Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sisa Wangi Cendana di Ruang Rias
Lampu-lampu studio yang membakar sejak siang akhirnya dipadamkan satu per satu, menyisakan pendar redup di lorong set luar ruangan. Pengumuman 'selesai' dari sutradara disambut helaan napas lega dari seluruh kru.
Namun bagi Mia, pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Mia berdiri di sudut ruang rias utama, menunggu dalam diam. Di tangannya, kotak beludru hitam itu tergenggam erat. Bau produk penata rambut dan sisa riasan wajah memenuhi udara, bersaing dengan aroma kayu cendana yang entah bagaimana masih tercium kuat tiap kali Ethan bergerak.
Ethan duduk di depan cermin berhias lampu-lampu bohlam putih. Kemejanya yang sedikit berantakan akibat adegan aksi terakhir kini dibiarkan terbuka di dua kancing teratas. Melalui pantulan cermin, matanya yang tajam tidak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Mia yang mendekat.
“Biar saya bantu lepas kancing jas dan jam tangannya, Tuan Ethan,” tawar Mia datar. Ia memosisikan suaranya seformal mungkin, berusaha mengabaikan tatapan menusuk Ethan.
Mia melangkah maju, menunduk sedikit untuk menjangkau pergelangan tangan kiri Ethan. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit hangat pria itu saat membuka pengait jam tangan platinum bernilai jutaan dolar tersebut. Napas Ethan yang teratur terasa menerpa pucuk kepalanya, mengirimkan desir halus yang langsung berusaha ia tekan dalam-dalam.
“Kamu bertingkah seolah aku ini monster yang siap menerkammu kapan saja, Mia,” gumam Ethan. Suaranya berat dan pelan, teredam oleh bisingnya kru yang mulai membereskan peralatan di luar ruangan.
Mia berhasil melepaskan jam tangan itu dan langsung menyimpannya ke dalam bantalan khusus di kotak beludru.
“Saya hanya bekerja sesuai prosedur standar keselamatan aset, Tuan,” balas Mia tanpa mengangkat wajahnya.
Tangannya kini beralih ke kancing jas khusus yang tergeletak di meja rias, mengambilnya dengan pinset presisi.
“Lagipula, seperti kata Tuan Marcus tadi... Anda sudah punya tunangan yang harus dijaga perasaannya. Tidak pantas jika staf biasa seperti saya menyita waktu Anda terlalu lama.”
Gerakan Ethan terhenti. Pria itu menegakkan tubuhnya, berputar di atas kursi putar hingga kini berhadapan langsung dengan Mia, memangkas habis jarak mereka.
“Jadi kamu mendengarkan percakapanku dengan Marcus?” tanya Ethan dengan nada menantang. Senyum tipis yang dingin kembali terukir di bibirnya.
“Apakah menyebut nama Jane membuatmu terganggu, Mia? Atau itu membuat luka lama yang kamu sembunyikan di balik profesionalismemu kembali berdarah?”
Mia mengetatkan rahangnya, menatap lurus ke dalam bola mata Ethan.
“Sama sekali tidak,” jawab Mia jujur, meski dadanya terasa sedikit berdenyut nyeri.
“Masa lalu sudah selesai saat dokumen perceraian itu ditandatangani. Sekarang, fokus saya hanya memastikan semua barang milik perusahaan kembali tanpa cacat,” imbuhnya.
Ia menutup kotak beludru itu dengan bunyi klik yang tegas, menandakan tugasnya telah usai. Kemudian mundur satu langkah, menciptakan jarak aman yang sangat ia butuhkan.
Ethan menatap kotak hitam di tangan Mia, lalu beralih ke wajah wanita itu. Tatapannya kini tak lagi dipenuhi senyum kemenangan, melainkan kilatan misterius yang sulit diartikan.
“Masa lalu mungkin sudah selesai untukmu, Mia,” bisik Ethan pelan, hampir tak terdengar. “Tapi tidak bagiku.”
Sebelum Mia sempat mencerna arti kata-kata itu, pintu ruang rias tiba-tiba terbuka lebar.
“Ethan, sayang!” suara manja seorang wanita seketika memecah ketegangan di ruangan itu.
Jane melangkah masuk dengan gaun elegan dan senyum lebar, langsung menghampiri Ethan dan merangkul leher pria itu dari belakang tanpa memedulikan keberadaan Mia.
Mia menundukkan kepalanya sekilas. “Semua aset sudah lengkap. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Ethan, Nona Jane.”
Tanpa menunggu balasan, Mia berbalik lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia menyandarkan punggungnya ke dinding lorong yang dingin, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.
Pendar redup lampu lorong studio itu menyamarkan genangan air mata yang mulai mengumpul di sudut matanya. Tangannya menggenggam kotak beludru hitam itu makin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau kayu cendana yang menempel samar di pakaian Ethan seakan enggan pergi, menyusup ke indra penciumannya dan memicu nostalgia pahit yang berusaha mati-matian ia kubur.
“Kenapa harus terasa sesakit ini? Kuatkan aku Tuhan!” batin Mia, merutuki dirinya sendiri.
Bukankah ia sendiri yang menegaskan bahwa masa lalu telah selesai? Bukankah ia sendiri yang memandangi dokumen perceraian itu saat dibubuhi tanda tangan?
Namun melihat bagaimana Jane dengan begitu leluasa merangkul leher Ethan, rasa sakit seperti dulu menghantam pertahanannya tanpa ampun.
Pemandangan itu memvalidasi kenyataan pahit yang kini membentang di antara mereka. Ethan bukan lagi miliknya.
Usahanya untuk bersikap profesional dan dingin runtuh seketika saat ia mencapai sudut lorong yang gelap. Kakinya melangkah lunglai. Setetes air mata akhirnya lolos, meluncur melewati pipinya yang dingin.
Ia cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan, menghela napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berantakan.
Ia menolak untuk terlihat lemah di tempat ini.
Ia kemudian menegakkan kembali bahunya, memeluk kotak beludru itu erat-erat di dadanya, lalu melangkah keluar menuju malam yang dingin, membawa pergi sisa wangi cendana dan luka lama yang ternyata belum sepenuhnya pulih.
****
“Ethan, kamu mau ke mana, sayang?”
Ethan menghempaskan tangan Jane dari bahunya. Tanpa memedulikan seruan manja wanita itu ia melangkah lebar-lebar menyeberangi ruang rias. Keheningan dan kepura-puraan yang Mia tunjukkan baru saja menampar egonya keras-keras.
Kilatan air mata yang sempat ia tangkap di sudut mata Mia sebelum wanita itu berbalik, adalah bukti bahwa benteng yang dibangun wanita itu mulai retak, dan ia tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja malam ini.
Ia menarik gagang pintu dan melangkah tergesa-gesa keluar menuju lorong studio yang mulai sepi. Langkah kakinya menggema di sepanjang koridor, matanya menyapu setiap sudut remang mencari sosok yang membawa potongan masa lalu mereka.
“Ethan, berhenti!”
Namun sebuah tangan kekar menahan bahunya dengan cengkeraman kuat dari samping.
Ethan membeku, menoleh dengan napas yang memburu.
Marcus berdiri di sana. Tatapan manajernya itu tidak lagi berisi gurauan atau formalitas pekerjaan, melainkan peringatan tajam.
“Mau ke mana kamu?” tanya Marcus dingin.
“Lepaskan, Marcus. Aku harus bicara dengan Mia,” geram Ethan, mencoba menghentakkan tangannya agar terbebas.
“Untuk apa? Untuk melukainya lagi?” potong Marcus tanpa ragu. Suaranya ditekan pelan, namun setiap katanya menancap tepat di dada Ethan.
“Kamu lupa siapa yang membuat Mia berdiri di posisi itu sekarang?”
Ethan mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun. “Ini tidak ada hubungannya denganmu, Marcus.”
“Ini ada hubungannya denganku saat artis utamaku bertindak impulsif dan menghancurkan hidup orang lain untuk kedua kalinya!” sergah Marcus, memajukan tubuhnya.
“Ingat baik-baik, Ethan. Tiga tahun lalu, Mia mengemis perhatianmu. Dia yang menunggumu di rumah sampai larut malam, membawa makanan hangat yang selalu kamu biarkan dingin di meja. Dan apa yang kamu katakan padanya saat dia menyatakan perasaannya sebelum perceraian itu?”
Marcus menatap langsung ke dalam mata Ethan yang mulai bergetar.
“Kamu bilang perasaannya adalah beban. Kamu bilang pernikahan itu cuma balas budi yang dipaksakan, dan kamu tidak akan pernah membalas perasaannya. Kamu sendiri yang mendorongnya keluar dari hidupmu dan membuat dokumen perceraian itu ditandatangani.”
Ethan bungkam. Tenggorokannya mendadak terasa kering disiram kenyataan yang terlontar dari mulut Marcus. Memory malam itu mendadak berputar ulang. wajah Mia yang pucat, matanya yang sembap, serta suaranya yang gemetar saat menerima penolakan mentah-mentah darinya.
“Sekarang dia sudah tertatih-tatih menata hidupnya kembali,” lanjut Marcus, melunakkan sedikit nadanya namun tetap tegas.
“Dia bekerja profesional di sini, menahan diri di depanmu setiap hari. Jadi jangan egois. Jangan kejar dia hanya karena kamu merasa kehilangan saat dia mulai berhenti peduli.”
Ethan terdiam di tengah lorong yang dingin. Langkah kakinya terkunci rapat di lantai beton. Di ujung koridor sana, pintu keluar studio tertutup perlahan, menyisakan kegelapan malam dan keheningan yang menghantamnya tanpa ampun.
–tbc–