Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: tamat
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Malam itu, udara kota terasa cukup dingin setelah hujan sempat turun sebentar.

Di sebuah warung sederhana dekat SMA mereka dulu, lampu-lampu kuning kecil masih menyala hangat menerangi tempat yang sudah berdiri bertahun-tahun itu.

Warung Kang Mamang. Tempat tongkrongan favorit Saga, Revano, dan Sahira semasa sekolah. Meski waktu sudah larut, warung itu tetap ramai seperti biasa. Beberapa mahasiswa dan pengemudi ojek masih duduk menikmati kopi dan mie rebus hangat.

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari sana. Saga turun perlahan dengan wajah datar. Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke area warung,

“Lho! Saga?!” Suara penuh keterkejutan langsung terdengar.

Seorang pria paruh baya bertubuh tambun keluar dari balik meja kasir dengan wajah sumringah.

Kang Mamang, pemilik warung yang dulu sering menggratiskan gorengan untuk mereka bertiga.

Saga tersenyum tipis sopan.

“Kang…”

“Astaga…” Kang Mamang langsung menepuk bahu Saga beberapa kali. “Kapan balik ke Indonesia?”

“Belum lama.”

“Kamu makin ganteng aja sekarang.” Kang Mamang tertawa lebar. Dari dalam dapur kecil, istrinya ikut keluar sambil membawa piring.

“Siapa, Kang?”

Begitu melihat Saga, wanita itu langsung tersenyum lebar.

“Eh, Saga!”

Saga mengangguk hormat kecil.

“Tante.”

“Ya ampun…” wanita itu tampak senang sekali. “Udah jadi dokter sekarang, ya?”

Saga tersenyum samar.

“Iya.”

Kang Mamang langsung menarik kursi untuknya.

“Duduk dulu! Biasanya kamu kalau ke sini sama Sahira.”

Nama itu lagi, tatapan Saga perlahan berubah sedikit redup tetapi ia tetap duduk tenang.

Kang Mamang yang tidak sadar perubahan ekspresinya langsung bertanya santai,

“Ngomong-ngomong, Sahira mana?”

Saga menunduk pelan sebelum akhirnya menjawab datar,

“Dia udah menikah sama orang lain.”

Suasana mendadak sedikit berubah.

“Oh…” Kang Mamang langsung terlihat canggung. “Begitu…”

Istri Kang Mamang menghela napas pelan sambil duduk di dekat meja kasir.

“Sayang sekali,” gumamnya tulus. “Padahal dulu saya yakin kalian nggak bakal pisah.”

Kang Mamang ikut mengangguk setuju.

“Iya, dulu kalian lengket terus.”

“Namanya juga nggak berjodoh,” sela istri Kang Mamang pelan.

Kalimat sederhana itu justru terasa seperti sesuatu yang menekan dada Saga lebih dalam. Ia benar-benar percaya Sahira adalah akhir dari hidupnya. Bahkan, sampai sekarang pun tidak ada satu hari di mana ia benar-benar bisa melupakan wanita itu.

Saga menunduk sambil memainkan gelas kopi di depannya perlahan.

Sebuah mobil lain berhenti di depan warung. Tak lama setelah itu, sebuah mobil abu gelap berhenti di depan warung.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria tinggi turun dengan langkah tenang.

Kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku dipadukan dengan celana bahan gelap membuat penampilannya terlihat rapi dan dewasa, Revano.

Wajahnya masih sama seperti dulu, tampan, tenang, dan berwibawa. Bahkan, kini auranya terlihat jauh lebih matang dibanding masa SMA mereka.

Begitu melihat pria itu masuk ke area warung, Kang Mamang langsung tersenyum lebar.

“Eh, Revano!”

Revano mengangguk kecil sopan.

“Malam, Mang.”

“Wah, lengkap sekarang.” Kang Mamang tertawa kecil. “Saga juga datang.”

Berbeda dengan biasanya Revano hanya diam sesaat. Tatapannya samar berubah sebelum akhirnya menjawab singkat,

“Oh.” Tidak ada senyum santai seperti dulu, tidak ada sapaan antusias. Hanya ketenangan aneh yang terasa canggung.

Kang Mamang yang tidak menyadari itu langsung bertanya seperti biasa,

“Mau pesen apa? Mie rebus telur dobel lagi?”

Revano mengangguk kecil.

“Seperti biasa.”

“Siap.”

Setelah memesan, Revano melangkah masuk lebih dalam ke area warung.

Matanya langsung menemukan Saga yang duduk di meja pojok dekat jendela. Meja yang dulu hampir selalu mereka tempati bertiga bersama Sahira.

Langkah Revano perlahan mendekat. Sementara Saga yang sejak tadi diam memainkan gelas kopinya akhirnya mengangkat kepala.

Tatapan kedua pria itu bertemu. Revano berdiri beberapa langkah dari meja Saga.

Pria itu sempat berpikir semuanya mungkin tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Bagaimanapun juga mereka pernah sedekat seperti saudara sendiri.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar, dan jauh di dalam hati Revano masih ada harapan kecil bahwa Saga setidaknya akan menyapanya dengan baik malam ini, mungkin juga memeluknya atau sekadar tersenyum tipis seperti dulu.

Namun, siapa sangka sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat tepat di wajah Revano.

“Akh!”

Tubuh pria itu langsung terhuyung lalu jatuh tersungkur ke lantai warung.

Suasana mendadak gempar. Beberapa pelanggan langsung menoleh kaget. Kang Mamang bahkan sampai buru-buru keluar dari balik kasir.

“Eh eh eh! Saga!”

Saga berdiri tegak dengan napas kasar. Tatapannya gelap penuh emosi yang selama ini ia tahan. Lalu pria itu menoleh sekilas pada Kang Mamang sambil berkata santai,

“Sorry, Kang.” Ia menyeringai tipis hambar.

“Salam persahabatan.” Beberapa detik kemudian, suara Saga berubah jauh lebih pelan. Hampir seperti bisikan penuh kebencian.

“Meskipun dibalas pengkhianatan.”

Revano yang masih setengah berlutut langsung mengepalkan tangannya kuat. Sudut bibirnya berdarah akibat pukulan tadi.

Namun, pria itu tidak membalas. Ia hanya mengusap darah di bibirnya pelan sebelum perlahan berdiri. Tatapan kedua pria itu kembali bertemu. Lalu tanpa bicara apapun lagi, Saga kembali duduk di kursinya.

Revano menghela napas pelan sebelum akhirnya berjalan mendekat dan duduk di kursi seberang Saga.

Suasana meja itu terasa dingin.

Sangat jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat mereka masih tertawa bersama di tempat yang sama.

Kang Mamang yang tadi sempat panik akhirnya menghela napas lega karena mereka tidak lanjut berkelahi.

“Anak muda…” gumamnya pelan sambil kembali ke kasir.

Sementara di meja pojok, Saga menatap Revano dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah atas pukulan tadi. Sedangkan Revano menatap pria di depannya dengan tatapan rumit.

'Masih belum berubah,' batin Revano menghela napasnya terus menatap Saga.

1
Nanik Kusno
lanjutkan Kak Othor
Nanik Kusno
apakah Tee akan jadi masalah di keluarga Saga Sahira....???
Nanik Kusno
lanjuuuuut Kak
Nanik Kusno
semoga semua tujuan dan cita-cita tercapai.... bahagia selalu keluarga kalian.....
Nanik Kusno
Sombongnya Lois....
kamu sudah hancur..... masih aja sok berkuasa....😡😡😡😡😡😡😏😏😏
Nanik Kusno
Ya Ampun Sahir.....masa ingat neneknya karena banyak uang.....🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
Nanik Kusno
Anakng pernah diperhatikan.... hanya dilimpahi materi... tumbuh jadi anak yang g bener ....akhirnya menghancurkan keluarga.....
Nanik Kusno
Kenapa Sahir g dititip kan di neneknya????🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
Nanik Kusno
Pasti lebih banyak lagi kejahatan yang dilakukan oleh Clara....😡😡😡😡😡😡
Nanik Kusno
Ya Ampun.....wis kadung nangis bombay waktu Aldi dinyatakan meninggal.....😏😏😏😏😏😏😡😡😡😡
Nanik Kusno
Akhirnya....SAH....👏👏👏👏👏👏👏
semoga samawa....
Nanik Kusno
Tragisnya hidupmu Clara.......😏😏😏😏😡😡😡😡
Nanik Kusno
Ooowwww.....masih bisa ngancam juga nih si wewe gombel.....😏😏😏😏😏😡😡😡😡😡
Nanik Kusno
masa kejatuhanmu dah tiba P. Louis....
Nanik Kusno
Haaaaahhhh.... ternyata semua sudah di setting....🤦🤦🤦🤦🤦
Nanik Kusno
semoga ada apapun yang bisa merekam kejadian ini
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh...pada kemana ini.... mengapa Sahira dibiarkan sendiri....
Nanik Kusno
Siiippppp..... Clara dikurung....semoga g bisa kabur dan mengacaukan pernikahan Saga
Rani Setiawati
aku bacanya sambil mikir, perasaan banyak gak nyambungnya, dari bait ke bait
diatas ceritanya Sahir memeluk pundak Ibunya, bait berikutnya Saga berjongkok sejajar dengan anaknya. Atau mungkin Sahiranya juga jongkok ya, bukan sedang mengendong.
Nanik Kusno
Semoga pernikahan Saga Sahira lancar dan aman sampai akhir....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!