Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Katrin masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum licik memperhatikan Karina, dirinya tak menyangka Adrian malah membiarkan Karina dekat dengan dirinya
“Baiklah Karina, apa kamu sudah siap menjadi terkenal?” ungkap katrin sambil berjalan mendekati Karina
“Aku rasa ini bukan saat nya?" jawab Karina
“Kenapa?, "Bukan kah kamu ingin sekali menjadi model, Karina...?" Katrin berjalan memutari Karina dan Karina terlihat sedikit merasa risih dengan keberadaan Katrin didekatnya, "Atau kau sengaja ingin mendekati Adrian?" katrin berhenti dihadapan Karina, sambil menatap nya tajam
"Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya seorang pelayan seperti yang kau tau, dan setelah ini aku juga akan kembali ke asal ku."
"Itu memang seharusnya, tapi bagaimana pun juga Adrian telah memberikan perintah pada ku, apa kau akan melawan perintah tuan mu?"
Karina terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Adrian memang telah meminta Katrin mengajarinya etika jamuan makan malam. Jika ia menolak, bukankah itu berarti ia melawan perintah Adrian?
Namun, jika ia mengikuti Katrin, entah mengapa hatinya justru merasa tidak tenang.
“Aku tidak pernah mengatakan ingin melawan perintah Pak Adrian,” jawab Karina akhirnya.
“Bagus.”
Katrin tersenyum.
“Kalau begitu, mulai sekarang dengarkan semua yang kukatakan.”
Karina menatapnya ragu, tapi setiap ditik berjalan ia menatap Katrin dengan penuh wapada, Katrin mulai mengajarkan bagaiman seharusnya berjalan, bagaiman seharus nya berbicara kepada para tamu, bagaimana seharusnya gerak tubuh saat berhadapan dengan para tamu, Karina memperhatikan nya setiap gerakan dan ucapaan yang dilakukan Katrin, sedikit nya karina bisa mengerti bagaimana dirinya harus bisa membawa diri pada saat jamuan makan,
“Kamu harus belajar bagaimana bersikap di depan orang-orang penting. Cara berbicara, cara berjalan, cara memegang gelas, bahkan cara memilih siapa yang pantas kamu ajak bicara.” Kata Katrin dengan lincahnya ia mulai memperagakan bagaimana ia mengambil makanan dan minuman pada meja hidangan hingga akhirnya Katrin merencanakan niat buruk nya, sementara Adrian dari kejauhan melihat Katrin sedang mencoba memberikan banyak pelajaran bagi Karina, ia merasa senang dengan itu, seketika Ia melihat Karina berjalan menuju meja hidangan yang dipenuhi dengan makanan dan minuman, Katrin meminta Karina mencoba mengulangi seperti yang sudah ia ajarkan,
Sementara Katrin berdiri di belakangnya dengan senyum yang sulit diartikan. Ketika seorang pelayan membawa baki berisi minuman champagne, katrin menyuruh Karina untuk memberikanya pada kolega pak Surya yang kebetulan sedang berdiri berdampingan
"Karina," bisiknya. "Lihat tamu di pojok itu? Yang bersama Pak Surya, kau bisa mencoba memyapanya seperti yang baru aku ajarkan tadi."
Karina mengerut tanpa berfikir panjang langsung menuju tamu yang dibilang, Katrin melihatnya dari kejauhan, sambil tersenyum licik
"lihat saja Karina, kau akan mempermalukan diri mu sendiri."
Di sudut ruangan, tamu itu sedang berbicara serius dengan Pak Surya, Karina tiba - tiba muncul disana, pak Surya melihat nya
"Karina ada apa?"
Karina tidak menjawab pertanyaan dari pak Surya, namun langsung menawarkan minuman untuk sesorang disamping pak Surya
"Maaf, apa anda suka Champagne?"
Tamu itu menoleh "Apa?"
"Karina apa yang kamu lakukan?" kata pak surya lagi penasaran yang dilakukan
"Kau ini siapa?, apa kau tidak tau kita sedang bicara serius, tapi kai malah datang mengganggu obrolan kita, tamu itu bicara keras sampai beberapa tamu lainya melihat ke arah Karina, sementara katrin tersenyum dalam hatinya menyaksikan hal itu, ia sudah hapal dengam tamu atau kolega yang hadir, katrin tau kalu tamu yang sedang bersama pak Surya mudah sekali tersinggung dan kerap bicara kasar, habislah Karina dimarahi terus oleh pria itu meski pak Surya dan dirinya berusaha meminta maaf, tak lama Katrin datang bersamaan dengan Adrian
"Karina apa yang kamu lakukan?"katrin berpura pura simpati, sementara Adrian membaca situasi
"Apa ini." kata Adrian ketika melihat nampan berisi champagne ditangan Karina
"Aku cuma membawa minuman ini." karina masih tidak paham dengan minuman yang di bawanya bukan minuman biasa
"Karina, kenapa kamu membawa champagne?" "maaf Adrian sepertinya Karina tidak paham kalau itu alkohol." Katrin berusaha bersilat lidah
"Bukan kah kau memang menyuruh ku membawa ini untuk mereka?" sahut Karina tegas, namun Katrin terus menyangkal, Karina semakin kesal
Ia tahu Katrin sedang memutarbalikkan keadaan.
Tanpa banyak bicara, Karina mengulurkan nampan tersebut kepada Katrin.
“Kalau begitu, ambil ini.”
Katrin menerima nampan itu dengan wajah kesal.
Namun entah disengaja atau tidak, tangannya tiba-tiba melepaskan pegangan nampan itu dan terjadilah
Brak....!
Nampan itu jatuh, gelas berisi champagne pecah dan airnya mengenai gaun Katrin
“Aaaakh!”
Jeritan Katrin membuat semua orang langsung menoleh.
Katrin menatap gaunnya yang basah dengan wajah panik.
“Karina!”
“Kamu sengaja, ya?”
“Apa?”
Katrin menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu tidak menyukaiku, tapi aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini.”
Karina tercekat.
“Aku tidak menjatuhkannya.”
Namun keadaan sudah terlanjur berubah.
Orang-orang mulai berbisik.
Adrian menatap Karina dengan wajah dingin.
“Apa yang kamu lakukan, Karina?”
Karina menatap Adrian.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Ku lihat sendiri kan Adrian, bagaimana ia sengaja memberikan nya pada ku."
Katrin menutup mulutnya, seolah menahan tangis, membuat Katrin terlihat semakin seperti korban.
Adrian menghela napas panjang.
“Karina, kamu sudah membuat masalah di acara ini.”
“Tapi aku tidak sengaja!”
“Cukup.”
Suara Adrian terdengar tegas.
“Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.”
Karina menatapnya tak percaya.
Kemudian Adrian berkata dengan nada yang lebih tinggi.
“Cepat minta maaf pada Katrin.”
Suasana mendadak hening.
Karina memandang Adrian beberapa detik.
Pria yang selama ini ia hormati.
Pria yang selalu ia pikir akan mendengarkan penjelasannya.
Namun sekarang, Adrian bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
“Apa?”
“Kamu dengar aku. Minta maaf pada Katrin.”
Karina mengepalkan tangannya.
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menolak menangis di hadapan semua orang.
“Aku tidak mau.”
Adrian terdiam.
“Apa?”
“Aku tidak mau meminta maaf.”
Tatapan Karina berubah.
Untuk pertama kalinya, ia berani menatap Adrian tanpa rasa takut.
“Kalau aku memang salah, aku akan meminta maaf. Tapi kali ini aku tidak melakukan apa pun.”
“Karina!”
“Aku tidak akan meminta maaf atas sesuatu yang tidak aku lakukan.”
Setelah mengatakan itu, Karina berbalik, Ia tidak peduli dengan tatapan para tamu, tidak peduli dengan bisikan yang terdengar di belakangnya.
Dan tidak peduli apakah Adrian akan memanggilnya kembali atau tidak, Karina berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah tegap, Adrian hanya bisa memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Sementara Katrin menundukkan wajah sambil menyembunyikan senyum tipis di balik ekspresi sedihnya. Ia mengira dirinya telah menang.
Namun Katrin tidak menyadari satu hal. Dengan meninggalkan mereka dipesta itu Karina telah melakukan sesuatu yang luar biasa dan Adrian yang akan menyesali perkataanya pada Karina, karna bukan suatu kebetulan melainkan sudah menjadi jalan bagi karina untuk menuju kesuksessan nya.