⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 14: Latihan Sang Srikandi
Shen Yue melangkah ke tengah halaman Paviliun Barat yang relatif sepi. Sinar matahari pagi yang makin hangat menyiram permukaan tanah lapang di dekat rumput bambu.
Ia menghirup udara dalam-dalam, dan merasakan energi dari makanan melimpah yang baru saja dilahapnya menyebar ke seluruh aliran darah.
"Tubuh ini memang masih sangat lemah," gumam Shen Yue sambil mengepalkan tangan dan merasakan kapasitas fisiknya. "Otot-ototnya kaku, staminanya buruk, dan koordinasinya lambat. Jika harus bertarung sungguhan sekarang, aku hanya bisa mengandalkan teknik dan reflek, bukan kekuatan murni."
Ia tidak membuang waktu. Tanpa memperdulikan jubah sutra anggun yang kini melekat di tubuhnya, Shen Yue menyingsingkan lengan bajunya hingga melampaui siku, lalu mengikat pinggiran gaun luarnya ke pinggang agar langkah kakinya tak terhalang.
Ia mulai melakukan gerakan pemanasan modern, peregangan dinamis, memutar persendian leher, bahu, pinggul, hingga pergelangan kaki. Setelah aliran darahnya lancar, ia melangkah ke tahap latihan inti.
Brak! Tak!
Shen Yue melontarkan pukulan lurus (jab-cross) ke udara dengan kecepatan tinggi. Angin tipis tersingkap oleh gerakan tangannya, lalu memutar tubuhnya seraya mengeksekusi tendangan memutar (roundhouse kick) yang mengincar area dada lawan imajiner.
Kecepatan dan ketepatan gerakannya begitu presisi khas seorang ahli bela diri profesional.
Dua orang prajurit pengawal yang ditempatkan Jenderal Shen Longwei di luar gerbang Paviliun Barat tak sengaja menoleh ke dalam.
Begitu melihat Nona Sulung klan Shen sedang melompat, memutar, dan mengeksekusi gerakan beladiri asing yang sangat mematikan di tengah halaman, mata kedua prajurit itu membelalak bahkan hampir melompat keluar!
"A-apa yang sedang dilakukan Nona Sulung?!" bisik prajurit pertama dengan napas yang tertahan.
"Apakah itu seni bela diri?" timpal prajurit kedua tak percaya. "Tetapi gerakannya... begitu cepat dan berbahaya! Dari mana beliau mempelajari gerakan mematikan seperti itu?"
Shen Yue mendengarkan bisikan mereka dari kejauhan, namun ia terus berlatih hingga peluh dingin membasahi pelipis dan lehernya. Setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah adalah bukti bahwa jiwa baru ini siap merebut kendali penuh atas takdirnya.
Sementara itu, di Paviliun Utama Kediaman Shen, suasana sangat berlawanan. Ruangan itu mencekam dan dipenuhi aroma dupa herbal yang membakar udara.
Brak!
Cangkir porselen berisi teh hangat hancur berkeping-keping di atas lantai batu usai dihempaskan dengan penuh amarah oleh Jiang Xiuwei.
Di depan meja riasnya, Pelayan Deng berlutut bersimbah air mata sambil memegangi dua jarinya yang sudah membengkak kebiruan dan terbebat kain kasa. Sedangkan di sampingnya, Pelayan Bi juga berlutut dengan pergelangan tangan yang masih terkilir.
"Sampah! Kalian berdua benar-benar sampah tidak berguna!" teriak Jiang Xiuwei dengan suara melengking yang murka. "Bagaimana mungkin dua pelayan senior berkuasa di kediaman ini bisa dilumpuhkan dan diusir begitu saja oleh seorang gadis tidak berguna seperti Shen Yue?!"
"A-ampunkan hamba, Nyonya Besar!" jerit Pelayan Deng sambil mengencangkan giginya menahan nyeri. "Nona Sulung... Nona Sulung benar-benar sudah berubah menjadi iblis! Gerakannya sangat cepat! Sebelum hamba sempat sadar, jari hamba sudah diputar sampai hampir patah!"
"Benar, Nyonya!" tambah Pelayan Bi ketakutan. "Dia bahkan mengancam akan mematahkan kaki siapa pun dari Kediaman Utama yang berani melangkah ke Paviliun Barat tanpa izinnya!"
Jiang Xiuwei menyandarkan punggungnya pada kursi kayu berukir, dadanya naik turun karena menahan emosi yang bergolak. Matanya memancarkan kedengkian yang sangat besar.
"Ternyata pingsan dua hari membuat anak haram dari istri pertama itu memelihara keberanian," desis Jiang Xiuwei dingin. "Dia memanfaatkan dukungan Suamiku untuk mengisolasi Paviliun Barat dan memotong semua mata-mataku di sana."
Jiang Xiuwei mengetuk-ngetukkan jemarinya yang dihiasi cat kuku merah ke atas meja kayu. Otaknya yang penuh muslihat politik langsung menyusun rencana catur baru.
"Kau pikir kau bisa aman hanya dengan mengurung diri dan mengusir pelayanku, Yue-er?" seringai Jiang Xiuwei dengan senyuman miring yang penuh racun. "Pernikahan politikmu dengan Yang Mulia Putra Mahkota Zhao Xiao tinggal menghitung bulan. Jika aku tidak bisa menyentuhmu secara fisik di dalam kediaman ini, aku akan menggunakan tangan Istana dan kerabat klan lain untuk menghancurkanmu dari luar!"
Jiang Xiuwei menoleh ke arah pelayan kepercayaannya yang lain di dekat pintu.
"Kirimkan surat undangan khusus ke Kediaman Nona Shen Mingzhu," perintah Jiang Xiuwei. "Katakan padanya bahwa sepupu sulungnya yang 'lemah' telah siuman dan ingin mengundangnya minum teh esok hari."
Shen Mingzhu adalah putri dari adik kandung Jenderal Shen Longwei, seorang gadis bangsawan muda yang terkenal sombong, iri hati, dan selalu menjadi alat Jiang Xiuwei untuk menindas Shen Yue di muka umum.
"Kita lihat," bisik Jiang Xiuwei, "bagaimana caramu menghadapi ular-ular beracun dari klan ini saat mereka berkumpul esok hari, Shen Yue."
Bersambung...