Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Oli Dilawan!

Uap panas dari mangkuk mi ayam mengepul tipis di udara. Membawa aroma gurih dari bawang goreng dan kecap manis yang langsung menyengat hidung.

Suara klakson kendaraan di jalan raya luar sana terdengar sangat bising. Tapi di sudut warung gerobak sederhana ini, dunia rasanya jadi jauh lebih tenang.

Aira mengaduk-ngaduk mienya menggunakan sepasang sumpit bambu. Matanya menyipit jahil, menatap cowok yang duduk di seberang meja kayu panjang yang permukaannya sudah mulai mengelupas itu.

"Gimana? Enak, kan? Jujur aja deh, pasti ini pertama kalinya lo makan di warung gerobak pinggir jalan kayak gini?" tanya Aira dengan nada menggoda.

Dia tahu betul bagaimana latar belakang cowok di hadapannya ini. Sean adalah anak emas keluarga Wirasena. Sejak kecil pasti sudah terbiasa makan dengan piring porselen mahal dan garpu perak.

Sean tertawa kecil. Sebuah tawar renyah yang rasanya jarang sekali terdengar kalau cowok itu sedang berada di lingkungan kantor yang kaku.

Tanpa ragu, Sean langsung menyendok mi ayamnya, meniupnya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kunyahannya tampak santai, sama sekali tidak ada ganjalan atau rasa jijik di wajahnya.

"Tenang aja, Kak. Nggak ada masalah sama sekali buat gue. Mau makan di resto bintang lima atau di warung tenda kayak gini, yang penting itu rasanya. Dan asli..."

Sean menunjuk mangkuknya dengan ujung sumpit, matanya berbinar puas.

"...ini mi ayamnya enak banget! Bumbunya nendang pas di lidah."

Aira tersenyum renyah. Bahunya yang sempat tegang karena seharian memegang kunci pas di bengkel akhirnya bisa rileks.

Tebakannya keliru. Ternyata adik si Tuan Robot ini sama sekali tidak semanja yang dia kira. Tidak ada drama, tidak ada keluhan soal kebersihan tempat. Hanya ada apresiasi murni terhadap makanan.

"Beneran? Syukurlah kalau lo suka," kata Aira lega.

Sean mengangguk cepat. Tangannya bergerak sibuk menambahkan sedikit sambal ke mangkuknya sampai kuahnya berubah warna menjadi merah menyala.

"Iya, serius. By the way, lo dari dulu emang sering makan di tempat kayak gini, Kak? Maksud gue, sebelum lo masuk jadi bagian keluarga Wirasena?"

Pertanyaan itu sempat menggantung di udara. Gerakan tangan Aira langsung terhenti seketika, sumpitnya melayang di udara.

Mengenang masa lalunya yang sederhana justru menjadi obat penenang di tengah kerumitan status barunya sekarang. Bukan menjadi beban, melainkan sebuah nostalgia yang manis.

"Sering banget, Sean. Gue sangat menikmati kehidupan gue yang dulu. Sederhana, apa adanya, tapi bahagia. Nggak perlu pusing mikirin tata krama meja makan atau pandangan orang lain yang menilai lo dari merk tas yang lo pakai," cerita Aira dengan binar mata yang tulus.

Dia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Sean. Sebuah ide baru tiba-tiba melintas di kepalanya, spontan dan ceria.

"Eh, kapan-kapan temenin gue ke pasar tradisional subuh-subuh yuk, kita berburu kue basah. Biar lo ngerasain sendiri sensasinya makan klepon atau cenil yang masih anget langsung dari tampahnya. Dijamin rasanya beda jauh sama jajanan kotak yang biasa ada di rapat kantor lo!"

Mata Sean langsung berbinar mendengar tawaran itu. Wajahnya tampak sangat antusias, persis seperti anak kecil yang baru saja ditawari mainan baru.

"Wah, boleh banget! Gue nggak sabar banget. Tapi ya gitu, Kak... mungkin nanti kalau jadwal gue lagi ada waktu kosong. Akhir-akhir ini urusan balap sama pertemuan sama sponsor lagi padatnya," ucap Sean agak menyesal sambil menghela napas pendek.

"Santai aja kali, balapan lo jauh lebih penting," balas Aira sambil tertawa lepas, memaklumi kesibukan cowok di depannya. "Gue nggak bakal ke mana-mana kok. Bengkel juga nggak bakal lari."

Sean ikut tertawa. Namun di sela-sela tawanya, tatapan matanya mendadak melembut. Dia menatap Aira dengan pandangan kagum yang teramat dalam.

Cewek ini begitu nyata di matanya. Di tengah badai yang sedang menghantamnya di paviliun timur—Sean tahu apa yang kakaknya lakukan karena diam-diam mendapat laporan dari staf yang simpati—Aira tetap bisa memancarkan energi positif yang menghangatkan siapa saja.

Dia tidak hancur. Dia justru bersinar dengan caranya sendiri.

Mereka pun melanjutkan makan dengan obrolan yang terus mengalir tanpa beban, seolah-olah dunia luar yang penuh intrik tidak pernah ada di sekitar mereka.

Satu minggu pun berlalu dengan cepat. Atau setidaknya, bagi dunia luar.

Bagi Aira, tujuh hari terakhir di paviliun sayap timur adalah ujian ketahanan mental dan fisik yang sesungguhnya. Zona mati. Gelap dan sunyi.

Akses listrik dan air yang diputus secara sistemik oleh perintah Alpha–9 seharusnya bisa membuat siapa pun langsung menyerah. Tapi sayangnya, aturan itu tidak berlaku untuk seorang Aira.

Setiap kali melangkah pulang dari bengkel, Aira hanya menganggap paviliun mewah itu sebagai tempat menumpang tidur. Dia tidak butuh lampu kristal yang menyala terang untuk bisa tidur nyenyak.

Dia juga tidak butuh pendingin ruangan yang sejuk, kipas angin baterai kecil dan jendela yang dibuka lebar sudah lebih dari cukup untuk sirkulasi udara malam. Dan dia sama sekali tidak sudi mengetuk pintu dapur utama mansion untuk meminta belas kasihan para pelayan yang diperintahkan untuk pura-pura buta.

Ketangguhan Aira justru menjadi horor kasatmata bagi para staf rumah tangga. Mereka melihat gadis montir itu tetap keluar masuk paviliun dengan kepala tegak, pakaian yang kasual, dan senyuman tipis yang seolah mengejek semua sistem keamanan digital milik Evan.

Aira bertahan dengan caranya sendiri. Tanpa mengeluh. Tanpa ada tanda-tanda depresi sedikit pun.

***

Di dalam jet pribadi yang mewah dan kedap suara, suasana terasa sangat mencekam. Penerbangan pulang dari London menuju Jakarta seharusnya menjadi momen yang tenang bagi Evan Wirasena. Akuisisi properti global berjalan sukses. Dokumen-dokumen bernilai triliunan sudah ditandatangani. Kemenangan besar.

Namun, tumpukan berkas mahal itu tergeletak begitu saja di atas meja kecil di sampingnya. Sama sekali tidak disentuh.

Evan menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium. Matanya menatap tajam ke arah layar ponsel di genggamannya, mendengarkan laporan berkala dari orang suruhannya melalui sambungan khusus. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi urat di pelipisnya tampak berdenyut halus.

"Tuan Muda, protokol Alpha–9 sudah berjalan selama satu minggu penuh," suara informannya terdengar dari balik pengeras suara ponsel yang tersambung secara privat. Nada suara itu terdengar ragu-ragu dan ketakutan.

Evan tidak menjawab. Dia memilih menunggu kelanjutan laporan itu dengan dingin.

"Tapi... sepertinya target tidak menunjukkan reaksi yang kita harapkan. Nona Aira tidak pernah mencoba menghubungi Anda atau mencari cara untuk memprotes. Beliau tetap pergi ke bengkel setiap pagi dan pulang sore hari dengan kondisi yang sangat stabil. Tidak ada tanda-tanda tertekan atau frustrasi. Malah... staf melaporkan beliau terlihat baik-baik saja."

Krek.

Jemari Evan meremas pinggiran ponselnya hingga kuku-kukunya memutih. Rahangnya mengetat dengan sangat keras, otot-otot wajahnya menegang menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dadanya.

Kegagalan. Kata itu terasa sangat asing bagi hidupnya.

"Tidak tertekan? Kau yakin mereka benar-benar memutus semua aksesnya?!" desis Evan dengan suara rendah yang sangat berbahaya.

"Sudah, Tuan Muda. Listrik, air, dan seluruh layanan staf di paviliun sudah diblokir total. Tapi Nona Aira tampaknya mengandalkan stok logistik mandiri. Beliau sama sekali tidak terlihat goyah," lapor orang suruhannya lagi, suaranya terdengar semakin mengecil.

"Brengsek!"

Evan mematikan sambungan telepon itu dengan sentakan kasar, lalu melempar ponsel tersebut ke atas meja di depannya hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras. Benda itu tergelincir, hampir jatuh ke karpet tebal di bawahnya.

Egonya yang setinggi langit seolah baru saja dihempaskan kembali ke tanah oleh gadis montir itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seorang gadis kelas bawah yang tidak punya apa-apa bisa bertahan di dalam kegelapan dan isolasi total selama seminggu tanpa menangis? Tanpa meminta ampun sedikit pun?

Reaksi yang ditunggu-tunggu oleh Evan adalah melihat air hancur. Memohon. Menuntut keadilan. Atau setidaknya datang berlutut menyerahkan surat cerai karena tidak kuat hidup menderita.

Itu skenarionya. Itu rencana awalnya. Tapi kenyataannya? Aira justru memperlakukan hukuman Alpha–9 miliknya seperti angin lalu. Seperti sebuah gangguan kecil yang sama sekali tidak layak untuk dimasukkan ke dalam pikiran.

Rasa kesal dan frustrasi yang teramat sangat mulai mengacaukan isi kepala Evan. Pria itu memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.

Kegagalan trik pertamanya ini membuat posisinya sebagai CEO selalu berhasil mengendalikan segala hal menjadi cacat. Ada retakan pada otoritasnya. Dan Evan sangat membenci sebuah retakan.

"Kau benar-benar menantang saya, Aira," gumam Evan dengan pandangan mata yang gelap dan sarat akan kebencian. Suaranya terdengar dingin, tapi di dalamnya ada api kemarahan yang mulai membesar dengan cepat.

Jika cara halus dan isolasi sunyi tidak mampu meremukkan mental baja gadis itu, maka dia tidak punya pilihan lain. Evan memutar otak, mencari strategi baru yang jauh lebih ekstrem, lebih menekan, dan akan langsung menghancurkan titik terlemah Aira agar gadis itu segera angkat kaki dari hidupnya untuk selamanya.

Isolasi fisik terbukti gagal? Maka isolasi sosial dan tekanan psikologis di rumah harus ditingkatkan ke tingkat yang jauh lebih parah.

Perjalanan pulang ini mendadak terasa sangat panjang bagi Evan. Langit di luar jendela pesawat berwarna biru, terlihat indah dan tenang, tapi di dalam dada Evan, sebuah badai baru sedang berkumpul.

Ada sebuah kekalahan ego yang harus segera dia tebus dengan pembalasan yang jauh lebih kejam. Dan kali ini, dia tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi Aira untuk bernapas lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!