Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Empat puluh lima juta yang aku tabung selama ini udah aku kasih semua ke Ibu,” lanjut Deva pelan sambil menahan emosinya.

Suasana di teras belakang langsung terasa sunyi beberapa detik. Di balik pintu dapur, tubuh Kartika mendadak menegang. Matanya membelalak lebar. Tangannya yang sejak tadi memegang ujung pintu mulai bergetar pelan.

Empat puluh lima juta?

Jantung Kartika berdetak keras sampai telinganya berdengung sendiri. Ia bahkan sempat berpikir dirinya salah dengar. Namun, pada nyatanya, tidak.

Uang bantuan seadanya untuk meringankan biaya pernikahan Gavin. Deva benar-benar mengatakan empat puluh lima juta. Bukan lima belas juta seperti yang sudah mereka sepakati bersama. Melainkan memberikan seluruh tabungan mereka.

Napas Kartika langsung memburu. Dadanya terasa sesak dipenuhi amarah dan kecewa yang datang bersamaan. Dan yang paling membuatnya terluka, Deva melakukannya diam-diam, tanpa bicara padanya dan meminta pendapatnya lagi.

Deva tidak memikirkan bagaimana perasaan Kartika saat tahu nantinya. Padahal itu bukan jumlah uang yang kecil.

Tabungan itu mereka kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Dari sisa gaji dan dari sisa uang belanja yang Kartika hemat mati-matian.

Dulu, Kartika berkali-kali menahan diri untuk tidak membeli sesuatu yang sebenarnya mereka inginkan.

Kartika masih ingat bagaimana dirinya sering memutar otak setiap akhir bulan supaya tetap ada uang yang bisa ditabung. Kadang ia memilih memasak menu sederhana yang penting bergizi. Bahkan rela tidak membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Semua demi masa depan keluarga mereka.

Untuk sekolah anak-anak nanti sampai kuliah. Punya dana ketika keadaan darurat. Untuk berjaga-jaga kalau suatu hari ada musibah.

Namun sekarang semuanya habis begitu saja.

Dan lebih menyakitkannya lagi uang itu habis bukan untuk kebutuhan anak-anak mereka. Bukan juga untuk sesuatu yang benar-benar mendesak. Lagi-lagi demi keluarga Deva.

Kartika sampai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar emosinya tidak meledak saat itu juga.

Sementara di luar sana, Bu Hania malah masih bicara dengan nada santai seolah tidak ada yang salah. 

“Ya, terus gimana dong?” keluh wanita itu. “Mada Ibu terus yang ditagih. Kan, malu?!”

Kartika langsung menutup mulutnya sendiri memakai telapak tangan. Kalau tidak ia takut benar-benar keluar lalu membentak mertuanya saat itu juga. 

Air mata Kartika mulai menggenang. Bukan karena sedih semata, tetapi karena terlalu kecewa. Ia benar-benar mulai lelah. 

Kartika merasa lelah karena setiap kali keadaan rumah tangga mereka mulai membaik, keluarga Deva selalu datang membawa masalah baru.

Dan yang paling menyakitkan, Deva masih saja memilih mengorbankan keluarganya sendiri demi menyenangkan orang lain.

“Aku juga enggak tahu harus gimana lagi, Bu,” ucap Deva lirih sambil menundukkan kepala.

Suara pria itu terdengar berat dan lelah. Bukan lelah biasa karena pekerjaan kantor atau macet di jalan, tetapi lelah yang menumpuk terlalu lama di dalam kepala dan dadanya.

Sejak muda Deva memang terbiasa menjadi andalan keluarga. Sebagai anak sulung, dia selalu diajarkan untuk mengalah. Harus kuat dan harus bisa membantu orang tua dan adik-adiknya apa pun keadaannya.

Selama bertahun-tahun, Deva menjalani semua itu tanpa banyak mengeluh. Kalau ibunya butuh uang, dia beri. Kalau adiknya ingin membeli sesuatu, dia belikan.

Kalau ada masalah keluarga, semua akan datang mencari dirinya. Awalnya Deva merasa bangga bisa menjadi penolong untuk keluarganya sendiri. Namun, semakin lama semuanya mulai terasa melelahkan. Karena setiap kali satu masalah selesai, masalah baru langsung datang lagi.

Setiap kali gajian tiba, uangnya sudah terbagi bahkan sebelum sempat dinikmati keluarganya sendiri. Kadang Deva sendiri bingung, untuk apa dia bekerja mati-matian sampai lembur hampir setiap hari kalau akhirnya selalu merasa kekurangan.

Apalagi sekarang dia mulai sadar sesuatu. Selama ini keluarganya selalu yakin dirinya pasti bisa menyelesaikan semuanya. Pasti punya uang dan mampu membantu. Seolah Deva bukan manusia yang bisa capek atau kehabisan tenaga.

Padahal dia juga punya keluarga sendiri. Punya istri dan dua anak yang harus dipikirkan masa depannya.

Namun anehnya, semua itu seperti tidak pernah dianggap penting oleh mereka. Yang penting bagi keluarganya hanyalah satu, Deva harus bisa memberi uang.

Bu Hania yang duduk di kursi plastik di teras belakang terlihat ikut berpikir keras. Wanita itu beberapa kali mengetuk-ngetukkan jari ke sandaran kursi sambil mengerutkan kening.

Lalu, tiba-tiba wajahnya berubah cerah seperti baru menemukan jalan keluar.

“Eh, Deva!” serunya cepat sambil menatap Deva. “Kalau enggak salah Kartika punya kalung emas, kan?”

Deva langsung mengangkat kepala. “Kalung?”

“Iya.” Bu Hania mengangguk semangat. “Yang sering dipakai itu.”

Nada suaranya terdengar ringan sekali. Seolah yang sedang dibicarakan hanyalah barang biasa yang bisa dipinjam kapan saja.

“Pinjam dulu aja,” lanjutnya santai. “Nanti kalau kamu udah punya uang, tinggal beliin lagi yang baru.”

Di balik pintu dapur, tubuh Kartika langsung menegang. Tangannya refleks naik menyentuh kalung emas di lehernya. Ujung jarinya menggenggam liontin kecil itu erat-erat.

Kalung itu memang sederhana. Bentuknya juga tidak besar dan tidak terlalu mencolok. Namun, benda itu sangat berarti baginya. Karena itu bukan sekadar perhiasan. Kalung itu adalah kenangan. Hadiah dari Deva setelah dirinya melahirkan Kaivan dengan selamat.

Kartika masih ingat jelas masa-masa itu. Proses persalinannya sangat sulit. Tubuhnya kehilangan banyak darah sampai dokter harus melakukan penanganan cepat.

Deva yang biasanya tenang sampai terlihat pucat karena panik. Pria itu mondar-mandir di depan ruang bersalin dengan tangan gemetar dan wajah penuh ketakutan.

Bahkan setelah Kaivan lahir, Kartika masih harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena kondisinya lemah.

Selama itu pula Deva hampir tidak pernah pulang. Dia tidur di kursi rumah sakit menemani dan menjaga Kartika. Menggendong Kaivan dengan wajah panik karena takut salah posisi.

Lalu, saat Kartika akhirnya diperbolehkan pulang, Deva menciumi wajahnya dan memeluknya erat.

“Terima kasih udah bertahan buat aku dan anak-anak,” ucapnya waktu itu dengan suara serak menahan haru.

“Aku enggak tahu harus kasih apa,” ucap Deva pelan sambil membuka kotak itu. “Tapi aku pengin kasih sesuatu buat perempuan hebat yang udah taruhan nyawa demi anak kita.”

Kartika langsung menangis waktu itu. Bukan karena ukuran dan bentuk kalung emasnya, tetapi karena cara Deva memandangnya penuh rasa sayang dan penghargaan. Kalung sederhana itu menjadi bukti bahwa perjuangannya dihargai sebagai seorang istri dan ibu.

Dan sekarang Bu Hania dengan santainya ingin meminjam kalung itu demi menutup utang pesta pernikahan Gavin. Jantung Kartika langsung terasa panas. Seolah kenangan berharga dalam hidupnya dianggap tidak ada artinya.

1
Night Watcher
apa gak nyoba kembali ke butik utk nanya tante agung?
Night Watcher
dari taun kemaren kek kasih pilihan...😂😂🤭
Night Watcher
pening karna kebodohan dgn dalih bakti pada orang tua..🤦
Night Watcher
awas manggilnya jangan disingkat..: "bu rit" 🤭🤭🤭
Night Watcher
ante andun..🤭🤭
Night Watcher
apa kira2 deva anak tiri ? atau malah anak pungut...?
Lina Ina
akal panjang kaivan ni 🤣🤣🤣🤣
Lina Ina
harap2 ibu nya cepat beeubah jadi lebih baik
Lina Ina
berubah lah dik demi delisa
Lina Ina
akal2 keluarga parasit nak duit aje
Lina Ina
ugut lah sama ibu kamu kalau adik kamu tak mahu kemas rumah kamu jangan bayar rumah gavin 🤣🤣
Lina Ina
keluarga suami kamu baru turun dari neraka tika
Lina Ina
suami nya sedar seminit saja tp depan keluarga sudah berubah kembali asal 🤣
мєσωzα
ceritanya keren sih ini..
intinya, tiap keluarga pasti ada masalah. tinggal bagaimana kita mau berusaha untuk menyelesaikan masalah itu & berusaha mempertahankan rumah tangga.
kalau ada bintang 10, pasti kukasih bintang 10 👍🏻
мєσωzα
gavin ngerasain gimana jadi deva dulu. bahkan mungkin lebih parah karna pendapatan dia lebih kecil daei deva & rosita pun bukan tipe yg mau bantu suami seperti kartika
мєσωzα
masalah besarnya itu berarti ada di ibu ya deva
sepertinya kalau iriana dipisahkan sama ibunya, dia masih bisa diselamatkan
мєσωzα
enak banget dulu ya hidupnya di iriana. dapet duit dari raka, masih minta deva juga. uang sebanyak itu dia habisin buat apaan? foya-foya beli barang bermerek?
bisa jadi rumahnya kebakaran itu karna banyak barang" yg dia dapet dari bohongin deva & ngefitnah raka
мєσωzα
hanya berharap deva gak berubah & tetep sayang & memprioritaskan kartika & anak"
мєσωzα
solusinya gampang dave. putus aliran dana ke mereka, trus kamu pergi ke kota sebelah. biar mereka tau gimana susahnya jadi kamu
мєσωzα
waduh, seganteng apa kamu ngga, sampai hari pertama udah dicium cewek?😅
tapi memang nyebelin sih kalau ada orang yg tiba" nyium gitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!