Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Cincin untuk Orang Lain
...#...
...Langkah di tangga itu berhenti di anak tangga kedelapan. Bima menoleh tanpa sadar. Dari balik pegangan tangga yang diukir, muncul seorang perempuan muda dengan cardigan kebesaran menutupi piama bergaris. Rambutnya belum disisir, diikat seadanya dengan karet yang sudah kendor. Ia menuruni sisa tangga sambil memegang pegangan dengan satu tangan, dan matanya tidak pernah lepas dari Bima....
..."Jadi ini," katanya....
..."Ilaria," kata Carla pelan. "Kembali ke kamarmu."...
..."Aku udah dengar bel dari jam sepuluh, Nek. Mana mungkin aku tidur." Ilaria berhenti di bawah tangga dan melipat tangan di dada. Ia tidak melihat neneknya. Ia melihat lengan Bima yang berbalut perban, lalu noda di sikunya, lalu sepatunya yang masih kotor. "Ini yang bikin Mbak Alessia pulang telat seminggu?"...
...Perempuan di sofa kiri tidak menoleh. "Naik, Ilaria."...
..."Aku cuma mau lihat."...
..."Sudah lihat. Naik."...
...Ilaria mendengus, tapi tidak langsung bergerak. Ia menyipitkan mata ke arah Bima, seperti sedang membaca tulisan kecil di label barang. "Kamu yang jualan sate di pasar Kenanga?"...
..."Iya," jawab Bima, lebih pendek dari yang ia mau....
..."Sate ayamnya enak nggak?"...
..."Itu bukan urusan kamu."...
..."Wah." Ilaria tersenyum miring. "Galak juga."...
...Carla meletakkan telapak tangannya di atas meja, tanpa suara. Hanya itu. Ilaria langsung menghela napas dan berjalan ke arah tangga lagi, tapi di anak tangga pertama ia berhenti dan menoleh ke arah pintu depan yang masih terbuka sedikit....
..."Om Gio tadi nggak masuk lewat gerbang depan," katanya. "Aku lihat dari jendela kamar. Dia pakai mobil abu-abu, lewat jalan samping kebun. Mobilnya parkir di tempat yang biasanya buat tukang kebun."...
...Ruangan itu mendadak sunyi. Jam dinding masih berdetak, dan Bima menghitung tanpa sadar: satu, dua, tiga....
..."Sudah?" tanya Carla....
..."Sudah apa?"...
..."Kamu sudah selesai melapor?"...
...Ilaria mengangkat bahu. "Aku nggak lapor. Aku cuma bilang." Ia naik tiga anak tangga, lalu berhenti lagi. "Mbak, Om Gio itu kenapa sih selalu minum kopi di pelabuhan?"...
..."Ilaria."...
..."Iya, iya."...
...Suara langkahnya menjauh di lantai atas, lalu pintu kamar tertutup, tidak keras, tapi cukup untuk membuat Bima melirik ke arah tangga lebih lama dari yang ia perlukan....
... ...
...Carla mengambil cangkir tehnya lagi. Ia tidak meminumnya. Ia hanya memutar cangkir itu di atas taplak, satu putaran kecil, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu mendingin....
..."Adik tirimu," katanya kepada perempuan di sofa kiri. "Dia masih suka mengintip jendela."...
..."Dia belajar dari siapa?"...
...Carla tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menoleh ke Bima. "Halaman tiga belas. Kamu sudah membacanya?"...
...Bima tidak langsung bicara. Ia melihat perempuan di sofa kiri, dan perempuan itu juga sedang menatapnya. Tidak ada peringatan di matanya. Tidak ada juga izin....
..."Sudah," kata Bima....
..."Apa yang kamu ingat?"...
..."Gudang Empat. Tiga kontainer. Lepas jam dua." Bima menelan ludah. "Ada jangkar terbalik. Ada huruf G yang dicoret."...
..."Hanya itu?"...
..."Ada juga tanggal empat belas Maret."...
...Carla mengangguk pelan. "Dan kamu tidak bertanya kenapa tanggal itu sama dengan tanggal di kartu hitam yang kamu simpan di saku."...
...Bima merasakan telapak tangan kirinya berdenyut, lalu ia baru sadar tangannya sedang mencengkeram lutut. "Saya nggak tahu harus tanya ke siapa."...
..."Kamu bisa tanya ke dia." Carla menunjuk perempuan di sebelah Bima dengan dagunya. "Tapi dia tidak akan menjawab dengan jujur. Dia tidak pernah jujur kepada siapa pun, termasuk dirinya sendiri."...
..."Nek."...
..."Aku bicara fakta."...
...Perempuan itu akhirnya menoleh ke Bima. Wajahnya tenang, tapi Bima melihat rahangnya bergerak sekali, seperti orang yang menelan kalimat yang sudah di ujung lidah....
..."Aku tidak tahu kenapa tanggalnya sama," katanya. "Itu kenyataannya."...
..."Mbak tadi bilang tahu sebagian."...
..."Aku tahu sebagian."...
..."Sebagian yang mana?"...
...Perempuan itu diam. Ia menatap cangkir teh Bima yang sudah berhenti mengepul, lalu menatap cincin perak yang masih tergeletak di meja....
...Bima ikut menatap cincin itu. Ada huruf A di bagian dalamnya, nyaris habis. Ia teringat tulisan di pinggir resep sambal, miring, naik sedikit ke kanan. Ia tidak tahu apakah huruf A itu punya arti, atau hanya sisa dari tangan yang sudah terlalu sering mengukir benda sederhana....
... ...
..."Ambil," kata Carla....
...Bima mengerutkan dahi. "Apa?"...
..."Cincin itu."...
..."Saya nggak mau."...
..."Aku tidak tanya kamu mau atau tidak." Carla mendorong cincin itu dengan ujung jarinya, perlahan, sampai berhenti di tepi meja, tepat di depan lutut Bima. "Itu punya seseorang yang seharusnya menerima kertas dari pelabuhan itu. Dia tidak bisa lagi memakainya. Jadi kamu yang bawa."...
..."Saya bukan kurir."...
...Carla tersenyum tipis, dan kali ini senyumnya tampak lebih tua dari wajahnya. "Ayahmu juga bilang begitu, dulu."...
..."Terus dia jadi apa?"...
..."Kurir."...
...Bima menatap cincin itu. Ia ingin bilang tidak sekali lagi, tapi tangannya sudah bergerak. Jari telunjuknya menyentuh bagian dalam cincin, yang dingin dan sedikit kasar, lalu ia menariknya lagi seperti tersengat....
..."Nek," kata perempuan di sofa kiri, lebih keras dari sebelumnya. "Jangan taruh benda itu di tangan orang yang belum tahu harganya."...
..."Dia sudah membayar harga itu sejak tanggal empat belas," kata Carla....
..."Dia belum tahu."...
..."Dia tahu lebih banyak dari yang kamu kira."...
...Bima menoleh dari satu ke yang lain. Ia merasa seperti sedang menonton dua orang bermain catur dengan papan yang ia tidak pernah lihat. "Kalian ngomongin saya kayak saya nggak ada di sini."...
..."Kamu ada," kata Carla. "Justru itu masalahnya."...
... ...
...Dari arah luar, terdengar suara mobil berhenti di kerikil. Bukan mobil yang tadi mengantar mereka. Mesinnya lebih berat....
...Perempuan itu langsung berdiri. Ia tidak tergesa. Ia hanya bergerak lurus ke arah jendela, menyibak tirai sedikit dengan dua jari, dan melihat ke halaman yang gelap....
...Bima ikut berdiri, lututnya nyaris menabrak meja. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan tangannya, jadi ia menempelkannya ke sisi celana....
..."Siapa?" tanya Bima....
..."Bukan Hendar," jawab perempuan itu tanpa menoleh....
..."Terus?"...
...Ia tidak menjawab. Di belakang mereka, perempuan berseragam hitam yang tadi membukakan pintu muncul di ambang ruang tamu, tanpa suara sama sekali. Ia membawa ponsel di tangan, layarnya menyala....
..."Pak Rico sudah di gerbang," katanya kepada Carla. "Ada dua mobil di belakang."...
..."Berapa lama?"...
..."Sepuluh menit. Mungkin kurang."...
...Carla menghela napas, dan itu pertama kalinya Bima melihat wanita tua itu benar-benar kelihatan lelah. Ia menoleh ke jam dinding, lalu ke cincin di meja, lalu ke Bima....
..."Kalau kamu pergi sekarang, kamu tidak akan bertemu mereka," katanya. "Lewat pintu samping, di belakang dapur. Ada gudang sayur yang pintunya tidak dikunci."...
..."Kenapa Nenek bantu saya?"...
..."Karena aku tidak mau melihat kamu mati di rumah ini."...
..."Berarti Nenek tahu siapa yang datang."...
...Carla menatapnya. Lama. Lalu ia berkata, sangat pelan, "Aku tahu siapa yang selalu datang kalau ada yang menyebut nama Ardhana."...
...Bima tidak sempat bertanya lagi. Perempuan berseragam hitam sudah menggerakkan tangannya ke arah ruang belakang. Perempuan itu, Alessia, mengambil tas kecilnya dari sofa, lalu berbalik dan menatap Bima dengan cara yang sama seperti di warung malam itu. Tatapan menghitung....
..."Ambil cincinnya," katanya....
..."Saya bilang nggak mau."...
..."Kalau kamu tinggal, Ilaria yang akan mengambilnya. Dan dia tidak akan bilang apa-apa ke siapa pun. Dia akan memakainya."...
...Bima menoleh ke tangga. Dari lantai atas, terdengar langkah pelan yang berhenti tepat di tempat tadi Ilaria mengintip. Entah sejak kapan adik tiri itu sudah berdiri di sana, memperhatikan semuanya....
...Bima mengambil cincin itu. Ia memasukkannya ke saku jaket, di sebelah kartu hitam yang tadi sudah dingin....
... ...
...Mereka berjalan melewati dapur yang luas, dengan lantai keramik kuning dan meja panjang dari kayu jati. Di atas kompor ada panci kecil yang masih hangat. Aroma jahe menguar pelan, dan Bima tiba-tiba sadar ia belum makan apa-apa sejak pagi. Perutnya berbunyi, pelan tapi jelas....
...Perempuan itu berhenti di depan pintu gudang sayur. Ia menoleh....
..."Kamu lapar?" tanyanya....
..."Nggak."...
..."Perutmu bunyi."...
..."Mbak juga sering bohong ya?"...
...Ada sesuatu yang hampir menjadi senyum di sudut mulut perempuan itu, lalu hilang. Ia membuka pintu gudang. Bau tanah kering dan bawang menyeruak keluar....
..."Di belakang ada jalan setapak," katanya. "Ikuti sampai ketemu pagar. Rico akan menunggumu di luar."...
..."Mbak nggak ikut?"...
..."Aku harus tinggal."...
..."Kenapa?"...
..."Karena yang datang sekarang akan lebih lama bicara kalau aku ada di sini." Ia mengambil sesuatu dari saku mantelnya, lalu menyodorkan benda kecil berwarna hitam. Ponsel tua, layarnya retak di sudut. "Kalau ada pesan, baca tanpa membalas. Jangan telepon siapa pun."...
..."Ini punya siapa?"...
..."Punya orang yang sudah lama tidak perlu ponsel."...
...Bima menerimanya. Berat, dingin, dan kaku di tangannya. Ia ingin bertanya lagi, tapi perempuan itu sudah memalingkan muka....
..."Bima," katanya tanpa menoleh. "Lukamu harus dijahit. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya dengan tangan kotor."...
..."Mbak perhatian banget sekarang."...
..."Aku cuma tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang masih mau duduk di warung dengan tangan bersih."...
...Bima terdiam. Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau tersinggung, dan ia tidak punya waktu untuk memilih....
...Ia melangkah keluar. Udara malam menyambutnya, dingin dan basah. Di balik punggungnya, pintu gudang tertutup pelan....
... ...
...Jalan setapak itu gelap dan berlumut. Bima berjalan sambil memegang lengan kirinya, dan setiap langkah membuat perban menempel lebih dalam ke luka. Di ujung jalan ada pagar kawat setinggi bahu, dan di baliknya Rico sudah berdiri dengan senter kecil di tangan, tidak menyalakannya....
..."Lewat sini," kata Rico....
...Bima menyelinap melewati celah pagar. Rico menariknya dengan satu tangan, kasar tapi tidak menyakiti....
..."Mbak Alessia nyuruh kamu ke mana?"...
..."Ke pelabuhan."...
..."Bagus." Rico menoleh ke belakang, ke arah rumah putih yang sekarang hanya terlihat sebagai bayangan dan satu jendela menyala. "Dia nggak pernah nyuruh orang ke tempat yang nggak dia pikirkan dulu."...
...Mereka berjalan cepat melewati kebun, dan di sana Bima melihat dua mobil hitam berhenti di depan gerbang rumah. Lampu sorotnya menyapu pilar putih, lalu padam....
...Seseorang turun dari mobil pertama. Dari jarak itu Bima tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia melihat cara orang itu melangkah. Pelan. Tenang. Seperti orang yang tahu jalan ke dalam rumah ini sejak bertahun-tahun lalu....
...Ponsel tua di saku Bima bergetar....
...Ia menariknya keluar dengan tangan kanan. Layarnya menyala dengan satu pesan. Tidak ada nomor, hanya huruf....
...*Cincin itu sudah kamu bawa. Sekarang tanya ke Nenek di mana ayahmu menandatangani kertas terakhir.*...
...Bima menatap layar itu. Di belakangnya, dari arah rumah, terdengar pintu depan dibuka dengan bunyi berat, lalu suara langkah sepatu kulit di atas marmer....
...Dan dari jendela lantai dua, Ilaria membuka tirai sedikit, menatap ke halaman, dan mengangkat tangannya ke arah Bima dengan jari yang memakai cincin perak tipis....