Indonesia
NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Arvin memegangi pelipisnya di balik meja kerja, memejamkan mata rapat-rapat. Pernikahannya dengan Nadia bahkan belum genap seminggu, tetapi ia sudah main tangan.

Bukan maksud Arvin membela Jovan. Ia hanya tidak ingin Nadia ikut campur mengurus dua anaknya yang sudah besar, cukup Kenzo saja. Namun, caranya meluapkan emosi jelas salah besar.

Arvin menghela napas berat, lalu menelpon anak tengahnya. "Jovan, ke ruang kerja Papa sekarang."

Tak berapa lama, Jovan melangkah masuk dan berdiri di hadapan meja Arvin.

"Serahkan kunci motor dan kartu ATM kamu," perintah Arvin tegas tanpa basa-basi.

Jovan seketika mendongak dengan mata membelalak. "Maksud Papa apa?! Kunci motor sama ATM aku?!"

"Papa tidak menerima bantahan, Jovan," tekan Arvin dengan suara berat. "Serahkan sekarang."

"Gak bisa gitu dong, Pa!" protes Jovan dengan nada tidak terima.

"Aku salah apa?! Tadi Papa sendiri yang bilang kalau Papa percaya sama aku! Kenapa sekarang malah fasilitas aku yang dicabut?!"

"Papa memang tidak suka Nadia ikut campur urusan kamu," potong Arvin tajam, menatap Jovan lurus-lurus.

"Tapi Papa juga tidak akan pernah membiarkan kamu jadi anak pembangkang yang tega mencelakai adikmu sendiri! Kamu pikir Papa bodoh, Jovan? Papa tahu kamu bohong soal Kenzo!"

Dengan wajah bersungut-sungut, Jovan merogoh saku celananya. Ia membanting kunci motor dan kartu ATM miliknya ke atas meja kerja Arvin.

"Mulai besok kamu tidak boleh keluyuran. Habis sekolah langsung pulang ke rumah. Pak Adam yang akan antar jemput kamu," tegas Arvin dingin.

Jovan langsung menolak keras. "Nggak mau! Aku nggak mau satu mobil sama anak itu!"

Mata Arvin memicing tajam. "Jangan panggil adikmu anak itu. Namanya Kenzo, Jovan. Dia adik kandungmu!"

Arvin menatap anak tengahnya itu tanpa kompromi. "Kalau kamu tidak mau diantar Pak Adam, artinya kamu mau Papa yang antar jemput. Papa bisa luangkan waktu buat mengawasi kamu setiap hari."

Setelah berdiam diri cukup lama di ruang kerjanya, Arvin akhirnya bangkit dan melangkah masuk ke dalam kamar utama. Namun, ia tidak menemukan Nadia di mana pun, bahkan tidak juga di atas sofa tempat biasanya.

Arvin menghela napas, lalu keluar menuju kamar Kenzo. Saat pintu dibuka perlahan, terlihat Nadia tertidur lelap di atas tempat tidur sambil memeluk tubuh kecil Kenzo dengan erat.

Dengan ragu, Arvin mendekat dan menggoyangkan bahu Nadia pelan. "Nadia... bangun. Pindah ke kamar."

Nadia mengerjap pelan, lalu menggeleng tanpa membuka matanya secara penuh. "Nggak mau. Saya tidur di sini."

"Ini perintah, Nadia. Pindah ke kamar kita," tegas Arvin dengan nada yang tak menerima bantahan.

"Atau mau saya gendong?"

Nadia langsung mendudukkan tubuhnya. Ia menatap Arvin lurus-lurus dengan sorot mata dingin yang dipenuhi rasa benci.

Nadia bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar Kenzo tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah Nadia pergi, Arvin memilih melangkah mendekat ke sisi tempat tidur untuk melihat keadaan anak bungsunya. Tadi ia memang belum sempat melihat kondisi Kenzo secara langsung.

Hatinya seketika teriris saat matanya menangkap luka lebam yang memerah di siku dan dahi Kenzo. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Arvin mengulurkan tangan lalu mengusap lembut kepala anak kecil itu.

Namun, sentuhan itu membuat Kenzo meringis pelan. Mata bulatnya perlahan terbuka, sedikit linglung saat mendapati sosok ayahnya berdiri di samping tempat tidur.

"Papa..." bisik Kenzo lirih dengan suara serak, refleks menarik tangannya sedikit menjauh karena takut.

"Sakit? Maafkan Papa, ya..." bisik Arvin.

Kenzo mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca. "Pusing, Pa. Siku Kenzo juga sakit."

"Tapi sudah diobati Bunda, kan? Nanti pasti sembuh," bujuk Arvin seraya mengusap rambut Kenzo dengan sangat hati-hati. "Papa juga sudah marahi Bang Jovan biar nggak jahat lagi sama Kenzo."

Namun, Kenzo justru menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan marahi Bang Jovan, Pa..."

Arvin terdiam sejenak, tersentuh oleh kebaikan hati anak bungsunya. "Iya, Papa nggak marahi."

Kenzo lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sepi. "Bunda mana, Pa? Bunda tadi tidur di sini sama Kenzo."

Arvin menelan ludah, menahan rasa bersalah di dadanya. "Bunda ada di kamar. Bunda capek, Nak. Sekarang Kenzo tidur lagi ya, Papa temani di sini."

Kenzo menggeleng tegas, bibirnya mulai cemberut. "Nggak mau... Kenzo mau tidur sama Bunda."

"Sama Papa dulu ya malam ini? Bunda lagi istirahat," bujuk Arvin pelan.

"Nggak mau, Pa! Mau Bunda!" rengek Kenzo, mata bulatnya mulai berkaca-kaca lagi hendak menangis.

Melihat kondisi Kenzo yang masih lebam dan tidak ingin membuat anak itu makin rewel, Arvin akhirnya mengalah.

"Iya, iya... Kalau begitu, Kenzo tidur di kamar Papa saja, ya? Sama Bunda, sama Papa juga. Mau?" ucap Arvin.

Kenzo mengangguk pelan, menyapu air mata di pipinya. "Mau, Pa... tapi Kenzo digendong."

Arvin tersenyum tipis, merawat anak bungsunya dengan hati-hati. Ia mengangkat tubuh kecil Kenzo ke dalam pelukannya, berhati-hati agar tidak menyenggol bagian tubuhnya yang lebam, lalu membawanya menuju kamar utama.

Saat pintu terdorong pelan, terlihat Nadia sudah berbaring tertidur di atas sofa.

Kenzo mengerutkan keningnya bingung. "Kok Bunda tidurnya di sana, Pa? Nanti badan Bunda sakit..."

"Bunda cuma ketiduran di sana, Nak," jawab Arvin pelan. "Papa suruh Bunda pindah ke ranjang dulu, ya."

Arvin mendudukkan Kenzo di tepi tempat tidur, lalu melangkah mendekati sofa dan menggoyangkan bahu Nadia.

Arvin mendudukkan Kenzo di tepi tempat tidur, lalu melangkah mendekati sofa dan menggoyangkan bahu Nadia.

Nadia terbangun dengan raut wajah terusik dan penuh kejengkelan. "Apalagi sih? Mau nampar saya lagi? Mau marahi saya lagi? Besok saja, saya capek mau istirahat!"

"Tidak," potong Arvin tegas. "Pindah ke ranjang."

Nadia terkehil sinis. "Ngapain? Bukannya di sini tempat tidur saya? Mau bujuk-bujuk saya lagi?"

"Bisa nurut sama saya, Nadia?!" tekan Arvin menahan emosi seraya mengarahkan pandangan ke ranjang. "Kenzo ada di sana. Dia ingin tidur dengan kita."

Nadia mendadak bungkam. Ia mendudukkan tubuhnya dan menoleh ke arah tempat tidur, mendapati Kenzo sedang menatap mereka berdua dengan mata bulatnya yang polos.

"Bunda kok marah-marah sama Papa?" tanya Kenzo.

Arvin menatap Nadia lurus-lurus. "Cepat pindah."

Nadia tak berniat memperpanjang perdebatan di depan anak kecil yang sedang trauma itu. Ia bangkit dari sofa, melangkah ke ranjang, lalu duduk di samping Kenzo dan merengkuh tubuh kecil itu erat-erat.

Nadia mengelus lembut rambut Kenzo, mengabaikan tatapan Arvin yang masih berdiri di samping tempat tidur.

"Bunda nggak marah kok, Sayang. Bunda cuma kaget aja," bisik Nadia lembut pada Kenzo, berusaha mengulas senyum tipis di wajahnya yang masih terasa hangat bekas tamparan.

Kenzo mengangguk pelan, lalu menarik ujung baju Nadia. "Bunda tidur di sebelah Kenzo ya... jangan tidur di sofa lagi."

"Iya, Sayang. Bunda tidur di sini sama Kenzo," jawab Nadia seraya merebahkan dirinya di samping anak itu, memeluknya dari samping.

Arvin menghela napas panjang melihat kehangatan Nadia pada Kenzo, meski wanita itu sama sekali tak mau meliriknya. Arvin kemudian memutari tempat tidur dan ikut berbaring di sisi lain Kenzo.

Kini Kenzo berada tepat di tengah-tengah mereka. Suasana kamar terasa sangat canggung.

"Papa..." panggil Kenzo pelan.

"Iya, sayang?" sahut Arvin menatap bungsunya.

"Puk-puk Kenzo juga..." pinta Kenzo polos, mengulurkan tangan kecilnya ke arah Arvin.

Arvin mengangguk, lalu mengulurkan tangannya mengusap-usap pelan punggung Kenzo. Di saat yang sama, tangan Nadia juga berada di sana. Jemari Arvin tak sengaja menyentuh punggung tangan Nadia, namun Nadia dengan cepat menarik tangannya menjauh seolah tersengat listrik.

Arvin terdiam, menatap punggung Nadia yang kini sengaja membelakanginya, benar-benar menutup pintu komunikasi dengannya.

1
Sartini 02
lanjut kak...😍
Bunda HB
tukang marah, tukang tampar,tukang judi,tukang mabok. mending cerai sblm pya ank nady. ank2 jgn di urusi....😭😭
Ayunda
ngapain bertahan udh prg aja,ajak tuh anak2 kabur nyusul nenek kakeknya biar tau rasa laki g guna cuma emosi di gedein
Sri Supriatin
Anyir si Arvin🤭🤭🤭
merry
pergi nad ngpn cbb sm laki kyk bgtuu ap lg kmu pyn skil,,, yg gk bergantungan pd uang laki,,, di kira y bkin kyk bkin kue bkin kue ajj pkai perasaan,,,
Ayunda
laki egois
Ayunda
nyebelin model laki kek Arvin bisa cuma emosi doang
merry
gilirann mantan mertua aj gk di bentak krn ingtin ke mkn anknya tnp mkrin gmn nadia istri baru mantu ya,,, arvin jg msh biayain x tu Yasmin mending baik klo ngk tekor kmu vin,, tu bgs cari tau mmy nadia sm aj tu dgn Yasmin x, x ya 🤭🤭🤭🤭
Fitri Yah
nah nah ... kirain da ga maran n bentak2 lg , ternyata eh ternyataaa
English Lesson
lanjut kak💪😍
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!