H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Langkah kaki Mahika terasa jauh lebih ringan saat melangkahkan kaki keluar dari area kos-kosan lamanya. Setelah menyela waktu sejenak untuk membereskan sisa barang pribadi yang tertinggal, dua koper abu-abu miliknya kini sudah tersimpan rapi di bagasi mobil SUV hitam mewah milik Bu Aura.
Di dalam kabin mobil yang hening dan sejuk, Bu Aura duduk di samping Mahika yang menatap lurus ke arah jalanan kota. Mobil melaju tenang membelah kepadatan lalu lintas sore menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Bu Aura menghela napas panjang. Matanya menatap Mahika dengan perpaduan rasa kagum, prihatin, dan ketidakrelaan yang mendalam.
"Mahika... jujur, Ibu masih berat melepaskan kamu," panggil Bu Aura lembut, memegang erat jemari dingin anak didiknya itu. "Apalagi pas Ibu dengar cerita kamu kemarin soal rencana busuk mereka. Ibu tahu betul watak Reno. Pria itu pasti sekarang lagi menyusun narasi manis buat menyelamatkan mukanya sendiri di depan semua orang."
Mahika menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. Senyuman yang tak lagi menyiratkan duka, melainkan keyakinan mutlak.
"Pasti, Bu," sahut Mahika halus. "Mahika sudah prediksi dari awal. Reno pasti bakal sebar cerita ke teman-teman kantor dan kerabat kalau Mahika yang kabur, Mahika yang emosional, dan Mahika yang tidak siap mental menikah. Dan Kak Gisel... bakal diposisikan sebagai pahlawan yang pasang badan menggantikan adiknya."
Mendengar hal itu, raut wajah Bu Aura mendadak memerah menahan kekesalan. Jemarinya mengepal keras di atas pangkuan.
"Itu dia yang bikin Ibu enggak rela, Mahika!" tegur Bu Aura tegas. "Kamu yang dikhianati, kamu yang diperas selama bertahun-tahun, tapi malah kamu yang dijadikan tumbal buat nama baik mereka. Ibu benar-benar tidak sudi melihat kamu dijelek-jelekkan begitu saja di belakang punggung kamu."
"Biarkan saja, Bu," bisik Mahika pelan, binar matanya berkilat dingin. "Semakin tinggi narasi palsu yang mereka bangun hari ini, semakin tajam benturan yang bakal mereka rasakan saat jatuh nanti. Biarkan mereka merasa menang. Biarkan Reno dan Kak Gisel menikmati mimpi indahnya di atas panggung yang sedang Mahika persiapkan."
Mahika menggenggam balik tangan Bu Aura, menatap mentornya penuh rasa terima kasih. "Kalau kita hentikan mereka sekarang, mereka cuma bakal dapat malu sedikit lalu cari alasan lain. Tapi kalau kita biarkan mereka sampai naik ke pelaminan di hari H... kehancuran mereka bakal sempurna. Karir Reno hancur, reputasi keluarga habis, dan mereka berdua bakal menanggung malu seumur hidup."
Bu Aura menggeleng-gelengkan kepala dengan helaan napas panjang. Ia terpukau oleh ketenangan dan kedalaman strategi yang dimiliki wanita muda di sampingnya ini.
"Kamu benar-benar cerdik, Mahika," puji Bu Aura tersenyum bangga. "Baiklah. Kalau itu yang kamu mau, Ibu bakal ikuti semua skenario kamu. Ibu bakal diam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan Reno dan tim kantor sampai hari H itu tiba."
Mobil terus melaju menyusuri tol bandara yang mulai lengang. Di dalam kabin, Bu Aura mengambil sebuah map tebal bernuansa elegan dari dalam tas kulitnya, lalu memandangi Mahika dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Satu hal lagi, Mahika," ucap Bu Aura bersuara mantap. "Di Bandung nanti... Ibu tidak mau kamu cuma bekerja di cabang Aura Fashion atau sekadar jadi staf desainer lagi."
Mahika tertegun, menatap dokumen di tangan Bu Aura dengan kening berkerut halus. "Maksud Ibu?"
"Ibu sudah atur semuanya," terang Bu Aura penuh ketegasan yang memukau. "Ibu tidak mau bakat besar kamu terus-menerus terikat di bawah bayang-bayang nama Aura Fashion. Di dalam map ini ada berkas legalitas pendirian brand busana baru atas nama kamu pribadi. Ibu yang bakal jadi investor utamanya, tapi kepemilikan dan kendali kreatif seratus persen ada di tangan kamu, Mahika."
Mata Mahika membelalak kaget. "Bu... ini terlalu banyak. Mahika enggak bisa."
"Kamu sangat bisa, Mahika," potong Bu Aura memegang kedua pipi Mahika dengan pandangan penuh kasih sayang seorang ibu. "Kamu punya bakat luar biasa yang selama ini cuma dimanfaatkan oleh laki-laki tidak tahu diri dan keluarga yang rakus. Sudah waktunya kamu berdiri di atas kaki kamu sendiri sebagai pemilik brand hebat. Studio privat di Bandung itu bakal jadi markas pertama kamu buat merancang koleksi perdana."
Air mata haru yang menumpuk sejak tadi akhirnya meluncur deras membasahi pipi Mahika. Di tengah pengkhianatan paling kejam dari darah dagingnya sendiri, Tuhan mengirimkan Bu Aura yang memberi kepercayaan dan mengangkat derajatnya begitu tinggi.
"Terima kasih banyak, Bu Aura... terima kasih atas semuanya," bisik Mahika terisak pelan, memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat.
"Sama-sama, Sayang," bisik Bu Aura mengusap lembut punggung Mahika. "Pergilah ke Bandung. Bangun bisnis kamu, tata hidup baru kamu di sana. Biarkan masalah di Jakarta jadi urusan Ibu dan jebakan yang kamu tinggalkan."
Satu jam kemudian, SUV hitam itu akhirnya memasuki area drop-off Keberangkatan Domestik Bandara Soekarno-Hatta. Pak Sopir dengan sigap turun dan membantukan menurunkan dua koper besar milik Mahika.
Bu Aura melangkah turun bersama Mahika, berjalan berdampingan menuju pintu masuk terminal penerbangan. Langkah kaki Mahika terasa begitu ringan dan mantap. Rasa cemas dan sesak yang selama bertahun-tahun mengimpit dadanya seolah menguap berganti menjadi ambisi yang membara.
Sebelum Mahika melangkah melewati pintu pemeriksaan dokumen, Bu Aura menahan bahu Mahika dan menatapnya penuh arti.
"Ingat, Mahika... pada hari H pernikahan itu nanti, Ibu sendiri yang bakal datang ke gedung resepsi dengan membawa seluruh bukti dan surat pemecatan untuk Reno," ujar Bu Aura dengan nada suara sedingin baja. "Kita tunjukkan pada mereka semua siapa Kalea Mahika yang sebenarnya."
Mahika mengangguk mantap. Rasa percaya dirinya membumbung tinggi, menggantikan setiap sisa rasa sakit dan pengkhianatan yang pernah singgah.
"Sampai bertemu di hari pernikahan nanti, Bu," ucap Mahika tersenyum anggun.
"Sampai ketemu di hari kemenangan kamu, Mahika," balas Bu Aura memancarkan senyum penuh keyakinan.
Dengan memegang gagang kopernya dan menggenggam erat berkas bisnis barunya, Mahika berbalik arah. Ia melangkah mantap menembus pintu pemeriksaan bandara, meninggalkan kota Jakarta beserta semua kenangan pahit dan manusia-manusia beracun di belakangnya.
Di dalam pesawat yang perlahan menanjak menembus awan menuju Bandung, Mahika menatap keluar jendela kaca. Pemandangan kota Jakarta yang mengecil di bawah sana seolah menjadi simbol bahwa masa lalunya telah selesai.
Reno, Gisella, Bu Maya, dan Pak Bambang boleh saja tertawa puas hari ini, sibuk menyusun narasi kebohongan dan menyiapkan pesta pernikahan mewah di atas penderitannya. Namun mereka tidak pernah tahu, bahwa penerbangan Mahika sore ini bukanlah tanda kekalahan atau lari dari kenyataan... melainkan langkah awal dari sang dalang yang sedang bersiap memutar panggung komedi tragis untuk menghancurkan mereka selamanya.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂