Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil yang Menunggu
Pagi kedua di rumah sakit datang tanpa bunyi alarm.
Alya terbangun karena nyeri. Bukan nyeri yang menusuk seperti kemarin tepat setelah biopsi, melainkan nyeri tumpul yang menyebar dari tulang pinggul kiri sampai ke paha belakang. Seperti habis jatuh, tapi jatuhnya di dalam tulang.
Ia mencoba miring ke kanan. Napasnya tertahan.
"Pelan," suara Arga.
Alya menoleh. Arga sudah duduk tegak di kursi. Kemejanya masih sama seperti kemarin sore — kusut di bagian kerah. Di meja ada dua gelas kopi kertas. Satu masih penuh, sudah tidak berasap. Satu lagi tinggal setengah, dingin.
"Kamu nggak pulang?" tanya Alya, suaranya serak.
Arga menggeleng. "Pulang buat apa?"
"Ganti baju."
"Nanti."
Alya memperhatikan wajah suaminya. Ada garis hitam di bawah matanya. Rambutnya tidak disisir. Untuk seorang Arga Mahendra yang biasanya bahkan ke minimarket pakai parfum, penampilan ini aneh.
"Kamu sakit di situ?" Arga menunjuk pinggulnya.
Alya mengangguk. "Tumpul."
Arga berdiri, mengambil bantal kecil dari sofa dan menyelipkannya dengan hati-hati di bawah pinggul kiri Alya. Gerakannya ragu, takut salah.
"Gini?"
Alya diam beberapa detik, merasakan. "Mendingan. Makasih."
Makasih.
Satu kata itu membuat Arga terdiam. Sudah berapa lama Alya tidak bilang makasih karena ia memang tidak melakukan apa-apa yang pantas diberi terima kasih.
Di luar jendela, langit Sungguminasa masih abu-abu. Hujan semalam belum benar-benar berhenti. Sisa air masih menetes dari talang.
Pukul 08.30, pintu diketuk.
Dokter hematologi yang kemarin melakukan biopsi masuk. Tanpa rombongan perawat. Hanya membawa map tipis dan stetoskop yang masih tergantung di leher.
"Selamat pagi, Bu Alya, Pak Arga," sapa dokter. "Saya mau update hasil awal dulu, ya."
Alya langsung mencoba duduk lebih tegak. Arga menahan bahunya. "Pelan."
Dokter membuka map.
"Jadi begini," kata dokter, suaranya sengaja dibuat santai. "Dari apusan sumsum tulang yang kita ambil kemarin, gambaran awalnya sudah kelihatan. Sumsum tulang Ibu hipoplastik."
Alya menatap dokter. "Hipoplastik itu apa, Dok?"
"Kosong. Pabrik darah Ibu sepi. Normalnya sumsum itu penuh dengan calon sel darah — calon sel merah, sel putih, trombosit. Punya Ibu, calon-calon itu sedikit sekali. Makanya darah di luar juga ikut turun."
Arga mengernyit. "Kosong kenapa?"
"Itu yang masih kita cari. Hipoplastik bisa karena banyak hal. Bisa karena serangan virus, bisa karena autoimun di mana sistem imun Ibu menyerang pabriknya sendiri, bisa karena efek obat, bisa juga karena faktor lain. Untuk tahu penyebab pastinya, kita butuh pemeriksaan lanjutan — immunostaining, patologi anatomi lengkap. Itu butuh waktu satu sampai dua hari lagi."
"Satu sampai dua hari lagi," ulang Alya pelan.
"Iya. Saya tahu menunggu itu bagian paling menyiksa," kata dokter. "Makanya saya minta satu hal: jangan googling dulu. Saya serius. Kalau Ibu googling 'sumsum kosong', yang keluar pasti yang paling menakutkan. Padahal spektrumnya luas. Ada yang bisa sembuh dengan obat saja."
Alya mengangguk. Tangannya meremas selimut.
"Apakah saya harus transfusi lagi, Dok?" tanya Alya.
"Belum hari ini. Hb dan trombosit Ibu memang masih di bawah, tapi masih di batas yang bisa kita pantau tanpa transfusi dulu. Kalau ada pendarahan atau sesak lagi, kita akan transfusi. Untuk sekarang, kita tahan."
Dokter menatap Arga. "Pak Arga, Ibu Alya butuh istirahat, tapi juga butuh bergerak sedikit. Kalau sudah tidak terlalu nyeri, boleh duduk di kursi sebentar sore nanti. Jangan di kasur terus."
"Baik, Dok."
Setelah dokter keluar, kamar kembali sunyi. Hanya bunyi tetesan infus.
"Sepi," kata Alya tiba-tiba.
Arga menoleh. "Apa yang sepi?"
"Sumsumku. Katanya sepi."
Arga tidak tahu harus menjawab apa. Ia menggenggam tangan Alya. Tangan itu dingin.
"Mas," panggil Alya.
"Hmm?"
"Kalau pabrik darahku sepi, berarti aku udah lama sakit ya?"
Pertanyaan itu membuat Arga menatapnya.
Selama tiga tahun, ia melihat Alya pucat, sering bilang pusing, sering bilang capek, berat badannya turun. Ia mengira itu karena Alya kurang makan, karena diet, karena ceng.
Ternyata bukan.
"Aku nggak tau," jawab Arga jujur. "Tapi kalau iya, maaf aku nggak sadar."
Alya tidak menjawab. Ia memalingkan wajah ke jendela.
Siang jam sebelas, pintu terbuka lagi. Bukan perawat.
Dinda. Asisten rumah tangga keluarga Pramono yang sudah kerja sejak Alya SMP.
Di tangannya ada rantang besi dan tas kain.
"Non Alya," panggilnya pelan.
Alya langsung mengenali suara itu. "Mbok Dinda?"
Dinda mendekat. Matanya langsung merah melihat selang infus.
"Ya Allah, Non... Mbok Sari nangis terus di rumah. Katanya Non nggak pernah cerita kalau pusing terus."
Alya tersenyum kecil. "Aku nggak mau Mbok Sari khawatir."
"Lah malah bikin khawatir begini." Dinda membuka rantang. Aroma sup ayam hangat menguar. Bening, tanpa wortel. "Mbok Sari bilang, Non nggak suka wortel. Jadi Mbok Sari nggak kasih wortel. Cuma ayam, kentang, sama daun bawang."
Alya menatap sup itu. Matanya panas.
Sudah berapa lama ia makan sendirian di meja besar rumah Mahendra, dengan makanan catering yang rasanya selalu sama.
Dinda menyendok pelan. "Coba, Non. Empat suap aja."
Alya membuka mulut. Suapan pertama terasa hambar, tapi hangatnya menjalari tenggorokan. Suapan kedua, ketiga, keempat — ia telan.
"Alhamdulillah," bisik Dinda.
Arga duduk diam di sisi lain. Ia tidak merebut sendok. Ia hanya memperhatikan. Dinda yang dulu sering ia anggap "cuma mbak" ternyata hafal Alya tidak suka wortel. Sementara ia, suaminya, bahkan tidak tahu Alya alergi udang sampai Alya dirawat karena gatal-gatal tahun lalu.
Setelah Alya tertidur karena kelelahan menahan nyeri, Dinda menarik Arga ke koridor.
"Mas Arga," kata Dinda, suaranya ditahan agar tidak terdengar Alya. "Saya boleh ngomong jujur?"
Arga mengangguk.
"Non Alya itu kalau ditanya 'kamu kenapa?' jawabnya pasti 'nggak apa-apa'. Dari SMA. Bahkan waktu Bapaknya sakit dulu, dia bilang 'nggak apa-apa' sambil nangis di dapur. Jadi kalau Non udah bilang 'aku capek'... itu artinya dia udah nggak kuat seminggu, Mas."
Arga menunduk.
"Jadi jangan tanya 'kamu kenapa' terus, Mas. Temenin aja. Kadang Non butuh ditemenin nggak ngomong apa-apa."
Dinda pulang, meninggalkan rantang setengah kosong. Di meja, sup itu masih hangat.
Sore, hujan turun lagi. Deras. Sama seperti sore-sore sejak Alya dirawat.
Arga duduk di dekat jendela, membuka HP. Notifikasi menumpuk. Grup kantor, investor, Keisya.
Chat Keisya paling atas:
Keisya: Meeting jam 3 diundur. Kamu jadi datang?
Dulu, Arga akan balas panjang, janji, alasan.
Sekarang ia menatap Alya yang tidur dengan dahi mengernyit menahan nyeri pinggul.
Ia ketik pendek:
Arga: Aku di RS sampai hasil Alya keluar. Tolong handle dulu.
Beberapa detik centang dua biru. Keisya sedang mengetik, lalu berhenti. Lalu muncul:
Keisya: Oke.
Satu kata. Tidak ada tanda tanya. Tidak ada marah. Tapi Arga tahu, "Oke" itu bukan berarti selesai. Itu berarti Keisya ngerti, tapi lagi nahan.
Arga mematikan HP. Ia kembali duduk di kursi samping ranjang. Ia mengambil selimut dan menyelimuti kaki Alya yang sedikit menyembul.
Di luar, hujan masih deras. Di dalam, monitor berbunyi pelan. Alya tidur dengan napas yang masih berat, tapi teratur.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua hari, rantang sup di meja tidak utuh — ada empat suap yang hilang. Bukti kecil bahwa hari ini, Alya berusaha bertahan, bukan karena dipaksa dokter, tapi karena ada rasa rumah yang datang lewat sup tanpa wortel.