Indonesia
NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Perhatian yang Tak Bisa Dijelaskan

Setelah Pak Darto pergi, Alisha berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka pintu paling ujung. Beberapa pakaian pria tersusun rapi di dalamnya.

Alisha menarik satu kemeja putih dan menempelkannya ke bahu. Kebesaran. Ia buru-buru menggantungnya kembali.

Pintu kedua juga berisi pakaian pria. Namun ketika membuka pintu ketiga, Alisha justru terdiam.

Pakaian wanita. Bukan hanya gaun dan pakaian sehari-hari, tetapi juga pakaian dalam yang masih terbungkus rapi. Ia segera menutupnya kembali.

Pintu keempat pun berisi pakaian wanita. Alisha mengembuskan napas panjang.

“Aku gak mungkin pakai semua ini.” Ia tidak ingin ada banyak pertanyaan dari orang-orang yang mengenalnya jika tiba-tiba ia memakai pakaian pakai bermerek.

Pandangan Alisha kemudian jatuh pada beberapa pakaian tidur yang lebih sederhana.

"Mungkin yang ini masih bisa." Jauh lebih pantas daripada kaus lusuh yang ia bawa dari rumah.

Kemudian matanya beralih ke meja rias. Berbagai produk perawatan kulit tersusun lengkap dalam satu rangkaian. Alisha mengambil salah satunya dan membaca mereknya.

Matanya membesar. Ia pernah melihat produk itu di internet. Satu paketnya saja mungkin tak bisa ia beli dengan gajinya selama sebulan.

“Dia benar-benar nyiapin semuanya?”

Alisha menyentuh pipinya sendiri. Kalau suatu hari Ares menyentuhnya... Ia buru-buru menggeleng.

“Sayang kalo udah dikasih tapi gak dipakai.” Ia mengambil satu botol. “Oke. Aku pakai.”

 

Beberapa menit kemudian, Alisha keluar dari kamar dengan pakaian sederhana yang ia bawa dari rumah.

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Pak Darto menghampirinya.

“Nyonya, sarapan sudah siap.”

Alisha sedikit terkejut. “Terima kasih, Pak.”

Pak Darto mengarahkannya menuju ruang makan. Begitu masuk, beberapa pelayan pria yang sedang berdiri di sana langsung menundukkan kepala.

Alisha mengernyit. "Kenapa mereka kayak gitu?"

Pak Darto menarikkan kursi untuknya. “Silakan, Nyonya.”

Alisha duduk. Ia memandangi beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Wanita itu memilih sendok paling luar, seperti yang pernah ia pelajari, lalu mulai makan.

Saat Pak Darto hendak menuangkan minuman, Alisha menoleh.

“Pak, di rumah ini gak ada pelayan wanita ya?”

“Nggak ada, Nyonya," jawab Pak Darto.

“Kenapa?” Alis Alisha berkerut.

Pak Darto tersenyum tipis. “Sejak dulu Tuan Ares memang tidak mempekerjakan pelayan wanita.”

"Oh." Alisha mengangguk. Rasanya aneh, tapi ia memilih tidak bertanya lebih jauh.

Ia tidak menyadari beberapa pelayan tampak penasaran dengan perempuan yang baru saja menjadi istri majikan mereka.

Begitu langkah Alisha menjauh dari ruang makan, Pak Darto menatap para pelayan yang tadi mencuri pandang. “Tuan Ares sudah memberi peringatan.”

Beberapa pria itu langsung menunduk.

“Jangan menatap Nyonya tanpa alasan. Jangan mengganggunya apalagi bersikap kurang ajar. Kalau ada yang berani melanggar, hari itu juga jadi hari terakhir kalian kerja di sini.”

“Baik, Pak," jawab para pelayan itu hampir bersamaan.

Pak Darto memastikan tidak ada yang membantah sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

***

Begitu tiba di rumah sakit, Alisha langsung menuju ruang rawat Raka. Namun, begitu pintu dibuka, langkahnya terhenti. Ranjang Raka kosong.

"Eh, ke mana dia?"

Alisha melihat ke sekeliling, memastikan dirinya tidak salah masuk ruangan. Tidak ada Raka, tidak ada barang-barang miliknya.

Seorang perawat yang melintas di depan pintu membuat Alisha segera keluar.

“Permisi, Sus," panggil Alisha.

Perawat itu berhenti. "Ya. Ada yang bisa saya bantu, Kak?"

“Itu, Sus. Adik saya Raka yang dirawat di kamar ini ke mana ya?”

“Ohh... Raka. Sudah dipindahkan, Kak," jawab perawat ramah.

Alisha mengerutkan kening. “Dipindahkan?”

“Iya, Kak," perawat itu mengangguk. "Ke ruangan sebelah timur, lantai yang sama. Barang-barangnya juga sudah dibawa ke sana.”

“Kenapa dipindah, Sus?” tanya Alisha.

“Katanya ada penyesuaian ruangan.”

Jawaban itu justru membuat Alisha semakin bingung. "Oh, gitu. Ya udah, makasih, Sus."

"Sama-sama, Kak."

Alisha segera berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti. Beberapa perawat sedang merapikan barang-barang milik Raka. Kardus kecil dan beberapa pakaian yang kemarin pagi masih berada di ruangan lama kini sudah tersusun di dekat lemari.

Alisha mengedarkan pandangan. Ruangan itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Tetap sederhana, dengan satu ranjang pasien, meja kecil, dan peralatan medis yang diperlukan. Hanya saja, dindingnya terlihat baru dicat. Warnanya lebih cerah, membuat ruangan terasa jauh lebih bersih.

Ranjang Raka pun masih sama sederhananya. Hanya ketika Alisha menyentuh kasurnya, ia langsung merasakan perbedaannya. Lebih empuk.

Raka yang sedang duduk di ranjang tersenyum lebar. “Kakak akhirnya datang.”

Alisha mendekat dan mengusap rambut adiknya. “Kamu dipindah kok gak bilang sama Kakak sih? Kakak nyariin tau.”

“Maaf, Kak. Aku juga baru tau.” Raka terkekeh kecil. “Tapi aku suka di sini.”

Alisha belum sempat menjawab ketika pandangannya jatuh pada sebuah sofa sederhana di sudut ruangan.

Ia mendekat, lalu duduk sebentar. Tubuhnya langsung tenggelam di bantalan yang empuk. Selama ini setiap menunggu Raka ia hanya duduk di kursi keras atau menggelar tikar di lantai.

Raka menunjuk sofa itu. “Kenapa ada sofa, Sus?”

Perawat yang sedang merapikan barang menjawab santai, “Itu ditinggalkan pasien sebelumnya, Dek. Katanya biar bisa dipakai keluarga pasien lain.”

“Oh.” Alisha mengangguk pelan.

Alasannya terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Ia menatap sofa itu lagi.

“Kan udah dibilang jangan...” gumamnya lirih nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. Tapi sudut bibirnya terangkat tanpa ia sadari.

"Apa, Kak?" tanya Raka yang mendengar kakaknya bergumam.

"Nggak," sahut Alisha sambil tersenyum tipis. "Sofanya bagus."

“Kalo begitu, kami keluar dulu, ya,” ujar salah seorang perawat setelah semua rapi.

Alisha bergeser sedikit supaya bisa membaca gerak bibirnya.

"Kalau ada yang dibutuhkan, tekan bel di samping ranjang," tambah perawat sambil berjalan ke arah pintu.

Alisha mengangguk. “Terima kasih banyak, Sus."

Setelah para perawat keluar dan pintu tertutup, Raka memerhatikan kakaknya yang masih berdiri di dekat sofa. “Kak.”

Alisha menoleh. “Hm?”

“Kakak kelihatan lebih seger hari ini.” Mata Raka tak beralih dari wajah kakaknya.

Alisha refleks menyentuh pipinya. “Seger?”

“Iya.” Raka tersenyum. “Kemarin kelihatan capek banget. Sekarang wajah Kakak lebih enak dilihat.”

Alisha segera mengalihkan pandangan. “Mungkin karena tadi pagi sempat tidur.”

“Di rumah?”

“Iya," dusta Alisha.

Raka mengangguk puas. “Bagus. Berarti Kakak harus sering-sering tidur di rumah. Nggak perlu nungguin aku terus.”

Alisha merapikan selimut Raka, menghindari tatapannya. Untuk pertama kalinya adiknya menyuruhnya pulang, dan ia tahu persis di mana ia tidur nyenyak semalam.

Alisha tersenyum, lalu menepuk kepala adiknya pelan. “Oke. Bakal, Kakak coba.”

Raka kembali bersandar di ranjang dengan wajah puas.

Tok. Tok. Tok.

Pintu kamar diketuk dari luar.

“Permisi, saya—”

Seorang pria muncul di ambang pintu dengan senyum ramah. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Alisha, senyum itu perlahan menghilang. Kalimatnya terhenti. Ia terdiam.

 

...✨“Hubungan yang dimulai tanpa perasaan pun bisa berubah ketika kepedulian tumbuh diam-diam, lewat hal-hal kecil yang tidak pernah diminta.”✨...

.

To be continued

1
Cicih Sophiana
Res hapus kata kontrak nya... jadikan Alisha hanya milik mu... jaga Alisha kawal terus dia walau dari jauh Res...
Cicih Sophiana
playboy cap kampak mulai beraksi kembali... pertahan kan Alisha Res
Dek Sri
lanjut
Cicih Sophiana
lumayan bagus dan masuk akal alasan Aisha kerja...biar ada bohong nya lumayan🫢 😂
Cicih Sophiana
Alisha seperti nya tdk seperti cewek lain yg mendekati Ares... yg matre, celamitan minta ini minta itu... bukti nya Alisha anteng anteng aja tuh gak macam...
Ass Yfa
rencana Arga berhasil menyakiti Ares
Cicih Sophiana
klo semua orang takut menikah Res dunia sepi dong... gak ada anak untuk penerus manusia... orang jg mungkin malas kerja dan beraktifitas untuk apa?
abimasta
puas yaa kamu arga
Cicih Sophiana
klo udah cemburu berarti udah ada rasa ya Res... jujur aja napa Res gapapa kok klo jujur jg Alisha seperti nya jg suka kamu deh...
Puji Hastuti
kamu selamat alisha
Cicih Sophiana
cie cie ada yg cemburu nih yeh... tp gak berani bilang cemburu... padahal jujur aja gak usah malu mas Ares 🫢
Cicih Sophiana
betul kak Nana bukan tempat yg membuat tenang tp seseorang yg tulus...
Cicih Sophiana
Ares kamu sdh ketergantung aroma tubuh Alisha...klo Alisha pergi meninggalkan kamu gimana coba..
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
kasian yah Alisha masa mata dan kuping nya harus di tutup... itu maksud nya Alisha gak boleh liat Ares takut Alisha jatuh cinta gitu yah 🫢
Fadillah Ahmad
Hoooh, sekarang aku tau kenapa Ares tidak ingin terlalu drkat dengan Alisha atau sampai mencintai Alisha. Karena Ares tau, bahwa itu bisa menjadi kelemahan terbesarnya uang bisa di manfaatkan oleh Pesaing bisnis seperti Arga... 😂😂😂 Karena, tidak di dunia ataus ataupun dunia bawah sekalipun, kelemahan terhadap Wanita itulah yang paling di cari oleh lawan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
Ares nyaman yah memeluk Alisha... sape di lepas aja gak mau
Fadillah Ahmad
Hahaha, itulah bodohnya kau Arga! 😂😂😂 mungkin selama ini, Ares sudah terlalu baik padamu. Membuatmu berada di atas angin. 😁😁😁 Tapi sekarang? Lihatlah langkah yang di ambil Ares? 😂😂😂 Kau sendiri pun lengah kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Itu adalah langkah yang bagus Alisha... 😂😂😂 Maka, untuk selanjutnya berhati-hatilah... 😂😂😂 Karena, sesungguhnya dunia bisnis itu amatlah kejam. Tidak sesederhana seperti yang terlihat di permukaan... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!