⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 15: 'Ular-Ular' Beracun
Keesokan harinya, kabut tipis menyelimuti pelataran Paviliun Barat saat Shen Yue menyelesaikan sesi latihan pernapasan dan pemanasan fisiknya.
Keringat tipis yang membasahi dahi dan lehernya menyegarkan tubuh yang kini terasa jauh lebih tangguh dibanding beberapa hari yang lalu.
Sirkulasi darahnya kian lancar, dan reflek dasar pancainderanya telah kembali menyatu sempurna dengan naluri bertarungnya dari kehidupan modern.
"Nona Muda," panggil sebuah suara pelan yang penuh rasa segan.
Shen Yue menghentikan gerakannya, lalu menoleh. Pelayan wanita berpakaian merah muda, yang bernama Qingzhu, melangkah mendekat sambil menundukkan kepalanya dengan anggun.
Di atas nampan kayu yang dibawanya, tergeletak selembar surat bersampul sutra merah berhiaskan benang emas dan wewangian bunga melati yang cukup pekat.
"Ada apa, Qingzhu?" tanya Shen Yue seraya mengambil kain handuk bersih yang disodorkan pelayan lain untuk menyapu keringat di lehernya.
"Seseorang dari Kediaman Utama baru saja mengantarkan ini, Nona," jawab Qingzhu hati-hati. "Ini surat undangan minum teh dari Nona Shen Mingzhu. Beliau mengabarkan akan berkunjung ke Paviliun Barat siang ini bersama beberapa Nona Muda dari klan bangsawan lainnya untuk menjenguk kesembuhan Anda."
Shen Yue menyipitkan matanya. Ia menyambar surat beraroma pekat itu menggunakan dua jarinya, lalu membukanya dengan santai.
Tulisan tangan di atas kertas beras itu sangat indah dan teratur, namun kata-katanya sarat akan kepalsuan dan nada kekuasaan yang terselubung.
"Shen Mingzhu..."
Memori dari pemilik tubuh asli berkelebat cepat di benak Shen Yue. Shen Mingzhu adalah putri dari adik kandung ayahnya, seorang gadis manis berwajah lugu namun berhati dingin.
Di masa lalu, setiap kali Shen Mingzhu bertandang ke Paviliun Barat, ia selalu berpura-pura menjadi sepupu yang perhatian, padahal tujuannya hanya satu, mempermalukan Shen Yue, merusak barang-barang peninggalan almarhum ibunya, dan menghina kepribadian Shen Yue yang penakut di hadapan gadis-gadis bangsawan lain.
"Pasti ini ulah Jiang Xiuwei," batin Shen Yue sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "Wanita tua itu tau dia tidak bisa mengirim pelayannya lagi untuk menindasku secara fisik, jadi dia menggunakan sepupu 'tersayang'-ku untuk menyerang secara sosial dan mental."
Qingzhu menatap raut wajah Shen Yue dengan cemas. "Nona... jika Anda merasa belum terlalu pulih, hamba bisa menyampaikan pesan bahwa Anda masih butuh beristirahat dan menolak kedatangan Nona Mingzhu."
"Menolak?" Shen Yue tertawa kecil, suara tawa yang jernih namun membuat Qingzhu sedikit merinding. "Kenapa harus ditolak? Jika ular-ular beracun itu sendiri yang mengantarkan kepala mereka ke depan pintuku, membosankan sekali kalau tidak kuajak bermain-main."
Shen Yue melempar surat sutra itu kembali ke atas nampan dengan sedikit emosi.
"Siapkan teh terbaik yang kita miliki dan beberapa kudapan segar," perintah Shen Yue. "Dan ingat, beri tau dua pengawal di luar untuk membiarkan mereka masuk tanpa hambatan. Aku ingin melihat pertunjukan apa yang sudah disiapkan sepupuku yang manis itu."
Kini...
Matahari tepat berada di puncak kepala ketika riak kegaduhan dan tawa melengking terdengar dari arah gerbang taman Paviliun Barat.
Shen Mingzhu berjalan paling depan dengan gaun sutra berlapis warna biru muda bersulam bunga mawar perak. Gayanya sangat anggun, kipas lipat dari bulu angsa menutupi separuh wajahnya yang dipoles riasan mahal.
Di samping dan belakangnya, mengekor tiga Nona Muda dari klan pejabat tinggi ibu kota, diiringi oleh empat orang pelayan pribadi yang mengusung kotak-kotak hadiah.
"Lihatlah tempat ini," bisik salah satu Nona Muda berpakaian hijau pupus dengan nada meremehkan. "Paviliun Barat ini terkesan begitu sepi dan suram. Kudengar Kakak Sulungmu sempat pingsan dua hari penuh karena depresi menolak pernikahan dengan Yang Mulia Putra Mahkota?"
Shen Mingzhu tertawa kecil di balik kipas bulunya, matanya memancarkan rasa puas yang tak tertahan. "Ah, Kakak Yue-er memang selalu memiliki hati yang rapuh dan penakut sejak kecil. Sebagai sepupunya yang baik, sudah kewajibanku untuk datang menghiburnya dan mengajarinya bagaimana sikap yang pantas bagi seorang calon istri di lingkungan istana."
Rombongan gadis bangsawan itu terus melangkah menaiki tangga selasar utama. Namun, begitu mereka sampai di aula luar Paviliun Barat, langkah kaki mereka terhenti seketika.
Di sana, di atas kursi kayu jati berukir yang dilapisi bantal busa empuk, Shen Yue sudah duduk menanti.
Ia tidak lagi mengenakan gaun merah muda pastel yang lemah seperti kebiasaan pemilik tubuh asli. Tapi, Shen Yue mengenakan jubah sutra simpel berwarna putih keperakan dengan aksen merah gelap di bagian kerah dan lengan.
Rambut hitam tebalnya disanggul tinggi secara praktis berhiaskan satu tusuk konde perak tajam, dan membiarkan leher jenjangnya teratas bebas.
Shen Yue duduk tegap dengan menyilangkan satu kakinya secara santai, sementara jemari tangannya memutar-mutar cangkir porselen berisi teh hangat.
Sorot matanya yang sehitam malam mengunci kedatangan rombongan itu dengan keheningan yang mencekam.
Shen Mingzhu tertegun sejenak. Aura keberadaan Shen Yue saat ini benar-benar asing di matanya. Tidak ada bahu yang tertekuk ketakutan, tidak ada mata yang menunduk cemas, dan tidak ada jejak kepanikan sedikit pun.
Menguasai keterkejutannya dengan cepat, Shen Mingzhu menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan dan melangkah maju.
"Kakak Yue-er!" panggil Shen Mingzhu dengan suara sehalus bulu. "Syukurlah! Begitu mendengar kabar dari Bibi Xiuwei bahwa Kakak sudah siuman, adikmu ini begitu mencemaskanmu hingga tidak bisa tidur nyenyak!"
Shen Yue tidak berdiri untuk menyambutnya, tidak pula membalas pelukan atau membalas salam formal. Ia hanya meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kayu dengan dentakan pelan yang menggema di ruangan itu.
Klak.
"Shen Mingzhu," panggil Shen Yue dengan nada datar yang dingin. "Kau membawa begitu banyak tamu ke paviliunku tanpa meminta izin pemilik rumah terlebih dahulu. Di mana tata kramamu sebagai putri dari klan bangsawan?"
Bersambung...