Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 — Untuk Kamar Kami
Maya datang membawa kopi dan roti saat Nara belum siap bertemu dengannya.
“Gue di bawah. Bukain, tangan gue penuh.”
Nara meletakkan kuas. Di ponselnya, pesan singkat Adrian dari malam sebelumnya masih terbuka.
Kamu sudah sampai?
Ia hanya menjawab sudah. Tidak ada percakapan panjang sesudahnya, tetapi Nara telah membaca satu pertanyaan itu lebih sering daripada yang mau diakuinya.
Ia mengunci layar, turun membuka pintu gedung.
Maya berdiri di depan percetakan, memegang dua gelas dan kantong kertas dengan siku.
“Cepat, sebelum roti gue jatuh.”
Nara mengambil kantongnya, lalu mempersilakan masuk.
Di atas, Maya memuji tirai yang sudah terpasang. Ia membuka sepatunya tanpa diminta, duduk di lantai, dan mengeluarkan roti satu per satu.
Suasana itu begitu akrab hingga Nara ingin menangis.
“Gue mau minta tolong,” kata Maya.
“Apa?”
“Milihin lukisan buat rumah. Ulang tahun pernikahan sebentar lagi.”
Nara meraih kopi, berharap Maya tidak melihat kegugupannya.
“Beli yang mana?”
“Belum tahu. Makanya sama lo.”
Maya menunjuk dua karya lama yang bersandar di dekat rak.
“Yang itu masih ada, kan? Yang nggak dipilih kantor Adrian.”
Nara mengangguk.
“Gue suka yang terang. Tapi Adrian mungkin lebih suka yang gelap. Menurut lo?”
Nara memandang kedua kanvas. Ia tahu Adrian akan melihat bagian yang nyaris luput dari perhatian Maya. Kemarin Adrian bahkan memperhatikan bagian kosong pada lukisannya yang dilewati pengunjung lain.
“Coba lihat di dindingnya dulu,” jawabnya.
Maya membuka foto kamar mereka.
Nara langsung mengenali sebagian ruangan itu dari video yang pernah ditunjukkan Maya.
Sudut tempat tidur. Lampu samping. Dinding di belakang kepala ranjang.
Ia memegang gelas dengan kedua tangan.
“Di kamar?”
“Iya. Ruang tamu sudah penuh. Lagian ini buat kami.”
Maya menggeser foto, memperlihatkan ukuran dinding yang sudah dicatatnya.
Nara melihat bibir Adrian dalam ingatannya sendiri, lalu dinding kamar tempat laki-laki itu tidur bersama istrinya.
“Yang terang lebih cocok,” katanya.
“Kenapa?”
“Warnanya masuk sama kayunya. Yang gelap akan berat di situ.”
Maya puas. Ia berdiri untuk melihat lukisan lebih dekat.
“Kalau yang ini, lo jangan kasih harga teman. Gue beli.”
“May…”
“Jangan. Gue sudah lihat lo mempertahankan harga di galeri. Masa sama gue malah gratis.”
Nara menunduk. Maya bahkan memikirkan agar ia dibayar pantas, sementara kemarin ia baru saja mencium suaminya.
Maya menoleh, menangkap wajahnya.
“Lo capek?”
“Sedikit.”
“Gue datang ganggu, ya?”
“Nggak. Sama sekali nggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Maya duduk lagi, mengambil rotinya.
“Gue senang kita bisa begini lagi.”
Nara mengangkat gelas, tetapi tidak minum.
“Waktu kita ketemu di kedai itu, gue takut lo marah. Gue tahu rasanya jelek ditanya macam-macam padahal lo sudah pusing sama rumah sendiri.”
“Lo berhak nanya.”
“Iya. Tapi gue tetap takut kehilangan lo.”
Maya menyentuh lututnya.
“Adrian suami gue. Lo teman gue dari kecil. Gue nggak mau jadi orang yang harus milih kehilangan salah satu cuma gara-gara pikiran gue sendiri.”
Nara merasa makanan di mulutnya sulit ditelan.
Bukan cuma pikiran lo, May.
Ia tidak mengatakannya.
* * *
Maya bercerita tentang pertengkaran soal anak setelah mereka membicarakan bingkai.
“Gue pengin, dia belum. Itu sebenarnya bisa dibicarakan, kan? Tapi begitu dia bilang belum, gue langsung dengar yang lain.”
Nara mendengarkan tanpa menyela.
“Gue jadi merasa dia nggak yakin sama gue.”
Maya meremas bungkus roti.
“Padahal dia ada. Pulang, makan, bantu kerjaan. Kemarin dia nemenin gue nyusun kain sampai lantai ruang kerja kelihatan lagi. Gue lihat itu, gue senang. Terus satu kalimat bisa bikin gue lupa semuanya.”
Nara menatap wajah sahabatnya. Maya tidak sedang pamer. Ia sedang berusaha memahami pernikahannya, mencari jalan kembali kepada laki-laki yang kini ada di kepala Nara juga.
“Lo sudah bilang begitu ke dia?”
“Belum selengkap ini.”
Maya tertawa kecil.
“Kalau sudah di depan dia, mulut gue malah jadi galak.”
Nara ikut tersenyum, lemah.
Maya mengangkat foto kamar lagi.
“Gue mau kami punya sesuatu yang dipilih bareng. Mulai dari yang gampang dulu. Lukisan, makan malam. Bukan langsung pertanyaan besar.”
Nara membantunya memilih bingkai kayu yang lebih tipis.
Ia mengukur, mencatat harga, menjelaskan waktu penyelesaian. Ia memusatkan perhatian pada ukuran dan harga, berusaha menenangkan diri agar Maya tidak melihat tangannya gemetar.
Sebelum pulang, Maya memeluknya.
“Makasih, Na. Lo selalu tahu gimana bikin gue nggak terlalu kacau.”
Nara membalas pelukannya.
Di belakang bahu Maya, ponselnya tergeletak di meja, layar gelap. Ia berharap benda itu tidak menyala. Ia juga berharap ada pesan dari Adrian begitu pintu ditutup.
Keinginan kedua membuatnya memejamkan mata.
Maya melepaskan pelukan sambil tersenyum, lalu turun membawa kopi yang belum habis.
Nara berdiri di depan lukisan yang baru dipilih sahabatnya. Ia mengambil kain bersih dan mulai mengusap debu di tepi bingkai, tetapi tak lama kemudian tangannya berhenti.
Maya akan memasangnya di kamar mereka, mungkin sambil menggandeng Adrian dan menanyakan pendapatnya. Nara cemburu membayangkannya. Lalu ia malu: itu suami Maya. Untuk apa ia merasa tersisih?