Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Empat hari yang penuh ketenangan di Singapura akhirnya berlalu. Sebuah penerbangan kelas bisnis membawaku kembali mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada siang hari yang cerah. Dengan langkah anggun yang tenang dan percaya diri, aku menyusuri terminal kedatangan. Balutan trench coat bernuansa krem melambai halus melengkapi kemeja sutra dan hijab senada yang kukenakan. Di belakangku, dua asisten pribadi yang setia mendorong troli berisi koper-koper mewah dan tas belanja berisi pakaian serta perhiasan edisi terbatas.
Mobil Alphard hitam milik keluarga sudah bersiap di area jemputan VIP. Pak Sugeng, sopir pribadi yang sudah bekerja padaku selama belasan tahun, langsung menyambutku dengan senyuman hormat dan membukakan pintu.
"Selamat datang kembali, Ibu Kirana," sapa Pak Sugeng tulus seraya menerima koper-koperku. "Bagaimana perjalanannya, Bu?"
"Sangat menyenangkan, Pak," jawabku tenang seraya mengulas senyum lembut. "Bagaimana kondisi di rumah selama saya pergi?"
Pak Sugeng mendesah pelan, raut wajahnya mengisyaratkan ketegangan yang tertahan. "Aduh, Bu... Rumah rasanya sepi tapi tegang terus. Pak Gibran kelihatan pusing banget. Kemarin lusa beliau sampai bolak-balik ke rumah Ibu Besar karena Ibu Besar ngamuk-ngamuk nggak mau diurus suster. Terus Non Kayla sama Mas Evan juga dapat mobil dan motor baru dari Bapak..."
Aku terkekeh pelan, menyandarkan tubuhku di atas kursi kulit Alphard yang empuk saat mobil mulai membelah jalan tol menuju kawasan rumah kami. "Baguslah kalau begitu. Biarkan Bapak menikmati masa-masa sibuk nya."
Sekitar satu jam kemudian, Alphard hitam itu perlahan memasuki gerbang besi ukir yang terbuka otomatis. Rumah mewah yang kubangun bersama Gibran dari tanah kosong puluhan tahun lalu kini berdiri megah di bawah naungan sinar matahari sore. Namun, dari luar pun sudah terasa betapa dingin dan hampa atmosfer di dalam bangunan megah ini.
Begitu melangkah masuk melewati pintu kayu jati yang kokoh, keheningan rumah langsung menyambutku. Namun, keheningan itu tak bertahan lama.
Gibran, yang ternyata tidak pergi ke kantor sore ini dan memilih mengurung diri di ruang kerja lantai dasar, langsung keluar begitu mendengar langkah kakiku dan sapaan hangat para asisten rumah tangga.
Pria itu berdiri di ujung koridor. Wajahnya yang biasanya klimis dan angkuh kini tampak agak kusam. Garis-garis halus kekecewaan dan kelelahan tercetak jelas di sekitar mata dan dahinya. Kemeja kerjanya tergulung asal di siku, dan penampilannya benar-benar mencerminkan seorang pria yang sedang memikul beban berat sendirian.
Di tangan kanannya, ia memegang sebuah stopmap cokelat tebal yang amat kukenali berkas berisi surat gugatan cerai yang sempat ia lemparkan ke meja sebelum aku berangkat ke luar negeri.
Ia menatapku dari atas ke bawah. Penampilanku yang fresh, berseri, dan memancarkan keanggunan tanpa cela sangat kontras dengan kondisinya yang berantakan.
"Kirana... Kamu baru pulang?" suara Gibran mengalun serak, melangkah mendekatiku dengan raut wajah penuh tuntutan yang berbalut keputusasaan.
Aku berhenti di tengah ruang tamu utama, membiarkan para ART membawa koper-koper besarku naik ke kamar utama di lantai dua. Aku memandang Gibran dengan raut wajah datar, seolah sedang menatap seorang asing yang kebetulan menumpang di rumahku.
"Seperti yang kau lihat," jawabku singkat, melepaskan kacamata hitamku dan memasukkannya ke dalam tas. "Ada apa?"
Gibran menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan sebelah tangan lalu mengacungkan stopmap cokelat itu tepat di depan dadaku.
"Kau masih tanya ada apa?!" sentak Gibran dengan nada menekan, matanya memerah menahan frustrasi. "Sebelum kau pergi foya-foya ke Singapura, aku sudah menaruh surat gugatan cerai ini di mejamu! Dan kau malah pergi begitu saja tanpa menandatanganinya!"
Aku menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman penuh penghinaan yang teramat halus.
"Lalu? Kenapa aku harus pusing-pusing menandatanganinya saat aku mau berangkat liburan?" tanyaku dingin.
"Kirana! Tolong jangan kekanak-kanakan dan bikin rumit!" tegas Gibran, melangkah maju selangkah mencoba mengintimidasi. "Tanda tangani surat ini sekarang juga! Kita selesaikan semuanya secara baik-baik! Ini semua demi kebaikan anak-anak, Kirana. Demi nama baik keluarga besar kita dan demi nama baik perusahaan! Kita ini sama-sama sibuk, buat apa kita pertahankan pernikahan yang sudah hampa ini? Semakin kau tunda dan bikin alot, semakin kasihan Kayla dan Evan."
Mendengar alasan klasik yang meluncur mulus dari bibirnya alasan sok bijak yang mengatasnamakan anak-anak dan nama baik keluarga padahal demi menutupi nafsu dan ketakutannya sendiri aku terkekeh pelan. Sebuah tawa yang memantul anggun namun menyayat di dinding-dinding tinggi rumah mewah kami.
"Demi anak-anak? Demi nama baik perusahaan?" tanyaku dengan intonasi rendah yang mengayun tenang namun begitu menohok. "Jangan menggunakan anak-anak dan perusahaan sebagai perisai dari kebancianmu sendiri, Gibran."
Gibran membelalak kaget, mukanya memerah padam. "Kirana! Jaga bicaramu!"
Aku menyilangkan tangan di dada, melangkah satu tapak mendekatinya tanpa raut takut sedikit pun. Tatapanku terkunci pada lembaran kertas di dalam map cokelat yang dipegangnya.
"Kau mendesakku menandatangani kertas itu seolah-olah kertas itu bernilai tinggi," bisikku pelan namun tajam. "Tapi kau tahu apa yang paling lucu, Gibran?"
Gibran mengerutkan dahi, menatapku bingung sekaligus waspada. "Maksudmu apa?!"
"Bahkan sebelum aku terbang ke Singapura... aku sudah membaca lembaran itu," ujarku seraya menyunggingkan senyum kemenangan. "Kau begitu terburu-buru, begitu emosi dan panik ingin menceraikanku, sampai-sampai kau sendiri lupa menandatangani surat gugatan yang kau buat itu."
Gibran membeku seketika. Tubuhnya menegak kaku bagai dihantam petir di siang bolong.
"Surat gugatan tanpa tanda tangan dari pihak penggugat hanyalah selembar sampah, Gibran," lanjutku menohok, memiringkan kepala menatap wajahnya yang mendadak pucat pasi. "Kertas itu cacat hukum, tidak bernilai, dan sama sekali tidak punya kekuatan apa pun di mata pengadilan. Kau mau aku menandatangani draft kosong yang bahkan tak kau akui sendiri secara sah? Hukum dasar paling simpel saja kau tidak tahu, tapi kau berani menggertakku?"
Gibran dengan gemetar membuka map cokelat itu dengan tangan bergetar, memeriksa lembar demi lembar bagian bawah surat gugatannya. Dan benar saja kolom tanda tangan atas namanya masih kosong melompong. Pria itu menelan ludah yang terasa sangat pahit di tenggorokannya. Isu hukum sederhana ini sukses melucuti seluruh kesombongan CEO NexTech Group itu dalam hitungan detik.
"Lagi pula," tambahku dengan pendar mata sedingin es di Kutub Utara, "kau yang kebelet ingin berpisah dariku, kau yang terang-terangan membawa wanita simpananmu itu masuk dan menginjak-injak rumah ini... Kenapa sekarang kau yang mengemis-ngemis minta tanda tanganku? Kau mau cerai? Urus sendiri berkasmu dengan benar ke pengadilan. Jangan pernah bermimpi aku akan mempermudah jalanmu untuk memfasilitasi wanita gatal itu."
"Kirana... Aku..." suara Gibran mendadak tercekat, kehilangan seluruh argumen dan wibawanya.
Tiba-tiba, suara pintu depan kembali terbuka. Kayla dan Evan melangkah masuk dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka. Begitu melihat keberadaanku di ruang tamu, wajah muram kedua buah hatiku seketika berbinar cerah.
"Mami!" jerit Kayla kegirangan, berlari kecil menghampiriku dan langsung memeluk tubuhku erat-erat. "Mami sudah pulang! Kangen banget sama Mami!"
Evan ikut berlari dan merangkulkan tangannya di bahuku dari sisi lain, mencium pipiku dengan kasih sayang yang melimpah. "Mami cantiknya makin nambah deh habis dari Singapura. Oleh-oleh buat Evan mana, Mi?"
"Ada di atas semua, Sayang," jawabku lembut, mengusap kepala kedua anakku dengan kehangatan murni yang amat kontras dengan sikap dingin yang kutunjukkan pada Gibran beberapa detik lalu. "Mami bawakan sepatu dan jaket yang kalian mau."
Gibran berdiri terpaku di sudut ruangan, memegang map cokelat yang terasa begitu berat dan tidak berguna. Di mata anak-anaknya, ia melihat tembok tebal yang memisahkannya dari mereka.
"Oh ya, Pih," ucap Evan tiba-tiba memutar tubuhnya memandang Gibran dengan raut wajah dingin dan menuntut. "STNK dan kunci motor sport Evan yang kemarin dijanjikan sales sudah diantar ke rumah belum? Papi bilang sore ini sudah beres kan?"
Gibran menelan ludah yang terasa pahit. Ia memandang putra bungsunya, lalu memandangku yang sedang tersenyum sinis.
"S-sudah... Ada di meja kerja Papi. Nanti Papi ambilkan," sahut Gibran kaku.
"Makasih Pih," balas Evan singkat tanpa ada nada kehangatan, lalu kembali memeluk lenganku. "Mami, ayo ke atas! Kayla sama Evan mau lihat oleh-oleh Mami sekalian cerita-cerita."
"Ayo, Sayang," jawabku mantap.
Aku memutar tubuhku, membiarkan kedua anakku merangkul kedua sisiku saat kami melangkah naik menyusuri anak tangga marmer menuju lantai dua. Aku tidak memutar kepalaku sedikit pun untuk melirik Gibran yang masih berdiri mematung di bawah sana.
Di dalam keremangan ruang tamu lantai dasar, Gibran menyaksikan istri dan anak-anaknya berjalan bersama meninggalkan dirinya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding, merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai marmer yang dingin, meremas kertas gugatan cacat hukum yang ada di tangannya.
Malam itu, di tengah kehampaan rumah mewahnya sendiri, sang CEO akhirnya menyadari kenyataan yang paling mengerikan gertakannya telah gagal total, wibawanya hancur di hadapan keluarga, dan Ratu yang dulu selalu berada di sampingnya kini telah kembali bukan untuk mengalah, melainkan untuk melipatgandakan kehancurannya.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....