan air mata kekecewaan.
Aura menatap pantulan dirinya di cermin, membiarkan sebuah senyum merekah manis di wajah cantiknya. Senyuman yang murni terpancar dari keberanian dan rasa percaya diri yang membara dari dalam dada.
"Semoga keberuntungan berpihak padaku," ucap Aura pelan namun sarat akan keyakinan.
Dengan menghembuskan helaan napas panjang yang lega, Aura meraih tas kerjanya dan melangkah keluar dari rumah kontrakan sederhana itu. Langkah kakinya terdengar mantap menepuk trotoar jalanan ibu kota yang mulai dipadati arus kendaraan pagi.
Hari ini adalah hari pertamanya resmi bekerja sebagai analis data di A&P Group. Sebuah dunia baru yang megah dan menantang telah membentang lebar di hadapannya. Tanpa sedikit pun keraguan, Aura siap melangkah memasuki gedung pencakar langit itu—siap membuktikan kapasitas dirinya, sekaligus siap menghadapi takdir yang akan mempertemukannya kembali dengan sang CEO, Arsenio Pratama.
Suasana lobi utama A&P Group di Senin pagi terasa begitu bising dan sibuk. Ratusan karyawan bertopi dan bersetelan rapi tampak berdesakan di depan deretan lift biasa, berusaha mengejar jam masuk kantor agar tak terlambat. Aura yang baru saja menuntaskan proses administrasi di meja resepsionis melangkah mendekati antrean tersebut. Namun, melihat kerumunan yang begitu padat dan deretan angka di indikator lift yang bergerak sangat lambat, ia mulai merasa khawatir akan terlambat di hari pertamanya.
Pandangan Aura teralih pada satu pintu lift bernuansa emas mengkilap di sudut area khusus yang tampak benar-benar sepi dan lengang. Tanpa ragu dan tanpa mengetahui aturan internal gedung, Aura melangkah anggun menuju lift tersebut, lalu menekan tombol naik. Pintu berbahan baja tahan karat itu berdenting halus dan langsung terbuka lebar.
Aura melangkah masuk ke dalam kabin lift yang sangat luas, wangi, dan berdinding cermin mengkilap. Saat ia berbalik untuk menekan tombol lantai empat, ia sempat menangkap tatapan mata dari belasan karyawan lain di luar yang menatapnya dengan raut wajah aneh dan terkejut.
"Cewek baru itu berani banget?" bisik seorang staf wanita di antrean biasa dengan nada sinis.
"Biarin aja, nanti juga dia disemprot Pak Arsen karena berani memakai lift khususnya," timpal karyawan lain berbisik ragu sambil menggelengkan kepala.
Tepat saat pintu lift bernuansa emas itu bergerak merapat dan tertutup sempurna, langkah kaki tegap menggema di atas lantai marmer lobi. Arsenio Pratama melangkah masuk ke area lobi didampingi oleh wakil direktur dan dua orang pengawal pribadi. Jas hitamnya terpasang sempurna, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan intimidatif hingga membuat seluruh karyawan di lobi otomatis menunduk hormat.
Namun, mata tajam Arsen langsung menangkap indikator angka di atas lift khususnya yang baru saja bergerak naik menuju lantai atas. Pria berusia 32 tahun itu menghentikan langkahnya tepat di depan lift yang terlanjur tertutup.
“Siapa yang berani memakai lift-ku?” tanya Arsen dalam hatinya dengan dahi berkerut halus dan tatapan mata yang mendadak menggelap berbahaya.
Tanpa membuang waktu, Arsen memalingkan wajah ke arah manajer operasional lobi yang tampak pucat menahan napas, menuntut penjelasan atas pelanggaran yang baru saja terjadi di dalam wilayah kekuasaannya.