Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sore hari menjelang malam, lembayung jingga mulai meredup di ufuk barat, berganti dengan selimut kegelapan yang perlahan menaungi kompleks pesantren.
Musa baru saja menyelesaikan tugasnya mengajar saat ponsel di dalam saku jasnya bergetar intens.
Nama Yusuf tertera di layar. Musa mengangkatnya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Bicaralah," perintah Musa singkat dengan suara berat.
Di seberang telepon, helaan napas Yusuf terdengar begitu berat dan tegang, menandakan ada hal teramat serius yang berhasil ia bongkar.
"Bos, saya sudah menyelesaikan penyelidikan mendalam tentang latar belakang Umi Laila. Dan ini.l, sangat mengejutkan," ujar Yusuf dengan nada rendah dan berhati-hati.
Musa memicingkan matanya. "Apa yang kamu temukan?"
"Umi Laila terindikasi memiliki identitas tersembunyi sebagai seorang mata-mata dari organisasi musuh kita, Bos," ungkap Yusuf tegas.
"Semua dokumen kelahirannya di desa itu dibuat sangat rapi, tapi ada jejak digital terselubung yang berhasil kita retas. Jadi, setahun yang lalu, keberadaannya di lokasi penembakan itu sama sekali bukan kebetulan. Dia tidak kebetulan ada di sana dan menolongmu, Bos. Semua itu adalah skenario yang sudah dirancang."
Brak!
Tangan Musa mengepal erat, memukul pelan pinggiran meja kayu di hadapannya.
Jantungnya berdegup kencang, namun raut wajah tegasnya seketika mendingin bagai es.
Bayangan wajah lembut Laila yang berbalut cadar, mata beningnya yang selalu menatapnya dengan penuh ketulusan, serta sikap santunnya saat mencium tangannya tadi pagi melintas cepat di ingatan Musa.
Musa terhenyak. Ada pergolakan batin yang hebat di dalam dadanya, namun sebagai seorang penguasa dunia bawah tanah yang cerdik dan berpengalaman, ia tidak lantas panik atau percaya begitu saja pada laporan di atas kertas.
"Mata-mata?" gumam Musa rendah, hampir berupa bisikan yang berbahaya.
"Benar, Bos. Rekam jejaknya terkunci rapat di server asing. Refleks beladiri yang ditunjukkannya tadi pagi, itu adalah bukti awal dari pelatihannya," tambah Yusuf.
Musa terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah kegelapan malam yang kian pekat.
Ia tahu betul betapa liciknya dunia tempat ia berdiri, namun ia juga mengenal tatapan mata istrinya saat mereka berdua.
Musa tidak ingin mengambil kesimpulan mentah-mentah hanya dari selembar laporan intelijen.
Ia memutuskan untuk membuktikan sendiri kemampuan, kebenaran, serta identitas asli dari wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu.
"Siapkan skenario pengujian malam ini," perintah Musa dingin dengan pendar mata yang amat mematikan.
"Aku sendiri yang akan membuktikannya." ucap Musa.
Jam dinding di selasar ruang bedah menunjukkan tepat pukul tujuh malam.
Laila menyandarkan punggungnya sejenak di kursi kerja dokter, menghela napas lega setelah berhasil menyelesaikan operasi kelimanya hari ini dengan lancar.
Tubuhnya terasa lelah, namun rasa puas menyelamatkan nyawa pasien menghangatkan hatinya.
Saat ia sedang melepas masker medis dan merapikan pakaian kerjanya, ponsel di atas meja berdering pelan menyiarkan notifikasi pesan masuk.
Nama Musa tertera di layar. Laila membuka aplikasi WhatsApp dan membaca pesan singkat dari suaminya:
[Sayang, maaf sekali. Malam ini aku mendadak ada urusan penting dan mendesak di pesantren yang harus diselesaikan, jadi aku tidak bisa menjemputmu pulang ke rumah sakit.]
Membaca pesan itu, senyum lembut terulas di bibir Laila di balik cadarnya.
Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, jemari lenturnya dengan sigap mengetikkan balasan yang penuh pengertian:
"Iya Musa, tidak apa-apa. Kamu selesaikan saja dulu urusan di pesantren. Aku bisa pulang sendiri naik taksi atau angkutan online. Hati-hati ya, Musa."
Setelah menekan tombol kirim, Laila merapikan tasnya, siap untuk melangkah keluar gedung rumah sakit—tanpa menyadari bahwa pesan singkat itu adalah langkah awal dari skenario pengujian yang telah dirancang sang suami untuk membongkar rahasia besarnya malam ini.
Laila merapikan tasnya, menyampirkannya di bahu, lalu melangkah keluar melewati pintu kaca Rumah Sakit Hasta Utama.
Suasana malam yang makin larut membuat area depan rumah sakit relatif lengang.
Ia berjalan menuju pinggir jalan utama untuk mencari taksi yang melintas.
Tanpa Laila ketahui, sebuah mobil tanpa plat nomor terparkir tak jauh dari sana.
Di balik kaca gelapnya, Musa sudah mengamati setiap pergerakan istrinya.
Pria itu menyamar menggunakan hoodie gelap dan masker kain yang menutupi separuh wajahnya, menyatu sempurna dengan kegelapan malam.
Musa keluar dari bayang-bayang, melangkah cepat tanpa suara dari arah belakang Laila.
Begitu jarak mereka sangat dekat, Musa tiba-tiba merengkuh dan memeluk tubuh Laila secara mendadak dari belakang demi menguji refleks pertahanan diri sang istri secara nyata.
Sensasi ancaman itu seketika memicu insting bertahan diri Laila.
Tanpa ragu dan dengan refleks bela diri tingkat tinggi yang teramat presisi, Laila langsung mencengkeram kuat lengan lelaki itu, mengunci pergelangan tangannya, lalu memutar tumpuan tubuhnya dengan cepat.
Dalam satu gerakan bantingan sempurna (shoulder throw), Laila membalikkan tubuh dan membanting keras sosok ber-hoodie itu hingga terhempas ke tanah.
BUKK!
Laila bergerak cepat mengambil jarak aman, mengambil posisi kuda-kuda siap menyerang balik jika penyerangnya melawan.
Sorot matanya yang biasa teduh kini berkilat tajam dan berbahaya.
"Siapa kamu?!" tanya Laila dengan suara tegas, dingin, dan penuh ancaman.
Sosok ber-hoodie itu perlahan bangkit, mengibaskan debu di bajunya.
Tangan tegapnya terulur menurunkan masker kain yang menutupi wajah.
Sepasang mata tajam yang teramat dikenal Laila menatapnya lurus, dihiasi senyum miring yang sarat akan arti.
"Aku suamimu, Sayang." ucap Musa rendah, sebelum pandangannya menyipit penuh pendar selidik.
"Siapa kamu sebenarnya?"
Laila tersentak kaget. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa penyerang berdarah dingin tadi adalah Musa, suaminya sendiri.
Sadar bahwa penyamaran serta rahasia besarnya telah terbongkar sepenuhnya di depan pria itu, Laila panik.
Tanpa bersuara sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari kencang membelah kegelapan malam untuk melarikan diri.
Musa terkekeh pelan melihat ketangkasan istrinya, namun pendar matanya makin menajam berbahaya.
"Sial!" gumam Musa rendah.
Sesuai dengan skenario yang telah disusun rapat, Yusuf yang sudah bersembunyi di balik kegelapan sudut jalan langsung bergerak cepat.
Yusuf memotong jalur lari Laila dan menyergapnya secara mendadak dari belakang, membungkam hidung dan mulut Laila menggunakan kain yang telah dibubuhi obat bius dosis tinggi.
"MMMMPPHH!"
Laila memberontak sekuat tenaga, mencoba melepaskan kuncian Yusuf dengan teknik beladiri yang dimilikinya.
Namun Yusuf menahannya dengan erat dan sigap sembari berbisik santun di dekat telinga Laila.
"Tenang Umi, hirup relaks." bisik Yusuf pelan.
Obat bius bereaksi secepat kilat. Rasa lemas yang luar biasa menyerang seluruh persendian Laila.
Reaksi tubuhnya melambat, dan pemberontakannya perlahan mereda. Kesadaran Laila mengabur secara dramatis.
Pandangan matanya yang kian memburam sempat menangkap bayangan sosok Musa yang melangkah mendekat dengan aura dingin, penuh wibawa, nan misterius.
Tubuh Laila akhirnya terkulai lemas dan pingsan tepat di dalam pelukan Musa yang menangkapnya dengan sigap.
Musa merengkuh tubuh istrinya yang tak berdaya, menatap wajah polos berbalut cadar itu dengan sejuta tanda tanya di benaknya—meninggalkan ketidakpastian besar tentang apa yang akan dilakukan sang penguasa kegelapan setelah mengetahui rahasia kelam dari wanita yang paling dicintainya.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii