Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Pilihan

Sudut Pandang Rebecca

Aku masuk ke kamar pelan-pelan. Keduanya sudah di sana. Membuka tas ransel. Memilah pakaian. Merapikan sedikit barang yang mereka bawa.

Karena pada akhirnya… kami tak sempat membawa seluruh kehidupan. Hanya yang penting-penting saja. Seolah ini sementara. Seolah semua ini cuma… satu fase. Tapi aku tahu. Tak ada satu pun di sini yang sesederhana itu.

Aku bersandar di pintu sesaat. Mengamati.

Henrique melempar begitu saja bajunya ke dalam ransel, tanpa banyak kesabaran. Persis gayanya. Cepat. Impulsif. Sedangkan Heitor melipat semuanya dengan tenang. Rapi. Penuh perhitungan.

Begitu berbeda. Dan meski begitu… keduanya milikku.

Aku menarik napas dalam. "Ini cuma sementara," kataku. Suaraku keluar lebih lembut dari yang kuduga.

Keduanya berhenti. Menatapku.

"Sampai semua ini berakhir," lanjutku. "Sampai kita menyelesaikan masalah ini."

Aku melangkah beberapa langkah lebih dalam ke kamar. "Beberapa bulan lagi kalian delapan belas tahun." Aku menatap keduanya bergantian. "Dan setelah itu…" aku tersenyum kecil, meski lelah, "kalian bebas melakukan apa pun yang kalian mau."

Henrique mengembuskan napas. "Akhirnya."

Tapi tak ada sindiran di sana. Hanya… kenyataan.

Aku mengangguk. "Tapi untuk sekarang…" suaraku jadi lebih tegas, "fokusku adalah menjaga kalian tetap aman."

Hening. Mereka mengerti. Meski tak menyukainya.

Aku mengusap lenganku. Gerakan yang otomatis. Berusaha meringankan beban yang menggelayut di sana.

"Maafkan aku," ucapku. Pelan.

Keduanya langsung menatapku.

"Karena menyeret kalian ke dalam ini." Tenggorokanku terasa tercekat. "Aku ingin… menyelesaikannya sendiri."

Henrique menutup ranselnya dengan sekali hentakan. Ia mendekat. "Hei." Suaranya keluar mantap. "Ini bukan salahmu."

Heitor mengangguk membenarkan. "Tidak pernah," tambahnya. "Ini salah orang itu. Yang nggak bisa terima kata 'tidak'."

Kalimat itu membuatku bernapas sedikit lebih lega. Meski hanya sedikit. Mereka benar. Tapi bebannya… tetap milikku. Selalu begitu.

Aku menatap keduanya. Dan sesaat… aku ragu. Tapi tetap kukatakan.

"Mungkin…" aku berhenti. Memilih kata-kata. "Mungkin kalian bisa…" aku menghela napas kecil, "coba menjalin sesuatu dengannya."

Keduanya terdiam.

"Hubungan ayah dan anak," tuntasku. "Tentu… kalau kalian mau."

Henrique melipat tangan. Termenung. "Nanti kupikirkan." Langsung. Tanpa berbelit. Tanpa berjanji.

Heitor sedikit memiringkan kepala. "Aku belum tahu," akunya. "Tapi…" ia mengangkat bahu sedikit, "kayaknya boleh juga."

Dadaku terasa sesak. Tapi kali ini… dengan cara yang berbeda. Lebih ringan.

Aku mengangguk. "Tanpa paksaan," ujarku. "Kalian yang memutuskan."

Karena pada akhirnya… pilihan itu bukan milikku. Tidak pernah.

Aku menarik napas dalam. "Selesaikan berkemasnya. Aku mau ambil barang-barangku."

Aku keluar dari kamar sebelum keharuan itu kembali datang. Aku menuju kamarku. Kuambil ranselku. Sedikit saja juga. Secukupnya. Lalu kembali.

Mereka sudah siap. Dan tanpa berkata apa-apa lagi… kami keluar bersama.

Dante ada di ruang tamu. Menunggu. Diam. Seperti biasa. Ia menatap kami. Sekilas. Menilai. Tapi tak berkata apa-apa. Ia hanya memberi isyarat kecil dengan kepala. Lalu berjalan menuju lift. Kami mengikuti.

Keheningan kembali. Tapi kini… berbeda. Tak setegang tadi. Lebih… tak menentu.

Kami masuk ke lift. Pintu tertutup. Suara pergerakan mulai terdengar. Dan tak seorang pun bicara. Hingga…

"Kau sudah menikah?"

Heitor bertanya. Memecah suasana.

Aku nyaris tersenyum. Tentu saja dia yang bertanya.

Dante menatapnya. Sesaat. "Belum," jawabnya. Sederhana. Langsung.

Heitor mengangguk. Seolah menyimpan informasi itu. Henrique mengeluarkan gumaman "hm" pelan. Lalu keheningan kembali. Tapi kali ini… tak begitu mengganggu.

Pintu terbuka. Kami turun. Dan berjalan menuju mobil. Besar. Gelap. Berwibawa. Sama seperti segala hal di dunia itu.

Kami masuk. Dan kemudian… kami melaju. Langsung menuju rumahnya.

Dan saat mobil menjauh… aku merasakannya. Bahwa mulai dari titik ini… tak ada lagi jalan kembali. Dan mungkin… untuk pertama kalinya… kami benar-benar mulai memasuki dunianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!