Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Kebahagiaan dari Duka

Pukul lima sore tepat, sebuah taksi berhenti di depan gerbang besi berukir megah. Nayla melangkah keluar dari taksi, membayar ongkos, lalu menyusuri jalan setapak berlantai batu alam menuju pintu utama.

Sepanjang sisa jam kerja di kantor tadi, Nayla sukses memutar otak untuk menghindari pertemuan tatap muka langsung dengan Adrian. Beruntung baginya, sang CEO hanya sibuk dengan Rio dan tidak memanggilnya masuk ke ruang kerja. Mereka bahkan pulang secara terpisah, seperti kebiasaan selama setahun ini, agar tidak memancing desas-desus di kalangan karyawan.

Nayla menghentikan langkahnya sejenak di halaman depan, mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah berlantai dua yang berdiri kokoh itu. Rumah milik Adrian Dewangga ini setahun lalu terasa begitu dingin, kaku, dan sunyi bagaikan museum tanpa kehidupan. Namun kini, rumah itu perlahan berubah menjadi hangat dan lebih berwarna. Di sepanjang teras dan sudut halaman, berderet pot-pot bunga indah, mulai dari mawar mini, anggrek, hingga bunga krisan berwarna cerah yang dirawat dan ditanam sendiri oleh jemari lembut Nayla selama mengisi waktu luangnya sebagai seorang istri.

Dengan helaan napas lega, Nayla mendorong pintu kayu jati yang kokoh dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luas.

Di dinding utama ruang tamu, terpajang sebuah bingkai foto berukuran besar. Nayla menghentikan langkahnya persis di bawah bingkai tersebut, mendongak menatap gambar yang terkurung di balik kaca bening itu. Itu adalah foto pernikahan mereka satu tahun yang lalu.

Di dalam foto itu, Adrian tampak gagah mengenakan setelan jas hitam, namun raut wajahnya terlihat begitu dingin dan berjarak. Di sampingnya, Nayla berdiri kaku dengan kebaya putih, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kecanggungan. Mereka terlihat seperti dua orang asing yang terpaksa dipersatukan oleh takdir.

Nayla menyentuh pipinya sendiri yang mendadak terasa hangat. Pikiran wanita itu merayap mundur pada kejadian beberapa jam lalu di taman kantor. Wajah pria kaku yang ada di dalam foto ini... tadi siang dengan begitu lembut menatap matanya, menggenggam kedua tangannya, dan mengucapkan kata cinta dengan penuh kesungguhan.

"Non Nayla..."

"Ah, astagfirullahaladzim!" pekik Nayla kaget setengah mati, refleks melonjak kaget seraya menepuk dadanya sendiri.

Bi Sumi, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana sejak lama tertawa kecil menutupi mulutnya. Wanita paruh baya itu menggeleng-geleng geli melihat sang nyonya rumah kaget dengan ekspresi polos yang amat lucu, persis seperti orang yang baru saja melihat hantu.

"Aduh, Non... maafin Bibi ya," ujar Bi Sumi penuh tawa hangat. "Iya, Bibi paham kok... Den Adrian itu memang tampan sekali. Tapi bukannya tiap hari Non Nayla bisa lihat bentuk aslinya langsung? Kenapa foto di dinding masih diliatin serius banget begitu, Non?"

Pipi Nayla mendadak membara merah padam. Ia mengontrol diri sekuat tenaga, berusaha memutar otak mencari alasan logis meski rasa malunya sudah menggebu-gebu.

"A-ah, tidak kok, Bi... Ini tadi bingkai fotonya kelihatan agak berdebu, makanya saya perhatikan sambil mau usap sedikit," sahut Nayla terbata-bata, menyapu permukaan bingkai yang sebenarnya sudah kinclong dengan ujung jarinya.

Bi Sumi menyunggingkan senyum penuh arti, mengangguk-angguk paham tanpa berniat makin memojokkan nyonya mudanya. "Iya, Non... Bibi percaya kok. Ngomong-ngomong, Non mau Bibi masakin makan malam apa untuk nanti?"

"Eh, tidak usah, Bi," potong Nayla cepat. "Bibi bisa langsung pulang saja hari ini. Nanti untuk makan malam... biar saya saja yang memasakkan untuk... Mas Adrian."

Nayla memelankan suaranya saat menyebut nama itu, membuat Bi Sumi makin tersenyum lebar. "Baik kalau begitu, Non. Bibi pamit pulang dulu, ya."

Namun, baru saja Bi Sumi melangkahkan kaki melewati ambang pintu depan, sebuah mobil sedan hitam mewah berbelok masuk ke halaman dan berhenti tepat di carport. Adrian telah sampai di rumah.

Nayla yang tadinya berniat bergegas lari ke kamar lantai atas untuk mandi, mendadak menghentikan langkah di anak tangga pertama. Mau tidak mau, meski sudah berhasil menghindari suaminya itu selama berjam-jam di kantor, kini ia harus berhadapan langsung.

Pintu depan terbuka, menyajikan figur tinggi tegap Adrian yang baru saja melangkah masuk. Jas hitamnya sudah dilepas, meninggalkan kemeja biru yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku.

Nayla mendekat perlahan dengan dada berdebar kencang. Ia meraih tangan kanan Adrian, menyalami dan mencium punggung tangan suaminya penuh hormat, sebuah tradisi kecil yang selalu ia lakukan setiap kali pria itu pulang kerja.

"Selamat sore, Mas..." bisik Nayla pelan, lalu menjangkau tas kerja kulit hitam dari tangan Adrian untuk diambil alih. "E-anu... saya ke atas dulu ya, Mas. Mau mandi, habis itu saya siapkan makan malam."

Nayla baru saja hendak membalikkan badan, namun suara berat Adrian menghentikan langkahnya.

"Tidak perlu, Nayla," ujar Adrian lembut.

Nayla menoleh bingung. "Maksudnya... Mas tidak mau makan?"

"Bukan begitu," sahut Adrian dengan sudut bibir yang terangkat membentuk ukiran senyum tipis. "Kamu tidak perlu memasak malam ini. Cukup mandi dan bersiap-siaplah. Kita akan makan malam di luar."

Nayla terpaku sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "B-baik, Mas."

Tanpa membuang waktu lagi, Nayla membawa tas kerja Adrian menuju ruang kerja pria itu di lantai bawah, lalu bergerak secepat kilat menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

...

Suara gemericik air pancuran meluruhkan seluruh rasa lelah yang menumpuk di tubuh Nayla. Usai mengeringkan badan, ia berdiri di depan lemari pakaian besar yang berada di sudut kamar, menatap deretan pakaian yang tergantung rapi.

Jemarinya menyusuri gaun-gaun yang tersimpan di sana. Kebanyakan dari gaun itu adalah pemberian Adrian dan Bu Ratih yang selama setahun ini hanya tersimpan rapi tanpa pernah ia sentuh karena Nayla merasa tidak percaya diri memakai pakaian bermodel mewah.

Ia mengambil sebuah gaun simpel berwarna hitam dengan potongan lengan pendek yang elegan. Nayla mematut diri di depan cermin tinggi. Secara pribadi, Nayla selalu merasa kurang percaya diri dengan bentuk lekuk tubuhnya yang ia anggap terlalu berisi dan lebar. Warna hitam adalah pilihan aman yang membuatnya merasa lebih nyaman dan tidak tampak terlalu besar.

Ia merapikan rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat, sengaja membiarkannya tergerai indah dengan gelombang alami di bagian ujung untuk menyamarkan pipinya yang sedikit chubby. Sedikit polesan lipstik berwarna merah muda di bibirnya membuat wajah ayunya tampak begitu segar dan memikat.

Nayla memegang gagang pintu, berniat melangkah keluar. Namun, mendadak langkahnya terhenti. Ia berbalik lagi menuju cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri.

'Apakah... apakah ini kencan pertama aku dengan Mas Adrian?' batin Nayla berdesir.

Seketika itu juga, perutnya terasa mulas bukan main akibat desakan rasa gugup yang luar biasa dahsyat. Jantungnya berdegup tak beraturan. Nayla tertawa kecil pada dirinya sendiri, merutuki betapa konyol reaksi tubuhnya hanya karena diajak makan malam oleh suaminya sendiri.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan perlahan di pintu kamar membuat Nayla tersentak. Suara Adrian terdengar dari luar. "Nayla? Kamu sudah siap?"

Nayla menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degupan dadanya. "I-iya, sebentar, Mas!"

Ia berjalan membuka pintu. Begitu daun pintu terdorong terbuka, figur Adrian yang berdiri tegak dalam balutan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap langsung menyambut pandangannya.

Pria itu terdiam. Pandangan mata tajam Adrian mengunci sosok Nayla dari ujung kepala hingga ujung kaki. Iris matanya melebar tipis, dan untuk beberapa detik yang intens, Adrian bahkan lupa bagaimana caranya berkedip.

"Mas...?" panggil Nayla canggung, meremas jemarinya sendiri karena malu ditatap sejelas itu. "Apa... apa penampilanku terlihat aneh?"

Adrian tersadar dari keterpesonaannya. Pria itu menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyuman paling tulus yang pernah Nayla lihat.

"Tidak, Nayla..." suara Adrian terdengar begitu dalam dan serak. "Kamu... cantik sekali. Sangat cantik."

Blush!

Wajah Nayla merona hebat hingga ke balik helai rambutnya. Belum sempat ia membalas pujian itu, Adrian sudah lebih dulu mengulurkan telapak tangannya di udara. Nayla menyambut uluran tangan itu, menyatukan jemarinya di dalam cengkeraman hangat sang suami. Mereka berjalan berdampingan menuju lantai bawah.

Malam ini, Adrian memilih untuk menyetir mobilnya sendiri tanpa menyertakan supir pribadi. Pria itu ingin menikmati setiap detik momen berdua tanpa ada gangguan dari pihak ketiga.

.

.

Perjalanan menembus gemerlap lampu kota malam itu berujung di sebuah gedung pencakar langit berarsitektur modern di pusat kota. Adrian menuntun Nayla memasuki lift khusus yang membawanya langsung menuju lantai paling atas.

Ketika pintu lift berdenting terbuka, napas Nayla seketika tertahan di tenggorokan.

Adrian membawanya ke sebuah rooftop terbuka yang telah disewa secara privat. Area tersebut disulap menjadi tempat yang luar biasa indah dan romantis. Rangkaian lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat melingkupi selasar, memancarkan pendar keemasan yang menawan. Di tengah area, terdapat sebuah meja makan bulat yang dihiasi lilin-lilin aromaterapi dan kelopak bunga.

Namun, yang paling menyita perhatian Nayla adalah sebuah buket bunga raksasa yang diletakkan di atas kursi samping meja, berisi puluhan tangkai mawar merah segar yang keindahannya tak terpatahkan.

"Mas... ini..." suara Nayla bergetar hebat, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling tempat yang tampak bagaikan mimpi ini.

Adrian melangkah mendekat dari belakang, memegang lembut kedua bahu Nayla. "Ini semua khusus untukmu, Nayla. Hadiah kecil atas rasa bersalahku karena sudah mengabaikanmu selama setahun ini."

Setitik air mata lolos menetes membasahi pipi mulus Nayla. Rasanya dada wanita itu begitu sesak oleh luapan emosi yang bertabrakan. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ada seorang pria yang mau berusaha sejauh ini hanya untuk membahagiakannya dan memperlakukannya bak seorang ratu.

Namun, di balik kehangatan dan rasa berbunga-bunga yang mekar di dadanya, ada satu sudut kecil di dalam hati Nayla yang mendadak terasa teriris perih.

Nayla menundukkan kepalanya, menatap buket mawar merah yang indah itu melalui pandangan mata yang kabur oleh air mata.

Ayah... batin Nayla menjerit pilu.

Setitik kenyataan pahit menusuk dadanya dengan telak. Semua perlakuan indah, kehangatan, dan cinta yang ia dapatkan dari Adrian malam ini... pada dasarnya berawal dari sebuah tragedi kelam. Ia mendapatkan semua kebahagiaan dan posisi ini dengan bayaran yang sangat mahal, yakni kehilangan sosok ayah tercintanya untuk selama-lamanya.

Adrian yang menyadari bahu istrinya bergetar pelan, seketika panik. Pria itu memutar tubuh Nayla agar menghadapnya, menyapu air mata yang menetes di pipi wanita itu dengan jempol hangatnya.

"Nayla? Ada apa? Kenapa menangis?" tanya Adrian cemas, menatap dalam mata Nayla yang berkaca-kaca. "Apakah ada yang salah dari tempat ini?"

Nayla mendongak, menatap wajah tampan suaminya yang dipenuhi rasa khawatir. Ia ingin memeluk Adrian dan menumpahkan seluruh rasa cinta sekaligus duka yang menyelimuti jiwanya, namun tenggorokannya mendadak terasa begitu kelu.

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!