Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:232
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Hari-hari berikutnya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu berjalan dengan ritme yang terasa sedikit berbeda bagi Keira. Buku sketsa bersampul hitam tebal tidak lagi sekadar menjadi tempat pelarian untuk mencoret-coret saat suntuk; benda itu kini menyimpan sebuah kemungkinan baru yang diam-diam mulai bersemi di dalam kepalanya.

Bayangan tentang ucapan Bu Rina tentang ponakannya yang bekerja sebagai freelance desainer dari rumah terus berkelebat setiap kali Keira menatap hasil goresan pensil di atas kertas. Ia tahu betul bahwa impian untuk mandiri tidak harus langsung dimulai dengan langkah ekstrem melamar kerja formal di luar sana yang pasti akan memicu kecurigaan Davin. Ada cara lain yang lebih sunyi dan tidak terlalu membuatnya takut menghadapi reaksi Davin.

Namun, mengawali sesuatu yang baru tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pagi itu, hari Jumat, matahari bersinar hangat menyinari celah-celah ventilasi kamar kos. Davin sudah berangkat kerja sejak pukul delapan lewat setelah meninggalkan pesan singkat dan uang belanja seperti biasa. Keira memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mencoba langkah kecil pertamanya.

Ia membuka halaman baru di buku sketsanya. Kali ini, ia tidak sedang menggambar jendela atau siluet kota. Ia mencoba membuat ilustrasi botol kaca berisi bunga-bunga kecil dengan teknik arsir pensil yang lebih rapi, mirip seperti contoh karya ilustrasi digital yang sempat ia lihat di internet lewat ponselnya beberapa waktu lalu.

Tangannya bergerak telaten, memberikan bayangan tipis pada lekukan kaca botol tersebut. Namun, baru setengah jalan ia mengerjakannya, rasa ragu tiba-tiba mencengkeram dadanya.

Apakah gambarku ini cukup bagus untuk dilihat orang lain? batin Keira gamang, menghentikan goresan pensilnya. Bagaimana kalau jelek? Bagaimana kalau tidak ada yang suka?

Ketidak percayaan diri yang sudah berbulan-bulan berakar akibat dunianya yang menyempit mendadak bangkit menuntut kepastian. Selama berada di bawah bayang-bayang perlindungan Davin, Keira terbiasa merasa bahwa dirinya tidak lagi memiliki kemampuan apa pun yang bernilai di luar perannya sebagai perempuan yang menunggu di kamar kos. Tangannya mendadak terasa kaku. Ia menatap lembaran kertas itu dengan perasaan frustrasi, hampir-hampir ingin menutup kembali buku sketsanya dan melupakan gagasan tentang penghasilan mandiri.

Tidak.

Jangan menyerah dulu, bisik suara kecil di dalam hatinya. Coba dulu.

Dengan menarik napas panjang, Keira membuka ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak di bagian ujung. Ia membuka galeri foto, lalu mengambil gambar sketsa botol bunga tersebut dengan pencahayaan seadanya dari jendela kamar. Setelah itu, ia membuka aplikasi media sosial lamanya sebuah akun yang sudah lama mati suri, tempat ia dulu sering membagikan foto-foto pemandangan atau sketsa saat masih kuliah.

Ia membuat akun baru khusus untuk porto folio karya seni minimalis, menggunakan nama samaran yang tidak mencolok. Dengan jari yang sedikit bergetar, ia mengunggah foto sketsa tersebut disertai keterangan singkat: Latihan arsir pagi ini. #sketch #drawing.

Begitu tombol unggah ditekan, ada sensasi debar aneh yang menghantam rongga dadanya gabungan antara rasa takut yang teramat sangat dan kelegaan yang luar biasa.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Keira baru saja melemparkan sepotong kecil dari dirinya ke dunia luar, melewati batas jendela kamar kos dan dinding-dinding sempit Jalan Melati, tanpa meminta izin siapa pun.

Sore harinya, sekitar pukul lima lewat, rutinitas sore kembali berulang. Suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos, disusul ketukan tiga kali yang familier di pintu kayu.

Jantung Keira sempat berdegup kencang karena refleks terkejut, namun ia segera menutup aplikasi di ponselnya, meletakkan benda itu di atas meja, lalu buru-buru merapikan buku sketsanya ke tempat semula sebelum melangkah membukakan pintu.

Davin berdiri di sana dengan senyuman lebar, membawa sebungkus martabak manis kesukaan mereka.

"Sore, Sayang," sapa Davin riang, langsung masuk dan mencium kening Keira.

"Tadi di jalan sempat macet parah karena ada truk mogok, makanya agak telat ke sini. Kamu udah makan belum?"

"Belum kok, Vin. Baru aja mau siapin air hangat," jawab Keira tenang, menampilkan senyuman paling natural yang ia miliki.

Davin meletakkan tas kerjanya di sudut ruangan, lalu merebahkan diri sejenak di tepi kasur sambil mengeluh soal kemacetan jalanan kota sore itu. Keira mendengarkan dengan penuh perhatian, mengambilkan piring, dan menyiapkan makanan seperti biasa.

Di permukaan, tidak ada yang berubah. Davin tetap lelaki yang penuh perhatian, dan Keira tetap perempuan penurut yang menyambut kepulangannya. Namun, di dalam ponsel yang kemudian ia simpan di saku roknya, kini tersimpan sesuatu yang sama sekali tidak diketahui oleh Davin sebuah langkah kecil yang untuk pertama kalinya terasa benar-benar milik Keira.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketegangan manis yang baru bagi Keira. Unggahan foto sketsa pertama di akun portofolio anonimnya itu tidak langsung meledak atau mendatangkan ribuan pengikut hanya ada dua likes dari akun asing yang tidak dikenal. Namun, angka yang sangat kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dada Keira menghangat setiap kali ia mengingatnya. Ada bukti nyata bahwa di luar sana, di luar dinding kamar kos dan bayang-bayang protektif Davin, karyanya tetap bisa dilihat dan dihargai sebagai bagian dari dirinya yang utuh.

Rutinitas harian mereka masih berjalan dalam pola yang

sama. Davin tetap datang setiap sore atau malam hari, membawakan makanan, mendiskusikan hal-hal sepele seputar kantor, dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Keira pun tetap menjalankan perannya sebagai kekasih yang penurut, mendengarkan setiap cerita Davin tanpa pernah sedikit pun menyinggung tentang akun seni kecil yang ia bangun secara sembunyi-sembunyi.

Namun, di balik senyuman dan anggukan patuh itu, cara pandang Keira terhadap dunianya mulai bergeser secara perlahan.

Suatu sore di pertengahan minggu, ketika Davin sedang izin pulang lebih awal untuk membereskan berkas-berkas kantor di laptopnya di kamar kos, Keira duduk di tepi kasur sambil mengamati gerak-gerik lelaki itu. Davin tampak serius mengetik, sesekali menghela napas panjang karena urusan laporan keuangan dan persiapan penugasan luar kota yang mulai menyita perhatiannya.

"Kamu kelihatan sibuk banget belakangan ini, Vin," komentar Keira pelan, mencoba membuka percakapan yang netral sambil merapikan gelas kosong di meja.

"Soal proyek cabang Bandung itu ya?"

Davin mendongak sejenak dari layar laptopnya, tersenyum tipis meski garis lelah jelas terlihat di wajahnya.

"Iya, Kei. Persiapannya ternyata lebih ribet dari perkiraan. Banyak data lama yang harus dirapikan ulang sama tim keuangan, termasuk si Nadia yang bolak-balik ngecek anggaran."

Mendengar nama itu disebut secara langsung oleh Davin tanpa ada rasa canggung, rasa sesak yang tadinya sempat menghantui Keira saat menemukan memo beberapa waktu lalu kini terasa sedikit melunak. Ia menyadari bahwa bagi Davin, hubungan kerja dengan Nadia murni hanya seputar profesionalitas kantor. Tidak ada rahasia besar yang berniat disembunyikan secara licik; yang ada hanyalah jarak antara dunia luar lelaki itu dan dunia kecil Keira yang selama ini sengaja dibatasi.

Dan untuk pertama kalinya, Keira tidak lagi merasa perlu meratapi jarak tersebut.

Jika Davin memiliki dunianya sendiri di kantor, di dalam proyek-proyek besar, dan di perjalanan dinas ke kota lain, maka sekarang Keira pun mulai membangun dunianya sendiri sebuah dunia kecil di atas kertas sketsa, di balik layar ponsel retak, dan di antara goresan-goresan tinta yang perlahan mengembalikan keberaniannya untuk bernapas.

"Kalau memang repot, jangan terlalu diporsir, Vin," ucap Keira tulus, menyentuh pundak Davin dengan lembut.

"Kesehatan tetap nomor satu."

Davin menoleh, meraih tangan Keira yang ada di pundaknya, lalu mengecup punggung tangan gadis itu penuh kehangatan.

"Makanya aku selalu tenang kalau pulang ke sini, Kei. Cuma sama kamu aku bisa ngerasa bener-bener istirahat."

Mendengar kalimat itu, senyuman Keira terukir di bibirnya. Senyuman itu terasa berbeda dari sebelumnya.

Kali ini, di baliknya ada sesuatu yang hanya diketahui oleh Keira sendiri. Ia membalas genggaman tangan Davin, menikmati rasa aman yang diberikan kekasihnya, sambil menyimpan rapat-rapat rahasia kecil di dalam buku sketsanya.

Malam itu, setelah Davin pamit pulang dan mengunci pintu dari luar, Keira kembali membuka buku sketsa bersampul hitam di bawah temaram lampu meja. Ia mengambil pulpennya, lalu mulai menggoreskan garis-garis baru di atas kertas putih yang bersih

sebuah langkah kecil lanjutan dari kehidupannya yang perlahan-lahan mulai ia temukan kembali di luar dinding-dinding sempit kamar kosnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!