Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 15: PANDANGAN SANG PENGUASA

​Mo Xie memperhatikan pakaian dan lambang yang terukir pada zirah serta jubah kedua sosok asing itu.

​Melalui pandangan mata kirinya yang membawa esensi Inti Es Abadi, ia bisa membaca bahwa aliran Qi di dalam raga pria tegap dan wanita anggun itu mengalir begitu padat, stabil, dan teratur. Riak kekuatan mereka memancar dengan presisi yang menekan atmosfer sekitar—sebuah indikasi mutlak bahwa keberadaan mereka berada di ranah Awakened puncak, setara dengan Xue Qingyue.

​Wanita bergaun jubah hitam pekat itu perlahan melirik ke arah Mo Xie, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penghinaan.

​"Apa sektemu sudah sedemikian kekurangan praktisi hingga harus mengirim seorang bocah fana di ranah Mortal ke tempat seperti ini?" desis wanita itu, suaranya terdengar merdu namun dingin menindas.

​"Dia berada di bawah pengawasanku secara langsung, Feng Yue," jawab Xue Qingyue dingin, memecah ketegangan sebelum Mo Xie sempat membalas ejekan tersebut.

​Nada suara praktisi wanita dari Sekte Es Abadi itu terdengar datar namun sarat akan penekanan yang mutlak. Ia melangkah maju setengah depak, memosisikan tubuhnya sedikit di depan Mo Xie.

​"Dan dia adalah urusan Sekte Es Abadi, bukan urusan Sekte Angin Surgawi."

​Mo Xie hanya terdiam di posisinya, mengamati kedua sosok baru itu dengan saksama. Matanya menyusuri detail pakaian mereka yang sangat kontras dengan lingkungan bersalju yang membekukan ini.

​Pria tegap bernama Lu Cang itu mengenakan zirah pelat perunggu setengah terbuka dengan jubah merah koyak yang bersimbol segel kuno di punggungnya. Ia membiarkan ukiran segel di lengan kanannya terus berdenyut, memancarkan hawa hangat yang menolak hawa beku.

​Sementara si wanita, Feng Yue, mengenakan jubah gaun dari sutra hitam yang melambai anggun ditiup badai es. Pakaian itu memancarkan aura kebangsawanan yang gelap dan misterius.

​Mereka berada di ranah Awakened puncak... Setara dengan Xue Qingyue, batin Mo Xie, giginya mengatup rapat hingga rahangnya menegang.

​Tangan kanannya yang menggenggam erat Pedang Kehampaan semakin mengeras hingga kain hitam yang membungkus pergelangan tangannya terasa menyiksa.

​Di mata praktisi yang telah melampaui batas fana ini, dirinya yang masih terbelenggu di ranah Mortal memang tak lebih dari sekadar debu yang mudah tersapu oleh badai. Kesenjangan hirarki ini terasa seperti benteng tebal yang memisahkan dirinya dari puncak kekuatan dunia.

​Feng Yue hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang meremehkan tanpa ada sedikit pun riak emosi saat ia kembali melirik Mo Xie.

​"Pengawasan? Menarik sekali," ucap Feng Yue dengan nada malas yang menyindir. "Kuharap beban mati itu tidak akan membuatmu kehilangan kepalamu di sini, Xue Qingyue."

​Jemari lentik Feng Yue yang berkulit pucat mulai menganyam benang-benang Qi kegelapan di udara, bersiap menyambut gelombang entitas Void baru yang mulai merangkak keluar dari retakan langit ungu-kemerahan di hadapan mereka.

​Lu Cang, pria bertato segel di sampingnya, terkekeh rendah hingga dadanya yang bidang bergetar. Ia menurunkan gada besi raksasanya dari pundak, menghantamkan senjatanya ke tanah es hingga memicu getaran dan retakan kecil.

​"Sudahlah, Feng Yue. Bocah itu punya sorot mata yang menarik. Setidaknya dia tidak gemetar ketakutan melihat celah terkutuk itu," ujar Lu Cang, lalu menatap Mo Xie dengan seringai lebar yang memamerkan deretan giginya.

​"Hei, Bocah Mortal! Jaga kepalamu tetap tegak jika tidak ingin mati konyol di tempat ini!"

​Cih.

​Mo Xie tidak menundukkan kepalanya sedikit pun. Sebaliknya, seulas seringai liar, dingin, dan penuh provokasi perlahan terukir di wajahnya yang penuh dengan coretan abu hitam dan bercak darah kering.

​Mata kanannya yang hitam pekat mendadak memancarkan pendar kemerahan tipis akibat gejolak amarah yang membakar dadanya.

​Di saat yang sama, mata kirinya yang membawa esensi Inti Es Abadi bersinar biru gletser dengan tajam, menusuk langsung ke arah Feng Yue dan Lu Cang tanpa ada rasa gentar sedikit pun.

​"Kita lihat saja nanti..." desis Mo Xie, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang berbahaya di balik deru badai belerang.

​"...siapa yang sebenarnya harus menjaga siapa di sini."

​Tangan kanan Mo Xie yang terbalut kain hitam bergerak lambat. Ia mengangkat bilah Pedang Kehampaan hingga sejajar dengan dadanya.

​Semburat ungu pekat dari efek korosi Qi Kegelapan kembali melapisi permukaan pedang, mendesis keras saat merespons kehendak membunuhnya yang pekat dan liar.

​Ia sama sekali tidak gentar, meski tahu dua entitas di depannya adalah praktisi di ranah Awakened puncak yang berada jauh di atas ranah Mortal miliknya.

​Lu Cang tertegun sejenak mendengar jawaban lantang yang keluar dari mulut pemuda di depannya. Sedetik kemudian, tawa beratnya kembali pecah, menggelegar lebih keras hingga meruntuhkan bongkahan es kecil di tebing atas.

​"Hahaha! Nyali yang luar biasa untuk ukuran praktisi fana! Aku menyukai gairah di matamu, Bocah!"

​Sementara itu, Feng Yue hanya menyipitkan mata hitam legamnya. Senyum meremehkan di bibirnya sedikit memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam meneliti aura ungu korosif yang menguar dari pedang Mo Xie.

​"Mulutmu cukup besar untuk seseorang yang bisa hancur hanya dengan sekali remas, Bocah. Kuharap kemampuan bertarungmu bisa menyamai kesombonganmu."

​"Mo Xie, fokus!" sela Xue Qingyue tegas.

​Praktisi wanita itu tidak ingin pertikaian verbal dan provokasi ini mengalihkan perhatian mereka dari ancaman mematikan yang sesungguhnya.

​Mata kiri Mo Xie yang memancarkan pendar biru gletser seketika berdenyut lebih kencang. Melalui penglihatan Inti Es Abadi, pandangannya menembus kabut asap belerang yang tebal, melihat riak gelombang Qi yang bergejolak tidak stabil di sekeliling celah dimensi.

​Ia bisa merasakan bahwa struktur ruang di selatan ini tidak sekadar terbuka, melainkan sedang dipaksa robek oleh tekanan massa energi dari sisi lain.

​Hawa pembusukan yang memancar bukan lagi sekadar hawa korosif biasa, melainkan racun kehampaan yang sanggup melumatkan dinding pertahanan spiritual dan mengikis jaringan raga fana dalam hitungan waktu.

​Tekanan ini... jauh lebih pekat daripada saat Penjaga Celah keluar tadi, batin Mo Xie, memperketat kuda-kudanya.

​Inti Es Abadi di mata kirinya bergetar pasif, mengalirkan gelombang hawa dingin yang murni ke seluruh sirkulasi darahnya. Rasa dingin itu menekan pening hebat di kepalanya, meredam gejolak ego Pedang Kehampaan di tangan kanannya agar tidak meluap liar di depan dua utusan Sekte Angin Surgawi.

​Mo Xie sadar, jika ia hilang kendali di saat seperti ini, Feng Yue tidak akan ragu untuk menghancurkan kepalanya sebelum entitas-entitas Void itu sempat menyentuhnya.

​GRRRRRRRR—

​Retakan langit ungu-kemerahan di atas mereka berdenyut hebat untuk kesekian kalinya, memancarkan gelombang kejut yang menggetarkan fondasi tanah bersalju.

​Cairan korosif hitam pekat mulai menetes deras dari bibir celah dimensi, membakar lapisan salju dan mengeluarkan asap beracun yang pekat membumbung tinggi.

​Dari dalam robekan ruang yang menganga itu, sepasang lengan raksasa yang dipenuhi duri es hitam mencengkeram tebalnya tepi celah, mencoba menarik paksa tubuh sebuah entitas Void yang jauh lebih besar dan mengerikan dari sebelumnya untuk keluar ke alam fana.

​"Mereka datang lagi," gumam Xue Qingyue, pedang kristalnya mulai memancarkan pendar Hukum Es saat ia memasang kuda-kuda bertarung yang kokoh.

​"Jumlah mereka tiga kali lipat dari yang tadi... dan yang mencoba merayap keluar dari pusat retakan itu memiliki hawa keberadaan di puncak ranah Awakened!"

​Pertempuran babak baru telah dimulai. Di tengah kepungan badai abu panas dan hawa beku yang menusuk, empat praktisi kini berdiri berdampingan menghadap celah dimensi yang kian murka.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!