Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Teman Seperjalanan
Perjalanan menuju Pegunungan Awan Putih memakan waktu hampir dua minggu, melewati hutan-hutan lebat dan jalan setapak yang jarang dilalui pedagang biasa. Lin Mu berjalan dengan langkah tenang, menikmati keheningan yang jarang bisa ia rasakan sejak kebangkitannya—tanpa tatapan mengejek, tanpa beban nama klan, hanya dirinya sendiri dan jalan panjang di hadapannya.
Pada hari kesepuluh, saat matahari mulai condong ke barat, suara teriakan dari balik semak-semak lebat menarik perhatiannya.
"Tolong! Seseorang tolong aku!"
Lin Mu mempercepat langkahnya, menemukan seorang pemuda seusianya terkepung oleh empat orang bandit kasar bersenjata golok karatan, pakaiannya compang-camping tapi masih menunjukkan kualitas kain yang cukup baik—tanda seorang pengembara dari keluarga berada, bukan penduduk desa biasa.
"Serahkan semua uangmu, atau kau bisa memilih mati lebih cepat," salah satu bandit menggeram, goloknya teracung mengancam.
Pemuda itu sudah mengangkat kedua tangannya gemetar, jelas belum memiliki kultivasi yang cukup untuk melawan empat orang sekaligus.
Lin Mu melangkah keluar dari balik pepohonan, tak terburu-buru. "Empat melawan satu orang tak bersenjata. Kalian pasti sangat bangga dengan diri kalian sendiri."
Keempat bandit itu menoleh, salah satunya menyeringai mengejek melihat penampilan sederhana Lin Mu. "Mau jadi pahlawan, bocah? Cari mati sendiri kalau begitu!"
Dua dari mereka menyerang bersamaan, golok mereka mengayun kasar tanpa teknik yang berarti—jelas hanya penjahat kelas rendah yang mengandalkan jumlah dan intimidasi, bukan kultivasi sungguhan. Lin Mu menghindari serangan pertama dengan mudah, lalu menjatuhkan kedua penyerangnya hanya dengan dua pukulan cepat ke titik-titik vital, membuat mereka ambruk mengerang kesakitan tanpa sempat menyadari apa yang terjadi.
Dua bandit tersisa terpaku ketakutan, lalu melarikan diri secepat mungkin ke dalam hutan tanpa menoleh lagi, meninggalkan dua rekan mereka yang masih mengerang di tanah.
Pemuda yang tadi terkepung menghela napas lega, lalu membungkuk dalam-dalam ke arah Lin Mu. "Terima kasih banyak! Kalau bukan karena kau, aku mungkin sudah kehilangan seluruh bekal perjalananku—atau lebih buruk lagi."
"Kau bepergian sendirian di jalan seterpencil ini?" Lin Mu bertanya, sedikit heran.
"Namaku Jiang Ling," pemuda itu memperkenalkan diri sambil merapikan pakaiannya yang kusut. "Aku dalam perjalanan menuju Pegunungan Awan Putih untuk mengikuti ujian penerimaan murid luar musim semi ini. Seharusnya aku bepergian bersama rombongan pedagang, tapi mereka mengambil jalan memutar yang lebih aman sementara aku memilih jalan pintas ini karena—yah, terburu-buru dan sedikit gegabah, ternyata."
Lin Mu tersenyum tipis mendengar pengakuan jujur itu. "Kebetulan, aku juga menuju tempat yang sama."
Mata Jiang Ling berbinar. "Sungguh? Kalau begitu, bolehkah aku menemanimu sisa perjalanan? Aku janji tidak akan merepotkan—yah, mungkin sedikit, tapi aku bisa memasak cukup enak sebagai gantinya!"
Selama empat hari berikutnya, mereka berjalan bersama menyusuri jalan setapak yang semakin menanjak mendekati kaki Pegunungan Awan Putih. Jiang Ling ternyata berasal dari keluarga pedagang kaya di kota tetangga, namun memilih jalan kultivasi alih-alih mewarisi bisnis keluarganya—sesuatu yang membuat ayahnya kecewa berat, meski Jiang Ling sendiri tak pernah menyesali pilihannya.
"Bakatku sebenarnya biasa saja," Jiang Ling mengaku suatu malam di sekitar api unggun kecil yang mereka nyalakan untuk menghangatkan diri. "Aku baru mencapai Pengumpulan Qi lapis kedua, jauh di bawah rata-rata peserta ujian penerimaan lainnya. Tapi aku tetap ingin mencoba. Siapa tahu, kan?"
"Bakat bukan segalanya," Lin Mu berkata, mengaduk api unggun dengan ranting kecil. "Yang lebih penting adalah pemahaman tentang dirimu sendiri, dan kegigihan untuk terus melangkah meski jalan di depanmu tampak mustahil."
Jiang Ling menatapnya dengan tatapan kagum yang aneh. "Kau bicara seperti seseorang yang sudah hidup jauh lebih lama dari usiamu sekarang, Lin Mu."
Lin Mu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab, membiarkan komentar itu menggantung di udara malam.
Selama perjalanan itu, Jiang Ling perlahan menceritakan berbagai hal tentang dunia luar yang belum pernah Lin Mu dengar sejak kebangkitannya—tentang persaingan antar sekte besar di seluruh benua, tentang turnamen-turnamen antar wilayah yang jauh lebih besar dari sekadar Turnamen Generasi Muda Perbatasan Utara, dan tentang legenda-legenda lama yang masih diperbincangkan di kalangan kultivator, termasuk—meski Jiang Ling tak menyadari betapa relevannya cerita itu bagi rekan seperjalanannya—kisah tentang kejatuhan Puncak Pedang Sembilan Langit tiga abad lalu.
"Kudengar dari seorang tetua di kotaku dulu," Jiang Ling bercerita sambil menggigil kecil, lebih karena kengerian cerita itu daripada dinginnya malam, "bahwa kejatuhan Puncak Pedang bukan sekadar pengkhianatan biasa. Konon ada 'Tujuh Bayangan' yang bergerak di belakang layar, mengatur seluruh peristiwa itu demi tujuan yang sampai sekarang tak seorang pun benar-benar tahu."
Lin Mu menegakkan punggungnya sedikit, menyimpan informasi baru itu dalam-dalam. "Tujuh Bayangan?"
"Entahlah, mungkin hanya legenda berlebihan," Jiang Ling menjawab sambil menguap lebar. "Sudahlah, sebaiknya kita istirahat. Besok kita akan tiba di kaki Pegunungan Awan Putih."
Malam itu, saat Jiang Ling sudah tertidur pulas di sisi api unggun, Lin Mu duduk terjaga lebih lama, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam, pikirannya dipenuhi nama baru yang baru saja ia dengar—Tujuh Bayangan—sebuah petunjuk kecil namun berharga yang mungkin akan membawanya semakin dekat pada kebenaran di balik pengkhianatan yang telah merenggut segalanya darinya tiga abad silam.
Keesokan paginya, saat kabut pagi mulai tersingkap, gerbang megah Sekte Awan Putih akhirnya tampak menjulang di kejauhan, berdiri anggun di antara puncak-puncak gunung yang diselimuti awan putih abadi—tepat seperti namanya.
semngat thor/Determined/