Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari di Mana Aku Berhenti Sebentar

Ada sebuah prinsip yang aku pegang cukup lama soal event-event ramai: semakin besar keramaiannya, semakin besar juga alasan untuk tidak datang.

Prinsip ini terbukti dengan sangat konsisten selama bertahun-tahun. Konser sekolah, bazar tahunan, reuni keluarga besar yang entah kenapa selalu diadakan di tempat dengan AC yang tidak berfungsi maksimal — semua masuk kategori yang sama. Bukan karena aku benci orang banyak. Aku hanya tidak pernah menemukan alasan yang cukup kuat untuk menukar waktu tenang di kamar dengan energi sosial yang dibutuhkan untuk bertahan di tengah ratusan orang asing.

Jadi ketika Cahaya bilang minggu lalu bahwa kampus akan mengadakan "Nusantara Jaya Fest" — semacam festival tahunan gabungan UKM, dengan salah satu booth besarnya adalah area cosplay dan pameran hobi — responsku yang pertama adalah menggeser posisi duduk di kasur dan berkata, "Aku ada tugas."

"Tugasnya minggu depan," jawab Cahaya waktu itu, tidak menoleh dari ponselnya. "Aku udah cek jadwal kamu di grup kelas."

"Kamu ngecek jadwal aku?"

"Aku ngecek jadwal semua orang yang aku ajak. Standar prosedur."

Itu jelas bohong, karena aku tahu persis Sasa tidak pernah dicek jadwalnya sedetail itu dan tetap diseret ke mana pun Cahaya pergi tanpa alasan tambahan. Tapi aku tidak membantahnya, karena membantah Cahaya soal hal-hal seperti ini sudah terbukti secara historis tidak pernah berhasil.

Jadi di sinilah aku, Sabtu pagi, berdiri di depan gerbang utama kampus yang biasanya sepi di akhir pekan tapi sekarang dipenuhi spanduk warna-warni, panggung kecil yang sedang dirakit di tengah lapangan, dan aroma makanan dari puluhan tenant yang mulai berdatangan sejak subuh.

Aku menunggu di titik yang sama seperti biasanya — bangku di bawah pohon dekat gerbang, yang sekarang justru jadi tempat paling ramai karena letaknya persis di jalur utama menuju panggung.

"REN!"

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Tapi aku tetap menoleh, karena itu bagian dari protokol yang sudah berjalan sejak dulu.

Dan begitu aku menoleh, aku langsung diam.

Aku harus jujur soal apa yang terjadi di detik-detik berikutnya, karena kalau tidak jujur, penjelasan ini tidak akan masuk akal.

Cahaya berjalan ke arahku dengan kostum lengkap.

Bukan kostum Kaito Amagi yang aku temukan di bawah ranjangnya beberapa minggu lalu — itu, katanya, "terlalu sayang buat dipakai casual di event kampus, nanti kalau rusak gimana." Ini kostum lain. Sesuatu yang lebih baru, dengan warna dominan putih dan lavender, detail renda di bagian lengan, dan aksesori rambut berbentuk bulan sabit kecil yang menempel rapi di sisi kepalanya.

Aku tidak langsung mengenali karakternya. Butuh waktu sekitar dua detik — proses yang di kepalaku terasa seperti scanning database — sebelum akhirnya nama itu muncul.

Yuzuki. Karakter pendukung dari Moonlit Requiem, spin-off dari seri yang sama dengan Kaito Amagi. Bukan karakter utama. Bukan karakter yang sangat populer juga. Tapi karakter yang, kalau aku ingat dengan benar, punya salah satu arc paling emosional di seluruh seri — seseorang yang selalu berdiri di belakang layar, mendukung tanpa pernah minta pengakuan, sampai akhirnya di satu momen ia memutuskan untuk maju ke depan.

"Kenapa diem?" tanya Cahaya, berhenti tepat di depanku, tangan di pinggang dengan pose yang — aku baru sadar — persis dengan pose ikonik Yuzuki di poster season dua.

"Itu Yuzuki," kataku akhirnya.

Cahaya tersenyum lebar, senyum yang jarang muncul kecuali ia benar-benar puas dengan sesuatu. "Kamu ngenalin!"

"Butuh dua detik."

"Dua detik itu lama buat kamu. Biasanya kamu langsung tau dari jarak sepuluh meter."

"Jaraknya beda. Kamu tadi lari."

"Enggak lari, jalan cepet."

Aku tidak membantah itu, meski jelas ada kecepatan tambahan yang tidak konsisten dengan definisi "jalan" yang aku pahami.

Yang lebih menarik perhatianku, sebenarnya, bukan soal kecepatan jalannya. Tapi detail-detail kecil di kostum itu — cara lipatan kainnya jatuh persis seperti di ilustrasi resmi, cara aksesori bulan sabitnya menempel dengan sudut yang tepat, bukan asal tempel seperti kebanyakan cosplay amatir yang pernah aku lihat di internet.

"Kamu bikin ini juga?" tanyaku.

"Enggak. Sewa. Yang ini enggak sempet aku bikin sendiri, waktu enggak cukup." Cahaya memutar badan sedikit, memperlihatkan bagian belakang kostumnya yang punya detail pita panjang. "Tapi aksesorinya aku modif sendiri. Yang aslinya kurang detail, jadi aku tambahin beberapa bagian."

"Bagian mana?"

"Ini." Ia menunjuk ke bulan sabit di rambutnya. "Yang beli itu polos doang, enggak ada ukiran. Aku tambahin ukiran kecil pake alat ukir kayu punya papa."

Aku memperhatikan lebih dekat. Benar — ada garis-garis halus di permukaan logam itu, motif yang, kalau aku ingat dengan benar, muncul di desain resmi Yuzuki tapi seringkali dihilangkan di merchandise komersial karena terlalu detail untuk produksi massal.

"Kamu ngecek desain resminya sampai sedetail itu?"

"Aku screenshot sepuluh gambar berbeda buat referensi. Terus aku bandingin satu-satu, cari yang paling konsisten."

Aku menatapnya. Bukan menatap kostumnya lagi, tapi menatap Cahaya secara keseluruhan — cara ia berdiri dengan percaya diri di tengah keramaian yang mulai memadati lapangan, cara matanya berbinar waktu bicara soal detail yang baru saja ia jelaskan, cara senyumnya yang tidak dibuat-buat untuk audiens tertentu tapi murni karena ia senang dengan apa yang sedang ia kerjakan.

Ada sesuatu yang aneh terjadi di dadaku. Bukan sesuatu yang sakit atau tidak nyaman. Lebih seperti — aku tidak tahu cara menjelaskannya dengan tepat — seperti melihat sesuatu yang sudah lama ada tapi baru sekarang benar-benar terlihat jelas.

"Ren?"

"Hm?"

"Kamu ngeliatin aku dari tadi."

"Aku memperhatikan detail kostumnya."

"Udah sepuluh detik, Ren. Itu bukan lagi 'memperhatikan detail'."

Aku berdehem, mengalihkan pandangan ke arah lapangan yang mulai ramai. "Sasa mana?"

Cahaya menatapku sedikit lebih lama sebelum akhirnya menjawab, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi memutuskan untuk tidak. "Udah di sana. Di booth cosplay kompetisi. Dia yang daftarin aku, sebenernya."

"Kompetisi?"

"Iya. Ada lomba cosplay kecil-kecilan. Enggak resmi banget, cuma buat seru-seruan sama hadiah voucher makan."

"Kamu ikut?"

"Udah didaftarin. Enggak enak nolak, Sasa udah semangat banget."

Aku mengangguk, dan kami mulai berjalan ke arah booth yang dimaksud — melewati kerumunan yang semakin padat, melewati bau gorengan dari salah satu tenant, melewati grup mahasiswa yang sedang berfoto di depan spanduk besar bertuliskan nama festival.

Sepanjang jalan, aku memperhatikan bagaimana orang-orang menoleh ke arah Cahaya. Bukan tatapan aneh atau mengganggu — lebih ke arah kagum, beberapa bahkan meminta foto bersama yang Cahaya layani dengan senyum ramah tanpa terlihat terbebani.

Ini bukan hal baru, sebenarnya. Cahaya selalu menarik perhatian ke mana pun ia pergi, bahkan sejak SMA. Tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini — mungkin karena kostumnya, mungkin karena konteks event ini secara spesifik menyoroti hal yang selama ini Cahaya sembunyikan dariku dan mungkin dari orang lain juga.

"Kamu tau enggak," kata Cahaya tiba-tiba, sambil terus berjalan, "ini pertama kalinya aku cosplay di depan orang banyak."

"Serius?"

"Serius. Biasanya cuma di kamar, coba-coba di depan cermin, terus foto sendiri buat dokumentasi."

"Kenapa enggak pernah ikut event sebelumnya?"

Cahaya diam sebentar sebelum menjawab, langkahnya sedikit melambat. "Karena aku enggak tau harus jelasin gimana ke orang lain. Kalau ada yang nanya kenapa aku suka hal-hal kayak gini, aku enggak punya jawaban yang enggak—" Ia berhenti.

"Yang enggak apa?"

"Yang enggak nyebut nama kamu."

Aku ikut berhenti berjalan.

Cahaya menyadari apa yang baru saja ia katakan sepersekian detik setelah kalimat itu keluar, dan aku bisa melihat perubahan di wajahnya — dari santai ke sedikit panik, seperti seseorang yang baru sadar pintu yang seharusnya tertutup ternyata terbuka.

"Maksudku," ia buru-buru menambahkan, "karena awalnya emang gara-gara kamu, jadi—"

"Aku ngerti," potongku, meski sebenarnya aku tidak sepenuhnya yakin aku mengerti implikasi penuh dari kalimat itu. Yang aku tahu, ada sesuatu di nada suaranya yang membuat aku merasa perlu segera mengalihkan topik sebelum situasi menjadi lebih canggung dari yang seharusnya. "Kompetisinya jam berapa mulai?"

Cahaya menatapku sebentar — ekspresinya sulit dibaca, campuran antara lega topik berganti dan sesuatu yang lain yang tidak sempat aku identifikasi — sebelum akhirnya menjawab, "Sejam lagi. Kita masih ada waktu jalan-jalan dulu."

Booth-booth di festival itu tersusun dalam formasi huruf U mengelilingi lapangan utama, dengan panggung kecil di tengah untuk berbagai penampilan — ada yang menampilkan band mahasiswa, ada yang menampilkan tari tradisional, dan salah satu jadwal yang menarik perhatianku adalah sesi dance cover yang menurut jadwal akan dimulai bersamaan dengan lomba cosplay.

Kami menyusuri deretan booth satu per satu. Ada booth komunitas fotografi yang memamerkan hasil jepretan mahasiswa. Ada booth UKM musik dengan alat-alat yang dipajang untuk dicoba pengunjung. Ada juga — dan ini yang membuat aku berhenti lebih lama dari booth-booth lain — sebuah stand kecil yang menjual merchandise anime dan manga bekas, dikelola oleh dua mahasiswa tingkat akhir yang terlihat sangat serius menjelaskan kondisi setiap barang ke calon pembeli.

"Kamu mau ke sana kan," kata Cahaya, sudah menebak arah pandanganku sebelum aku sempat mengucapkan apa pun.

"Sebentar saja."

"Kamu bilang 'sebentar' tapi terakhir kali kita ke toko buku bekas kamu di sana empat puluh lima menit."

"Itu situasi berbeda. Ada box set lengkap yang jarang ditemukan."

"Selalu ada alasan."

Tapi ia tetap mengikutiku ke arah stand itu, dan aku menghabiskan sekitar sepuluh menit — bukan empat puluh lima, sebuah pencapaian yang seharusnya dihargai — memeriksa beberapa volume manga yang dijual dengan harga cukup masuk akal. Cahaya berdiri di sampingku, sesekali mengangkat satu volume dan bertanya, "Ini bagus enggak?" dengan nada yang genuinely penasaran, bukan sekadar basa-basi untuk mengisi waktu.

"Yang itu adaptasi dari light novel yang cukup terkenal," jawabku. "Tapi mangaka-nya ganti di tengah jalan, jadi kualitas art-nya agak turun di paruh kedua."

"Ceritanya sendiri gimana?"

"Bagus di awal. Agak melambat di tengah. Endingnya kontroversial."

"Kontroversial gimana?"

Aku menjelaskan — dengan detail yang mungkin lebih dari yang Cahaya butuhkan, tapi ia mendengarkan dengan atensi penuh, sesekali mengangguk atau bertanya klarifikasi, sampai akhirnya penjaga stand tertawa kecil dan berkata, "Wah, pacarnya sabar banget dengerin penjelasan lengkap gini."

Hening sesaat.

"Bukan pacar," kataku, hampir bersamaan dengan Cahaya yang mengucapkan kalimat serupa dengan kecepatan yang hampir identik.

Penjaga stand mengangkat tangan minta maaf, tersenyum canggung. "Oh, sori, kirain—"

"Enggak apa-apa," kata Cahaya cepat, tertawa kecil yang terdengar sedikit dipaksakan. "Sering disalahartiin kok."

Kami melanjutkan berjalan setelah itu, meninggalkan stand tanpa aku sempat membeli apa pun karena momen itu entah kenapa membuat suasana jadi sedikit lebih berat dari sebelumnya — bukan buruk, hanya berbeda, seperti ada sesuatu yang mengambang di antara kami yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa.

"Ren," kata Cahaya setelah beberapa langkah dalam diam.

"Hm?"

"Kamu enggak keberatan kan? Kalau orang salah kira kita pacaran?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja, dan aku butuh waktu sebentar untuk memproses jawaban yang tepat.

"Enggak," jawabku akhirnya, karena itu jawaban paling jujur yang bisa aku berikan. "Cuma agak aneh aja waktu pertama kali denger."

"Aneh gimana?"

"Aneh karena—" Aku berhenti, mencoba mencari kata yang tepat. "Karena rasanya kita udah terlalu lama kenal buat orang lain nebak-nebak status kita. Kayak, seharusnya udah jelas kita cuma temen."

Cahaya tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah lagi dengan pandangan lurus ke depan, sebelum akhirnya berkata, dengan nada yang aku tidak bisa sepenuhnya baca, "Iya. Seharusnya emang udah jelas."

Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan itu yang membuat aku merasa ada makna lain di baliknya, tapi sebelum aku sempat memikirkannya lebih jauh, ponsel Cahaya berbunyi.

"Sasa," katanya, melihat layar. "Nanya kita di mana. Kompetisinya mulai lima belas menit lagi."

Panggung kompetisi cosplay diatur di sisi timur lapangan, dengan area penonton yang sudah mulai dipenuhi orang-orang berdiri berdesakan begitu MC mengumumkan sesi akan segera dimulai. Sasa sudah menunggu di dekat area belakang panggung, memegang dua botol air mineral dan ekspresi seseorang yang sudah lelah menunggu selama entah berapa lama.

"AKHIRNYA," seru Sasa waktu melihat kami mendekat. "Kalian dari mana aja, aku udah telepon tiga kali."

"Ren mampir toko manga," jawab Cahaya, mengambil salah satu botol air dari tangan Sasa.

Sasa memutar mata, menatapku dengan ekspresi yang sudah sangat familiar — kombinasi antara jengkel dan geli yang biasanya muncul setiap kali topik soal kebiasaanku dibahas. "Tentu aja. Cahaya udah dandan cakep-cakep gini buat kompetisi, dan kamu malah mikirin manga bekas."

"Aku ikutin dia ke sana," bela Cahaya. "Bukan sebaliknya."

"Terserah lah," kata Sasa, sambil merapikan letak bandana Cahaya yang sedikit bergeser. "Yang penting kamu siap. Nomor urutmu keenam. Ada delapan peserta total."

"Kompetisinya gimana sistemnya?" tanyaku.

"Nilai dari juri sama vote penonton lewat aplikasi," jelas Sasa, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan halaman voting. "Juri lima puluh persen, vote penonton lima puluh persen. Kriterianya kesesuaian kostum, penampilan di atas panggung, sama in-character-nya pas ditanya juri."

"Ditanya juri?"

"Iya, biasanya juri nanya sesuatu ke masing-masing peserta soal karakternya, terus peserta harus jawab in-character."

Aku menoleh ke Cahaya. "Kamu udah siapin jawaban buat itu?"

"Belum," jawabnya, terdengar sedikit lebih tegang dari sebelumnya. "Aku kira cuma jalan doang di panggung, foto, terus turun."

"Kamu harus tau backstory Yuzuki dengan bener kalau ditanya," kataku, dan tanpa benar-benar berpikir panjang, aku mulai menjelaskan — arc karakter Yuzuki, motivasinya, hubungan dia dengan karakter-karakter lain di seri itu, momen-momen kunci yang mendefinisikan kepribadiannya.

Cahaya mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk, mencoba menghafal poin-poin penting dalam waktu yang tersisa.

"Kalau juri nanya kenapa kamu pilih karakter ini," kataku di akhir, "kamu bisa jawab soal loyalitasnya. Yuzuki itu karakter yang selalu ada di belakang layar, dukung orang lain tanpa minta diakui, sampai akhirnya dia berani maju sendiri. Itu core dari karakternya."

Cahaya menatapku, dan untuk sesaat ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mendengarkan penjelasan teknis. "Kenapa kamu pikir aku pilih karakter itu, Ren?"

Pertanyaan yang, secara permukaan, terdengar seperti pertanyaan retoris biasa. Tapi ada bobot di dalamnya yang membuat aku berhenti sejenak sebelum menjawab.

"Karena karakternya keren," jawabku, karena itu jawaban paling aman yang bisa aku berikan tanpa perlu menganalisis lebih jauh implikasi dari pertanyaan itu sendiri.

Cahaya tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya puas dengan jawabanku tapi juga tidak memaksa untuk jawaban yang lebih dalam. "Ya. Karena karakternya keren."

"Nomor enam, harap standby di belakang panggung!" seru panitia dari arah backstage.

"Itu kamu," kata Sasa, mendorong pelan bahu Cahaya. "Ayo, semangat!"

Cahaya menghela napas panjang, meregangkan bahu sebentar seperti atlet sebelum pertandingan, lalu menoleh ke arahku dan Sasa dengan senyum yang, meski masih ada sedikit kegugupan di baliknya, jauh lebih percaya diri dari beberapa menit lalu.

"Doain aku," katanya.

"Kamu enggak butuh doa," jawabku. "Kostumnya udah bagus banget, tinggal in-character-nya aja."

"Itu bukan hal yang bikin aku tenang, Ren."

"Bukan berarti itu enggak benar."

Cahaya menatapku sebentar, ekspresinya sulit dibaca, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan ke arah backstage, meninggalkan aku dan Sasa berdiri di area penonton yang semakin padat.

Sasa dan aku berhasil mendapatkan posisi cukup dekat dengan panggung, meski harus berdesakan sedikit dengan penonton lain yang juga ingin melihat dari jarak dekat.

"Kamu tau enggak," kata Sasa, sambil menatap ke arah panggung yang sedang menampilkan peserta nomor tiga — seseorang berkostum karakter yang tidak aku kenali, mungkin dari game atau anime yang belum pernah aku tonton. "Cahaya udah nervous dari kemarin malem soal ini."

"Nervous soal kompetisinya?"

"Nervous soal kamu."

Aku menoleh. "Aku?"

"Iya. Dia takut kamu mikir dia aneh, atau—" Sasa berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati. "Atau takut kamu mikir dia cuma nyoba masuk ke dunia kamu tanpa beneran ngerti."

"Aku enggak pernah mikir gitu."

"Aku tau. Tapi dia enggak tau itu, sampai dia liat reaksi kamu langsung."

Aku terdiam, memproses kalimat itu sambil menonton peserta nomor empat naik panggung.

"Dia udah nyimpen hobi ini bertahun-tahun, Ren," lanjut Sasa, suaranya lebih pelan sekarang, hampir tenggelam di antara sorak-sorai penonton. "Dan hari ini pertama kalinya dia berani nunjukin ke publik. Itu bukan hal kecil buat dia."

"Aku tau itu penting."

"Kamu tau seberapa penting?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, dan aku tidak punya jawaban yang cukup memuaskan untuk itu — bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku baru mulai menyadari betapa dalamnya lapisan yang selama ini tersembunyi di balik seseorang yang aku kira sudah aku kenal luar dalam.

"Nomor enam!" seru MC dari panggung. "Cahaya Kusuma Dewi, sebagai Yuzuki dari Moonlit Requiem!"

Sorak-sorai penonton naik satu tingkat, dan aku melihat Cahaya melangkah ke tengah panggung dengan gerakan yang jauh lebih percaya diri dari yang aku bayangkan sebelumnya.

Ia berhenti di titik tengah, mengambil pose — pose yang sama seperti waktu ia menyapaku di gerbang tadi pagi, tapi kali ini disempurnakan dengan ekspresi wajah yang benar-benar menghidupkan karakter yang ia perankan. Matanya menyipit sedikit, sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang misterius, dan seluruh bahasa tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari Cahaya yang biasa aku kenal sehari-hari.

Lampu panggung menyoroti detail kostumnya dengan sempurna — kain putih dan lavender yang berkilau, aksesori bulan sabit di rambutnya yang memantulkan cahaya dengan cara yang, aku yakin, adalah hasil dari ukiran yang ia kerjakan sendiri.

Untuk beberapa detik, aku benar-benar lupa bahwa aku sedang menonton temanku sendiri.

Yang aku lihat adalah seseorang yang sepenuhnya menghidupkan sebuah karakter — bukan sekadar memakai kostumnya, tapi memahami esensinya sampai ke level yang membuat penampilan itu terasa nyata, bukan pura-pura.

"Kamu ngeliatin lagi," bisik Sasa di sampingku, dengan nada yang terdengar seperti sedang menahan senyum.

"Aku menonton kompetisi."

"Dengan ekspresi kayak gitu?"

"Ekspresi apa?"

Sasa tidak menjawab, hanya tersenyum lebih lebar sambil kembali menatap ke panggung.

Juri mulai mengajukan pertanyaan setelah sesi pose formal selesai — MC menyerahkan mikrofon ke salah satu juri, seorang perempuan dengan lanyard bertuliskan "Komunitas Cosplay Nusantara Jaya".

"Yuzuki, bisa ceritakan kenapa kamu selalu memilih untuk mendukung dari belakang, bukan tampil di depan?"

Ada jeda sebentar. Aku bisa melihat Cahaya menarik napas, mengambil posisi yang lebih tegak, sebelum menjawab dengan suara yang berubah — lebih tenang, lebih dalam dari suara Cahaya yang biasa aku dengar sehari-hari.

"Karena aku percaya," jawabnya, "cahaya paling terang bukan selalu yang berdiri di tengah panggung. Kadang, cahaya paling penting adalah yang menerangi orang lain supaya mereka bisa berdiri di sana. Aku enggak butuh diakui buat tau bahwa apa yang aku lakukan berarti."

Penonton bertepuk tangan. Juri mengangguk puas, mencatat sesuatu di kertasnya.

Tapi aku berdiri diam, karena aku tahu — aku tahu persis — bahwa jawaban itu bukan sekadar jawaban in-character yang dihafal dari penjelasan singkat yang aku berikan tadi.

Itu jawaban yang, entah bagaimana, terasa seperti Cahaya sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

Sisa kompetisi berlangsung dengan empat peserta lagi setelah Cahaya, tapi aku tidak bisa mengingat detail penampilan mereka dengan jelas. Pikiranku masih tertahan di jawaban Cahaya tadi, di cara ia mengucapkannya dengan keyakinan yang terasa lebih dalam dari sekadar performa.

Pengumuman pemenang dilakukan setelah sesi terakhir, dengan MC yang sengaja menunda-nunda untuk membangun ketegangan yang menurutku sebenarnya berlebihan untuk skala kompetisi sekecil ini.

"Juara ketiga," seru MC, "nomor dua! Untuk kostum Ryu dari—"

Aku tidak terlalu mendengarkan nama pemenang ketiga karena aku sedang mencari Cahaya di antara para peserta yang sudah berkumpul kembali di panggung untuk sesi pengumuman.

"Juara kedua, nomor enam! Cahaya Kusuma Dewi sebagai Yuzuki!"

Sorak-sorai penonton naik, dan Sasa langsung melompat-lompat kecil di sampingku sambil berteriak nama Cahaya. Aku ikut bertepuk tangan, meski dengan cara yang jauh lebih tenang dari Sasa.

Cahaya melangkah maju untuk menerima piagam dan voucher hadiah, wajahnya berbinar dengan senyum yang, kali ini, murni miliknya sendiri tanpa topeng karakter apa pun.

Setelah sesi foto bersama juri selesai, para peserta mulai turun panggung dan berbaur kembali dengan kerumunan. Cahaya berjalan ke arah kami dengan langkah cepat, masih memegang piagam di tangannya.

"REN! SASA!" serunya, hampir berlari di tengah kerumunan. "AKU JUARA DUA!"

"KITA LIAT KOK," jawab Sasa, memeluknya erat. "SELAMAT! Aku bilang juga apa, kamu pasti bagus!"

Cahaya melepaskan pelukan dari Sasa dan menoleh ke arahku, matanya masih berbinar dengan sisa adrenalin dari panggung. "Gimana, Ren?"

Aku menatapnya sebentar sebelum menjawab, mencoba menyusun kata-kata yang bisa merangkum apa yang baru saja aku saksikan tanpa terdengar berlebihan.

"Jawaban kamu ke juri," kataku akhirnya, "soal cahaya yang bukan buat diri sendiri tapi buat orang lain."

"Kenapa?"

"Itu bukan cuma jawaban in-character kan?"

Cahaya terdiam. Senyumnya perlahan berubah, tidak hilang sepenuhnya tapi berganti jadi sesuatu yang lebih kompleks — campuran antara terkejut karena tertangkap basah dan sesuatu yang lebih rentan yang jarang ia tunjukkan di depan umum.

"Kenapa kamu pikir gitu?" tanyanya, suaranya lebih pelan sekarang, hampir tidak terdengar di antara keramaian sekitar kami.

Aku tidak langsung menjawab. Karena, sejujurnya, aku sendiri tidak sepenuhnya yakin bagaimana menjelaskan mengapa jawaban itu terasa begitu personal, begitu jauh dari sekadar hafalan tentang karakter fiksi.

Tapi ada sesuatu di caranya berdiri sekarang — piagam di satu tangan, kostum yang masih menempel sempurna di tubuhnya, dan tatapan yang menunggu jawabanku dengan kesabaran yang terasa lebih besar dari yang seharusnya diperlukan untuk pertanyaan sesederhana ini — yang membuat aku merasa kami sedang berdiri di ambang sesuatu yang lebih besar dari sekadar percakapan soal kompetisi cosplay.

"Enggak tau," jawabku akhirnya, karena itu jawaban paling jujur yang bisa aku berikan saat itu. "Cuma kerasa aja."

Cahaya menatapku lebih lama dari yang biasa, dan untuk sesaat, di tengah keramaian festival yang terus berputar di sekitar kami — musik dari panggung utama, aroma makanan dari berbagai tenant, suara orang-orang yang tertawa dan berbincang — dunia terasa menyempit menjadi hanya kami berdua, berdiri di titik yang sama, dengan sesuatu yang belum sepenuhnya terucap mengambang di antara kami.

"Foto bareng dong," potong Sasa, sudah mengangkat ponselnya, sama sekali tidak menyadari — atau mungkin sengaja tidak menyadari — momen yang baru saja terjadi. "Buat kenang-kenangan juara dua!"

Momen itu pecah secepat munculnya.

Cahaya berkedip, tersenyum lagi — senyum yang lebih ringan, lebih familiar — dan merapatkan diri untuk foto bersama. Aku ikut berdiri di sampingnya, dan Sasa mengambil beberapa foto dengan berbagai pose sambil terus memberi instruksi yang setengahnya tidak masuk akal.

Tapi sepanjang sesi foto itu, di sela-sela senyum yang aku pasang untuk kamera, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku, tidak mau pergi meski aku sudah berusaha mengalihkan perhatian ke hal lain.

Kenapa jawaban itu terasa begitu personal.

Dan kenapa, sejak melihat Cahaya berjalan ke arahku pagi tadi dengan kostum lengkap dan senyum penuh percaya diri, ada sesuatu di dadaku yang tidak mau berhenti bergerak — sesuatu yang, kalau aku jujur pada diriku sendiri, terasa sangat berbeda dari cara aku biasanya melihat seorang teman.

Festival berlangsung sampai sore, dan kami menghabiskan sisa waktu berkeliling booth-booth lain, mencicipi berbagai makanan dari tenant, dan menonton beberapa penampilan di panggung utama. Cahaya sempat berganti pakaian kembali ke baju kasual di toilet umum dekat gerbang, membawa kostumnya dalam tas besar yang sudah disiapkan sejak pagi.

"Capek?" tanyaku waktu kami akhirnya duduk di bangku dekat gerbang keluar, menunggu Sasa yang masih di toilet.

"Capek tapi seneng," jawab Cahaya, menyandarkan kepala ke bahuku dengan santai — gestur yang sudah biasa terjadi di antara kami sejak dulu, tapi hari ini entah kenapa terasa berbeda. "Makasih ya udah dateng."

"Kamu yang paksa aku dateng."

"Tetep. Makasih."

Aku tidak menjawab langsung, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara kami sebentar, ditemani suara festival yang mulai menurun intensitasnya seiring sore yang semakin larut.

"Ren," kata Cahaya lagi, masih dengan kepala bersandar di bahuku.

"Hm?"

"Hari ini seneng banget rasanya. Kayak akhirnya aku bisa nunjukin sesuatu yang selama ini aku sembunyiin, dan ternyata enggak seburuk yang aku takutin."

"Emang enggak buruk."

"Iya. Karena kamu ada di sana."

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu ringan, begitu natural, seolah itu hanyalah observasi biasa tentang hari yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, kalimat itu menetap lebih lama di kepalaku dari yang seharusnya, berputar-putar dengan cara yang tidak bisa aku sepenuhnya jelaskan.

Aku menatap ke arah lapangan yang mulai sepi, ke arah panggung yang sedang dibongkar oleh panitia, ke arah langit yang mulai berubah warna menuju senja.

Dan untuk pertama kalinya — mungkin bukan yang pertama, tapi yang pertama kali aku benar-benar mengakuinya secara sadar — aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang aku lewatkan selama ini. Sesuatu yang sudah lama ada di depan mataku, tapi baru sekarang mulai terlihat jelas.

Aku tidak tahu apa nama perasaan yang sedang aku rasakan itu.

Tapi aku tahu itu berbeda dari yang biasa.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!