Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
AKTRIS YANG HEBAT
Fiorella
Setelah semua orang keluar dari kamarku, aku ditemani Sonya. Ia menjagaku sepanjang malam.
Aku tak bisa tidur. Aku tak tahu apakah karena sakit fisik atau sakit batin. Yang kutahu hanyalah rasanya nyeri, sangat nyeri.
Sonya berbaring di sisiku dan memelukku seolah aku adikya. Ia membelai rambutku, menidurkanku seperti anak kecil, dengan usapan lembut di kepala dan tepukan pelan di punggung.
Keesokan harinya aku terbangun sangat terlambat, hampir pukul delapan malam.
Klub sudah membuka pintunya untuk umum. Dan aku, aku siap menyerahkan jiwaku pada iblis mana pun yang bisa mengeluarkanku dari sini.
Aku mandi perlahan. Tubuhku sakit sekali, jadi aku butuh waktu lama. Setelah bersih, kukeringkan rambut dan tubuhku, lalu kututupi memar-memarku dengan riasan. Memar itu tak lagi terlihat, tertutup rapi.
Aku memakai satu set pakaian dalam merah. Braku menopang buah dadaku yang tampak sedikit lebih besar, mungkin karena kehamilan itu. Setelah berpakaian, aku keluar dari kamar, tapi di lorong aku berpapasan dengan Sonya.
"Apa-apaan yang mau kamu lakukan?" tanya Sonya. "Lepas benda menjijikkan itu dan kembali beristirahat!"
"Tidak. Aku tak akan kembali ke ranjang itu untuk berbaring seperti sekantong sampah," jawabku. "Aku akan masuk ke klub itu dan menjadi pelacur milik pria paling penting dan berkuasa. Vladimir dan Miya akan membayar mahal. Selain itu, aku akan meraih kebebasanku, juga kebebasanmu. Kita berdua akan pergi dari sini, aku berjanji!"
"Kukira kamu sudah belajar dari kejadian itu. Kamu terlalu polos!" ujar Sonya. "Aku tak akan pernah keluar dari sini. Vladimir tak akan mengizinkannya."
"Cukup beri aku sedikit kepercayaan. Aku berjanji, sekalipun itu hal terakhir yang kulakukan, kamu akan keluar dari sini."
Setelah mengucapkan janji itu, aku melanjutkan langkahku dan tak berhenti sampai berada di dalam klub.
"Lihat, sang putri turun tahta," sindir Vladimir. "Sudah tahu Burian tak membayar untukmu, dan akhirnya kamu datang untuk mengerjakan tugasmu?"
"Enyah kau, bajingan keparat!" balasku.
Aku terus berjalan. Dari kejauhan, di sebuah meja, kulihat pria yang dulu ingin tidur denganku, bersama kekasihnya.
Dari yang kudengar tentangnya, ia orang yang sangat berkuasa, orang kedua setelah Burian. Dan dialah targetku.
"Selamat malam, Tampan," sapaku. "Butuh teman?"
Aku bertanya dengan senyum lebar, sementara tanganku membelai buah dada dan bagian bawah tubuhku.
Ia menatapku sambil menjilat bibirnya, dan kulihat betapa terangsangnya ia. Aku tak menunggu apa pun, langsung menghampirinya dan duduk di pangkuannya, berhadapan muka.
Kugerakkan tubuhku di atasnya, dan seketika kurasakan tonjolan besar dan keras. Kudekatkan diri ke lehernya, kugigit cuping telinganya hingga membuatnya mengerang, lalu ia menyandarkan kepalanya ke belakang.
"Teruskan begitu, serigala kecil," ujar Mijail. "Aku suka apa yang kaulakukan. Kalau kamu bersikap manis padaku, akan kuberi apa pun yang kaumau."
Aku tak berpikir dua kali. Aku siap bertaruh semua atau tak sama sekali. Bagiku, biar semua orang pergi ke neraka.
Aku berputar hingga menghadap meja. Di sana ada kokain, minuman keras, dan kondom. Aku membungkuk dan mengisap satu garis bubuk putih, meneguk segelas wiski sekali telan, lalu terakhir mengambil sebuah kondom.
Aku berdiri, kemudian membungkuk lagi, membuka kancing celananya di situ juga. Aku tak peduli pada orang-orang di sekitar kami. Kupegang kejantanannya dan kupasangkan kondom, lalu aku duduk di atasnya. Cukup kugeser celana dalamku, dan beberapa detik kemudian aku sudah menggerakkan seluruh tubuhku tanpa kendali. Kurasakan nyeri yang hebat, tubuhku masih sangat sakit, tapi kuabaikan.
Pria itu mengayunkan pinggulnya dan aku melonjak-lonjak di atas kejantanannya. Semua orang menyaksikan kami bercinta di depan umum. Aku menjerit, mengerang, dan berpura-pura menikmatinya, padahal di dalam aku terbakar. Tapi ada kalanya batas antara benar dan salah, baik dan buruk, yang pantas dan tak pantas, menjadi kabur, dan aku sedang melewatinya semata demi menuntut darah para algojoku.
Beberapa saat kemudian kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia mencapai puncaknya, dan aku berpura-pura mencapai puncak yang luar biasa. Sepertinya aku memang pandai berakting.
Pria itu keluar dari dalam tubuhku, melepas pengaman, mengambil yang baru, dan memasangnya dengan cepat. Ia menaikkanku ke atas meja dan kami kembali bercinta, kali ini lebih lama.
Ia punya stamina kuat, seperti kata gadis-gadis yang pernah berada di ranjangnya. Ia pria muda, sekitar dua puluh lima tahun, dan tampan. Tapi itu yang paling tak penting bagiku. Satu-satunya yang berarti bagiku adalah pengaruhnya.
Aku berakhir dalam keadaan berantakan dan telanjang. Ia melepas jas mahalnya yang berkelas dan menyelimutiku dengannya.
"Kamu hebat, serigala kecil," ujar Mijail. "Kamu tak pernah puas!"
Kata-katanya tertanam di kepalaku. Andai ia tahu bahwa semua itu hanya sandiwara belaka!