Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG BERBEDA
Hari-hari setelah pengakuan itu terasa berat bagi semua orang di rumah. Juned mencoba berbagai cara untuk mendekati Anyara—membelikan bunga yang tidak pernah ia beli sebelumnya, memasak sarapan meski hasilnya berantakan, bahkan menawarkan diri mengantar Anyara ke mana pun ia mau pergi. Tapi semua usaha itu terasa terlambat, seperti berusaha menambal luka yang sudah terlanjur menganga terlalu dalam.
"Ra, aku udah putus sama Dinda. Aku serius mau berubah," ucap Juned suatu malam, duduk di tepi ranjang sambil menatap Anyara yang sedang membaca buku, sengaja menghindari kontak mata.
"Aku denger, Mas," jawab Anyara singkat, tidak mengangkat wajahnya dari buku.
"Tapi kamu kayak masih dingin banget sama aku. Aku udah minta maaf, udah janji berubah, kenapa kamu masih kayak gini?"
Anyara akhirnya menutup bukunya, menatap suaminya lurus-lurus. "Mas, aku ngerti Mas nyesel. Tapi nyesel itu nggak otomatis bikin semuanya balik kayak dulu. Delapan bulan itu bukan waktu yang bisa aku lupain cuma karena Mas bilang putus sama dia."
"Terus aku harus gimana lagi, Ra? Aku udah coba semua yang aku bisa."
"Aku nggak tau, Mas. Yang aku tau, sekarang aku butuh waktu buat mikirin semuanya sendiri, tanpa Mas terus-terusan nanyain kapan aku bakal 'baikan' lagi."
Juned terdiam, tidak bisa membantah, akhirnya bangkit dan keluar kamar dengan wajah kecewa, meninggalkan Anyara sendirian dengan pikirannya yang masih berkecamuk.
Ratih, di sisi lain, mengalami perubahan yang lebih terlihat jelas. Ia mulai lebih perhatian pada Anyara, bahkan beberapa kali membantu pekerjaan rumah yang biasanya sepenuhnya ia bebankan pada menantunya.
"Anyara, biar Ibu aja yang cuci piring, kamu istirahat," ucap Ratih suatu sore, mengambil alih pekerjaan dari tangan Anyara yang terkejut dengan perubahan sikap itu.
"Nggak apa-apa, Bu, saya bisa sendiri," jawab Anyara, masih belum terbiasa dengan perhatian yang tiba-tiba ini.
"Udah, biar Ibu. Ibu... Ibu minta maaf ya, Anyara. Selama ini Ibu selalu nyalahin kamu, padahal yang salah anak Ibu sendiri. Ibu malu banget."
Anyara menatap mertuanya, melihat ketulusan yang jarang sekali ia temukan sebelumnya. "Nggak apa-apa, Bu. Ibu kan cuma nggak tau yang sebenarnya."
"Tapi Ibu harusnya lebih adil dari dulu. Maafin Ibu ya, Nak."
Panggilan "Nak" itu terasa asing di telinga Anyara—selama tiga tahun menikah, Ratih hampir tidak pernah memanggilnya dengan sebutan seakrab itu. Ada haru yang menyelinap di dada Anyara, meski luka yang ia rasakan masih terlalu segar untuk benar-benar bisa merasa lega sepenuhnya.
Kabar perselingkuhan itu, meski coba dirahasiakan, akhirnya bocor juga ke tetangga. Bu Ida, seperti biasa, menjadi salah satu penyebar kabar tercepat.
"Denger-denger suaminya Anyara ketahuan selingkuh ya? Pantesan aja dulu Anyara jarang dandan, mungkin udah curiga dari lama," bisik Bu Ida ke Bu Wati suatu pagi, tanpa sadar Anyara sedang lewat tidak jauh dari mereka.
Anyara mendengar sepotong percakapan itu, tapi kali ini ia tidak lagi merasa perlu bersembunyi atau malu. Ia berjalan mendekat, menyapa dengan tenang. "Pagi, Bu Ida, Bu Wati."
Kedua wanita itu sedikit terkejut, buru-buru mengubah topik. "Eh, Anyara, pagi. Mau ke mana?"
"Cuma jalan-jalan pagi aja, Bu. Biar pikiran lebih tenang," jawab Anyara, tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya tanpa beban seperti sebelumnya.
Ia menyadari, gosip akan selalu ada, apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Tapi kali ini, ia memilih untuk tidak lagi membiarkan omongan orang lain menentukan bagaimana perasaannya terhadap diri sendiri.
Sore harinya, Anyara memutuskan untuk menemui Hans, kali ini bukan secara diam-diam penuh rasa bersalah seperti sebelumnya, melainkan dengan hati yang lebih terbuka meski masih dipenuhi luka.
Mereka duduk di taman kota, tempat yang lebih tenang dibanding kafe biasanya.
"Gimana perasaan Mbak sekarang, udah agak mendingan?" tanya Hans, menyodorkan segelas es teh yang tadi ia beli.
"Masih berat, Pak. Tapi setidaknya sekarang semuanya udah jelas, nggak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi."
"Mbak udah mikirin mau lanjut atau nggak sama suami?"
Anyara menghela napas panjang, menatap ke arah anak-anak yang bermain di taman. "Belum tau pasti, Pak. Tapi kalau boleh jujur, saya udah nggak ngerasa apa-apa lagi setiap liat Mas Juned. Cuma... rasanya aneh aja mikirin harus mulai dari nol lagi di usia segini."
"Mbak nggak perlu buru-buru mikirin itu. Yang penting sekarang, Mbak fokus dulu ke diri sendiri, apa yang bikin Mbak bahagia."
Anyara menoleh menatap Hans, tersenyum kecil. "Pak Hans selalu bilang gitu ya, fokus ke diri sendiri. Padahal Bapak sendiri udah nunjukin perhatian yang bahkan suami saya sendiri jarang kasih."
Hans terdiam sesaat, seperti menimbang apakah harus mengatakan sesuatu yang sudah lama ia pendam. "Mbak Anyara, saya nggak mau maksa apa-apa. Tapi saya juga nggak bisa terus-terusan nutupin perasaan saya. Sejak kejadian di gang itu, saya udah nggak bisa berhenti mikirin Mbak."
Anyara menatapnya, jantungnya berdebar kencang mendengar pengakuan yang selama ini sudah bisa ia rasakan tapi belum pernah diucapkan secara gamblang.
"Pak Hans," ucapnya pelan, "saya masih berstatus istri orang. Saya nggak bisa mikirin hal kayak gitu sekarang."
"Saya ngerti, Mbak. Saya nggak minta jawaban sekarang. Saya cuma pengen Mbak tau, apa pun keputusan Mbak nanti, saya akan tetap ada, tanpa maksud macem-macem, kecuali Mbak sendiri yang membuka jalan itu."
Anyara tidak menjawab, hanya menatap ke kejauhan, hatinya dipenuhi kebingungan antara luka yang belum sembuh, dan perasaan baru yang perlahan tumbuh tanpa bisa ia cegah sepenuhnya.