Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cklek.
Bayu membuka pintu apartemennya dan langsung disambut oleh suara gemuruh dari keenam keponakannya.
"Om Bayu pulang!" teriak Rara sambil berlari dan melompat memeluk kaki kanan Bayu.
"Om Bayu dari mana saja? Kami bosan sekali bermain di ruangan sempit ini terus," rengek Cika sambil cemberut.
Bayu menggendong Rara ke atas pelukannya dan menatap seluruh keponakannya yang sedang berkumpul di ruang tamu.
Sinta sedang merapikan beberapa kotak mainan baru yang dibeli siang kemarin di atas meja.
"Kalian merasa tempat ini terlalu sempit ya anak-anak?" tanya Bayu sambil tersenyum misterius.
"Sangat sempit Om, kami tidak bisa berlarian dengan bebas," jawab Bella jujur.
Bayu bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian mereka semua.
Plok.
"Kalau begitu, bersiap-siaplah sekarang juga karena Om akan membawa kalian membeli rumah baru yang sangat besar!"
Keenam gadis kecil itu mendadak terdiam kaku mendengar pengumuman mengejutkan dari pamannya tersebut.
Sinta menghentikan tangannya yang sedang memegang kotak mainan dan menatap Bayu dengan mata membelalak.
"O-om Bayu tidak sedang bercanda kan? Beli rumah baru hari ini juga?" tanya Sinta gagap.
"Tentu saja tidak Sinta, Om sudah berjanji kan akan membelikan kalian rumah yang ada kolam renangnya."
"Horeee! Kita mau beli rumah baru yang ada kolam renangnya!" teriak Kania dan Bella kegirangan sambil berpelukan.
"Ayo semuanya masuk ke mobil Alphard putih kita, kita akan berangkat berburu rumah sekarang juga!" perintah Bayu.
Mereka semua segera berlarian keluar dari apartemen menuju area parkir dengan wajah yang sangat gembira.
Bayu mengendarai mobil Toyota Alphard miliknya menuju kawasan perumahan paling elit di Jakarta Selatan, yaitu Pondok Indah.
Kawasan ini terkenal sebagai tempat tinggal para pejabat, pengusaha kaya raya, dan selebriti papan atas Indonesia.
Mobil Alphard putih itu berhenti di depan sebuah galeri pemasaran rumah mewah yang bangunannya menyerupai istana Eropa.
Seorang agen properti wanita berpakaian jas rapi dengan riasan wajah tebal berjalan menghampiri mobil Bayu.
Nama agen itu adalah Siska, wanita yang terkenal sangat memilih-milih calon pembeli berdasarkan penampilan mereka.
Siska memandangi Bayu yang hanya mengenakan kaos oblong hitam dan celana pendek kasual saat turun dari mobil.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu di galeri pemasaran perumahan mewah ini?" tanya Siska dengan nada dingin.
"Selamat sore Mbak, saya ingin mencari satu unit rumah mewah yang siap huni hari ini juga," jawab Bayu santai.
Siska menaikkan sebelah alisnya dan menatap keenam anak kecil yang berhamburan turun dari mobil Alphard Bayu.
"Maaf Pak, rumah-rumah di kawasan ini harganya paling murah mulai dari tiga puluh miliar rupiah."
"Apakah Bapak yakin memiliki anggaran yang cukup untuk membeli rumah di kompleks perumahan elit ini?"
Siska sengaja menekankan kata tiga puluh miliar untuk menakut-nakuti Bayu agar pemuda itu tahu diri dan pergi.
Sinta yang berdiri di dekat Bayu langsung mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan tatapan meremehkan agen tersebut.
"Mbak jangan menghina Om kami ya, Om kami ini sangat kaya raya tahu!" bentak Sinta tidak terima.
Siska hanya tersenyum tipis meremehkan tanpa mau membalas ucapan anak kecil seperti Sinta.
Bayu menenangkan Sinta dengan mengelus bahunya pelan lalu menatap agen properti itu dengan pandangan tajam.
"Tunjukkan padaku rumah paling mahal dan paling luas yang kalian miliki di kawasan ini sekarang juga," perintah Bayu.
Siska mendengus pelan merasa pemuda di depannya ini hanya ingin bergaya dan membuang-buang waktunya saja.
"Baiklah kalau Bapak memaksa, kami punya satu rumah model Mansion Modern yang harganya lima puluh miliar rupiah."
"Rumah itu memiliki luas tanah satu hektar, delapan kamar tidur, dan kolam renang ukuran standar olimpiade."
"Bawa kami ke sana sekarang juga, jika rumahnya cocok aku akan membayarnya secara tunai," tegas Bayu tanpa ragu.
Siska tertegun sejenak melihat raut wajah Bayu yang sangat tenang dan tidak gentar sedikit pun mendengar angka fantastis itu.
Dengan perasaan setengah tidak percaya, Siska akhirnya mengantar Bayu dan rombongannya menuju lokasi rumah mewah tersebut.
Mobil mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam raksasa yang terbuka secara otomatis menggunakan remot.
Di balik gerbang itu berdiri sebuah bangunan megah bergaya modern tiga lantai yang didominasi warna putih dan kaca tebal.
Taman hijau yang sangat luas dengan deretan pohon palem indah mengelilingi halaman depan rumah tersebut.
"Wah! Rumah ini besar sekali seperti istana di dalam dongeng!" seru Luna dengan mata berbinar-binar.
Mereka semua berjalan masuk menyusuri lantai marmer mengkilap menuju area belakang rumah tersebut.
Di sana membentang sebuah kolam renang raksasa dengan air berwarna biru jernih yang sangat menyegarkan mata.
Rara dan Cika langsung melompat-lompat kegirangan di tepi kolam renang itu.
"Om Bayu! Rara mau berenang di sini sekarang juga!" teriak Rara sangat antusias.
Bayu menoleh ke arah Siska yang masih berdiri kaku di sampingnya dengan wajah penuh keraguan.
"Bagaimana Mbak? Apakah rumah ini bisa langsung saya tempati malam ini jika saya membayarnya sekarang?"
Siska menelan ludahnya dengan susah payah lalu mencoba memberikan balasan yang menurutnya akan membuat Bayu menyerah.
"T-tentu bisa Pak, tapi Bapak harus melakukan pembayaran lunas sebesar lima puluh miliar rupiah saat ini juga."
Bayu tersenyum tipis lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan Kartu Blackcard miliknya.
Srek.
Bayu menyerahkan kartu logam berwarna hitam mengkilap itu langsung ke tangan Siska yang gemetar.
"Gesek kartu ini di mesin EDC milikmu sekarang juga, tanpa mencicil dan tanpa banyak bicara lagi."
Mata Siska nyaris melotot keluar dari rongganya saat mengenali fisik Kartu Blackcard tanpa limit tersebut.
Tubuhnya mendadak gemetar hebat dan lututnya terasa sangat lemas hingga dia nyaris terjatuh ke atas lantai marmer.
"B-blackcard?! Y-ya ampun, m-maafkan ketidaksopanan saya tadi Bapak yang terhormat!" teriak Siska dengan suara bergetar panik.
Siska segera berlari terbirit-birit mengambil mesin EDC dari dalam mobilnya dengan wajah yang sangat pucat pasi.
Tit.
Proses pembayaran transaksi sebesar lima puluh miliar rupiah itu berhasil dilakukan hanya dalam hitungan detik saja.
[Ding!]
[Tuan telah berhasil membelikan hunian paling mewah dan nyaman untuk keenam keponakan!]
[Keenam keponakan merasa sangat takjub dan kasih sayang mereka kepada Tuan meroket tajam!]
[Poin Kasih Sayang Keponakan bertambah 25 Poin!]
[Total Poin Kasih Sayang saat ini: 60/100 Poin!]
[Bonus Misi: Hak Kepemilikan Sepenuhnya atas Mansion Mewah Pondok Indah serta Sertifikat Resmi telah diterbitkan!]
Bayu tersenyum sangat puas mendengar notifikasi dari sistem yang berbunyi sangat nyaring di dalam kepalanya.
Siska menyerahkan kunci rumah berupa kartu akses digital kepada Bayu sambil membungkukkan badannya berkali-kali.
"Terima kasih banyak atas pembelian luar biasa ini Bapak Bayu yang terhormat, semua sertifikat akan kami antar besok pagi!"
"Bagus, sekarang kau boleh pergi dari sini karena aku dan keluargaku ingin menikmati rumah baru kami," usir Bayu santai.
Siska segera berjalan mundur dan bergegas pergi meninggalkan area rumah tersebut dengan perasaan sangat malu dan menyesal.
Sinta berjalan mendekati Bayu dan menatap rumah megah di depannya dengan pandangan yang masih sulit dipercaya.
"Om Bayu... kita benar-benar akan tinggal di istana megah ini mulai malam ini?" tanya Sinta dengan suara bergetar haru.
Bayu merangkul bahu keponakan tertuanya itu dan menatap seluruh keponakannya yang sedang berlarian bahagia di tepi kolam renang.
"Tentu saja Sinta, ini adalah rumah baru kita, tempat di mana kalian bisa bermain dan tumbuh dengan sangat bahagia."
"Mulai malam ini, tidak akan ada lagi tempat sempit atau penghinaan dari orang-orang sombong dalam hidup kita."
Keenam anak perempuan itu langsung berlari menghambur dan memeluk tubuh Bayu dengan sangat erat sambil tertawa gembira.
Suara tawa dan jerit bahagia mereka menggema hangat memenuhi seluruh sudut mansion mewah yang baru saja dibeli oleh paman sultan mereka.