Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam harinya, Selena dan Ethan datang ke sebuah club ternama di kota. Suasananya begitu ramai. Musik yang keras hampir memekakkan telinga, membuat Selena yang jarang pergi ke club merasa sedikit tidak nyaman.
Namun, teman-teman mereka sudah lebih dulu berkumpul dan langsung menyambut kedatangan Selena dan Ethan dengan hangat.
"Yeah! Pasangan pengantin baru kita akhirnya datang!" seru salah satu teman Ethan.
Sorakan langsung terdengar dari teman-teman mereka yang lain.
Selena dan Ethan kemudian duduk di meja yang sudah mereka pesan. Lusy, yang sudah datang lebih dulu, langsung mendekati Selena.
"Sel, aku kira kamu nggak akan datang," katanya.
"Kalau aku nggak datang, besok pasti ada gosip baru di kampus."
Lusy terkekeh, lalu bertanya dengan wajah penasaran sekaligus khawatir, "Jason ngizinin kamu datang?"
"Ya. Seperti yang kamu lihat, aku ada di sini sekarang," jawab Selena santai.
Sementara itu, beberapa teman Ethan mulai menuangkan minuman ke gelas yang masih kosong.
"Ayo, kita bersulang untuk pasangan pengantin baru kita!" seru salah satu dari mereka sambil mengangkat gelas.
Ethan ikut mengangkat gelasnya. Selena pun melakukan hal yang sama.
"Cheers!"
Gelas mereka beradu sebelum keduanya meneguk minuman masing-masing.
Malam pun terus berjalan. Musik semakin keras, tawa dan obrolan memenuhi meja mereka. Selena yang awalnya merasa canggung perlahan mulai terbawa suasana.
Tanpa terasa, alkohol mulai memengaruhi kesadaran mereka. Mereka tertawa, menari, dan terus menikmati malam bersama teman-teman, tanpa menyadari bahwa malam itu akan membawa mereka pada sesuatu yang tidak pernah mereka duga.
Tawa dan suara musik masih memenuhi club ketika salah satu teman Ethan tiba-tiba berdiri sambil mengangkat gelasnya.
"Hei, tunggu dulu!"
Semua orang di meja langsung menoleh.
"Sebagai pengantin baru, kalian belum melakukan satu hal penting malam ini!"
"Apaan?" tanya Ethan sambil tertawa.
Temannya menunjuk Ethan dan Selena secara bergantian.
"Ciuman pengantin baru!"
Seketika teman-teman yang lain bersorak.
"Ayo, cium!"
"Pengantin baru masa nggak mau?"
"Cium! Cium! Cium!"
Selena langsung membeku.
Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Ia menoleh kepada Ethan, lalu kembali memandang teman-teman mereka yang terus bersorak. Musik yang sejak tadi terasa mengganggu kini seolah semakin keras di telinganya.
"Ethan..." panggil Selena pelan.
Ia menggeleng kecil.
"Aku nggak nyaman."
Namun, suara Selena tenggelam di antara sorakan.
"Ayo, Sel! Cuma ciuman doang!" seru teman yang lainnya dari sampingnya, tanpa menyadari perubahan wajah Selena.
Selena menelan ludah. Tangannya meremas ujung pakaiannya di bawah meja.
Ia tahu semua orang menganggap ini hanya candaan. Namun baginya, ciuman itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan begitu saja demi memenuhi permintaan orang lain.
Terlebih lagi, pria yang duduk di hadapannya adalah Ethan. Pria yang seharusnya tidak lagi ia sentuh setelah semuanya berubah.
"Aku benar-benar nggak mau..." bisiknya.
Ethan yang duduk di sampingnya akhirnya menyadari kegelisahan Selena. Tatapannya berubah ketika melihat wajah Selena yang mulai pucat.
"Sudahlah. Jangan dipaksa," katanya.
Namun salah satu temannya justru tertawa.
"Wah, pengantin baru malu-malu, nih!" Sorakan kembali menggema.
Selena semakin tidak nyaman. Ia menundukkan wajah, berharap suasana segera berlalu. Namun, alkohol yang mulai menguasai pikirannya membuat pertahanannya melemah.
Ethan menatapnya beberapa saat. "Selena..."
Selena mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu di tengah riuhnya club.
"Kalau kamu benar-benar nggak mau, kita nggak perlu melakukannya," ujar Ethan pelan.
Selena terdiam. Ada rasa lega mendengar perkataan itu, tetapi entah kenapa jantungnya justru berdegup semakin cepat.