Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jarak yang Terbentang dan Titik Jenuh Alee

Pagi itu, sinar matahari menerobos celah jendela kamar Alee, namun tak sedikit pun membawa kehangatan ke dalam jiwanya. Cermin di atas meja rias memantulkan bayangan seorang gadis yang jauh berbeda dari Alee yang biasa. Matanya sembab parah, lingkar hitam melingkari kelopak matanya yang membengkak, dan raut ceria yang biasanya menghiasi wajahnya seolah lenyap tanpa bekas.

Meskipun fisiknya lelah dan tenggorokannya masih terasa sakit akibat tangisan histeris semalam, Alee tetap memaksakan diri untuk mengenakan seragam abu-abunya. Ia melangkah keluar rumah dengan tatapan kosong, mengabaikan pertanyaan cemas dari Kak Maya yang menyadari perubahan raut wajah adiknya.

Ada sesuatu yang patah di dalam diri Alee. Pesan penenang dari Rama semalam memang sempat mengusap lukanya, namun omongan Zikri tentang bagaimana keberadaan Alee hanya menjadi beban dan pengganggu fokus hidup Rama hingga berujung bencana telah menancap terlalu dalam. Alee mengambil keputusan pahit: jika kehadirannya hanya membawa sial dan mengacaukan hidup cowok yang dicintainya, maka mundur dan menghilang dari radar Rama adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan cowok itu.

Langkah kaki Alee menyusuri lorong SMA Nusantara Jaya terasa begitu berat. Di dalam kelas 12 MIPA 1, suasana pagi masih agak lengang. Alee melangkah masuk tanpa menyapa siapa pun, berjalan lurus menuju meja paling sudut di barisan belakang tempat duduknya yang bersebelahan langsung dengan Nara.

Nara yang sudah duduk lebih dulu di sudut belakang kelas langsung menengadah saat melihat Alee datang. Raut wajah Nara dipenuhi rasa penyesalan dan kecemasan yang mendalam. Begitu Alee menjatuhkan tasnya di atas meja belakang, Nara memegang lengan sahabatnya itu dengan hati-hati.

"Lee... lu beneran gapapa sekolah?" bisik Nara pelan, menatap iba ke arah mata Alee. "Mata lu bengkak banget, Lee. Kalau lu masih lelah atau pusing, mending gue anterin ke UKS atau lu ijin pulang aja ya?"

Alee hanya menggeleng pelan tanpa menyunggingkan senyum sedikit pun. "Gue gapapa, Nar. Gue mau belajar."

Suaranya datar, dingin, dan tanpa emosi—sebuah perubahan drastis yang membuat Nara merinding. Alee menopang dagunya, melayangkan pandangan kosong ke arah luar jendela kelas, menarik diri sepenuhnya dari keriuhan kelas.

Tak lama kemudian, sosok Rama melangkah masuk melalui pintu depan. Wajah sang Ketua Kelas tak kalah layu; matanya merah, kacamatanya terpasang agak miring, dan pancaran keputusasaan jelas tergambar di sana. Begitu pandangannya menyapu isi ruangan dan menangkap sosok Alee yang duduk di sudut belakang, langkah Rama seketika terhenti di ambang pintu.

Ada binar kepanikan, penyesalan, dan rasa bersalah yang membuncah di mata Rama. Rama menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, bersiap melangkah menyusuri lorong antar-meja menuju ke barisan belakang, ingin memastikan secara langsung kondisi cewek yang semalam menangis histeris gara-gara dirinya.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru menghantam dada Rama dengan rasa sakit yang tak terbayangkan.

Alee sengaja mengalihkan pandangannya makin dalam ke arah luar jendela tepat saat Rama mulai melangkah mendekat. Ketika Rama melintasi barisan meja depan hingga akhirnya tiba di dekat area meja belakang, Alee mendadak berpaling menatap buku paket di mejanya, berpura-pura sibuk membaca. Tidak ada sapaan ceria "Pak Ketua!", tidak ada tatapan mata yang hangat, bahkan tidak ada lambaian tangan singkat. Bagi Alee saat ini, sosok Ramaditya seolah-olah telah berubah menjadi udara hampa yang tak kasat mata.

Rama terpaku di samping meja belakang Alee. Tangannya yang sempat terangkat di udara meluruh lemas di sisi badannya. Suara di tenggorokannya tercekat, tak mampu memanggil nama cewek yang kini benar-benar menutup pintu hatinya rapat-rapt. Dengan langkah gulai, Rama akhirnya berbalik dan berjalan menuju tempat duduknya sendiri di barisan depan.

Sepanjang jam pelajaran berlangsung, perubahan sikap Alee menjadi momok yang menyiksa bagi seluruh isi kelas, terutama Rama. Tempat duduk Alee di sudut belakang yang biasanya menjadi sumber riuh tawa dan kode-kodean becandaan dengan barisan depan kini berubah menjadi zona dingin yang membeku.

Alee benar-benar menjelma menjadi pribadi yang sama sekali baru. Dari kursi belakangnya, ia tak lagi memandang ke arah depan untuk memperhatikan gerak-gerik Rama. Saat Pak Budi meminta tanggapan kelas mengenai kelanjutan tugas kelompok Biologi tentang pertumbuhan tanaman, Alee menjawab dari meja belakangnya dengan suara lugas dan dingin, tanpa sedikit pun mengarahkan matanya pada Rama yang duduk di jajaran meja depan.

Bahkan ketika jam istirahat tiba dan Hanafi menghampiri mejanya di belakang untuk sekadar menanyakan kabar, Alee membalasnya dengan senyum tipis seadanya—lalu kembali menyibukkan diri menatap layar ponsel tanpa niat mengobrol lebih jauh.

Alee benar-benar menutup dirinya rapat-rapat. Dari meja sudut belakang itu, ia tak lagi peduli. Ia tidak lagi mencari keberadaan Rama. Setiap kali Rama berdiri dari kursi depannya dan berjalan berbalik menuju meja belakang untuk mencoba mengajak bicara, Alee akan dengan sigap berdiri, merapikan bukunya, lalu keluar kelas sendirian tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Rama untuk mendekat.

Zikri, yang juga duduk di deretan meja belakang tak jauh dari Nara dan Alee, hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan rasa bersalah yang meremukkan dadanya sendiri. Ia menyadari bahwa teguran dan tuduhan impulsif yang diucapkannya pada Alee semalam telah merusak hubungan dua orang yang saling menyayangi itu hingga ke titik yang paling hancur.

Sore hari tiba, bel pulang sekolah berdentang nyaring bersamaan dengan langit yang mendadak gelap. Awan mendung memuntahkan hujan deras yang membenteng di luar gedung sekolah. Alee langsung mengemas tasnya cepat-cepat dari meja belakang, berniat menjadi orang pertama yang melangkah keluar ruangan.

Namun, tepat saat Alee baru saja berjalan beberapa langkah melewati barisan meja depan menuju pintu keluar, sebuah bayangan tinggi melangkah cepat dan memotong jalannya. Rama berdiri tepat di hadapan Alee, menghadang pintu. Napas cowok itu terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang kacau.

"Alee... tolong," bisik Rama dengan suara yang teramat serak dan bergetar. Kacamata beningnya tak sanggup menyembunyikan kepedihan mendalam di matanya. "Tolong jangan kayak gini... Jangan pura-pura nggak lihat saya..."

Alee menghentikan langkahnya. Ia berdiri mematung di depan Rama. Untuk pertama kalinya seharian ini, Alee mendongak dan menatap lurus ke dalam mata Rama dari jarak dekat. Namun, tidak ada lagi binar cinta atau kehangatan di sana hanya ada dinding tebal yang dingin.

Tanpa mempedulikan tatapan keputusasaan Rama, Alee mengepal tangannya rapat-rapat. "Permisi, Ram. Gue mau pulang," ucap Alee pendek dan datar.

Rama yang makin panik melihat keputusasaan itu mendadak nekat. Saat Alee menerobos lorong sekolah menuju pos satpam tempatnya menunggu angkot, Rama mengikutinya dari belakang. Karena Alee terus mengabaikannya, Rama bahkan sampai menembus derasnya hujan tanpa peduli tubuhnya basah kuyup, berdiri di depan pos satpam untuk menahan langkah Alee.

"Alee, tolong dengar saya dulu!" panggil Rama dari tengah hujan yang mengguyur deras. "Musibah itu terjadi karena kejahatan orang lain dan kelalaian saya sendiri! Kamu bukan pembawa sial, Alee... Kamu tidak pernah jadi beban dalam hidup saya!"

Namun, perkataan Rama tidak sedikit pun meluluhkan tembok pertahanan Alee. Rasa bersalah yang tertanam semalam sudah terlalu parah.

Alee mengepalkan tangannya di dalam saku jaket, menatap Rama yang basah kuyup dengan tatapan frustrasi dan amarah yang meluap.

"Cukup, Rama! Cukup!" bentak Alee, suaranya naik memecah gemuruh suara hujan. "Lu pikir cuma dengan lu hujan-hujanan begini, terus ngomong kalau ini bukan salah gue... rasa guilty-trip di dalam diri gue bakal langsung hilang gitu aja?!"

Rama terpaku di tempatnya, air hujan menetes dari rambut dan wajahnya yang pucat.

"Gue udah capek, Ram," bisik Alee dengan nada yang kini bergetar lelah. "Gue capek ngerasa bersalah tiap kali lihat muka lu. Zikri bener! Lu itu punya masa depan cerah, dan gue cuma bikin fokus lu pecah sampai tabungan lu hilang dibobol orang!"

"Alee, demi Allah itu bukan gara-gara kamu"

"Tapi kenyataannya emang gitu!" sergah Alee tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Rama untuk membela diri. Air matanya menetes, menyatu dengan kelembapan udara sore itu. "Gue nggak mau tiap kali gue tatap mata lu, yang gue ingat cuma kenyataan kalau gue udah ngerusak masa depan lu!"

Alee menarik napas panjang, menatap Rama dengan keputusan bulat yang tak bisa diganggu gugat.

"Mulai hari ini... tolong biarin gue sendiri," ucap Alee pelan namun sangat dingin. "Jangan kejar gue lagi, dan stop pura-pura kalau semuanya bakal baik-baik aja. Hubungan kita... atau apa pun kedekatan bodoh kita selama ini... lebih baik selesai sampai di sini."

Tepat saat angkutan umum menepi di depan pos satpam, Alee langsung melangkah menembus hujan dan naik ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Pintu angkot menggeser tertutup.

Alee benar-benar tidak luluh. Dari dalam angkot yang melaju menjauh, ia membiarkan Rama berdiri mematung sendirian di bawah derasnya hujan dengan hati yang hancur berkeping-keping.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!