Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Pilihan di Tengah Air

..."hari ini kami kehilangan gudang, tapi kami tidak kehilangan arah, karena arah seorang penjaga bukan ke perut, tapi ke hati"...

Malam di perkemahan bukit Desa Qinghe datang tanpa bintang, hanya ada awan hitam yang menggantung rendah dan menekan sampai rasanya langit akan jatuh ke atas kepala, sementara angin bertiup dari arah Sungai Min membawa bau lumpur yang semakin tajam dan suara air yang tidak pernah berhenti menggerus tanggul darurat yang baru dibangun siang tadi dengan susah payah oleh para murid Emei dan warga yang masih punya tenaga.

Jing yue duduk di depan tenda utama sambil membalut ulang perban di tangannya yang sudah basah dan kotor, karena seharian dia mengangkat karung pasir dan menolong orang tua menyeberang, dan di pangkuannya anak kecil yang semalam dia temukan masih tertidur dengan tasbih Shaolin melingkar di lehernya seperti jimat kecil yang tidak mau dilepas.

Bai Ling datang membawa semangkuk sup hangat dan duduk di sampingnya tanpa bicara, karena mereka berdua sudah terlalu lelah untuk bertukar kata, dan yang ada hanya suara hujan yang mulai turun lagi, pelan di awal lalu semakin deras sampai menutup semua suara lain.

Sekitar tengah malam, ketika kebanyakan orang sudah tertidur dengan posisi duduk karena tidak ada tempat berbaring yang kering, terdengar suara retakan keras dari arah timur, disusul teriakan "Tanggul jebol!" yang membuat seluruh perkemahan langsung bangun dalam kepanikan.

Jing yue langsung berdiri, anak di pangkuannya terbangun dan menangis, lalu dia menyerahkannya kepada Bai Ling dan berkata dengan cepat agar semua anak dan orang sakit segera dibawa ke bagian bukit yang lebih tinggi, sementara dia sendiri berlari bersama Tetua Pertama dan dua puluh murid menuju sumber suara.

Ketika mereka sampai, air sudah menerobos celah selebar tiga tombak dan menghantam pemukiman sementara dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh tubuh manusia, karung pasir yang ditumpuk siang tadi hanyut seperti daun, tenda-tenda terbalik, dan beberapa orang terlihat berpegangan pada tiang bambu sambil berteriak minta tolong.

Di tengah kekacauan itu Jing yue melihat dua hal yang membuat dadanya sesak, di sisi kiri ada gudang besar tempat mereka menyimpan seluruh persediaan beras dan obat untuk sepuluh hari ke depan, dan air sudah mulai masuk ke dalamnya, sementara di sisi kanan ada sekelompok anak-anak yang terjebak di atas rakit bambu yang terlepas dari ikatan dan kini hanyut terbawa arus menuju lubang tanggul yang semakin lebar.

Tetua Pertama berteriak bahwa kalau gudang itu tenggelam maka besok tidak akan ada makanan untuk tiga ratus orang, tetapi kalau anak-anak itu tidak ditolong sekarang maka mereka akan mati dalam waktu setengah teh, dan dia bertanya kepada Jing yue apa yang harus dilakukan karena waktu tidak cukup untuk menyelamatkan keduanya.

Jing yue berdiri di antara dua pilihan itu dengan air sudah setinggi dada dan hujan menghantam wajahnya, dan di dalam kepalanya berputar semua ajaran dari empat gunung, tulang dari mount gua yang menyuruhnya berdiri, air dari Wudang yang menyuruhnya mengalir, es dari Kunlun yang menyuruhnya jernih, dan tanah dari Shaolin yang menyuruhnya menampung.

Dia tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya mengambil tali dari pinggangnya, mengikatnya erat di pinggangnya sendiri dan di pinggang dua murid terkuat, lalu menunjuk ke arah rakit dan berkata bahwa mereka akan menyelamatkan anak-anak terlebih dahulu, karena beras bisa dicari lagi tapi nyawa yang hilang tidak akan pernah kembali.

Keputusan itu membuat beberapa murid berteriak protes, karena mereka tahu tanpa beras orang-orang di bukit akan kelaparan, tetapi Jing yue menatap mereka dengan mata yang tidak berkedip dan berkata bahwa kalau mereka hari ini memilih beras daripada anak maka besok mereka tidak akan layak disebut manusia, apalagi murid Emei.

Dengan tali di tangan, Jing yue terjun ke arus yang paling deras, tubuhnya langsung ditarik ke samping oleh kekuatan air, tetapi dia tetap berenang dengan satu tangan sambil tangan satunya memegang tali, dan di belakangnya dua murid mengikuti sambil menahan napas dan berdoa agar tidak ada kayu besar yang menghantam mereka.

Rakit bambu itu berputar-putar di tengah pusaran, dan di atasnya ada tujuh anak yang saling berpelukan dan berteriak, yang paling kecil bahkan sudah setengah pingsan karena kedinginan, dan ketika Jing yue berhasil meraih ujung rakit dia langsung mengikat tali ke tiang utama dan berteriak agar murid di darat menarik sekuat tenaga.

Tarik menarik itu berlangsung lama, tali hampir putus, tangan Jing yue lecet dan berdarah, dan beberapa kali air menutup mulutnya sampai dia hampir tidak bisa bernapas, tetapi akhirnya rakit itu berhasil ditarik ke tepian dan anak-anak itu langsung dipeluk oleh para Tetua yang sudah menunggu dengan selimut.

Begitu anak terakhir selamat, Jing yue menoleh ke arah gudang dan melihat bahwa atapnya sudah ambruk dan seluruh karung beras hanyut terbawa arus, menghilang ke dalam kegelapan Sungai Min tanpa bisa dikejar lagi, dan saat itu juga dia merasa lututnya lemas bukan karena lelah tetapi karena tahu konsekuensi dari pilihannya.

Dia duduk di lumpur, menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak turun gunung dia menangis, bukan karena takut, bukan karena sakit, tapi karena dia tahu bahwa mulai besok mereka harus mencari makan dari nol lagi di tengah banjir.

Bai Ling datang memeluknya dari belakang dan berbisik bahwa dia sudah melakukan hal yang benar, bahwa tujuh nyawa lebih berharga dari tujuh puluh karung, dan bahwa langit pasti akan memberi jalan, tetapi Jing yue hanya menggeleng karena dia tahu langit tidak memberi beras, manusia yang harus mencari.

Malam itu tidak ada yang tidur, semua orang sibuk memindahkan pengungsi ke tempat yang lebih tinggi, menyalakan api besar agar tidak ada yang kedinginan, dan menghitung ulang sisa makanan yang ternyata hanya cukup untuk tiga hari jika dibagi sangat hemat.

Ketika fajar datang, langit masih kelabu, tetapi air sudah sedikit surut, dan Jing yue berdiri di tepi bukit menatap ke arah desa yang kini hanya menyisakan atap-atap yang miring dan pohon yang patah, lalu dia memanggil semua Tetua dan berkata bahwa mereka tidak boleh menunggu bantuan datang.

Dia membagi tugas, sebagian murid akan pergi ke desa-desa di hulu yang belum terlalu parah untuk meminta sumbangan, sebagian akan memancing dan mencari umbi di hutan, sebagian akan tetap di sini menjaga pengungsi, dan dia sendiri akan turun ke kota kabupaten untuk menghadap pejabat dan meminta bantuan resmi dari istana.

Tetua Kedua berkata bahwa pergi ke kota berbahaya karena jalan sudah putus dan banyak perampok, tetapi Jing yue hanya menjawab bahwa kalau dia tidak pergi maka anak-anak yang tadi dia selamatkan akan mati kelaparan dalam tiga hari, dan itu adalah hutang yang harus dia bayar.

Sebelum berangkat, anak kecil yang semalam tidur di pangkuannya menarik ujung jubahnya dan bertanya apakah kakak akan kembali, dan Jing yue berjongkok, mengusap rambutnya, dan berjanji bahwa dia akan kembali dengan membawa beras, bahkan kalau harus berjalan sampai ke ibu kota.

Perjalanan ke kota memakan waktu dua hari karena jembatan putus dan mereka harus memutar lewat hutan, dan sepanjang jalan Jing yue hanya makan umbi dan air sungai, tidurnya di bawah pohon dengan sapu bambu sebagai bantal, dan setiap kali dia hampir menyerah dia mengingat wajah tujuh anak di rakit itu.

Ketika akhirnya dia sampai di kantor kabupaten, pakaiannya kotor, wajahnya tirus, dan penjaga hampir tidak membiarkannya masuk, tetapi setelah melihat lencana mount hua dan surat perintah dari istana yang sudah basah dan sobek, pejabat setempat akhirnya mau menemuinya.

Jing yue berlutut dan tidak meminta untuk dirinya, dia meminta beras, meminta perahu, meminta dokter, dan dia berkata bahwa Emei tidak butuh pujian, Emei hanya butuh agar tiga ratus orang di bukit itu tidak mati.

Pejabat itu awalnya ragu, karena kas negara juga kosong, tetapi setelah melihat mata Jing yue yang tidak berkedip dan mendengar cerita tentang anak-anak di rakit, akhirnya dia menandatangani surat untuk mengeluarkan persediaan darurat dari lumbung kota.

Dengan surat itu di tangan dan dua gerobak beras di belakang, Jing yue kembali ke perkemahan dengan kaki yang penuh luka dan tubuh yang hampir roboh, dan ketika dia tiba semua orang menyambutnya bukan dengan sorak tetapi dengan diam dan air mata.

Malam itu dapur kembali mengepul, anak-anak makan sampai kenyang, dan Jing yue duduk di sudut tenda menulis di bukunya dengan tangan yang gemetar, bahwa hari ini dia belajar bahwa menjadi Penjaga Gerbang bukan berarti harus kuat di semua hal, tetapi berarti harus berani memilih hal yang paling sakit.

Dia menulis bahwa dia kehilangan beras tetapi dia tidak kehilangan dirinya, dan bahwa mungkin itulah arti sebenarnya dari tanah, dipijak, direndahkan, kehilangan, tapi tetap menumbuhkan sesuatu.

Sebelum tidur, dia memandangi anak yang kini sudah bisa tersenyum dan sedang bermain dengan murid lain, lalu dia menutup bukunya dan berbisik bahwa besok tanggul harus dibangun lagi, lebih kuat, dan kali ini tidak hanya dari karung pasir tapi juga dari hati orang-orang yang tidak mau menyerah.

Di luar tenda hujan masih turun, tetapi kali ini tidak terdengar menakutkan lagi, karena di dalam hati Jing yue ada api kecil yang tahu bahwa selama masih ada orang yang mau memilih nyawa daripada harta, maka Emei tidak akan pernah benar-benar tenggelam.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!