Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Dunia yang Runtuh dan Penawar di Tengah Malam
Malam itu, dunia Alee benar-benar rasanya runtuh tanpa sisa. Kamarnya yang biasa menjadi tempat ia tertawa selepas latihan gitar atau tersenyum sendiri mengingat perhatian-perhatian kecil Rama, kini berubah menjadi ruang hampa yang amat menyiksa. Isak tangis Alee makin pecah, suaranya tertahan di balik bantal yang kini sudah basah kuyup oleh air mata. Dada Alee terasa begitu sesak, napasnya memburu dan patah-patah, seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak diusir oleh rasa bersalah yang teramat berat.
Bayangan kata-kata Zikri terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak, Dua tahun kedekatan mereka... pikiran Rama yang terdistraksi oleh rasa cemburu... hingga musibah besar yang meludeskan seluruh uang tabungan masa depan Rama.
"Gue... gue penyebab semua ini?" bisik Alee lirih di antara napasnya yang tersengal-sengal. Rasa sakit di ulu hatinya begitu nyata, seperti diiris-iris oleh sembilu yang tajam.
Dengan jemari yang gemetaran hebat dan mata yang membengkak sembab hingga pandangannya kabur, Alee menggeser layar ponselnya. Nama Nara menjadi satu-satunya tempat ia berlindung malam ini. Tanpa peduli jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, Alee menekan tombol panggilan.
"H-halo... Nar..." tumpah sudah seluruh pertahanan Alee begitu mendengar nada panggil terhubung. Suaranya serak, berat, dan hampir tenggelam oleh isakan yang membuncah.
Di seberang sana, Nara yang semula sudah tertidur ayam langsung tersentak kaget. Suara histeris dan napas sesak Alee seketika membuat Nara berdirikan bulu kuduknya. "Lee?! Alee?! Lu kenapa, Lee?! Kok nangisnya sampai sesak gitu?! Lu di mana sekarang?!"
"Nar... dunia gue hancur, Nar..." tangis Alee makin pecah, dadanya naik turun tak beraturan menahan rasa sesak yang menghimpit. "Uang tabungan Rama buat kuliah dibobol orang... terus... terus Zikri bilang itu semua gara-gara gue! Gara-gara Rama mikirin gue sama Hanafi, fokusnya pecah... Zikri suruh gue jauhin Rama, Nar... gue pembawa sial buat Rama... gue hancurin hidup dia..."
Nara terdiam membeku beberapa detik di seberang telepon, mencerna omongan Alee yang terputus-putus oleh napas yang memburu. Rasa terkejut dan amarah seketika membakar dada Nara. Sebagai sahabat yang tahu betul seberapa tulus Alee menyayangi Rama, Nara tak terima sahabatnya menanggung beban mental sehebat ini sendirian atas tuduhan yang tak masuk akal.
"Lee, listened to me! Lu tenang dulu, tarik napas pelan-pelan!" tegas Nara mencoba menenangkan, walau suaranya sendiri ikut bergetar. "Lu jangan dengerin omongan Zikri mentah-mentah! Ini musibah, Lee, bukan salah lu! Gue nggak akan biarin lu nyalahin diri sendiri kayak gini. Tahan sebentar, gue bakal telepon Rama sekarang juga!"
Tanpa menunggu balasan Alee, Nara memutus panggilan secara sepihak. Dengan amarah yang membumbung tinggi, Nara langsung memutar nomor telepon Rama. Nara tak peduli jika Rama sedang terpuruk atau depresi malam itu ia harus menuntut penjelasan kenapa tuduhan tak berdasar dari Zikri bisa dilemparkan ke pundak Alee yang rapuh.
---
Di kamar terpisah, Rama sedang terduduk kaku di tepi tempat tidurnya. Matanya merah, penampilannya berantakan, dan pikirannya sangat kalut setelah berjam-jam berurusan dengan pihak bank dan kepolisian. Ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring menunjukkan nama Nara.
Rama mengangkatnya dengan suara lemah. "Halo, Nara"
"RAMA! LU MAKSUDNYA APAAN SIH?!" semprot Nara tanpa basi-basi, suaranya melengking penuh amarah dari seberang telepon. "Lu tahu nggak kondisi Alee sekarang kayak gimana?! Dia nangis histeris sampai sesak napas di kamarnya! Matanya sembab, dadanya sesak, dan dia merasa dirinya pembawa sial yang udah hancurin hidup lu!"
Rama tersentak hebat, raut wajah lelahnya seketika berubah panik. "M-maksud kamu apa, Nar? Alee kenapa? Saya nggak pernah..."
"Zikri telepon Alee tadi!" potong Nara cepat dengan nada bergetar emosi. "Zikri bilang ke Alee kalau semua musibah ini terjadi gara-gara Rama mikirin Alee sama Hanafi! Zikri nyuruh Alee jauhin lu! Kenapa semua tuduhan dan beban masalah ini seolah-olah ditujukan ke Alee?! Cewek yang selama ini selalu mikirin lu, Rama! Lu kalau emang mau jauhin Alee ngomong langsung, jangan bikin dia merasa jadi manusia paling jahat di dunia malam ini!"
Brak!
Pernyataan Nara bagaikan petir menyambar yang menghantam kesadaran Rama. Kepalanya mendadak berdenging kencang. Rama sama sekali tidak pernah menyuruh Zikri mengatakan hal sejahat itu kepada Alee. Maksud Rama menceritakan luapan emosinya ke Zikri tadi adalah bentuk frustrasinya sendiri karena merasa gagal menjaga diri dan perasaannya, bukan untuk melimpahkan kesalahan pada Alee!
"Nara... demi Allah saya nggak pernah nyuruh Zikri ngomong begitu ke Alee..." suara Rama bergetar hebat, kepanikan murni kini menguasai dirinya melebihi rasa sedih atas hilangnya uang tabungannya. "Saya... saya bakal nge-chat Alee sekarang. Tolong jaga dia sebentar, Nar... tolong..."
---
Di kamarnya yang gelap, Alee masih meringkuk di atas tempat tidur. Napasnya masih terasa sangat sesak, dadanya naik turun dengan ritme yang menyiksa. Pandangannya yang kabur oleh air mata menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Rasa bersalah itu terus mencengkram lehernya, membuatnya merasa tak pantas lagi berada di sisi Rama.
Ting!
Layar ponsel Alee yang redup mendadak menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sejak tadi ia spam secara histeris.
Dengan tangan yang lemas dan gemetaran, Alee meraih ponselnya. Nama Rama tertera di sana. Alee membuka pesan tersebut dengan dada yang berdegup kencang, bersiap menerima penolakan atau kenyataan pahit.
Namun, barisan kalimat yang dikirimkan Rama justru berbunyi lain:
> Rama: Alee... tolong dengarkan saya.
> Rama: Alee, ini bukan sepenuhnya salahmu. Sama sekali bukan. Tolong jangan pernah merasa kamu pembawa sial atau penyebab semua ini.
> Rama: Tenang ya... Jangan dengerin omongan Zikri. Untuk selanjutnya masalah ini sudah aku urus sama pihak berwajib dan keluarga, kamu jangan dipikirkan lagi.
> Rama: Tolong tarik napas pelan-pelan, Alee... Aku mohon, jangan siksa diri kamu sendiri malam ini.
Membaca pesan bertubi-tubi dari Rama, tangis Alee bukannya mereda, justru makin meluap. Namun kali ini, ada sengatan rasa hangat yang samar di tengah kebas dadanya. Rama meski dalam kondisi yang begitu hancur dan terpuruk masih berusaha menggunakan sisa kekuatannya untuk menenangkan dan melindungi perasaan Alee.
Alee memeluk ponselnya di dada, mencoba menuruti bisikan pesan Rama untuk menarik napas. Namun malam ini, luka itu terlalu dalam. Fisik dan mentalnya sudah terlanjur kacau. Dengan mata yang bengkak sembab, tenggorokan yang kering meradang, dan napas yang masih tersengal sesak, Alee membiarkan dirinya terlarut dalam kelelahan yang luar biasa menanti bagaimana takdir akan membawa hubungan mereka esok hari di tengah badai yang belum sepenuhnya usai.