Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 15
Leo menggantung kalimatnya sejenak. Ia mengulurkan tangan secara perlahan. Jemarinya yang kokoh dan bertekstur sedikit kasar bekas tempaan keras latihan militer tingkat tinggi menyentuh lembut sisi wajah Maya, merapikan helai rambut yang terlepas dari sanggul anggunnya. Touch sederhana itu mengirimkan gelombang hangat yang mendadak membuat detak jantung Maya berdesir tak beraturan.
"Kontrak di atas kertas itu mungkin cuma taktik korporasi bagi keluarga Maheswari," sambung Leo dengan suara rendah yang amat mantap. Sorot matanya menembus lurus ke dalam iris kecokelatan Maya. "Tapi janji yang saya ucapkan di hadapan almarhum Kakekmu adalah ikrar seumur hidup. Selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu pun musuh, konsorsium asing, atau bayangan masa lalu yang bisa menyentuh atau melukaimu."
Maya terpaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu untuk membalas. Selama bertahun-tahun, sejak kematian ayah dan kakeknya, Maya terbiasa mengenakan topeng besi sebagai pimpinan tertinggi Maheswari Group. Ia harus terlihat sempurna, tanpa celah, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan di hadapan para serigala korporasi. Namun di depan Leo, topeng itu luruh begitu saja.
Rasa sepi dan beban berat yang selama ini ia pikul sendirian menguap, berganti dengan perasaan aman yang amat pekat. Pria di hadapannya ini bukan sekadar sosok suami di atas kertas atau pengawal sewaan, melainkan benteng tak kasat mata yang siap meratakan apa pun demi melindunginya.
Sebelum Maya sempat merangkai kata untuk membalas ucapan tersebut, ponsel khusus di dalam saku jas Leo bergetar halus dua kali.
Kehangatan di mata Leo menguap dalam sepersekian detik, berganti dengan ketajaman dingin khas seorang komandan intelijen. Ia menarik tangannya pelan, mengeluar ponsel berlayar gelap tanpa kartu SIM, lalu membaca pesan terenkripsi yang masuk.
Maya yang sangat jeli langsung menangkap perubahan aura suaminya. "Ada perkembangan, Leo?"
Leo memasukkan kembali ponselnya ke saku dalam jas, merapikan kerahnya, lalu menatap Maya dengan raut wajah serius.
Hendra memang sudah diamankan oleh kejaksaan, tapi Konsorsium Helios tidak tinggal diam," ujar Leo dingin. "Mereka sadar bahwa jalur sabotase internal lewat Pamanmu sudah terputus total. Berdasarkan laporan intelijen lapangan saya baru saja, mereka mulai mengaktifkan rencana cadangan."
Maya mengepalkan tangannya di samping tubuh, matanya menyempit. "Rencana cadangan apa?"
"Mereka mulai mengincar aset fisik dan laboratorium pengembang ekosistem AI kita di kawasan Industri Cikarang," jawab Leo mendatar. "Jika mereka tidak bisa menguasai saham Maheswari Group dari atas meja rapat, mereka akan mencuri atau merusak server inti kita dari bawah."
Dada Maya berombak menahan gusar. "Laboratorium itu adalah masa depan perusahaan ini. Seluruh paten teknologi yang baru saja diresmikan di RUPS ada di sana."
"Dan itulah kenapa saya ada di sini, Maya," kata Leo seraya mengambil posisi satu langkah di samping kirinya kembali merubah sikapnya menjadi seorang pengawal pribadi yang sempurna dan disiplin. "Pertarungan politik di dalam papan atas gedung ini sudah selesai. Sekarang, kita masuk ke fase perburuan."
Maya menarik napas panjang, menata kembali emosinya, lalu mengangguk mantap. Wajah tenangnya kembali menyuarakan wibawa seorang CEO tertinggi. "Apa langkah kita selanjutnya?"
"Kita harus meninjau fasilitas Cikarang siang ini secara langsung, tapi tanpa pengawalan konvoi resmi," analisis Leo cepat. "Jika kita bergerak dengan protokoler penuh, Helios akan tahu kita menyadari pergerakan mereka. Kita akan datang secara diam-diam. Saya sendiri yang akan mengemudikan kendaraan."