Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:133.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membungkam Mulut Suami

Malam semakin larut ketika Raya akhirnya tiba kembali di rumah kediamannya sendiri setelah beberapa waktu berada di rumah mertuanya yang membuatnya seperti batu kerikil yang tak berguna.

Raya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia bahkan tidak menoleh ketika suara mobil lain terdengar memasuki halaman rumah beberapa saat kemudian.

Raya terus berjalan hingga tiba di depan tangga. Tangannya baru saja hendak meraih pegangan ketika suara Zevan terdengar dari belakang.

“Raya, tunggu.”

Langkah Raya terhenti.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan rasa lelah yang semakin terasa di sekujur tubuhnya.

‘Sekarang apa lagi maunya?’

Raya tidak langsung menoleh apalagi menyahut panggilan pria itu. Ia hanya berdiri diam di anak tangga.

“Kamu jangan begini sama Ibu, Raya,” ujar Zevan dari belakang.

Raya menunduk. ‘Sudah ku duga, pasti karena ini.’

“Apalagi kamu sampai bilang nggak akan memberikan uang bulanan lagi kepada Ibu,” lanjut Zevan.

Mendengar itu, Raya perlahan berbalik.

Tatapannya langsung tertuju kepada Zevan. Tidak ada lagi kelembutan seperti yang dulu selalu ia tunjukkan kepada suaminya. Yang tersisa hanyalah tatapan datar dan dingin setelah suaminya Mengkhianatinya.

“Mau aku katakan berapa kali lagi kalau memberikan uang ke ibumu itu bukan tanggung jawabku. Kalau Mas mau kasih uang kepada Ibu, kasihlah. Tapi pakai uang Mas sendiri, jangan pakai uangku. Itu sih sama saja aku yang kasih.”

Raya mengusap pelipisnya sekilas. Kepalanya mulai terasa berat.

“Sudahlah, Mas. Aku capek. Besok aku mau kerja.”

Tanpa menunggu jawaban, Raya hendak kembali menaiki tangga.

Namun, suara Zevan kembali berhasil menghentikan langkahnya.

“Raya, kamu resign saja dari pekerjaanmu.”

Raya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia kembali menoleh perlahan.

“Apa alasannya, sampai Mas menyuruhku resign?” tanya Raya tanpa menoleh.

“Kasihan Rara di rumah sendirian. Apalagi dia sedang hamil muda. Nggak ada temannya juga di rumah, Ray.”

Raya menatap Zevan beberapa detik. Kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terasa getir.

“Oh… Karena kasihan?” ulangnya. “Kasihan lihat Rara sendiri, lalu, Mas nggak kasihan sama aku, gitu?”

Suasana seketika hening.

Raya tertawa getir. “Ya mana ada rasa kasihan, kamu kan selalu nanyain kapan aku punya anak, kapan kita melakukan hubungan suami istri. Itu yang ada di otakmu, Mas. Jadi… Aku jelasin dengan singkat jelas dan padat, dengerin baik-baik.”

Tangan Raya terangkat, jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri.

“Aku kerja mati-matian, dapat uang. Itu untuk siapa?” tanya Raya.

Raya kembali menunjuk dirinya sendiri.

“Aku capek, pulang kerja, kamu pernah nanyain aku nggak? Aku sudah makan belum, kerjaannya susah apa enggak, atasan kamu gimana, baik apa galak, pernah nggak tanya begitu.”

Tatapannya tak beralih sedikitpun dari wajah pria itu

Beberapa detik berlalu, hingga sampai saat ini pria itu tak menjawab.

“Nggak bisa jawab lagi?” tanya Raya. “Oke Aku jawab ya, aku kerja demi kebutuhan kita, dan demi Ibu kamu yang selalu minta uang ke aku buat beli inilah, itulah, bayar arisan, jalan-jalan nggak jelas. Sementara Mas, enak. Jadi supervisor yang tugas ngawasin karyawan. Lalu uangnya di pakai buat apa?”

Zevan terdiam.

“Nggak bisa jawab lagi?” tanya Raya. “Uangnya kamu pakai buat ibu kamu. Kamu cuma kasih aku uang tiga juta buat uang nafkahku sama uang beli makanan.”

Ia menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuknya. “Mikir Mas, mikir. Di belakang nama kamu ada gelar sarjana, di pakai dong gelarnya masa kalah sama aku yang sekolahnya hanya sampai SMA. Apalagi sekarang suruh aku resign buat jaga istri muda kamu?”

Raya terkekeh mendengar alasan suaminya.

“Bukan loh menyuruh kamu menghamili Rara, iparmu sendiri.”

Tatapan Raya menjadi semakin tajam. Ia melangkah turun satu anak tangga, lalu berdiri menghadap Zevan.

“Enak saja menyuruhku berhenti bekerja. Memangnya aku ini babu?”

Raya kembali menunjuk dirinya sendiri.

“Aku punya pekerjaan yang bagus. Aku punya penghasilan yang lumayan, bahkan bisa bayar harga dirimu.”

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Kecuali pekerjaanku memang sebagai pembantu, mungkin aku masih bisa mengerti kalau Mas menyuruhku berhenti.”

Raya kemudian mengalihkan pandangan ke arah pintu ruang tamu.

Di sana, Rara berdiri di ambang pintu.

Raya menatap perempuan itu beberapa saat. Tidak ada lagi rasa ingin menyalahkan atau bertengkar seperti sebelumnya. Ia hanya memberikan senyum miring sebelum kembali menatap Zevan.

“Jadi, jangan minta aku mengorbankan pekerjaanku hanya karena kamu sudah punya tanggung jawab baru.”

Setelah mengatakannya, Raya tidak memberi kesempatan kepada Zevan untuk membalas.

Ia berbalik dan kembali menaiki tangga menuju lantai atas. Kali ini, langkahnya lebih mantap meskipun tubuhnya terasa semakin lelah.

. . .

Setibanya di beberapa anak tangga terakhir, Raya mengubah ekspresinya menjadi datar.

‘Enak saja menyuruhku.’

Tangannya menggenggam pegangan tangga sedikit lebih erat.

‘Sekarang tujuanku memberikan mereka pelajaran, sebelum aku menggugat cerai Mas Zevan.’

‘Balas dendam atas pengkhianatan kalian kita mulai sekarang, akan ku perlihatkan bagaimana neraka yang akan ku berikan pada kalian.’

Raya kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Sementara Zevan, ia masih berdiri di tempatnya. Pandangannya tertuju pada punggung Raya yang perlahan menjauh, menaiki tangga tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

“Mas...”

Suara Rara membuat Zevan tersadar. Ia mengalihkan pandangan kepada perempuan yang berdiri tidak jauh darinya.

“Istirahat saja, Rara” ujar Zevan singkat. “Mas masih ingin bersantai sebentar.”

Rara tampak mengangguk.

“Ya sudah, Mas. Jangan terlalu kemalaman, besok Mas harus berangkat kerja, kan.”

Zevan mengangguk.

Perempuan itu kemudian berbalik dan melangkah menuju kamar.

Setelah Rara menghilang dari pandangannya, Zevan masih berdiri beberapa saat di ruang tengah. Suasana rumah yang kembali sunyi justru membuat pikirannya semakin sulit tenang.

Ia akhirnya berjalan menuju dapur. Rasa tidak nyaman yang memenuhi pikirannya membuatnya ingin melakukan sesuatu agar sedikit lebih tenang.

. . .

 Sesampainya di dapur, Zevan mengambil cangkir, kemudian menyiapkan kopi seperti yang biasa ia lakukan ketika sedang banyak pikiran.

Ia menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir, kemudian menyeduhnya dengan air panas.

Aroma kopi perlahan memenuhi udara.

Zevan mengaduk minumannya beberapa kali sebelum mengangkat cangkir tersebut. Namun, alih-alih langsung meminumnya, ia justru terdiam sambil menatap permukaan kopi yang masih mengepulkan uap tipis.

Pikirannya kembali kepada Raya.

‘Sejak kapan dia berani bicara seperti itu kepadaku dengan nada seperti itu?’

Zevan mengerutkan kening.

Dulu, Raya selalu menurut. Apa pun yang ia minta, perempuan itu hampir tidak pernah membantah. Bahkan ketika keluarganya meminta sesuatu kepada Raya, istrinya itu selalu berusaha memenuhinya.

Namun, malam ini semuanya terasa berbeda.

Zevan menghela napas panjang, lalu membawa cangkir kopinya menuju jendela.

Ia berdiri di sana sambil menatap halaman kecil di depan rumah yang tampak sunyi di bawah cahaya lampu.

Tangannya mengangkat cangkir, lalu menyeruput kopi yang masih hangat.

Pahitnya kopi terasa di lidah.

Namun, rasa pahit itu tidak cukup untuk menghilangkan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Zevan kembali menatap halaman tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.

Ia kembali menyeruput kopinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

“Kesetiaan yang terus diuji, pada akhirnya akan menemukan batasnya.”

1
Gracelyn Jay
Thor, cerita mu bagus, tapi harus dibuat senyata mungkin. Univ Gunadarma, dan kampus lain, ga ada bayar spp bulan-an, bayarnya 1 semester
Silvi Febiola: oke kak, sudah aku revisi.
total 1 replies
Masayu Yanti
senang baca nya tidak bertele tele
Sayekti 0519
akhirnya bahagia juga untuk sakyna Berbah baik
Yuni Ngsih
Akhirnya selesai Thor ceritramu yg bgs ini tapi....knp Anaknya Kansa Sm Raya ngga nikah dulu ...ya jd ngga asyik nin atau ada Boncapnya Thor ....he ok ...mksh Author
Sayekti 0519
nah gitu walau agak terlambat
Sayekti 0519
resiko besarkan anak ular
Sayekti 0519
kok cuma peringatan,siram balik donk biar rasa juga.tangkap aja jual k bordil
Sayekti 0519
udah tau benalu..masih aja d percaya,saluut aku mahh
Sayekti 0519
mantaaap raya,segerakan niat mu
Sayekti 0519
eeaalah...ternyata turunan ya JD jalang dr ibu Rodiah toh..
Yuni Ngsih
Authooooor ceritramu bgs banget tapi aga jelimet ku bcnya ngga asyik ,apalagi klw baca karakter si syakina persis si Rars memang benar fakta Thor garam tdk tembus ke atas ya....he ....kasian Naya & jangan terjadi seperti Ibunya Raya yg disakiti si Rars sm si Zevan ...huh
Sayekti 0519
sekali nnyuri lolos,ketagihan ya
Sayekti 0519
pelakor sialan.. udah ngambil suami nya malah mau nguras hartanya.anjing banget!!
Sayekti 0519
jual rumah itu klw milikmu,cerai lah apalagi kok mau nya sakit trs
Sayekti 0519
istri nurut klw suami sayang,ini suami bw jalang k rumah.ya istri wajib nyalang buas
Sayekti 0519
terlalu banyak berpikir tentang kedepannya,ya cerai sajalah.pekerjaan ada.anK blm ada.kan aamaan
YuWie
digambarkannnya masih pakai hijab ough... masih costplay ya
YuWie
Luar biasa
Misaza Sumiati
kok mau yah merawat anak yg SDH memerasnya GK jadi pelajaran Kansa dan raya org kaya bodoh
YuWie
rasanya pingin mlites protagonis yg menye2 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!